
Netra Airin melirik ke arah Gagah ketika mendengar nada keberatan dari Pak Baskoro akan niat Gagah yang ingin mempersuntingnya. Namun, sama sekali tak dia dapati air muka kecewa dari pria itu.
Gagah memang terlihat tenang. Ia sepertinya sudah siap pada apa pun jawaban yang akan diterima dari orang tua Airin.
"Saya mengerti, Pak. Saya tahu status Airin saat ini, begitu juga dengan masalah yang terjadi dengan pernikahan Airin dulu. Saya tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena bagi saya, Airin adalah wanita baik yang paling tepat untuk menjadi istri saya." Gagah pun menoleh ke arah Airin hingga mata mereka berdua saling bersitatap lekat, sampai Airin memutus pandangan, karena dia takut akan terhipnotis dengan sorot mata Gagah yang membuat jantungnya berdegup kencang.
"Jika Airin memang belum siap saat ini, saya bersedia menanti sampai Airin benar-benar merasa siap membuka hati untuk saya. Tapi sebelumnya, saya berharap kepada Bapak dan Ibu agar berkenan merestui niat saya ini." Pantang menyerah bagi Gagah untuk mendapatkan Airin. Siapa pun tak ada yang dapat merubah keteguhannya untuk menjadikan Airin pendamping hidupnya. Sehingga dia meminta dukungan dari kedua orang tua Airin untuk merestuinya.
"Kami akan merestui orang yang memang berniat baik terhadap Airin. Asalkan orang itu bersungguh-sungguh dan tidak akan menyakiti hati Airin dan Luna lagi seperti sebelumnya." Pak Baskoro merespon niat Gagah pada putrinya. Dia sebenarnya tidak berniat untuk menghalangi. Sebagai orang tua, dia harus lebih hati-hati memberi ijin kepada pria yang ingin melamar Airin ke depannya. Karena dia tidak ingin ada Rey-Rey lainnya yang akan mengecewakan dan menyakiti Airin.
"Saya bersungguh-sungguh pada putri Bapak. Percayalah, Pak. Saya tidak akan menyakiti Airin!" tegas Gagah dengan cepat menanggapi ucapan Pak Baskoro tadi.
"Bukan hanya putra saya saja, Pak Baskoro, Bu Heny. Tapi seluruh keluarga kami sangat mendukung Gagah bersama Airin. Saya pastikan jika Gagah tidak akan mempermainkan hati Airin." Widya pun ikut meyakinkan orang tua Airin jika putranya tidak akan menyakiti hati Airin. Dan memang itulah salah satu tujuannya ikut ke Yogyakarta, untuk memberi dukungan kepada Gagah dan menyakinkan orang tua Airin agar merestui ketulusan hati Gagah yang ingin meminang Airin untuk menjadi istrinya.
Pak Baskoro kembali bertatapan dengan istrinya. Walau baru bertemu, dia memang merasakan keseriusan sikap Gagah terhadap putrinya itu.
"Kakek, Luna nanti mau cali ikan cama Om Gagah." Di tengah keseriusan pembicaraan orang tua Airin bersama Gagah dan Widya, tiba terdengar celetukan Luna yang teringat akan janji Gagah yang akan membawanya pergi memancing.
"Oh ya?" Pak Baskoro melirik cucunya yang masih berada di pangkuannya.
"Iya, Kek." sahut Luna, "Om Gagah baik, Kakek. Luna dikacih boneka dua cama mainan macak-macakan." Tanpa dikomandoi, Luna justru menceritakan kedekatannya dengan Gagah termasuk kebaikan Gagah yang dia rasakan selama ini. Tentu saja hal tersebut membuat Pak Baskoro dan Ibu Heny terkesiap.Ternyata cucunya sudah akrab dengan sosok pria yang menginginkan Airin. Karena setahu mereka, Luna termasuk karakter anak yang tidak mudah akrab dengan orang asing.
"Luna memang sudah akrab dengan putra saya, Pak, Bu." Widya seolah ingin memberitahu jika Gagah sudah bisa merebut hati Luna.
"Syukurlah, kalau Luna bisa akrab dengan Nak Gagah ini." Tangan Ibu Heny membelai kepala Luna penuh kasih sayang.
"Iya, Bu. Bukankah itu bagus bagi hubungan Gagah dengan Airin ke depannya?" sambung Widya.
__ADS_1
"Kek, Luna mau duduk cama Om Gagah." Luna turun dari pangkuan kakeknya dan berlari ke arah Gagah.
Gagah tersenyum senang, karena Luna saat ini seolah menjadi tim suksesnya untuk merebut hati Airin beserta orang tuanya.
"Kata Ateu Peby, Om Gagah nanti jadi Papa balu Luna, Kek." celoteh Luna dengan keluguannya.
Kejujuran Luna membuat semua yang ada di ruangan itu terkejut. Airin bahkan langsung salah tingkah dengan kejujuran anaknya tersebut. Ia malu, karena ulah Feby yang mengatakan Gagah sebagai calon Papa baru bagi Luna, membuat memori Luna selalu mengingat perkataan Feby itu.
"Wah, Luna sudah kepingin Om Gagah jadi Papa Luna, ya?" Widya dengan antusias merespon pernyataan Luna.
"Iya, Nek. Bial Luna punya Papanya dua. Hihihi ..." Luna tertawa kecil menutup mulutnya.
Kembali perkataan Luna sukses membuat Airin dan orang tuanya juga Tante Mira saling berpandangan. Airin bahkan sampai memejamkan mata seraya menghela nafas dalam-dalam. Kepolosan Luna benar-benar membuat dirinya merasa malu di depan Gagah.
"Kami harap, Pak Baskoro, Ibu Heny dan Airin bisa mempertimbangkan keinginan Luna." Widya tidak menyia-nyiakan momentum pernyataan Luna untuk meyakinkan Airin dan keluarganya agar mau menerima Gagah.
Menjelang Dzuhur, Airin membawa Gagah dan Luna ke tempat pemancingan ikan, karena Luna terus saja menagih janji Gagah yang sudah berjanji akan mengantar Luna ke sana.
Sudah setengah jam, tapi belum ada satu ekor ikan pun yang masuk perangkap Gagah. Sementara Luna terlihat gemas karena Gagah tidak juga mendapatkan ikan.
Airin melihat aura frustasi Gagah, karena dia tidak ada ikan yang mau memakan umpannya. Ia pun menahan tawanya saat melihat ekspresi Gagah. Tentu saja seorang CEO seperti Gagah yang sejak kecil terbiasa hidup bergelimang harta, mungkin tidak pernah merasakan ataupun mengikuti aktivitas memancing ikan.
Airin sempat terheran, Gagah yang terlihat ulet dalam usaha mendapatkan hatinya, meskipun mendapatkan beberapa kali penolakan dari darinya, kini justru terlihat frustasi, karena tidak berhasil mendapatkan satu ekor ikan dengan alat pancing yang disewa dari tempat itu.
"Ikannya takut cama Om Gagah, cih! Jadi ndak mau ditangkap cama Om Gagah." Tiba-tiba saja Luna menggerutu karena Gagah gagal menangkap satu ikan pun.
"Ppfftt ..." Airin tak tahan menahan tawanya mendengar Luna bicara, hingga terdengar bunyi dari mulut wanita itu. Airin sampai menutup mulut agar tidak sampai terdengar oleh Gagah. Sayangnya telinga Gagah mendengar tawa Airin yang dia anggap sedang mengoloknya.
__ADS_1
Gagah melirik ke arah Mama dari Luna yang seketika itu memalingkan pandangannya ke arah lain, karena tertangkap netra Gagah menertawakan pria itu. Senyum tipis tertarik di sudut bibirnya menanggapi reaksi Airin seperti itu.
Gagah lalu menaruh alat pancing. Kakinya mendekat ke arah Airin, sambil berucap, "Karena umpan Om Gagah tidak juga dimakan oleh ikannya. Bagaimana kalau Mama Airin saja yang jadi umpannya?" Tangan Gagah mendekap kedua lengan Airin dan menarik tubuh Airin dalam dekapannya, lalu mengarahkan tubuh Airin ke tepi kolam pemancingan, seolah ingin mengumpan Airin ke dalam kolam itu untuk ikan yang ada di sana.
"Astaghfirullahal adzim, Mas!" Airin yang terkejut dan takut terjatuh ke dalam kolam sontak memeluk Gagah agar tubuhnya tidak tercebur ke dalam kolam pemancingan.
Melihat Mamanya ketakutan dan berteriak. Bukannya Luna menangis atau meminta Gagah melepaskan Airin, Luna justru tertawa terkekeh senang.
Sontak Airin mendelik tajam ke arah Luna. Bisa-bisanya anaknya justru senang melihatnya ketakutan dan dipermainkan oleh Gagah. Anaknya itu pun terlihat lebih berpihak pada Gagah.
Airin tidak menyadari rasa kecewanya kepada Luna, seolah melupakan jika saat ini tangannya masih merangkul tubuh Gagah, dan juga menjadi perhatian orang-orang yang ada di sekitar pemancingan itu.
"Iiihh, Mama cama Om Gagah pacalan, ya?" celetuk Luna kembali, melihat Mamanya dan Gagah saling berpelukan satu sama lainnya.
Ucapan Luna seketika menyadarkan Airin jika saat ini dia sedang bersentuhan fisik dengan Gagah, hingga dia menjauhkan tubuhnya dari Gagah.
"Maaf," Tak dapat dibendung, rona merah langsung menyelimuti wajah Airin karena adegan tadi yang membuatnya tanpa sadar memeluk tubuh Gagah.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1