JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Percikan Cemburu


__ADS_3

Airin menyiapkan pakaian kerja suaminya seperti yang biasa ia lakukan setiap pagi. Perut buncitnya tak menghalangi kewajibannya sebagai seorang istri melayani suaminya. Sedangkan Gagah masih berada di kamar mandi, sementara Luna sudah turun ke bawah dan bergabung dengan Widya. Keberadaan dirinya dan juga Luna membuat aktivitas Widya lebih berwarna dengan ikut membantu mengurus Luna.


Airin lalu memasukkan laptop milik sang suami ke dalam tas kerja termasuk ponsel milik Gagah, agar tidak tertinggal ketika suaminya berangkat nanti. Setelah ia rasa tak ada barang-barang Gagah yang tertinggal, ia menaruh tas kerja Gagah di sofa. Setelah semua sudah disiapkan, ia kemudian duduk di tepi tempat tidur menunggu sang suami menyelesaikan mandinya.


Ceklek


Suara pintu kamar mandi terdengar terbuka, spontan Airin menoleh ke arah kamar mandi. Senyuman mengembang ketika melihat Gagah keluar dari kamar mandi mengenakan handuk yang terlilit di pinggang dan handuk kecil di tangannya. Airin bangkit dan mendekat ke arah Gagah lalu mengambil handuk kecil di tangan Gagah. Dia membantu mengeringkan rambut Gagah yang baru keramas setelah ia menyuruh Gagah duduk terlebih dahulu di tepi tempat tidur.


Perlakuan manis Airin membuat Gagah mengulum senyuman. Dia seperti anak kecil yang sedang diladeni oleh orang tuanya. Dia lalu merengkuh tubuh Airin yang berdiri di depannya.


"Kamu manis sekali hari ini, Ay." ucap Gagah memuji sang istrinya. Tentulah Gagah merasa senang dengan perlakuan Airin padanya saat ini.


"Memang biasanya tidak manis, Mas?" Airin menatap wajah sang suami dengan melebarkan bola matanya.


"Manis juga, sih. Tapi hari ini terlihat beda. Aku curiga, jangan-jangan ini kode kalau kamu mau minta jatah, ya?" Gagah terkekeh meledek Airin dan menarik hidung mancung Airin.


"Ya ampun, Mas. Sudah mandi, kepala sudah disiram, rambut sudah dikeramas, mikirnya masih gitu saja!" Airin memutar bola matanya dan mengacak gemas rambut sang suami dengan handuk yang dia pegang.


Gagah tergelak melihat reaksi sang istri. Dia mengurai tangan Airin yang ada di kepalanya lalu berkata, "Jangan KDRT, dong, Ay."


Airin lalu duduk di pangkuan Gagah dengan tangan melingkar di tengkuk Gagah. Matanya memandamg wajah sang suami. Alis hitam tebal tertata rapih, Manik mata coklat kehitaman yang selalu menatapnya penuh keteduhan. Hidung mancung dengan rahang tegas dan ditumbuhi rambut halus. Betapa sempurnanya mahluk ciptaan Sang Khaliq yang saat ini berstatus sebagai suaminya itu.


Buku jari tangan Airin menusap rambut yang tubuh di sekitar rahang sang suami sambil berkata, "Mas ganteng banget ..." Airin mengagumi ketampanan suaminya.


"Suami siapa yang ganteng ini?" tanya Gagah terkekeh.


"Suami akulah, Mas." Suara tawa kecil kecil Gagah tertular pada Airin, "Untung Mas tidak pernah jatuh cinta pada wanita lain sebelum bertemu aku," sambungnya.


"Kenapa memangnya?" Guratan di kening Gagah terlihat saat mendengar perkataan Airin.


"Kalau Mas sudah jatuh cinta pada wanita lain, Mas tidak akan memaksa aku untuk menikah dengan Mas, kan?" Airin merasa beruntung dengan sikap suaminya yang tidak mudah jatuh cinta pada wanita sebelum dipertemukan dengannya.


Gagah mengembangkan senyuman, tak pernah ia berpikiran seperti apa yang disampaikan istrinya tadi. Dia tak ambil pusing bagaimana ia dulu, yang terpenting adalah sekarang ini ia sudah bahagia dengan pernikahannya dengan Airin.


"Mungkin Tuhan memang menjaga hati dan mataku agar tidak melirik wanita lain, agar mata dan hatiku hanya bisa menatapmu dan jatuh cinta padamu seorang." Kalimat Gagah terdengar begitu romantis.


"Untung saja saat itu aku sudah bercerai, kalau aku masih mempunyai suami, apa Mas masih memaksa akan menikahiku?" Airin menganggap mungkin perselingkuhan Rey dan perceraiannya dengan Rey juga pertemuannya dengan Gagah adalah jalan yang memang sudah ditakdir oleh Allah SWT untuknya dan untuk Gagah.


"Kalau kamu masih punya suami, mana mungkin Mama akan menjodohkan denganku," tepis Gagah kembali mencubit gemas hidung Airin.


Airin melirik tajam suaminya, ia teringat jika suaminya pernah menolak perjodohan mereka. "Bukannya Mas memang menolak dijodohkan? Tapi bagaimana dengan pertemuan kita di bank dulu? Waktu itu Mas menatapku terus. Waktu itu Mas tidak tahu siapa aku, tapi Mas sudah terpikat padaku, kan?" sindir Airin, ia yakin jika Gagah akan tetap terpikat padanya seandainya saat itu ia masih bersuami.


"Sudahlah, Ay. Kalau membicarakan hal itu terus yang ada kamu akan aku kurung di sana." Gagah melirik ke tempat tidur. Tentulah maksud dari perkataan Gagah adalah akan membawa Airin menikmati percintaan.


Airin seketika bangkit dari duduk, ia ingat saat ini suaminya belum berpakaian dan hanya masih memakai handuk, apalagi mendengar ucapan suaminya tadi, bisa-bisa mereka akan melewatkan sarapan pagi dan menggantinya dengan sarapan yang lain.


"Cepat pakai bajunya, Mas. Aku tunggu di bawah." Airin bergegas keluar dari kamar, tak ingin mereka sampai kebablasan melakukan percintaan di pagi hari.


***


Ting


Gagah keluar dari lift yang membawa dirinya ke lantai di mana ruang kerjanya berada. Dia melangkah ke arah ruangannya. Namun matanya menatap ke meja Haikal yang terlihat kosong.


"Selamat pagi, Pak." Dewi menyapa ketika melihat kedatangan bosnya.


"Pagi," sahut Gagah, "Haikal ada di dalam, Wi?" Gagah menunjuk ke arah ruangan kerja Gadis.


"Iya, Pak." jawab Dewi.


"Tolong suruh dia ke ruangan saya nanti, Wi" perintah Gagah sebelum masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Baik, Pak." sahut Dewi.


Gagah masuk ke dalam ruangannya. Dia menaruh tas kerja lalu duduk di atas kursi kebesarannya. Dia menyalakan laptop untuk memulai pekerjaan yang sudah disiapkan oleh Dewi sebelumnya di atas meja kerja..


Tiga puluh menit kemudian, Haikal masuk ke dalam ruangan kerja Gagah setelah selesai membantu pekerjaan Gadis. "Kak Gagah memanggil aku?" tanya Haikal mendekat ke arah meja kerja Gagah.


Gagah bersandar di sandaran kursi kerjanya. "Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Gagah.


"Dia sedang mengikuti pelajaran dari Bu Siska." Haikal menyebut jika saat ini Gadis sedang serius dengan pelajaran homeschooling nya.


"Duduk dulu, Kal." Gagah mempersilahkan Haikal duduk di kursi depan meja kerjanya.


Haikal menarik kursi dan mendudukinya. Dia tahu jika Gagah ingin membahas masalah orang yang datang ke rumah Om Fajar kemarin sore.


"Apa orang itu sudah menghubungi kamu lagi?" tanya Gagah.


"Belum, Kak. Mungkin agak siangan dia menghubungiku,." jawab Haikal.


Gagah menganggukkan kepalanya perlahan sambil mencoba menerka-nerka, siapa orang yang mengincar Haikal. Dia sendiri merasa penasaran dengan maksud orang tersebut. Apalgi orang itu mengatakan ada hubungannya dengan pekerjaan Haikal. Sementara ia sendiri merasa tidak ada masalah dengan pekerjaan yang sedang Haikal jalani sekarang ini.


"Apa belakang ini kamu punya masalah dengan orang lain, Kal? Yang berhubungan dengan pekerjaan?" tanya Gagah mulai menyelidik.


Haikal mencoba mengingat-ingat, Selama ini ia merasa dirinya aman-aman saja, seandainya ada yang tidak suka atau tersinggung dengan sikapnya, orang itu adalah Gadis. Tapi, ia merasa jika orang yang menghubunginya bukan orang suruhan Gadis.

__ADS_1


"Aku rasa tidak ada, Kak." tepis Haikal.


"Apa belakangan ini kamu bertemu dengan orang asing yang menurut kamu aneh? Yang berhubungan dengan kamu, pekerjaan kamu atau dengan Gadis?" Gagah seperti seorang detektif yang menyelidiki sebuah kasus penting.


"Tidak, Kak." sahut Haikal cepat, namun tiba-tiba ia teringat akan pertemuannya dengan dua orang wanita di rumah Gadis ketika mengantar bosnya itu pulang. "Ah, iya ... beberapa hari lalu, aku pernah bertemu dengan keluarga Om nya Gadis, Kak." lanjut Haikal.


Gagah memperbaiki posisi duduknya. Dugaannya langsung mengarah pada kedua adik tiri Bintang yang sepertinya berusaha memanfaatkan Haikal untuk mencapai apa yang mereka inginkan.


"Siapa? Dicky atau Romy? Kamu bertemu di mana?" tanyanya.


"Sepertinya itu istri dan anaknya, Kak. Aku bertemu di rumah Gadis waktu aku antar dia pulang," jelas Haikal.


"Kamu bertemu mereka langsung?" tanya Gagah kembali.


"Iya, Kak. Mereka bahkan mengira kalau aku ini supir pribadi Gadis," jawab Haikal.


Gagah menghela nafas panjang. Dia hapal bagaimana kelakuan keluarga adik tiri Bintang Gumilang. Bukan tidak mungkin orang yang menemui Haikal adalah orang-orang suruhan Dicky dan Romy.


"Jika dugaan Kakak benar, sepertinya merekalah oramg di balik Denny ini, Kal." Tanpa ragu, Gagah langsung menghubungkan jika Om tiri Gadis lah yang menyuruh Denny menemui Haikal.


"Maksud Kak Gagah, Om tiri Gadis?" Haikal menangkap kata-kata Gagah.


"Menurut kamu, siapa yang lebih memungkinkan selain mereka?" Gagah menyuruh Haikal berpikir secara rasional.


"Memangnya untuk apa mereka mencariku, Kak?" tanya Haikal heran, ia masih belum memahami kenapa dia yang dihubungi oleh Om tiri Gadis.


Sudut bibir Gagah tertarik tipis ke atas, ternyata adik iparnya msih terlalu polos dalam memahami trik yang dipakai orang-orang licik untuk mencapai tujuan mereka.


"Karena mereka menganggap kamu bisa mereka manfaatkan, Kal. Mereka mengira kamu supir Gadis, setridak mereka pikir kamu bisa mereka ajak bekerja sama. Sayang mereka tidak tahu jika kamu adalah adik iparku." Gagah tersenyum mencibir seolah menertawakan kebo dohan adik tiri Bintang.


Haikal terkesiap saat mengetahui jika dirinya akan dimanfaatkan oleh bos dari Denny. Dia sama sekali tidak menduga jika kedekatannya dengan Gadis justru akan menjadi masalah baginya. Selama ini, terutama ketika berada di Yogyakarta, hidupnya terasa damai, meskipun ada sedikit gunjingan ketika ia naik jabatan, itu hanya sekedar ucapan-ucapan sinis tanpa ada tindakan yang akan membahayakan dirinya.


"Lalu aku harus bagaimana, Kak?" Haikal meminta pendapat Gagah, ia menyerahkan semuanya pada kakak iparnya itu dan akan mengikuti apa yang disarankan oleh Gagah.


"Temui saja mereka, cari tahu apa yang mereka inginkan dari kamu. Jika apa yang mereka mau sama seperti yang kakak bilang tadi, jangan langsung ditolak kalau ia memberimu perintah, Ikuti saja permainan mereka. Sampai di mana nyali mereka masih berani saja mengusik keluarga Bu Farah. Dan jangan katakan kalau kamu adalah adik iparku. Nanti Kakak akan menyuruh orang untk mengawasi kamu saat kamu bertemu dengan mereka." Gagah mulai menjelaskan rencananya. Dia juga perlu memantau aksi kedua adik tiri Bintang, jika ia bisa mendapatkan bukti yang kuat mereka masih saja mengganggu keluarga Gadis, ia tidak segan akan membawa mereka ke ranah hukum.


"Baik, Kak." Haikal mengerti apa yang dijelaskan oleh Gagah.


"Kamu boleh kembali ke mejamu. Kabari kakak kalau orang itu sudah menghubungimu lagi." Gagah mempersilahkan Haikal melanjutkan pekerjaannya.


"Baik, Kak." Haikal bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke luar dari ruangan kerja Gagah untuk kembali ke mejanya.


Gagah mendengus kasar sambil menyandarkan punggungnya kembali ke sandaran kursi. Tangannya menggusap rahangnya dibarengi senyuman tipis di bibirnya. "Kalian ingin bermain-main denganku rupanya. Apa perlu aku kirim kalian ke penjara agar kalian jera dan tak lagi mengusuk keluarga Pak Bintang?" gumam Gagah. Tangannya kemudian mengambil ponsel di atas meja. Ia ingin menghubungi seseorang dengan ponselnya itu.


"Selamat pagi, Pak Gagah. Apa ada yang bisa kami kerjakan?" tanya seseorang dari ponsel Gagah ketika sambungan teleponnya terhubung dengan orang yang ia telepon.


"Siap, Pak Gagah. Jam tiga nanti saya sudah menunggu di depan kantor BDS." jawab Rudy menyanggupi apa yang diperintahkan Gagah kepadanya.


"Terima kasih, Pak Rudy. Nanti saya kirimkan nomer ponsel adik ipar saya." Setelah itu Gagah langsung menutup panggilan teleponnya lalu mengirim nomer telepon Haikal agar Rudy dapoat berkomunikasi dengan adik iparnya itu.


***


Haikal melirik arloji pemberian Gadis di tangannya. Haikal terpaksa memakai jam tangan itu sebab Gadis pasti akan memprotes jika ia tidak memakainya dan menganggap dirinya tidak menghargai pemberian Gadis.


Saat ini waktu sudah lewat jam satu siang, namun Gadis tidak juga menyuruh Dewi memesankan makanan di kantin, ataupun memintanya mengantar Gadis makan siang di luar.


Haikal tidak ingin Gadis telat makan hingga membuatnya bangkit dari kursinya untuk masuk ke ruangan kerja Gadis dan menanyakan bosnya akan makan di mana.


Tok tok tok


Kening Haikal berkerut saat ia masuk ke dalam ruang Gadis, ia melihat Gadis menelungkupkan wajah di atas tangan yang melipat di atas meja. Haikal menduga jika Gadis tertidur hingga lupa untuk makan siang.


Haikal berjalan perlahan mendekati Gadis, untuk memastikan jika Gadis benar tidur atau tidak. Dia harus membangunkan Gadis dan menyuruh Gadis beristirahat di kamar istirahat yang juga ada di ruangan Gadis daripada Gadis tidur dengan posisi seperti sekarang.


"Mbak ..." Haikal berbicara dengan nada pelan, ia takut membuat Gadis terkejut.


"Hmmm ..." sahut Gadis tanpa merubah posisi kepalanya yang terkelungkup.


"Maaf, Mbak tidak makan siang?" tanya Haikal.


"Nanti saja ..." sahut Gadis dengan nada teredam sebab ia menelungkupkan wajahnya.


"Ini sudah jam satu lebih, Mbak, Jangan telat makan nanti Mbak sakit." Haikal selalu mengingatkan Gadis agar selalu menjaga kesehatan sejak ia bertugas menjadi asisten pribadi Gadis.


Gadis mengangkat kepala dan mengusap wajahnya, lalu ia memegangi perut dengan meringis. Terlihat wajah cantik wanita itu memucat.


"Perut aku sakit, Kak." keluh Gadis kembali meringis.


"Perut kamu sakit? Itu pasti karena kamu telat makan." Saking khawatir, Haikal sampai menanggalkan kata 'Mbak' ketika berbicara pada Gadis, "Apa kamu mau saya panggilkan dokter?" Haikal menawarkan dokter yang bertugas di perusahaan BDS untuk memeriksa Gadis.


"Tidak usah, Kak. Ini hanya sakit perut biasa karena menstruasi saja, kok." tolak Gadis.


"Kamu makan dulu, nanti saya pesankan makanannya. Kamu biasa minum obat apa? Nanti saya minta tolong Mbak Dewi untuk membelikan obat untuk kamu." Haikal benar-benar menunjukkan keperduliannya pada Gadis.


Perhatian Haikal meskipun mengatasnamakan pekerjaan, namun sudah cukup membuat Gadis senang. Dia menganggap jika perhatian Haikal bukan karena Haikal adalah asistennya, tapi karena rasa sayang Haikal pada dirinya.

__ADS_1


"Bilang saja obat sakit perut karena haid, Kak. Tolong Mbak Dewi suruh carikan obatnya," Gadis meminta bantuan Haikal untuk menyampaikan pada Dewi.


"Kamu mau makan apa? Nanti sekalian aku pesankan," tanya Haikal kemudian.


"Apa saja, deh. Tapi jangan banyak-banyak nasinya, sedikit saja," jawab Gadis.


Haikal mengangguk kemudian meninggalkan Gadis untuk menyampaikan pesanan Gadis pada Dewi.


***


Ddrrtt ddrrtt


Haikal melirik ponselnya yang berbunyi di atas meja. Tangannya meraih ponsel, matanya memperhatikan nomer yang berjejer di layar ponsel itu. Haikal tak mengenal nomer yang menghubunginya saat ini. Namun ia menduga jika yang menghubungi adalah nomer telepon Denny. Haikal segera mengangkat panggilan masuk itu.


"Halo ..." Haikal menunggu jawaban dari si penelepon.


"Selamat siang, Mas Haikal. Saya Denny, apa saya menggaggu kerja Mas Haikal?" Tepat seperti dugaannya, ternyata Denny lah yang menghubungi.


'Tidak, Pak. Bagaimana. Pak Denny?" tanya Haikal sudah tidak sabar ingin tahu apa yang Denny inginkan darinya.


"Apa sore nanti Mas Haikal bisa datang di Napoleon Caffe? Tempatnya tidak jauh dari tempat tinggal Mas Haikal." Denny menyebut di mana ia dan bosnya ingin bertemu dengan Haikal.


"Baik, Pak. Nanti saya kabari Pak Denny kalau saya jalan menuju ke sana. Mungkin setelah Maghrib saya baru bisa bertemu dengan Pak Denny." Sesuai saran dari Gagah, Haikal akan menemui dan mengikuti permainan Denny dan bosnya.


"Oke, Mas Haikal. Saya tutup dulu teleponnya. "Selamat siang."


Haikal langsung mengakhiri sambungan telepon setelah Denny berpamitan. ia lalu bangkit dan berjalan ke ruangan Gagah untuk memberitahu Gagah soal rencana pertemuannya dengan Denny dan bosnya selepas Maghrib nanti.


Sore harinya setelah Haikal mengantar Gadis pulang ke rumah, Haikal tidak diijinkan pulang cepat oleh Gadis. Gadis meminta Haikal untuk membantunya menyelesaikan tugas dari Bu Siska terlebih dahulu,. Dia sengaja tidak mengerjakannya di kantor karena ia ingin minta bantuan Haikal untuk membantunya mengerjakan tugas itu di rumah,


"Kenapa kamu tidak mengerjakan tugasmu sendiri, Gadis?" Farah menegur putrinya karena Gadis menghalangi Haikal yang ingin pulang cepat.


"Aku masih kurang paham dengan materinya, Ma." Gadis beralasan.


Farah menggelengkan kepalanya. Dia melihat Gadis selalu bersikap manja setiap berada dekat Haikal.


"Kenapa kamu tidak minta tolong sama guru kamu saja? Kasihan kalau Haikal disuruh membantu kamu mengerjakan tugas pelajaran kamu." Farah mengkritik sikap Gadis.


"Diterangkan sama Bu Siska tidak masuk-masuk, Ma. Enak diterangkan sama Kak Haikal, lebih mudah masuk di otak." Gadis beralasan jika ia lebih nyaman diterangkan oleh Haikal, padahal itu hanya alasan saja agar dia bisa menahan Haikal lebih lama di rumahnya.


"Kamu ini ada-ada saja," Farah menggelengkan kepala mendengar jawaban putrinya, kemudian ia meninggalkan Gadis dan Haikal agar Gadis bisa cepat menyelesaikan tugasnya, supaya Haikal bisa cepat pulang.


Haikal melirik Gadis, ia tahu jika apa yang dikatakan Gadis bukan alasan yang sebenarnya. Dia melirik ke arah arloji di tangannya. Saat ini jam sudah melewati pu kul lima sore. Untung saja ia membuat janji bertemu dengan Denny setelah Maghrib, karena saat ini dia masih belum keluar dari rumah Gadis.


"Kenapa dari tadi lihatin arloji terus, Kak? Suka sama jam yang aku kasih atau kepengen buru-buru pulang?" sindir Gadis saat melihat Haikal bolak-balik melirik arlojinya.


"Kerjakan saya tugas kamu biar cepat selesai." Haikal menyuruh Gadis tidak berlama-lama dengan mengajaknya mengobrol di luar pembahasan soal tugas Gadis agar ia bisa cepat pulang.


"Kok, Kak Haikal ingin buru-buru pulang banget, sih!?" Gadis memberengut mendengar ucapan Haikal.


"Saya ada janji ketemu orang dengan setelah Maghrib, tidak enak kalau saya ingkar janji," sahut HaikalĀ  menjelaskan kenapa ia nampak gelisah karena belum diijinkan pulang.


Bola mata Gadis membulat ketika mendegar pengakuan Haikal jika pria itu berjanji bertemu dengan seseorang. Dugaannya sudah jauh mengira, jika orang yang akan ditemui oleh Haikal adalah seorang wanita. Seketika percikan cemburu mulai muncul di hatinya, membuat air mukanya berubah.


"Janjian ketemu dengan cewek, ya?!" Pertanyaan Gadis terdengar bernada sinis.


"Kenapa memangnya kalau saya ingin bertemu dengan wanita? Tidak ada aturan di kontrak kerja saya kalau saya dilarang bertemu dengan wanita, kan? Apalagi di luar jam kantor." Haikal sengaja menyindir sebagai balasan pertanyaan Gadis tadi.


Gadis mendengus kesal mendengar jawaban Haikal. Dadanya terasa meletup-letup. Gadis tidak dapat menyembunykan rasa cemburunya mengetahui Haikal janji bertemu dengan seorang wanita. Dia langsung mematikan laptopnya kemudian bangkit dari duduknya.


"Kalau Kak Haikal mau pulang, pulang saja sana!" Gadis membawa laptop dan tasnya kemudian meninggalkan Haikal berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Haikal menatap langkah Gadis yang berlalu darinya dengan kemarahan. Dia mendengus kasar. sikap Gadis begitu jelas memperlihatkan kecemburuan Gadis terhadapnya, padahal ia tidak akan bertemu dengan wanita.


Haikal kemudian berjalan ke arah dapur mencari Farah untuk berpamitan, karena ia tidak mungkin membujuk Gadis saat ini.


"Bu, saya pamit pulang dulu." Haikal menemui Farah di dapur yang sedang berbincang dengan Bi Iroh, Farah sedang menerangkan pada Bi Iroh menu masakan yang akan dimasak besok.


"Lho, sudah selesai Gadis menyelesaikan tugas, Haikal?" tanya Farah


"Gadis ingin mengerjakan tugasnya sendiri, Bu." Tidak mungkin Haikal mengatakan yang sejujurnya jika Gadis marah kepadanya karena Gadis cemburu.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan, Haikal." ujar Farah.


"Baik, Bu. Assalamualaikum ..." Haikal berpamitan.


"Waalaikumsalam ..." jawab Farah.


Haikal kemudian berjalan ke luar rumah Bintang Gumilang untuk mengambil motornya. Dia akan kembali ke rumah Om Fajar karena ia ingin mandi dan sholat Maghrib terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Denny dan bosnya di cafe tempat mereka berencana bertemu.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2