
Di meja makan, Haikal menikmati sarapan pagi bersama keluarga Om Fajar. Hubungan baik keluarga Pak Baskoro dengan keluarga adik iparnya membuat anak-anaknya sangat akrab dengan keluarga Om Fajar dan Tante Mira.
Pada Om dan Tantenya, Haikal sudah menceritakan soal tugas barunya sebagai asisten pribadi Gadis termasuk tugas mengantar dan menjemput Gadis beraktivitas ke kantor BDS setiap harinya.
"Cieee yang bosnya ABG, hati-hati nanti cinlok, lho, Kak." Feby menggoda Haikal, saat ia tahu bos Haikal ternyata remaja belia seusia dengannya.
"Masa iya cinlok? Kamu ini ada-ada saja, By." Tante Mira merespon ucapan putrinya.
"Siapa tahu, Ma!? Ketika seorang pria sering menghabiskan waktu dengan seorang wanita bukan tidak mungkin akan tumbuh benih-benih cinta karena kebersamaan itu. Siapa tahu lama-lama Kak Haikal jatuh cinta sama bosnya. Bos Kak Haikal masih muda dan cantik pula." Feby sudah tahu foto Gadis dari foto profil kontak Gadis yang ditunjukkan oleh Haikal kepadanya.
"Eh, tapi ... kenapa Kak Haikal yang dipilih jadi asisten pribadi, sih? Padahal Kak Haikal baru bekerja di sana," tanya Feby terheran, "Jangan-jangan, bos Kak Haikal itu yang suka sama Kak Haikal," tebak Feby asal bicara seraya terkekeh.
"Kamu harus jaga diri, Kal. Harus profesional dalam pekerjaan. Jangan mencampuradukkan urusan hati dalam pekerjaan." Om Fajar tentu merasa cemas apa yang dikatakan oleh Feby menjadi kenyataan. Dia tidak ingin Haikal terlibat asmara dengan Gadis, pasti akan rumit urusannya, jika apa yang dikhawatirkannya itu terjadi, terutama karena perbedaan status ekonomi Haikal dengan Gadis.
"Iya, Om. Aku paham." Haikal menyahuti, dia juga cukup tahu diri untuk tidak berangan ingin memiliki dan menjadi kekasih Gadis.
"Eh, siapa tahu Kak Haikal nasibnya akan sama dengan Mbak Airin, dapat jodoh orang kaya. Segala sesuatu mungkin saja bisa terjadi, kan?" Feby berandai-andai, berharap Haikal akan seberuntung Airin.
"Kamu ini, jangan terlalu menghayal terlalu tinggi, By." tegur Tante Mira.
"Bukan menghayal, Ma. Tapi berharap. rejeki orang siapa yang tahu?!" Gadis mempertahankan pendapatnya. Sebab menurutnya tidak ada yang mustahil jika Allah SWT sudah berkehendak.
Haikal menarik tipis sudut bibirnya ke atas. Entah mengapa setiap orang yang melihat dirinya bersama Gadis menganggap jika dirinya akan jatuh cinta pada bosnya itu hanya karena Gadis cantik dan kaya raya. Padahal dia sendiri sebenarnya takut berada dekat Gadis, bukan karena dirinya takut jatuh cinta, tapi takut Gadis lah yang jatuh cinta padanya.
Haikal mengerjapkan matanya. Berasa percaya diri sekali dia, menganggap jika Gadis akan jatuh cinta padanya, meskipun tanda-tanda itu perlahan mulai bisa ia raba dari sikap Gadis kepadanya.
"Coba sekali-kali diajak main ke sini, Kak. Kenalan sama aku, siapa tahu aku sama dia bisa jadi sahabat." Feby ingin bisa mengenal lebih dekat dengan Gadis. Usia mereka yang seumuran, ia anggap bisa membuat pikiran mereka sejalan.
"Kamu jangan ambil kesempatan, By." tegur Tante Mira kembali.
"Iiih, Mama ... nethink melulu, deh! Aku 'kan hanya ingin berteman. Gadis itu pasti temannya semakin mengerucut kalau sibuk mengurus perusahaan Papanya, jadi dia butuh teman yang benar-benar tulus." Feby beralasan.
"Memang kamu tulus mau berteman saya Gadis? Bukan karena dia itu anak orang kaya biar kamu bisa ikut manfaat Gadis, By?" cibir Tante Mira menyindir anaknya.
"Tidak memanfaatkan banget, sih, Ma. Tapi, siapa tahu aku bisa ikut kerja di BDS kalau sudah lulus nanti, Ma." Feby tertawa kecil mengakui jika dia berharap bisa bergabung dengan BDS suatu saat nanti.
"Sekarang ini kamu fokus dengan sekolahmu dulu, Feby. Fokus dengan pelajaran, urusan nanti kamu kerja di BDS atau tidak, itu masih lama. Lagipula kamu juga akan meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi." Om Fajar meminta Feby lebih fokus memikirkan belajar daripada mencari uang. Ia ingin anaknya itu bisa mendapatkan pendidikan yang tinggi dengan melanjutkan kuliah setelah SMA.
"Iya, Pa." jawab Feby menyahuti.
"Oh ya, rencana kamu kuliah bagaimana, Kal? Dengan tugas kamu sekarang ini, apa kamu punya waktu untuk kuliah?" tanya Tante Mira saat suaminya menyinggung soal kuliah. Tante Mira sudah mendengar penjelasan dari Haikal soal rencana Gagah ingin membiayai kuliah Haikal, sebelum Haikal mendapat tugas dari Gadis sebagai asisten pribadi.
"Aku belum tahu, Tante. Aku belum bicarakan lagi soal itu dengan Kak Gagah. Aku juga mesti tahu dulu bagaimana pekerjaanku. Aku takut kuliahku nanti keteteran waktunya, Tante." jelas Haikal.
__ADS_1
"Kalau memang kamu bisa meluangkan waktu, usahakan kamu agar bisa kuliah. Sebab itu akan bermanfaat jika kamu bekerja di perusahaan besar seperti BDS, akan bisa mempengaruhi salary dan juga posisi kamu di sana." Om Fajar menyarankan agar Haikal bisa kuliah.
"Iya, Om. Aku mau lihat jam kerjaku bagaimana. Kalau sebelum maghrib pekerjaanku sudah selesai, mungkin aku akan pertimbangkan ambil kelas karyawan malam hari, atau ambil yang weekend, tapi aku belum yakin apakah hari sabtu juga aku bisa libur seperti karyawan kantor lainnya, Om." papar Haikal, belum dapat memastikan.
"Ya sudhlah, yang penting kamu bisa bekerja dengan baik dan tidak mengecewakan kakakmu juga kakak iparmu." nasehat Om Fajar, "Lanjutkan makannya, Kal. Kamu 'kan harus ke rumah Gadis dulu, jangan sampai telat," lanjut Om Fajar menyuruh Haikal dan keluarganya menyelesaikan sarapan mereka.
***
Tepat pukul delapan pagi, Haikal tiba di rumah Bintang Gumilang. Dia sengaja tiba setengah jam sebelum jam berangkat Gadis ke kantor, sebab ia takut terlupa jalan menuju rumah Gadis. Haikal memarkirkan motornya di pekarangan rumah milik pengusaha retail besar itu. Netranya melihat Pak Abdul yang sedang mengelap mobil yang biasa dipakai untuk mengantar Gadis ke kantor.
"Assalamualaikum, Pak Abdul." Haikal menghampiri Pak Abdul.
"Waalaikumsalam ... Eh, Mas Haikal. Sudah datang, Mas? Rajin banget jam segini sudah sampai sini." Pak Abdul meledek Haikal.
"Saya takut nyasar, Pak. Makanya saya berangkat cepat agar tidak telat." Haikal menjelaskan alasan datang cepat, "Nanti saya bawa mobil ni untuk mengantar Mbak Gadis, Pak?" tanya Haikal kemudian.
"Iya, Mas. Ini mobil milik Non Gadis, jadi nanti Mas Haikal pakai mobil ini," jelas Pak Abdul.
"Saya saja yang bersihkan mobilnya, Pak." Haikal meminta pekerjaan yang sedang dilakukan oleh Pak Abdul, sebab nanti ia lah yang akan membawa mobil itu.
"Tidak usah, Mas. Ini sudah hampir selesai," tolak Pak Abdul, sebab ia tahu jika Haikal adalah asisten pribadi Gadis bukan supir pribadi Gadis. "Mas Haikal masuk saja, nunggu Non Gadis di dalam, Mas." Lalu Pak Abdul menyuruh Haikal masuk ke dalam rumah.
Haikal menoleh ke arah bangunan rumah besar milik Gadis. Rumah itu terlihat lebih besar dan lebih mentereng dibanding dengan rumah mertua kakaknya, membuat ia tidak terlalu percaya diri masuk ke sana, meskipun kemarin ia sudah diajak masuk bahkan sampai makan siang bersama di sana.
"Setidaknya setor muka dulu, Mas. Biar Non Gadis tahu Mas Haikal sudah datang," saran Pak Abdul agar Gadis tidak salah paham.
"Oh, ya sudah, saya ke dalam dulu, Pak." pamit Haikal kemudian beranjak ke arah bangunan rumah Gadis.
Haikal menekan bel di pintu rumah Gadis, ia menunggu pintu itu terbuka. Haikal membayangkan betapa senangnya jika terlahir dari keluarga kaya raya seperti Bintang Gumilang. Senyum tipis terlihat di satu sudut bibirnya seraya menggelengkan kepala untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang menggoda di benaknya. sebab dia tidak ingin berandai-andai.
"Eh, Mas ganteng sudah datang ..." Saat pintu terbuka, Bi Iroh langsung menyapa Haikal dengan kalimat dengan nada bercanda.
"Assalamualaikum, Bu." Haikal tersenyum menyapa Bi Iroh yang menyebutnya 'Mas Ganteng'.
"Waalaikumsalam, silahkan masuk, Mas." Bi Iroh membuka pintu lebar-lebar untuk Haikal.
"Saya tunggu di luar saja, Bu. Tolong disampaikan sama Mbak Gadis saja, jika mencari saya, saya di luar sama Pak Abdul." Haikal hanya berpesan pada Bu Iroh, agar Gadis tidak menganggap dirinya telat datang ke tempat Gadis.
"Oh, ya sudah, nanti Bibi bilang ke Non Gadis nya," sahut Bi Iroh.
"Lho, Haikal sudah datang?" Suara Farah terdengar dari arah tangga, terlihat wanita yang baru saja ditinggal sang suami, berjalan menuruni anak tangga.
"Selamat pagi, Bu." Haikal menyapa dengan sedikit membungkukkan badannya.
__ADS_1
"Memang Gadis suruh kamu datang jam berapa, Haikal?" tanya Farah.
"Mbak Gadis minta jam setengah sembilan sudah sampai di sini, Bu. Saya takut nyasar makanya saya berangkat lebih awal." Haikal memberi alasannya.
"Kamu sudah sarapan belum? Kamu sarapan saja dulu, Haikal." Farah mengira Haikal belum sempat sarapan, "Roh, siapkan makan untuk Haikal." Farah langsung memberi perintah pada Bi Iroh.
"Terima kasih, Bu. Saya sudah sarapan tadi, Bu." Haikal menolak secara halus.
"Ya sudah, kamu duduk dulu, tunggu saja sebentar. Nanti Ibu panggilkan Gadis untuk cepat turun," ujar Farah.
"Terima kasih, Bu. Saya tunggu di depan saja dengan Pak Abdul." Haikal tetap memilih menunggu bersama Pak Abdul.
"Oh ya sudah, sebentar Ibu panggilkan Gadis nya." Farah memutar arah langkahnya menaiki anak tangga kembali.
"Baik, Bu." sahut Haikal, kemudian berjalan kembali bergabung dengan Pak Abdul.
Tok tok tok
Setelah mengetuk pintu, Farah membuka handle pintu kamar Gadis.
"Dis, Haikal sudah datang, tuh." Farah memberitahu.
"Sudah datang, Ma?" Gadis yang sedang memoles lipstik warna nude di bibirnya langsung melirik arloji di pergelangan tangannya.
"Katanya takut nyasar," jawab Farah, matanya memperhatikan rona di pipi putrinya. Bukan warna alami, tapi ia tahu itu warha blush on yang dipulas tipis di pipi Gadis.
"Tumben kamu dandan begini, Dis? Hmmm, karena sekarang yang mengantarnya Haikal jadi dandan cantik begini, ya?" Farah menggoda putrinya dan menduga jika perubahan yang terjadi pada putrinya itu karena keberadaan Haikal.
"Iiihh, apaan, sih, Mama!? Jangan ikut-ikutan kayak yang lain, dong!" Gadis memberengutkan wajahnya.
"Ikut-ikutan kayak yang lain? Memang yang lain banyak yang bilang gitu, ya?" Farah masih menggoda Gadis.
"Sudah, ah, Ma. Jangan ganggu aku, nanti aku tidak selesai-selesai berdandannya." Malu digoda sang Mama, Gadis meminta sang Mama untuk meninggalkannya.
*
*
*
Bersambung ....
Follow akun tik tok nya REZ Zha @rez.zha yg punya akun tik tok, makasih
__ADS_1
Happy Reading,❤️