JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Rencana licik


__ADS_3

Luna dibawa untuk disuapi Bi Junah di teras samping rumah keluarga Prasetyo, sedangkan Airin mengikuti Widya yang mengajaknya berbicara di ruang keluarga di lantai atas.


Airin tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh Widya padanya. Antara berdebar dan rasa penasaran Airin ingin tahu ada hal serius apa yang membuat Widya ingin berdiskusi dengannya. Apa masalah yang ingin dibicarakan ada hubungannya dengan meninggalnya Bintang Gumilang? Itu yang terus berputar-putar di pikiran Airin.


"Ada apa, Ma?" tanya Airin saat mereka berdua sudah sama-sama duduk bersebelahan di sofa, hanya terpisah jarak sekitar satu meter saja di antara mereka.


"Rin, apa Gagah pernah cerita ke kamu, bagaimana dia bisa menjabat sebagai CEO di BSD?" tanya Widya mulai membahas apa yang ingin dibicarakan.


"Hmmm, iya, Ma. Mas Gagah pernah bilang karena Pak Bintang sakit dan tidak sanggup untuk beraktivitas di kantor, lalu Pak Bintang meminta Mas Gagah untuk menggantikan posisi beliau. Benar begitu, kan, Ma?" Airin menceritakan apa yang pernah ia dengar dari Gagah.


"Iya, itu memang benar," sahut Widya, "Apa Gagah juga cerita jika Pak Bintang punya saudara tiri yang ingin menguasai BDS?" tanya Widya kemudian.


Airin terkesiap mendengar pertanyaan Widya m. ia lalu menggelengkan kepala dan menjawab, "Tidak, Ma. Mas Gagah tidak pernah cerita tentang hal itu ke aku," ungkap Airin.


Helaan nafas panjang Widya terdengar menyiratkan jika wanita itu sedang merasa gelisah. Hal itu tentu saja membuat Airin ikut merasakan cemas.


"Apa saudara tiri Pak Bintang akan mengambil alih perusahaan itu sekarang, Ma?" tanya Airin penasaran.


"Mama belum tahu, Rin. Tapi Mama sangat cemas jika itu benar terjadi," ungkap Widya, "Mama khawatir mereka punya rencana licik untuk menyingkirkan Gagah dari perusahaan itu. Mama tidak khawatir Gagah keluar dari sana jika secara baik-baik, tidak sengaja disingkirkan dengan difitnah atau sejenisnya." Widya mengatakan apa yang ditakutkannya. Dia yakin Gagah bisa bekerja di mana saja. Dia percaya Gagah akan menjadi pebisnis handal meskipun tidak bekerja di Bintang Departement Store. Yang membuatnya takut justru jika Gagah disingkirkan di perusahaan Bintang dengan cara licik.


"Apa mereka akan berbuat seperti itu, Ma?" cemas Airin.


"Itu yang Mama ingin sampaikan sama kamu, Rin. Kalau harus bisa kamu bujuk Gagah untuk segera resign dari sana. Lebih baik Gagah bekerja di perusahaan Papa daripada bertahan di BDS mesti berhadapan dengan orang-orang serakah seperti mereka." Widya berharap Airin dapat mempengaruhi Gagah dan mau segera resign dari jabatan CEO di perusahan retail itu.

__ADS_1


"Iya, Ma. Nanti aku akan coba bilang ke Mas Gagah." Airin teringat jika Gagah pernah mengatakan jika akan rela meninggalkan jabatannya sebagai CEO di perusahaan milik Bintang Gumilang jika ada hal genting yang akan mempengaruhi rumah tangganya.. Sehingga Airin merasa yakin akan mudah meminta Gagah untuk berhenti bekerja dari Bintang Departement Store.


Airin juga tidak ingin suaminya dilibatkan dalam konflik internal keluarga Bintang. Dia tidak mau Gagah mendapatkan masalah ke depannya jika Gagah tetap mempertahankan jabatannya saat ini.


***


Malam harinya Prasetyo dan Gagah ikut hadir dalam acara tahlil hari pertama meninggalnya Bintang Gumilang. Suara duka menyelimuti kediaman rumah Bintang. Farah masih belum bisa menyembunyikan kesedihannya karena kehilangan suami. Gadis pun merasakan hal yang sama. Mata sembab terlihat jelas di kelopak mata istri dan anak Bintang. Sementara Florencia masih belum menampakkan wujudnya di tengah-tengah anggota yang ikut melakukan doa tahlil. Wanita itu masih mengurung diri di kamarnya.


Sedangkan kedua adik tiri Bintang beserta istrinya sama-sama sibuk mencari perhatian para direksi dan pemegang saham Bintang. Departement Store yang kebetulan hadir di tahlil hari pertama untuk mendoakan arwah Bintang.


Selepas acara tahlil selesai diadakan, Gagah dan Prasetyo serta jamaah tahlil lainnya kembali ke rumah masing-masing. Rumah Bintang mulai sepi, hanya pihak kerabat yang masih ada di rumah besar Bintang.


"Mbak, sebaiknya segera diadakan rapat untuk menentukan pimpinan baru di BDS." Dicky membahas soal urusan perusahaan ketika Farah ingin meninggalkan ruangan tamu yang dijadikan tempat mengadakan doa tahlil bersama kerabat dan para tetangga di rumahnya.


"Sebaiknya jangan membicarakan soal perusahaan saat ini, Dicky. Kita sedang dalam kondisi berkabung, tidak sepantasnya kita membahas itu." Dengan nada tercekat Farah menyampaikan keberatan atas apa yang ingin dibicarakan adik tirinya.


Farah melanjutkan langkahnya. Dia tidak menghiraukan lagi apa yang diucapkan oleh Dicky dan juga Romi. Hatinya sedang berduka dan terluka, tak terpikirkan di benaknya untuk membahas urusan pekerjaan saat ini. Lagipula ia merasa tidak ada masalah dengan perusahaan yang dikelola oleh Gagah sekarang. Bintang Departement Store semakin kokoh dengan membuka cabang di berbagai daerah sejak dihadle Gagah.


"Apa salahnya membicarakan soal rapat sebentar? Lagipula bukan sekarang ini juga diadakan rapatnya!" gerutu Dicky menanggapi sikap Farah yang tidak meladeninya.


"Benar, Mas. Jangan sampai si Gagah itu menghasut Mbak Farah lebih dulu," timpal Romi sama kecewanya dengan Dicky.


"Iya, lho, Mas. Apalagi sejak siang tadi Gagah terus mendekati Mbak Farah. Siapa tahu dia sedang berusaha mempengaruhi Mbak Farah agar tetap memberikan jabatan CEO di BDS." Sandra, istri Romi ikut berkomentar menambah panas suasana.

__ADS_1


"Mas Dicky coba mendekati Flo, Flo juga pewaris dari harta Mas Bintang, kalau Mbak Farah sulit untuk dipengaruhi, kita harus menggunakan Flo sebagai senjata untuk mengambil alih posisi Gagah, Mas. Biar Flo yang kita naikan untuk posisi CEO, dan kita bisa setir Flo sesuai keinginan kita." Lidya, istri dari Dicky berbisik memberi ide kepada suaminya dan saudara iparnya bagaimana cara mendapatkan perusahaan milik kakak iparnya tersebut.


"Tapi Flo tidak juga mau bergabung dengan kita sejak Mas Bintang meninggal. Dia mengurung diri terus di kamar, bagaimana kita bisa mempengaruhi Flo?" keluh Sandra.


"Itu tugas kalian berdua sesama wanita. Kamu dekati Flo, bujuk dia agar mau terjun langsung mengurus perusahaan. Aku pikir apa yang Lidya katakan benar, saat ini biar Flo ambil alih perusahaan itu dari Gagah, setelah itu kita yang memainkan peranan di sana." Keempat orang itu terus saja berdiskusi soal rencana merebut perusahaan retail ternama milik Bintang Gumilang.


Tanpa mereka sadari jika percakapan mereka didengar oleh Gadis yang saat itu hendak ke kamar Mamanya. Gadis merasa kesal dengan sikap kedua saudara tiri papanya berserta istri-istrinya yang ia anggap tidak punya etika.


"Dasar orang-orang tidak tahu malu! Keluarga sedang berduka malah membicarakan soal warisan!" geram Gadis bergumam, "Ini tidak boleh dibiarkan, Papa pasti tidak suka jika perusahaan jatuh ke tangan Om Dicky dan Om Romi." Gadis keluar dari persembunyiannya di mana sejak tadi ia mendengarkan apa yang diperbincangkan oleh kedua Om dan Tantenya.


"Om dan Tante ini sama saja, tidak punya empati, ya!? Tidak tahu malu membicarakan masalah warisan punya Papa!?" Dengan suara lantang Gadis menegur Dicky, Romi dan istri mereka. "Om itu tidak punya hak dengan perusahaan Papa! Mama, Kak Flo dan aku yang lebih berhak atas harta warisan Papa!" tegas Gadis seolah tak gentar harus berhadapan dengan keempat orang dewasa di hadapannya saat ini.


Keempat orang yang sedang merencanakan menggulingkan posisi Gagah terkesiap mendengar kemunculan Gadis. Mereka berempat saling pandang karena ketahuan sedang berencana menguasai harta milik Bintang Gumilang.


*


*


"


Bersambung ....


Happy reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2