
Sekitar jam delapan kurang, pesawat yang membawa rombangan Gagah tiba di bandara Soekarno Hatta. Sesampainya di bandara, mereka menggunakan mobil milik Gagah yang ditinggal di bandara ketika semalam terbang ke Yogyakarta. Tujuan pertama mereka tentu saja rumah Ibu Farah. Mereka harus mengantar Gadis pulang ke rumahnya dan memberikan penjelasan serta minta maaf atas perkara yang menimpa Gadis.
Sebenarnya Gagah sendiri ingin mengantar Airin pulang terlebih dahulu ke rumah orang tuanya. Sebab Airin butuh istirahat dan ia juga tidak ingin membuat istrinya itu terlalu terbebankan pikiran atas kecelakaan yang dialami Gadis. Namun, Airin tetap memaksa, karena merasa sebagai wakil keluarga Haikal, ia merasa perlu datang dan bertemu langsung dengan orang tua Gadis.
Butuh waktu hampir satu jam mereka sampai ke rumah tinggal Farah, karena lalu lintas cukup padat pagi itu. Dengan Gagah yang mengendarai mobil dan Airin duduk di samping Gagah, sementara Haikal, Gadis dan Luna duduk di kursi tengah mereka tiba tepat jam sembilan di rumah Farah.
Pintu gerbang rumah Bintang Gumilang yang dijaga oleh dua orang security pilihan terbuka, saat mobil Gagah mendekat ke arah pintu gerbang. Kedua orang security sudah sangat hapal dengan mobil milik Gagah, sehingga pintu itu otomatis mereka buka tanpa harus berjalan ke arah pintu.
"Selamat pagi, Pak Gagah." Kedua security memberi salam dan hormat saat Gagah menurunkan kaca jendela mobil ketika melewati pos satpam tersebut.
"Pagi ..." Gagah membalas seraya menegakkan telapak tangannya, sebelum akhirnya berlalu meninggalkan kedua security itu menuju parkiran luas rumah mewah orang tua Gadis.
Rumah Bintang Gumilang nampak sepi seperti biasanya. Rumah itu hanya dihuni Farah dan anaknya beserta para pekerja yang tinggal di sana. Memang tidak sebanding jika melihat luas rumah dan jumlah orang yang menghuni rumah tersebut. Apalagi tidak ada anak kecil di rumah itu, lengkaplah keheningan di sekitar rumah pengusaha retail ternama itu.
"Assalamualaikum ..." Keempat orang dewasa yang baru tiba memberi salam ketika masuk ke dalam rumah yang pintunya tak terkunci.
"Waalaikumsalam ..." Dari dalam rumah Bi Iroh berlari menyambut mereka.
"Mama di mana, Bi?" tanya Gadis pada Bi Iroh
"Ibu ada di ruang kerja Bapak, Non." sahut Bi Iroh. Namun, matanya memperhatikan Gadis yang memakai perban di dekat pelipisnya. "Mbak Gadis kenapa?" tanyanya penasaran.
"Aku jatuh, Bi." Gadis menyentuh perban yang membuat Bi Iroh bertanya. "Bi, tolong kasih tahu Mama aku sudah pulang. Bilang juga ada Kak Gagah dan Kak Airin." Gadis meminta bantuan Bi Iroh untuk memanggilkan sang Mama untuk turun ke bawah dan menemui Gagah, Airin dan Haikal.
"Baik, Non." sahut Bi Iroh memutar tubuh ingin berjalan menaiki anak tangga.
"Bi, biar aku saja yang panggil Mama." Namun Gadis berubah pikiran. Dia menahan Bi Iroh yang ingin ke ruang kerja di mana sang Mama berada. Gadis ingin bertemu Mamanya terlebih dahulu sebelum Mamanya itu bertemu Gagah, Airin dan Haikal. Gadis merasa perlu memberi penjelasan kepada Mamanya. Dia tak ingin keterkejutan sang Mama saat melihat kondisinya saat ini diketahui oleh Haikal dan yang lainnya. Setidaknya jika dia bertemu dengan sang Mama lebih dulu, dia bisa meredam kekecewaan sang Mama di depan keluarga Haikal.
"Aku panggil Mama dulu, Kak. Silahkan duduk dulu ..." Setelah mempersilahkan Gagah dan yang lainnya duduk, Gadis langsung beranjak meninggalkan mereka.
Haikal menarik nafas saat Gadis berpamitan. Sayang sekali dia tidak bisa langsung melihat reaksi Farah ketika pertama kali melihat Gadis. Pasti akan terkejut, khawatir, kecewa atau mungkin juga marah. Jujur saja jantung Haikal berdebar tak beraturan karena ia harus berhadapan dengan Farah. Entah, bagaimana sikap Farah terhadapnya nanti setelah ini? Semuanya masih abu-abu.
Sementara di depan pintu ruang kerja Bintang Gumilang, Gadis berhenti sejenak sebelum masuk ke dalam ruangan. Dia mengambil nafas sesaat sebelum masuk ke dalam menemui sang Mama.
Tok tok tok
Setelah mengetuk pintu, Gadis membuka pintu ruang kerja almarhum Papanya. Ketika ia membuka pintu, ia melihat sang Mama sedang membuka album keluarga di sofa yang ada ruangan itu.
"Ma ..." Gadis menyapa Farah yang menoleh ke arahnya.
"Kamu sudah pulang, Gadis?" Farah menutup album keluarga di tangannya dan meletakkannya di meja, kemudian ia bangkit mendekat ke arah Gadis. Namun, seketika matanya terbelalak saat melihat kondisi Gadis dengan luka di kepalanya, dan juga langkah Gadis yang terlihat tak normal seakan menahan rasa sakit.
"Asataghfirullahal adzim, kamu kenapa, Gadis?" Farah menangkup wajah putrinya, menatap prihatin dengan cidera yang dialami Gadis. "Darimana kamu dapat luka ini?" Farah begitu mengkhawatirkan putrinya.
__ADS_1
Gadis menggenggam kedua tangan sang Mama yang memegangi pipinya. Dia kemudian membawa Mamanya untuk duduk kembali di sofa.
"Mama tidak usah khawatir, ini aku cuma jatuh saja, kok." ucapnya kemudian.
"Jatuh? Jatuh di mana memangnya sampai kayak gini?" Jawaban Gadis tidak membuat Farah puas.
"Mama tenang dulu, nanti aku ceritakan apa yang sebenarnya terjadi." Gadis meminta Mamanya untuk tidak panik dengan keadaannya.
"Cepat katakan pada Mama, kamu ini kenapa, Nak? Kamu jatuh di mana? Bagaimana kamu bisa jatuh? Lalu, di mana Haikal? Apa dia tidak bersama kamu saat kamu jatuh?" Farah melontarkan pertanyaan beruntun sebab ia benar-benar tidak sabar mengetahui bagaimana anaknya itu bisa sampai terluka.
"Aku akan cerita, tapi Mama janji jangan marah, ya!? Jangan menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini. Semua ini salah aku, Ma. Salah aku yang tidak mau mendengar nasehat orang-orang." Tak ingin menyulitkan posisi Haikal, Gadis meminta sang Mama berjanji padanya.
"Gadis, jangan membuat Mama tambah penasaran, Nak. Katakan, kenapa kamu bisa seperti ini?" Farah tak sabar mendengar cerita Gadis.
"Hmmm, sebenarnya ..." Gadis masih cemas sang Mama akan syok mendengar penjelasannya.
"Sebenarnya apa, Gadis? Cepat bilang sama Mama." Farah sampai mengguncang pundak Gadis, sebab ia anggap putrinya itu terlalu bertele-tele.
"Sebenarnya aku jatuh dari motor, Ma." ucap Gadis.
"Hahh?? Apa?? Jatuh dari motor? Memangnya kamu naik motor? Kamu ini tidak biasa naik motor, Gadis. Bagaimana mungkin kamu pergi naik motor?" Farah terkejut, "Kamu bawa motor sendiri atau dibonceng?" Farah seperti sedang mengintrogasi terdakwa.
"Aku dibonceng Kak Haikal, Ma." jawab Gadis, "Tapi, Mama jangan salahkan Kak Haikal. Kak Haikal tidak ngebut bawa motornya, Ma. Ini semua karena aku dijambret sama orang, jadinya aku terjatuh ..." Gadis menyelesaikan ceritanya.
"Aku hanya terjatuh, Ma. Mereka langsung pergi karena tidak berhasil mengambil tas aku," jelas Gadis.
"Ya Allah, Gadis. Itu bahaya sekali, Nak. Bagaimana jika saat kamu terjatuh lalu ada kendaraan lain di belakang kamu?" Farah memegangi kepalanya, tak bisa membayangkan kemungkinan terburuk jika kala itu ada kendaraan lain di sana.
"Maaf, Ma. Itu semua salah aku, kok." Gadis melingkarkan tangannya di pundak sang Mama dan menyandarkan kepala di pundak Mamanya.
"Lalu, dengan siapa kamu pulang? Kamu pulang sendiri?" tanya Farah.
"Sama Kak Gagah, Kak Airin dan Kak Haikal. Mereka ada di bawah ingin ketemu sama Mama," jawab Gadis.
"Mama mau bertemu dengan mereka." Seketika Farah bangkit dari duduk.
"Hmmm, Ma." Gadis menahan lengan Farah, "Mama jangan marahin Kak Haikal, itu bukan salah Kak Haikal, Ma. Orang tua Kak Haikal dan Kak Haikal menyuruh kami naik mobil, tapi aku yang maksa naik motor. Itu semua murni salah aku, Ma." Gadis masih berusaha mempengaruhi sang Mama agar tidak menyalahkan Haikal.
Farah mendesah melihat anaknya begitu khawatir akan Haikal. Dia pun menganggukkan kepalanya lalu berjalan ke luar menuju ruangan tamu untuk menemui Gagah dan yang lainnya.
"Selamat pagi, Bu Farah." Ketika Farah sampai di ruang tamu, Gagah langsung menyapa Farah seraya berdiri, begitu pun dengan Airin, diikuti oleh Haikal.
"Pagi, Gagah." sahut Farah, namun pandangan matanya tertuju pada Haikal. Dia menatap pria muda itu. Terlihat ketegangan di wajah Haikal, dan ia tahu apa yang sedang dicemaskan oleh Haikal. "Silahkan duduk." Farah menyuruh tamunya untuk duduk kembali.
__ADS_1
"Saya bersama istri saya dan Haikal datang kemari, untuk meminta maaf karena kelalaian adik kami dalam menjaga Gadis, Bu Farah." Tanpa basa-basi, Gagah menyampaikan permohonan maaf pada Farah, sebab ia yakin Gadis sudah menceritakan apa yang terjadi.
"Gadis sudah cerita tadi," sahut Farah.
"Saya minta maaf, karena sudah mengecewakan Ibu." Haikal memberanikan diri untuk bicara, namun ia tak berani menatap Farah.
"Maaf, jika adik saya tidak berkerja dengan baik, Bu. Saya sangat menyesali hal itu." Airin pun ikut bicara menyampaikan permohonan maaf sebagai bentuk tanggung jawab.
"Itu musibah, siapa yang dapat menolak musibah." Jawaban Farah membuat Gagah, Airin dan Haikal, bahkan Gadis pun bernafas lega.
"Terima kasih atas pengertian Ibu." Gagah melirik arloji di tangannya. "Kalau semuanya sudah clear, saya ingin pamit ke kantor, Bu." Gagah ingin berpamitan.
"Silahkan, Gagah." Farah mengijinkan.
"Oh ya, hari ini saya akan suruh Dewi jadwalkan CT Scan untuk kamu, Gadis. Sebaiknya kamu melakukan pemeriksaan lagi untuk meyakinkan jika semua aman." Gagah ingin Gadis melakukan test yang tidak dilakukan saat di Yogyakarta.
"Iya, Kak." jawab Gadis.
"Nanti Haikal dan Pak Abdul yang antar kamu ke rumah sakit," lanjut Gagah.
"Iya, Kak." sahut Gadis kembali.
"Kalau begitu saya dan istri saya pamit dulu, Bu. Selamat pagi, Bu Farah." Gagah dan Airin pun meninggallam rumah Farah. Gagah berencana mengantar Airin dan Luna pulang terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor. Sementara Gadis kembali ke kamarnya, dan Haikal menunggu di garasi bersama Pak Abdul dan supir pribadi keluarga Bintang Gumilang lainnya.
"Gadis, Mama ingin bicara dengan kamu ..." Ternyata Farah mengikuti langkah Gadis hingga kamar.
"Bicara apa, Ma?" tanya Gadis.
Farah masuk dan duduk di tepi tempat tidur Gadis, ia memandang anak Gadis nya itu benar-benar sedang kasmaran terhadap pria hingga membuat putrinya itu nekat melakukan apa pun demi bisa bersama sang pujaan hati.
"Sebaiknya kamu lupakan keinginan kamu untuk dekat dengan Haikal, Nak."
Perkataan Farah, membuat Gadis terperanjat, ia tidak tahu apa maksud dan tujuan perkataan Mamanya itu. Namun, ia menganggap kata-kata tadi berindikasi akan pertentangan dengan keinginannya untuk bisa memilik Haikal sebagai kekasih hatinya.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading❤️
__ADS_1