JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Baunya Harum


__ADS_3

Hari ini akan dilaksanakan rapat penting di kantor Bintang Departement Store. Semua pemegang saham dan petinggi perusahaan juga pihak keluarga yang diwakili oleh Farah dan Gadis beserta pihak pengacara akan hadir dalam rapat penting tersebut. Bahkan kedua adik tiri Bintang pun ikut hadir di sana. Namun, tentu saja mereka tidak tahu jika dalam rapat tersebut Florencia tidak akan hadir. Mereka tidak tahu jika Florencia sudah kembali ke Amerika.


Gagah sendiri saat ini masih berbincang dengan Erlan. Sedikit banyak Gagah sudah bercerita kepada wakilnya tentang apa yang sudah diputuskan oleh keluarga Bintang. Tentu saja Gagah meminta kerjasama wakilnya itu untuk terus bersama mengelola Bintang Departement Store seperti apa yang diinginkan oleh Bintang meskipun jabatan CEO nanti tidak lagi dipegang olehnya.


"Saya berharap Pak Gagah tetap bekerja di sini meskipun Gadis suatu hari nanti sudah sanggup menggelola perusahaan ini, Pak. Saya takut jika kedua adik tiri Pak Bintang akan mengintervensi Gadis, karena Gadis masih terlalu muda dan belum berpengalaman." Erlan menyampaikan rasa khawatir jika sampai Gagah hengkang dari perusahaan itu.


Senyum mengembang di bibir Gagah, dia sangat menghargai pendapat Erlan, mungkin jika diadakan voting, hampir sebagian besar pemegang saham dan dewan direksi juga dewan komisaris pasti akan sepakat dengan Erlan untuk tetap memilih Gagah yang memimpin perusahaan dan menjabat sebagai CEO di perusahaan peninggalan Bintang. Tapi, Gagah tidak ingin ngotot meskipun dirinya mengakui cukup nyaman bekerja di sana. Dia sepenuhnya menyadari jika perusahaan itu bukan miliknya ataupun milik keluarganya.


"Saya tidak mungkin selamanya di sini, Pak Erlan. Ada yang lebih berhak memimpin perusahaan ini daripada saya. Jika Gadis sudah cukup mampu, atau dia sudah menemukan pendamping hidup yang dapat membantu menjalankan perusahaan, tentu saya akan resign dari sini." Dengan tenang dan tanpa rasa sedih Gagah menanggapi ucapan Erlan.


"Apa Pak Gagah sudah berencana bekerja di tempat lain? Atau ada perusahaan lain yang menawarkan pekerjaan kepada Pak Gagah dengan salary yang besar?" Erlan beranggapan jika Gagah akan memimpin perusahaan lain di luar Bintang Departement Store.


"Mungkin saya akan memiliki mengabdikan diri saya untuk membantu perusahaan orang tua saya, Pak Erlan." Tak ingin sesumbar lebih dulu jika dirinya berencana mendirikan perusahaan baru, Gagah lebih menyebut alasan mengelola perusahaan Papanya.


"Oh, seperti itu ... saya mengerti, Pak." sahut Erlan.


Tok tok tok


"Permisi, Pak. Ibu Farah dan Gadis sudah tiba di ruang rapat, Pak." Dewi masuk ke ruang kerja Gagah dan memberitahu soal kedatangan Farah dan Gadis.


"Sebaiknya kita langsung ke ruang meeting, Pak Erlan." Gagah bangkit dari kursinya dan mengajak Erlan ikut bersamanya.


Sementara di ruang rapat ...


Dicky dan Romi begitu antusias saat datang ke kantor milik Bintang. Kehadiran Dicky dan Romi tentu menjadi pusat perhatian para dewan direksi dan komisaris perusahaan dan juga pihak notaris, kerena sebagian besar mereka tahu hubungan kedua orang tersebut dengan Bintang. Beberapa orang petinggi di perusahan itu saling berbisik, mereka menebak-nebak tujuan kehadiran mereka berdua, karena dulu saat Bintang masih hidup, Bintang selalu menolak kehadiran Dicky dan Romi di perusahaannya.


Dicky dan Romi bukannya tidak menyadari dengan tatapan-tatapan aneh orang-orang di sekitarnya, namun karena mereka cukup percaya diri, mereka akan berhasil mengambil alih perusahaan itu jika Florencia menjadi direktur utama menggantikan Gagah.


Ceklek


Sorot mata semua peserta rapat seketika menoleh ke arah pintu ruangan saat terdengar pintuk dibuka dari luar, hingga kini memperlihatkan Farah yang berjalan bersama Gadis dan tim advokat di belakanganya memasuki ruang rapat.


"Selamat siang, Bu Farah." Semua petinggi perusahaan berdiri menyambut kedatangan Farah dan Gadis, diikuti oleh para pemegang saham mereka menyalami Farah, bahkan ada beberapa orang yang menyampaikan rasa duka cita karena tidak sempat hadir saat pemakaman Bintang.


"Silahkan duduk, Bu." Hendra yang bertugas sebagai moderator mempersilahkan Farah dan Gadis untuk duduk di tempat yang telah disediakan.


Kedatangan Farah yang hanya berdua dengan Gadis membuat Dicky dan Romi heran hingga saling berpandangan, karena mereka tidak melihat kehadiran Florencia.


"Kenapa Flo tidak ikut, Rom?" tanya Dicky.


"Aku tidak tahu, Mas. Coba aku telepon Florencia ada di mana." Romi mengeluarkan ponselnya, ia mencoba menghubungi Florencia, namun sambungan teleponnya itu tak terhubung dengan nomer Florencia.


"Tidak bisa dihubungi, Mas." ujar Romi.


"Selamat siang, Pak Gagah." Beberapa peserta rapat berdiri ketika melihat kedatangan Gagah ke ruangan bersama Erlan.


"Selamat siang." Gagah berjalan, dan bersalaman dengan tamu yang hadir termasuk Dicky juga Romi.


"Selamat siang, Bu Farah." Kini Gagah menyapa dan menyalami Farah.


"Siang, Gagah." sahut Farah.


Gagah mengambil posisi duduk di sebelah kanan Hendra, sementara di sebelah kiri Hendra, Farah dan Gadis duduk berdampingan.


"Baiklah, berhubung semua peserta rapat sudah hadir di ruangan ini, untuk menghemat waktu kita mulai saja rapatnya, bagaimana?" tanya Hendra kepada Gagah dan Farah.

__ADS_1


"Silahkan, Pak Hendra." ujar Gagah.


"Bismillahirohmanirohim, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu."


"Waalaikumsalam ..." sahut peserta rapat.


"Selamat siang kepada Ibu Farah selaku istri dari Almarhum Pak Bintang, juga Mbak Gadis sebagai pihak dari keluarga Almarhum Pak Bintang. Pak Gagah sebagai Chief Executive Officer juga Bapak dan ibu dewan direksi dan komisaris serta undangan dari pihak pemegang saham perusahaan Bintang Departement Store." Hendra membuka acara.


"Seperti yang telah kita ketahui bersama, kita baru saja berduka dengan berpulangnya Pak Bintang Gumilang, pemilik perusahaan ini satu Minggu yang lalu, karena itu kami perlu mengadakan rapat untuk menentukan kepengurusan di perusahaan BDS ini," lanjut Hendra.


"Sebelum kita mulai, sebaiknya kita sama-sama menundukkan kepala memberikan doa untuk Almarhum sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing." Hendra meminta para peserta rapat untuk mendoakan Bintang agar diterima amal ibadahnya dan diterangkan di alam kuburnya. Setelah doa selesai, Hendra kembali berbicara dengan mempersilahkan Farah memberi sambutan atas nama keluarga. Selesai Farah memberikan sepatah dua patah kata, kini giliran Gagah sebagai direktur utama yang mendapatkan kesempatan bicara.


"Bismillahirohmanirohim, Terima kasih, Pak Hendra atas waktu yang diberikan kepada saya. Sebelumnya hanya minta dukungan semua, para pemegang saham ataupun dewan direksi juga komisaris untuk tetap bersama memajukan BDS," Gagah mulai berbicara.


"Saya sudah dihubungi oleh pihak keluarga Almarhum Pak Bintang didampingi dengan pengacara untuk menyampaikan apa yang diamatkan oleh Almarhum Pak Bintang dan juga memberitahu kepada Bapak dan Ibu mengenai keputusan yang sudah diambil oleh pihak keluarga tentang perubahan kepengurusan di BDS ini," lanjut Gagah.


"Pihak keluarga sudah sepakat memutuskan untuk jabatan direktur utama yang selama ini saya pegang akan dialihkan ke pihak keluarga. Dalam hal ini, Gadis lah yang akan menggantikan posisi saya di sini." Gagah menunjuk ke arah Gadis, sebagai orang yang nanti akan menggantikan jabatan direktur utama di perusahaan itu.


Pernyataan Gagah tentu saja membuat terkejut semua orang yang ada di ruangan itu terkecuali Farah, Gadis dan juga Erlan yang sudah diberitahu. Para dewan direksi, komisaris dan pemegang saham terlihat saling berdiskusi dengan orang-orang di sebelahnya. Hampir semua meragukan kemampuan Gadis.


Tak heran jika tak ada yang percaya jika Gadis, wanita berusia tujuh belas tahun itu mampu memimpin perusahaan. Selain Gadis masih duduk di bangku SMA, Gadis juga tidak mempunyai dalam hal mengurus perusahaan.


Para pemegang saham mulai ketar-ketir jika Gadis yang akan menjabat sebagai CEO. Meskipun Bintang Departement Store saat ini cukup kuat, namun itu tidak menjamin akan berlangsung lama jika perusahaan dipimpin oleh tangan yang salah.


Rasa terkejut juga dirasakan oleh Dicky dan Romi. Tentu saja mereka berharap Florencia lah yang akan memimpin, karena Gadis selalu menentangnya. Dipilihnya Gadis sebagai pengganti Gagah mereka anggap sebagai penghalang untuk merebut perusahaan milik kakak tiri mereka.


"Maaf, Pak Gagah. Apa Anda yakin dengan keputusan ini? Nak Gadis masih terlalu muda, apa Nak Gadis ini mampu memimpin perusahaan sebesar ini?" Tanya Pak Jonathan, salah seorang dewan direksi bertanya mewakili rekan-rekannya.


"Benar sekali, saya setuju dengan Bapak ini. Gadis itu masih SMA, kenapa tidak diserahkan kepada kakaknya saja? Setidaknya Florencia sudah tidak duduk di bangku SMA seperti Gadis." Dicky ikut bersuara padahal dia sama sekali tidak berhak turut bicara dalam hal ini.


"Iya, benar, Pak Gagah. Kami tidak ingin mengambil resiko terlalu besar. Uang kami di sini bukan hanya puluhan juta, tapi puluhan bahkan ratusan milyar." Pak Richard, pemegang saham lainnya ikut menimpali.


"Saya setuju dengan Pak Kris dan Pak Richard, Sebaiknya dipikir kembali tentang penyerahan jabatan kepada Gadis." Ibu Jennifer, salah satu dewan komisaris di perusahaan Bintang ikut memberikan komentarnya.


"Benar itu, Pak." Mulai nampak kegaduhan di ruang rapat tersebut, karena keputusan pengalihan jabatan CEO yang semula dipimpinan Gagah kepada remaja yang mereka anggap belum pantas memimpin perusahaan sebesar Bintang Departement Store.


"Harap tenang Bapak dan Ibu sekalian, biar Pak Gagah menyelesaikan penjelasannya terlebih dahulu." Selaku moderator, Hendra berusaha menenangkan peserta rapat. Sedangkan Dicky dan Romi merasa senang karena keputusan memilih Gadis mendapat tentangan dari para pemegang saham dan petinggi saham lainnya.


Sementara Farah dan Gadis saling menatap, bahkan Farah terlihat sedikit ketakutan melihat hampir semua tidak menyetujui keputusannya. Melihat Mamanya terlihat cemas, Gadis langsung menggenggam tangan Farah, seakan memberi kekuatan agar sang Mama tidak perlu merasa khawatir.


Setelah kegaduhan mulai mereka, Gagah mulai kembali berkata-kata diawali dengan senyuman.


"Saya sudah menduga reaksi Bapak dan Ibu sekalian akan seperti ini." Gagah bahkan tertawa kecil, "Almarhum Pak Bintang membangun perusahaan ini dari nol hingga kini menjadi salah satu perusahaan retail kuat di tanah air, tentu saja saya tidak akan membuat perusahaan jatuh dan terpuruk." Gagah memberi penjelasan.


"Sebenarnya tadi saya belum selesai menjelaskan, tapi Bapak dan Ibu sudah menginterupsi kata-kata saya." Gagah menganggap orang-orang yang menentang keputusan tadi terlalu cepat mereaksi ucapannya.


"Jadi, maksud keputusan keluarga Almarhum Pak Bintang dengan mengambil jabatan CEO kepada Gadis tetapi dengan syarat. Kepemimpinan Gadis di perusahaan ini masih dalam pengawasan saya nantinya. Jadi aktivitas perusahaan masih berjalan seperti biasa, karena saya masih akan bekerja di sini dan ikut membantu Gadis dalam mengambil keputusan penting." Gagah memaparkan tugasnya.


"Boleh saya tambahkan, Kak Gagah?" Gadis yang semula hanya menjadi pendengar kini ikut berbicara.


"Silahkan ..." Gagah memberikan waktu untuk Gadis berbicara.


"Terima kasih sebelumnya kepada Bapak dan Ibu yang sudah berkenan hadir di rapat ini. Perkenalkan saya Gadis, saya anak bungsu Pak Bintang. Saya dan Mama saya sudah mengambil keputusan untuk sedikit merubah susunan kepengurusan dalam perusahaan. Tapi, Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir, saya akan berusaha sebaik mungkin belajar untuk menjadi pemimpin yang amanah seperti yang diharapkan oleh Almarhum Papa saya. Bapak dan Ibu juga tidak perlu khawatir, peran Kak Gagah di perusahaan masih sangat besar di sini, karena mungkin Kak Gagah ini yang akan mengambil keputusan penting terhadap perusahaan. Istilahnya ini hanya formalitas saja karena pada prakteknya tetap Kak Gagah yang akan mengelola perusahaan karena saya masih harus belajar bagaimana mengurus perusahaan ini. Saya harap semua yang hadir di sini dapat menerima apa yang sudah kami ambil." Dengan panjang lebar Gadis menjelaskan tujuan keputusan pengalihan jabatan CEO.


Para peserta rapat nampak tertegun mendengar penjelasan Gadis, kata-kata Gadis tidak menunjukkan remaja usia tujuh belas tahun.

__ADS_1


Setelah mendengar penjelasan Gagah ditambah dengan penjelasan Gadis, semua peserta rapat terkecuali Dicky dan Romi dapat menerima keputusan pengalihan jabatan CEO dari Gagah kepada Gadis. Kedua adik tiri Bintang merasa kecewa karena Gagah masih ada di perusahaan itu dan menjadi pengawas Gadis, hal itu membuat dia sulit bergerak apalagi mempengaruhi Gadis.


Rapat pun dilanjut dengan pengalihan saham kepada Farah dan dua anak Bintang. Bintang sama sekali tidak menyiapkan saham untuk Dicky dan Romi. Hal itu membuat mereka berdua geram karena mereka tidak mendapatkan harta Bintang di perusahaan itu sedikit pun.


***


Airin membaringkan tubuhnya kembali ketika ia merasakan kepalanya tiba-tiba merasa pusing saat dirinya hendak bangun dari tempat tidur untuk melaksanakan sholat Shubuh.


Airin bahkan merintih dan memijat pelipisnya, merasakan sakit kepala itu semakin kuat melandanya. Sementara di sampingnya, Gagah masih berbaring nyenyak.


"Ssshhh ... Astaghfirullahal adzim ..." Airin merintih karena saat ia membuka matanya kembali, ia melihat ruangan kamar tidur seolah berputar dalam pandangannya.


Rintihan Airin membuat Gagah yang sedang terlelap menjadi terbangun.


"Kenapa, Airin?" Gagah bangkit dari tidurnya.


"Kepala aku pusing sekali, Mas." keluh Airin.


"Pusing? Sakit kepala? Aku panggilkan dokter, ya?" Gagah cemas mendengar Airin mengeluh sakit.


"Tidak usah, Mas. Ini pasti tidak akan lama," jawab Airin masih dengan mata terpejam


"Kenapa kamu menutup mata?" tanya Gagah heran Airin memejamkan mata saat bicara dengannya.


"Kalau aku buka mata, semua rasanya berputar-putar," Airin beralasan.


Gagah mengambil botol air mineral di atas nakas lalu memberikan kepada istrinya.


"Minumlah dulu ..." Gagah membantu Airin bangkit dari tidur untuk minum air mineral, hingga Airin meneguk air mineral namun dengan kelopak mata masih tertutup.


Gagah kemudian menempatkan tubuhnya duduk di belakang Airin, tangannya lalu memegang kepala dan pelipis Airin.


"Sebelah mana yang sakit? Biar aku pijat." Gagah perlahan memijat kepala Airin untuk membantu meredakan sakit kepala yang Airin rasakan saat ini.


Airin tak menolak, ia justru menikmati pijatan tangan Gagah di pelipis dan kepalanya. Airin bahkan menyandarkan tubuhnya di dada Gagah dan merebahkan kepalanya di bahu Gagah.


"Mas harum sekali ..." Penciuman Airin kini seperti menangkap aroma yang menenangkan pikirannya, bahkan seolah menghilangkan pening di kepalanya.


"Harum?" Gagah mengedus tubuhnya. Tak ada aroma harum ditubuhnya saat ini selain aroma orang bangun tidur. "Wangi apa?" tanya Gagah heran.


"Masa Mas tidak bisa merasakan aroma sendiri? Baunya harum gini, kok!" Kini giliran Airin yang mengendus tubuh Gagah. "Baunya itu menenangkan jiwa, pusing aku juga sekarang sudah hilang. Mas ganti parfum ini saja, Mas. Aku suka," ujar Airin.


Gagah makin dibuat bingung dengan perkataan sang istri, sebab dia sendiri justru ingin cepat mandi agar bau keringat tak terus melekat di tubuhnya


"Kalau mandi wanginya hilang tidak, Mas? Kalau hilang sebaiknya jangan mandi dulu. Aku lebih suka wangi Mas yang ini daripada sang biasa," ucap Airin kembali membuat Gagah merasa aneh.


Gagah menaikkan alisnya ke atas, padahal yang ia tahu Airin menyukai aroma maskulin dari parfumnya yang bisa, lalu kenapa kini justru Airin mengatakan tidak suka? Kenapa Airin justru suka dengan keringatnya? Itu yang membuat Gagah merasa heran.


*


*


*


Bersambung ....

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2