JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Siap Menjadi Papa Sambung


__ADS_3

Sesudah mengantar Feby ke sekolahnya, kini Gagah langsung mengatar Airin ke tempat kerjanya di Central Bank. Selama dalam perjalanan, Airin lebih banyak terdiam. Dia malas bicara dengan Gagah, karena pasti ujung-ujungnya mereka akan berdebat dan dia akan selalu kalah jika berdebat dengan pria itu.


"Apa Luna belum sekolah?" tanya Gagah memecah keheningan di antara mereka berdua.


"Belum ..." Sebelum bercerai dengan Rey, sebenarnya Airin dan Rey berniat mendaftarkan Luna di Playgroup. Namun, rencana itu gagal setelah dirinya dan Rey berpisah.


"Ica tahun ini rencananya mau masuk fullday school, kalau Luna mau, nanti sekalian saya daftarkan dia di sana, agar Luna dan Ica bisa main bersama." Gagah menggagaskan ide untuk menyekolahkan Luna dengan keponakannya. Tentu saja cara itu adalah salah satu triknya supaya Luna makin lengket dengan keluarganya.


Airin membelalakkan matanya mendengar rencana Gagah terhadap Luna. Meskipun Gagah sudah mengatakan ingin meluluhkan hatinya. Namun, apa yang direncanakan Gagah pada Luna dia anggap terlalu berlebihan dan terlalu terburu-buru.


"Tidak usah, Pak. Luna nanti saya sekolahkan di PAUD dekat rumah saja." Airin menolak.


"Kamu tidak dengar apa yang adik sepupumu katakan tadi?" Gagah menoleh ke sisi kirinya di mana Airin duduk.


"Memang Feby bicara apa?" Airin mengeryitkan keningnya mencoba mengingat perkataan Feby. Dia merasa Feby tidak ada menyinggung tentang Luna.


"Adikmu bilang, saya ini lebih pantas kalau dipanggil Mas sama kamu." Dengan mengulum senyuman, Gagah sukses membuat bola mata Airin membulat dengan wajah membias merona.


Airin buru-buru memalingkan wajahnya, membuang pandangan ke luar jendela mobil, karena dia tidak ingin Gagah melihat wajahnya bersemu, walau kenyataannya Gagah lebih dulu memergoki perubahan air muka Airin tadi.


"Jadi gimana soal Luna?" Menyadari Airin merasa risih dia goda seperti tadi, Gagah kembali ke topik pembicaraan awal.


"Saya rasa tidak usah, biar Luna sekolah di PAUD saja." Airin tetap menolak rencana Gagah.


"Di playgroup, Luna akan mempunyai banyak teman bermain. Dan mungkin itu cara terbaik agar Luna tidak terus merengek menanyakan Papanya." Saat berbincang dengan Tante Mira tadi, Gagah sempat menanyakan soal hubungan Luna dengan Papanya. Dari Tante Mira juga, Gagah mengetahui jika Luna sering merengek ingin bertemu dengan Rey.


Untuk kali ini Airin menolehkan pandangan ke arah Gagah. Dia terkejut karena Gagah tahu jika Luna selalu merengek ingin bertemu Papanya.


"Oh, maaf. Saya tidak bermaksud ingin menjauhkan Luna dari Papanya. Maksud saya, agar Luna tidak terus merengek menanyakan Papanya. Di sana dia akan disibukkan dengan bermacam aktivitas bersama teman-temannya, sehinga dia tidak merasa jenuh dan tidak terus mencari-cari keberadaan Papanya." Gagah menjelaskan maksudnya agar Airin tidak tersinggung dengan maksud ucapannya tadi.


Airin menarik nafas dan menghempaskannya perlahan. Memang ada benarnya juga ide dari Gagah. Dia juga tidak berniat membuat Luna membenci Rey. Tapi, dia tidak ingin Luna terus merengek mencari keberadaan Rey. Namun, jika menyekolahkan di fullday school, pasti banyak biaya yang harus dia keluarkan, sedangkan saat ini dia sedang berusaha memangkas biaya-biaya pengeluarannya agar bisa menghemat.

__ADS_1


"Kalau masalah biaya yang kamu pikirkan, kamu tidak usah khawatir, nanti saya yang akan membiayai sekolah Luna." Gagah nampaknya sudah siap menjadi Papa sambung untuk Luna, sehingga dia sudah memikirkan soal biaya sekolah Luna.


Airin terkesiap mendengar tawaran Gagah. Namun, tentu saja dia tidak bisa menerima tawaran itu.


"Terima kasih atas perhatian Bapak terhadap Luna. Tapi, untuk sekarang ini, saya masih bisa membiayai sekolah Luna sendiri." Menolak secara halus, Airin berkilah jika dia masih sanggup membiayai Luna.


"Untuk sekarang? Bagaimana dengan nanti?" Gagah selalu punya jawaban untuk setiap perkataan yang diucapkan oleh Airin, sehingga membuat Airin tak mempunyai kata-kata untuk diucapkan lagi.


***


"Tadi diantar siapa, Rin? Bukan Mas Rey, ya?" Fany menepuk pundak Airin yang sedang melakukan absensi, hingga membuat Airin terperanjat dikagetkan oleh Fany dari belakang.


Fany sepertinya melihat Airin, ketika turun dari mobil Gagah. Inilah yang ditakutkan Airin saat Gagah mengantarnya ke kantor. Akan menjadi pertanyaan teman kantornya termasuk Fany.


Fany sangat hapal mobil milik Rey, karena dulu Rey sering mengantar dan menjemput Airin. Sedangkan mobil yang dipakai Gagah mengantar Airin adalah mobil mewah, yang biasanya dipakai oleh para eksekutif muda, bos besar dan juga para selebriti. Hal itu sudah pasti akan menimbulkan pergunjingan di sekitar lingkup kerjanya.


"Tadi Mas Rey bukan sih, Rin?" Fany masih penasaran pada pria yang mengantar Airin tadi.


"Iisshh, ada apa, sih, Rin? Kok, kayak ada yang disembunyikan?" Fany makin curiga dengan sikap Airin.


"Dia kerabat keluarga Tanteku, Fan." Airin menyebut Gagah adalah kerabat dari Tantenya, agar Fany tidak banyak pertanyaan.


"Oh ..." Untung saja Fany tidak banyak bertanya lagi, dan percaya dengan alasan yang diberikan oleh Airin tadi.


Mereka berdua pun kemudian menuruni anak tangga menuju meja kerja mereka masing-masing.


Sementara itu di rumah Om Fajar, Tante Mira mendapatkan telepon dari Widya, rupanya Mama dari Gagah sangat penasaran, apakah putranya itu datang menemui Airin.


"Assalamualaikum, Mbak." sapa Tante Mira sangat mengangkat panggilan masuk sahabat lamanya itu.


"Waalaikumsalam ... Mir, apa Gagah datang ke rumahmu?" Widya to the point menyampaikan kecurigaannya terhadap kepergian putranya pagi-pagi sekali.

__ADS_1


"Iya, Mbak. Aku juga kaget pas lihat Gagah datang ke rumah." Meskipun Gagah sudah berpesan kepadanya untuk tidak menceritakan soal kedatangannya, nyatanya Tante Mira mengaku jujur kepada Widya soal kedatangan Gagah ke rumahnya.


"Hmmm, dasar anak itu. Sama aku ditanya mau ke mana? Tidak bilang mau ke rumahmu, cuma bilang ada keperluan saja," sahut Widya kesal karena putranya tidak terbuka terhadapnya.


"Ke aku juga berpesan, supaya aku tutup mulut, tidak cerita ke Mbak Widya." Tante Mira menjelaskan pesan Gagah kepadanya.


"Dasar itu anak! Awas saja nanti!" gerutu Widya. "Aku heran, kenapa ke aku tidak mau cerita, ya? Padahal aku justru yang ingin menjodohkan mereka, bukan malah melarang mereka berhubungan." Widya tak habis pikir dengan sikap Gagah yang menyembunyikan kedekatan dengan Airin darinya.


"Gagah bilang, dia tidak ingin diatur pendekatannya terhadap Airin, Mbak. Dia ingin pakai cara dia sendiri." Tante Mira menjelaskan keinginan Gagah.


"Menurutku, biarkan saja Gagah dengan keinginannya itu, Mbak. Kita tidak usah ikut mengatur mereka. Kita tinggal menunggu kabar baiknya saja dari mereka." Tante Mira menyampaikan pandangannya.


" Apa kamu cerita ke Gagah kalau aku sudah tahu tentang kedekatan mereka?" tanya Widya kembali.


"Aku tidak memberitahu, Mbak."jawab Tante Mira.


"Oh ya, Mir. Respon Airin bagaimana?" Widya penasaran bagaimana dengan Airin, karena menurut cerita Tante Mira sebelumnya, Airin masih trauma menjalin hubungan kembali.


"Airin masih menjaga jarak, sih, Mbak. Kelihatan masih ogah-ogahan. Untungnya Gagah sepertinya sudah bisa mengambil hati Luna, Mbak. Tadi Gagah memberikan Luna boneka, dan Luna menyukainya. Tumben banget, Mbak. Biasanya Luna itu susah menerima pemberian orang asing yang baru dia kenal. Tapi, dia justru mau menerima pemberian dari Gagah." Tante Mira menceritakan soal sikap Luna terhadap Gagah.


"Alhamdulillah kalau begitu, Mir. Moga-moga saja ini pertanda jika Gagah akan menjadi Papa sambung untuk Luna." Widya melambungkan harapannya.


"Aamiin, Mbak." sahut Tante Mira.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2