JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Semoga Tidak Ikut Menyalahkan Haikal


__ADS_3

Sejujurnya Airin sangat lelah dan mengantuk. Namun masalah yang terjadi dengan Gadis dia rasa sangat serius hingga memaksanya untuk tetap terjaga sampai Gadis tiba di rumah.


Setelah semua beres, dan anggota keluarga berserta Gadis kembali ke kamar masing-masing, rasanya Airin ingin memeluk sang suami sebagai ucapan terima kasih. Tanpa terduga kehadiran Gagah di Yogyakarta sangat membantu masalah yang dihadapi Haikal dan Gadis. Seandainya bukan Gagah sendiri yang tahu masalah Gadis dan Haikal, ia pasti akan bingung bagaimana menceritakan pada suaminya itu.


Airin merapatkan tubuhnya pada tubuh suami seraya melingkarkan tangan di pinggang Gagah. Namun, di luar dugaannya, Gagah justru menepis tangannya meskipun tidak dengan gerakan kasar. Hal itu membuat Airin terperanjat, tak biasanya sang suami menolak sentuhannya.


"Jangan sentuh aku, Ay!" Ditambah kalimat larangan meluncur dari mulut Gagah.


Seketika Airin mengerutkan keningnya hingga matanya memicing dan menatap heran pada sang suami.


"Mas marah sama aku, ya?" tanyanya dengan ekspresi wajah berubah memberengut. Dia menduga permintaannya tadi yang menginginkan tidur menemani Gadis lah yang membuat Gagah marah padanya.


Gagah tertawa kecil melihat sang istri mencebikkan bibirnya. Seandainya kondisinya bersih, rasanya ingin ia sergap bibir semanis madu milik Airin dengan bibirnya. Namun ia baru saja pulang dari rumah sakit, tak ingin ia menyentuh orang-orang yang dicintainya dengan kemungkinan resiko penyakit yang ia bawa dari rumah sakit.


"Mana mungkin aku marah, Ay. Aku baru datang dari rumah sakit, siapa tahu ada virus yang menempel di pakaianku dari sana. Aku mau mandi, Ay. Kamu tidur saja dulu nanti aku menyusul." Gagah mengungkap alasan kenapa ia menolak pelukan Airin.


"Mas mau mandi malam-malam begini?" Airin melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pu kul setengah dua belas malam.


"Lebih baik mandi daripada beresiko menularkan penyakit, Ay." ucap Gagah berjalan ke arah kamar mandi seraya melepas pakaian atasnya.


Airin memperhatikan punggung kekar Gagah yang akhirnya menghilang di balik pintu kamar mandi. Senyuman seketika melengkung di sudut bibir wanita cantik itu.


"Terima kasih, Ya Allah. Engkau telah mengirimkan dia untukku." Airin merasa bersyukur. Dia lalu melangkah untuk mengambil pakaian bersih untuk suaminya dari dalam lemari.


Sementara di kamar Haikal ...

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Haikal mencuci wajah dan mengganti pakaiannya. Dia lalu menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur seraya memandang langit-langit kamar.


Ada perasaan yang mengganjal di hatinya karena musibah yang dialami Gadis. Rasa bersalah sangat kuat menghantui dirinya. Meskipun Gadis yang mendesak, bukan berarti ia terlepas dari tanggung jawab. Seharusnya ia bisa lebih hati-hati. Benar kata-kata Bapaknya, semestinya ia tidak mengambil jalan yang sepi yang rawan terjadinya tindakan kriminal.


Haikal mengusap kasar wajahnya. Dia teringat wajah ketakutan Gadis saat terjatuh tadi. Dia berpikir, Gadis tidak akan mau melakukan hal yang tidak biasa dilakukan Gadis, seperti naik motor jika bukan karena Gadis berusaha mendapatkan hatinya, agar Gadis bisa berdekatan dengannya.


Gadis bahkan tak menyalahkannya atas penjambretan yang terjadi tadi. Sepertinya Gadis benar-benar menyukai dirinya, namun dirinya terlalu acuh akan perasaan Gadis. Mungkin orang yang tak mengerti akan menganggapnya terlalu berlalu atau sok merasa ganteng sampai mengabaikan wanita cantik apalagi sekaya Gadis.


Haikal hanya bingung, status ekonomi keluarganya yang menjadi hambatan utama ia selalu menampikkan perasaan Gadis terhadapnya.


Haikal menarik nafas dalam-dalam. Besok dia akan menghadapi Farah, orang tua Gadis. Meskipun ia kenal Farah adalah orang baik, namun bukan berarti ia akan aman-aman saja. Dia yakin, Mama dari Gadis itu akan kecewa terhadapnya, sebab selama ini Farah selalu meminta padanya untuk bisa membantu menjaga Gadis, dan kali ini ia justru gagal menjalani amanat yang diminta oleh Farah terhadapnya.


Sedangkan Gadis sendiri tak dapat tidur di kamarnya meskipun Ibu Heny sudah menyuruhnya tertidur. Gadis sedang memikirkan bagaimana sikap Mamanya nanti saat tahu dia terjatuh karena mengalami penjambretan? Sama seperti keluarga Haikal, ia sendiri pun sangat mengkhawatirkan reaksi sang Mama, meskipun ia sangat mengenal Mamanya bukan orang yang egois dan cukup bijaksana.


"Kenapa Nak Gadis tidak tidur? Besok kalian harus kembali ke Jakarta, sebaiknya Nak Gadis segera istirahat biar tidak telat bangun." Ibu Heny yang melihat Gadis terjaga meminta Gadis segera beristirahat.


Gadis menoleh ke arah Bu Heny, terlihat wanita paruh baya itu seperti Mamanya, seorang wanita yang sangat penyabar. Dia merasa diperlakukan baik dan mendapat sambutan yang hangat dari Bu Heny dan juga Pak Baskoro, sehingga ia merasa kerasan di rumah orang tua Haikal.


"Aku belum mengantuk, Bu." ucap Gadis, ia seperti berbicarakan dengan Mamanya sendiri ketika berkata pada Ibu Heny.


"Kalau kamu tidak tidur, kamu bisa sakit, Nak. Kamu butuh istirahat." Bu Heny kembali menasehati Gadis. "Sekarang kamu tidur, sudah malam." Bu Heny merapatkan selimut sampai menutupi pundak Gadis, kemudian tangannya mengusap kepala Gadis dan memandang remaja belia itu beberapa saat sebelum akhirnya ia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Gadis.


Gadis tersenyum bahagia mendapatkan perlakuan lembut dari Ibu Heny. Hal itu membuat dirinya ingin semakin dekat dan menjadi bagian dari keluarga itu.


Pagi harinya semua bersiap untuk pergi ke bandara dan kembali ke Jakarta. Mereka bahkan belum sempat menikmati sarapan pagi karena takut ketinggalan jadwal penerbangan.

__ADS_1


Pak Baskoro dan Ibu Heny ikut mengantar mereka ke bandara menggunakan mobil Pak Baskoro. Haikal yang mengendarai mobil di depan bersama dengan Gagah, sementara Airin dan Gadis berada di kursi tengah, sedangkan Pak Baskoro dan Ibu Heny duduk di kursi belakang. Bukan karena tidak sopan, namun itu karena Pak Baskoro sendiri yang memintanya. Dia tidak mungkin membiarkan Airin yang sedang hamil dan Gadis yang notabene adalah bos dari anak dan menantunya duduk di belakangan. Dia juga tidak enak hati menyuruh Gagah duduk di belakang bersamanya.


"Aku pulang dulu, Bu." Airin berpamitan memeluk sang Ibu saat tiba di bandara.


"Jaga kesehatan kamu, Rin. Jangan lupa mengkonsumsi makanan yang bernutrisi. Su su dan vitaminnya juga jangan lupa." Seperti rata-rata seorang Ibu yang mempunyai anak yang sedang hamil, pasti akan memberikan nasehat seperti itu. "Salam untuk mertua kamu," lanjutnya.


"Iya, Bu." sahut Airin kemudian ia berpamitan dengan Pak Baskoro.


"Aku pamit, Bu. Terima kasih sudah mengijinkan aku menginap di rumah Ibu dan Bapak." Gadis juga berpamitan pada orang tua Haikal.


"Ibu justru senang kamu bisa datang, Nak. Tapi maaf kalau kedatangan kamu di sini malah jadi membuat kamu seperti ini." Bu Heny menyentuh perban di kepala Gadis.


"Tidak apa-apa, Bu. Itu musibah ..." Gadis tersenyum lalu mencium punggung tangan Bu Heny dan Pak Baskoro.


Setelahnya, Gagah, Haikal dan Luna yang berpamitan kepada Pak Baskoro dan Ibu Heny sebelum mereka akhirnya masuk ke dalam bandara, sementara kedua orang tau Airin kembali ke dalam mobil dan meninggalkan Bandara Internasional Yogyakarta.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2