JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Siap Mengantar


__ADS_3

Ketika nasabah mulai sepi, Airin mengecek ponsel di bawah meja kerjanya. Tentu dia tidak ingin terlihat kamera cctv sedang memegang alat komunikasinya itu saat jam kerja.


Ada beberapa panggilan masuk di ponselnya itu. Tapi yang menarik perhatiannya adalah panggilan telepon dari mantan suaminya, Rey.


Airin menduga jika Wulan sudah menghubungi Rey untuk menanyakan soal kebenaran berita perceraian pada Rey, sehingga saat ini Rey menghubunginya. Bukan hanya panggilan telepon yang masuk ke ponselnya tapi juga beberapa pesan dikirimkan Rey kepadanya.


" Kamu cerita ke Mama soal perceraian kita?"


" Mama marah besar ke aku."


" Mama mengancam, tidak akan menerima aku pulang ke rumah kalau aku tidak rujuk sama kamu, Rin."


" Aku tidak diijinkan pulang ke rumah Mama jika aku tidak membawa kamu dan Luna."


" Kamu tega lihat aku dipecat jadi anak sama Mama, Rin?"


Itu beberapa pesan dari Rey yang masuk ke ponselnya.


Airin mendengus kasar. Benar-benar memuakkan membaca isi pesan dari Rey, yang bermain playing victim, seolah Rey lah yang menderita karena perceraian mereka, sehingga mantan suaminya itu diancam tidak akan diterima jika pulang ke rumah orang tuanya.


Dan yang membuatnya semakin jengkel adalah perkataan ingin rujuk agar Wulan mau bisa menerima Rey pulang kembali. Sampai langit runtuh pun tidak sudi dia rujuk kembali dengan Rey. Dia bukanlah wanita bo doh. Walaupun dirinya mencintai Rey, tapi penghianatan Rey seakan mengikis keinginannya bertahan hidup dengan pria itu.


Pesan masuk dari Rey benar-benar membuat hatinya semakin kesal. Sudah dia merasa kesal dengan kelakuan Gagah, ditambah pesan masuk dari Rey yang berindikasi mengajaknya rujuk kembali. Suatu hal yang sangat mustahil dia lakukan.


Ddrrtt ddrrtt


Ketika hatinya merasa suntuk dengan kelakuan kedua pria itu, tiba-tiba salah satu dari pria yang membuat hatinya kesal mengirimkan pesan kepadanya.


" Airin, apa istirahat makan siang ini kamu sudah punya acara?"


Isi pesan dari Gagah membuat kedua alisnya tertarik ke atas hingga menimbulkan guratan di keningnya.


" Dia lagi ..." keluh Airin, dengan menyandarkan punggung ke sandaran kursi kerjanya. " Ya Allah, jauhkanlah hamba dari orang-orang seperti ini." Airin sampai berdoa, agar dia tidak diganggu dengan pria-pria nekat seperti Gagah yang secara jelas berusaha mendekatinya.


" Siang, Pak. Maaf, siang ini saya ada janji bertemu dengan teman-teman saya, Pak." Airin lalu membalas pesan Gagah dengan beralasan jika dia sudah punya janji dengan Liliana dan Ambar, padahal dia tidak ada janji dengan mereka, justru sedang berpikir akan makan di mana istirahat nanti.


" Oke, bagaimana kalau besok?" Gagah sepertinya pantang menyerah dengan penolakan Airin.


" Apa besok kamu sudah punya acara juga?" Belum sempat Airin mengetik jawaban, pesan dari Gagah kembali masuk ke ponselnya.


" Ya ampun, kenapa orang ini maksa banget, sih?" Justru rasa sebal lah yang kini muncul di hati Airin pada Gagah yang dia anggap terlalu memaksa.

__ADS_1


" Saya belum tahu, Pak." jawab Airin.


" Oke, kalau begitu saya anggap kamu belum punya acara dengan orang lain. Besok siang kita bertemu, saya jemput kamu di kantor, ya!?" Ini bukan suatu pertanyaan yang membutuhkan jawaban iya atau tidak. Tapi, lebih kepada permintaan yang bersikap pemaksaan. Suka atau tidak suka harus Airin menuruti.


Airin diam, tak menjawab pertanyaan Gagah. Sungguh dia merasa tak nyaman dalam situasi seperti saat ini.


" Saya hanya mengajak makan siang, tidak akan menculik kamu."


Sebuah pesan dari Gagah kembali masuk ke ponsel Airin, karena Airin hanya membaca tak segera memberi tanggapan atas permintaannya tadi.


" Baik, Pak." Akhirnya dengan sangat terpaksa Airin menyetujui permintaan Gagah.


" Oke, sampai jumpa besok." Gagah mengakhiri komunikasinya via media chatting dengan Airin.


" Siapa yang mau istirahat duluan?" Suara Susan bertanya pada Airin, Fani dan Dini, kru bagian customer service lainnya, membuat Airin menolehkan pandangan ke arah Susan.


" Aku nanti saja, kalian saja dulu." Airin memilih istirahat belakangan, karena jika Gagah besok benar-benar menjemputnya, besok dia akan istirahat lebih awal dari rekan-rekannya itu.


" Oke, aku sama Dini duluan, ya?" ujar Susan kemudian bersiap untuk beristirahat.


" Kamu mau makan apa, San? Aku titip saja, deh! Aku malas pergi ke luar." tanya Airin berniat makan di dapur kantor saja.


" Aku mau makan soto Betawi. Kamu mau apa?" tanya Susan.


" Oke, kamu, Fan?" Susan kini bertanya kepada Fani.


" Aku nanti makan di luar, San." jawab Fani.


" Oh, ya sudah. Kita istirahat dulu, ya!?" Susan dan Dini pun kemudian meninggalkan meja tugasnya untuk absen terlebih dahulu sebelum pergi ke luar untuk makan siang.


***


Airin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur di samping Luna yang sudah terlelap di sampingnya.


Airin menatap wajah tanpa dosa putrinya. Ada rasa bersalah pada dirinya karena harus memisahkan Luna dengan Papanya, hingga anaknya itu tidak dapat setiap hari bertemu dengan Papanya. Tapi, Airin merasa jika dia hanyalah manusia biasa, yang mempunyai rasa sakit hati dan tidak dapat memaafkan apa yang sudah dilakukan Rey kepadanya sehingga memutuskan untuk berpisah.


Ddrrtt ddrrtt


Airin menoleh nakas di samping tempat tidurnya saat dia mendengar ponselnya berdering. Hari ini dia merasa terganggu dengan bunyi dering telepon, baik dari panggilan maupun dari pesan masuk yang kebanyakan berasal dari Rey.


Airin meraih ponselnya untuk menonaktifkan nomer ponselnya itu. Dia butuh istirahat dan juga menenangkan pikiran.

__ADS_1


Saat hendak menonaktifkan ponselnya, dia melihat orang yang terakhir menghibunginya adalah Gagah.


" Selamat malam, Airin. Apa kamu sudah tidur?" Pesan dari Gagah.


" Saya sedang menemani Luna yang ingin tidur, Pak." Airin cepat memberikan alasan agar Gagah tidak lama mengajaknya berkomunikasi.


" Anakmu belum tidur?" tanya Gagah kemudian.


" Belum, Pak." Airin berharap Gagah akan segera mengakhiri komunikasinya setelah mengatakan jika Luna belum tertidur.


" Saya tidak akan menganggu kamu yang ingin menemani anakmu tidur, Airin. Saya hanya ingin tanya, kamu kalau pergi ke kantor naik apa?" tanya Gagah kembali.


" Saya naik motor, Pak."


" Kalau begitu besok pagi saya jemput kamu saja, nanti pulangnya juga saya akan antar kamu." Tanpa menanyakan persetujuan dari Airin, Gagah mengambil keputusan akan menjemput dan mengantar Airin ke kantor.


" Oh, tidak usah, Pak! Jangan!" Airin menolak dijemput oleh Gagah.


" Kenapa?" Gagah mempertanyakan penolakan Airin.


" Saya setiap hari bertugas mengantar adik sepupu saya sekolah dulu sebelum pergi ke kantor, Pak. Jadi saya pergi lebih awal." Airin memberi alasan mengantar Feby agar Gagah mengurungkan niatnya itu.


" Apa lokasi sekolah adik sepupu kamu jauh dari kantormu?" Gagah sampai mendetail menanyakan soal waktu berangkat.


" Sekitar setengah jam dari kantor saya, Pak." ujar Airin.


" Jam berapa kamu berangkat dari rumah mengantar sepupumu sekolah?" Gagah sudah seperti seorang penyidik yang mengintrogasi seorang saksi ataupun tersangka.


" Sekitar setengah tujuh, Pak." Airin yakin, tidak mungkin Gagah mau mengantarnya di jam yang dia anggap terlalu pagi untuk seorang CEO seperti Gagah.


" Ya sudah, besok sebelum jam setengah tujuh saya akan ada di rumahmu. Kirimkan saja di mana alamat kamu tinggal, nanti saya akan jemput ke sana."


Airin sampai tercengang membaca balasan pesan masuk Gagah yang menyanggupi akan menjemputnya pagi-pagi sekali.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy reading ❤️


__ADS_2