JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Wanita Pilihan Sendiri


__ADS_3

Airin memarkirkan motor maticnya di halaman rumah Om Fajar saat pulang dari kantor. Dia lalu berjalan ke teras rumah dengan membuka helm di kepalanya dan meletakan di rak tempat menyimpan helm yang ada di dekat pintu masuk.


"Assalamualaikum ..." sapa Airin saat masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam ... baru pulang, Rin?" tanya Tante Mira yang kebetulan saat itu keluar dari kamarnya yang berada di sisi kanan ruangan tamu.


"Iya, Tan." Airin menghampiri Tante Mira lalu mencium punggung tangan tantenya. "Luna mana, Tante?" tanya Airin kemudian.


"Luna keluar sama Feby, katanya mau ke mini market di depan," sahut Tante Mira.


"Luna minta jajan?" tanya Airin kembali.


"Tidak, bukan Luna yang minta jajan. Tapi, Feby tadi mau beli pembalut, dia mengajak Luna untuk menemani," cerita Tante Mira.


"Oh, gitu ..." Airin menganggukkan kepala tanda mengerti, lalu dia berkata, "Aku mau mandi dulu, ya, Tan. Mumpung Luna tidak ada." Airin berpamitan ingin ke kamarnya, karena dia ingin membersikan tubuhnya terlebih dahulu. Sebab, jika Luna tahu dirinya sudah datang, Luna pasti senang bermanja-manja bergelayut padanya.


"Ya sudah sana ...."


Setelah mendapat ijin Tantenya, Airin lalu beranjak menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Airin melempar tas kerja di sofa yang ada di kamarnya kemudian menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke atas sofa. Perbincangan dengan Gagah siang tadi masih membuatnya berpikir keras.


Gagah menegaskan jika dirinya akan tetap berusaha mendapatkan hati Airin, hal itu tentu saja merisaukan hati Airin.


"Ya Allah, kenapa Engkau menghadirkan pria lain secepat ini?" Tanpa sadar Airin mengeluh dalam hatinya.


"Ya ampun, kenapa aku berpikiran seperti itu?" Airin mengerjapkan matanya, karena dia mengeluhkan takdirnya.


"Nek, Mama mana?" Dari luar kamar, terdengar suara Luna yang berseru mencarinya.


Airin bergegas masuk ke dalam ke kamar mandi sebelum anaknya itu masuk ke dalam kamar.


***


Saat makan malam bersama suami dan putra bungsunya, Widya berkali-kali mencuri pandang Gagah dengan senyum sumringah di wajahnya. Tidak dapat dipungkiri, berita yang disampaikan oleh Sobirin membuat hati Widya bahagia. Bagaimana tidak? Tanpa sepengetahuannya, Gagah malah sering berinteraksi dengan Airin, itu sama saja membuat pekerjaannya lebih mudah. Dia tidak perlu bersusah payah mencari cara mendekatkan mereka berdua lagi.


"Sejak tadi Papa perhatikan, Mama senyum-senyum terus. Ada apa ini?"


Prasetyo baru menghabiskan menu makan malamnya. Dia mengambil beberapa lembar tissue untuk mengelap mulutnya. Dia sejak tadi mendapati istrinya itu terus saja mengulum senyuman sambil melirik ke arah Gagah.


" Eh, hmmm, itu, Pa. Hati Mama sedang merasakan bahagia," ungkap Widya. Wanita itu memang tidak dapat menutupi rasa senangnya.


"Senang karena apa, Ma? Dapat arisan?" Prasetyo terkekeh meledek istrinya.


Sementara Gagah langsung melirik ke arah Widya yang duduk di kursi seberang berhadapan dengannya. Dia tidak menyadari jika hal yang membuat hati Mamanya bahagia adalah karena dirinya.


"Ini lebih menyenangkan dari sekedar dapat arisan, lho, Pa!" tepis Widya.

__ADS_1


"Apa, sih, Ma? Bikin Papa penasaran saja?" tanya Prasetyo. Karena Widya tidak menceritakan apa yang dikatakan Sobirin, sehingga pria itu benar-benar tidak tahu, apa yang membuat Widya terlihat bahagia.


"Hmmm ..." Widya menoleh ke arah Gagah yang masih menatap Mamanya itu. "Teman pengajian Mama punya anak gadis cantik, nanti akhir pekan Mama mau undang dia sama anaknya itu kemari. Mama harap kamu bisa bertemu dengan dia nanti, Gah." Sudah pasti semua itu hanya bualan Widya semata. Dia sengaja ingin tahu reaksi Gagah jika dia mengatakan ingin mengenalkan Gagah pada wanita lain.


"Mama mau menjodohkan Gagah dengan anak teman pengajian Mama?" Prasetyo menaikkan kedua alisnya sangat terkejut karena istrinya masih saja mengurus soal jodoh Gagah.


"Mama ini apa-apaan, sih? Semua wanita ingin Mama kenalkan ke aku, semua wanita ingin dijodohkan dengan aku. Memangnya Mama pikir aku tidak bisa mencari calon istri sendiri?" Gagah yang belum menyelesaikan makanannya langsung meletakkan sedok dan garpu di atas piringnya.


"Kalau kamu memang bisa cari calon istri sendiri, cepat bawa kemari, kenalkan pada Mama dan Papa!" Widya menantang Gagah.


"Keponakan Tante Mira yang cantik, kamu tolak dengan alasan tidak ingin menikah dengan wanita yang pernah berumah tangga. Ya sudah, sekarang Mama carikan wanita yang masih gadis, dan belum pernah pacaran." Widya masih menjalankan sandiwaranya dengan baik.


Gagah mendengus kasar. Dia berpikir jika Mamanya belum mengetahui jika dia sudah bertindak lebih cepat dari yang Mamanya itu perkirakan.


"Ma, mulai saat ini, jangan kenalkan lagi aku pada anak atau siapapun dari teman Mama. Aku punya pilihan sendiri." Tanpa mau menyebutkan siapa wanita yang dia maksud sebagai wanita pilihannya, Gagah menegaskan dan melarang Widya membawa wanita lain dari kerabat Mamanya itu untuk dikenalkan padanya.


"Aku duluan, Pa." Gagah bangkit dari kursi makan dan berpamitan kepada Prasetyo kemudian meninggalkan kedua orang tuanya di ruangan makan.


"Mama lihat, kan? Gagah jadi marah seperti itu." Prasetyo menyanyangkan sikap Widya yang terlalu mengatur Gagah hingga membuat anaknya itu kesal.


"Papa tenang saja, deh! Semua aman terkendali, kok!" Widya mengibas tangannya ke udara, menganggap jika itu bukanlah masalah besar yang harus mereka pusingkan, karena dia sangat yakin jika wanita pilihan Gagah adalah Airin.


Sementara di kamar Airin, wanita cantik itu sedang duduk di tepi jendela kamarnya dengan melempar pandangan ke luar jendela. Hatinya sungguh merasa gelisah. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh Gagah terhadapnya membuatnya resah.


Walau sudah dikhianati, tapi, tak semudah itu dirinya bisa membu nuh rasa cinta di dalam hatinya kepada Rey. Dia juga takut merasakan pengkhianatan kembali. Hal itulah yang membuatnya membentengi hatinya untuk tidak ingin menjalin hubungan dengan pria lain, khususnya dalam waktu dekat ini. Namun, sikap Gagah yang seolah tidak perduli dengan penolakannya membuatnya takut akan jatuh hati pada pria itu.


Airin lalu melangkah ke arah nakas untuk mengambil ponselnya. Dia ingin menghubungi orang tuanya yang menetap di Jogya.


"Assalamualaikum, Bu. Ibu sedang istirahat? Apa Airin mengganggu istirahat Ibu?" sapa Airin ketika panggilan teleponnya tersambung dengan ibunya.


"Waalaikumsalam, Rin. Tidak, kok, Nak. Ibu baru selesai buatkan nasi goreng untuk adikmu," jawab Ibu Heni menjelaskan jika dia baru selesai menyiapkan makan malam untuk adik laki-laki Airin yang bekerja di mall.


Airin seketika teringat jika Mall tempat kerja adiknya itu adalah retail yang sama dengan retail yang dipimpin oleh Gagah.


"Haykal baru pulang, Bu?" tanya Airin melirik di jam dinding, saat ini sudah menunjukkan pu kul 21.30 menit.


"Iya, Rin." jawab Ibu Heni.


"Ibu sama Bapak gimana kabarnya?" tanya Airin.


"Alhamdulillah baik, Rin. Cuma kemarin saja, Bapak kena masuk angin," sahut Ibu Heni menjelaskan kondisi suaminya.


"Bapak sakit? Sudah dibawa ke dokter belum, Bu?" Airin seketika cemas mendengar orang tuanya sakit.


"Hanya masuk angin saja, Rin. Sudah minum obat dan sudah dikerik, sudah mendingan sekarang," jelas Ibu Heni, saat mendengar kecemasan Airin.


"Syukurlah kalau sudah sembuh, Bu." Airin menarik nafas lega.

__ADS_1


"Kamu sama keluargan Om mu di sana gimana, Rin?" Kini giliran Ibu Heni yang menanyakan kabar Airin dan juga keluarga Om Fajar di Jakarta.


"Alhamdulillah, sehat semua, Bu." sahut Airin.


"Luna sudah tidur, ya? Gimana? Apa dia masih suka rewel menanyakan Papanya?" Ibu Heni menanyakan kondisi cucunya, karena dia paham, pasti sangat berat untuk Luna harus berpisah dengan Papanya.


"Kadang-kadang masih suka menanyakan kenapa Papanya tidak pulang-pulang, Bu." Dengan mende sah, Airin menceritakan bagaimana Luna yang selalu merindukan Papanya.


"Kasihan anakmu itu, Rin. Dia harus jadi korban masalah orang tuanya." Ibu Heni sangat merasa prihatin dengan nasib cucunya yang harus merasakan perpisahan kedua orang tuanya.


Airin kembali mende sah. Perpisahan dengan Rey memang hal terberat dan paling menyakitkan yang dia alami sepanjang hidupnya. Namun, dia tidak punya pilihan lain. Dia tidak cukup ikhlas menerima Rey kembali setelah kesalahan besar yang dilakukan oleh mantan suaminya itu. Apalagi kesalahan Rey dimulai dari awal pernikanan mereka. Jika memang Rey memang ingin berpaling darinya, kenapa tidak membatalkan acara pernikahan mereka saja? Walau itu akan menjadi hal memalukan kerena batal menikah, tapi mungkin rasa sakitnya tidak seperti saat ini.


"Kamu jangan melarang Luna bertemu dengan Papanya, Rin. Bagaimanapun kesalahan dia terhadap kamu, Rey tetaplah sosok Papa bagi Luna." Ibu Heni menasehati Airin agar tidak menjauhkan Rey dari Luna.


"Aku tidak menjauhkan, Bu. Aku masih kasih kesempatan Mas Rey untuk menelepon dan bertemu Luna. Tapi, aku melarang Mas Rey waktu dia mau bawa Luna ke Bali untuk bertemu dengan orang tua Mas Rey. Aku takut Mas Rey membawa kabur Luna dan tidak mengembalikan Luna lagi, Bu." Airin mengungkapkan rasa takutnya Rey akan membawa Luna pergi.


"Mengajak Luna ke Bali?" Ibu Heni terkejut diceritakan perihal Rey ingin membawa Luna ke rumah orang tua Rey di Bali.


"Iya, Bu. Tapi, aku tegas menolak," ujar Airin.


"Orang tua Rey masih belum tahu kalian berpisah?" Airin memang sempat mengatakan pada orang tuanya jika mantan mertuanya belum tahu soal perceraiannya dengan Rey, sehingga Heni menanyakan hal itu pada Airin.


"Mamanya Mas Rey sudah tahu, Ma. Kemarin aku sudah bilang kalau kami sudah berpisah." Airin belum sempat memberitahu Mamanya perihal satu ini.


"Lalu tanggapan orang tua Rey bagaimana?" Ibu Heni penasaran respon dari mantan besannya.


"Mereka menyayangkan perpisahan kami. Aku dengar dari Mas Rey, katanya Mamanya marah dan melarang Mas Rey pulang ke Bali tanpa membawa aku dan Luna." Airin menceritakan sedikit ancaman mantan mertuanya terhadap Rey.


Suara de sahan Ibu Heni terdengar dari ponsel Airin, menandakan dia sangat prihatin dengan nasib rumah tangga anak pertamanya itu.


"Aku tutup dulu teleponnya, ya, Bu. Sudah malam, sebaiknya Ibu istirahat. Ibu tidak usah pusing memikirkan aku dan Luna, Bu. Kami akan baik-baik saja di sini." Tak ingin membuat Ibunya ikut kepikiran masalahnya dengan Rey, Airin berniat mengakhiri percakapannya dengan Ibunya.


"Ya sudah, kamu juga istirahat, Rin. Jangan banyak pikiran dan jaga kesehatan. Kamu punya Luna yang menjadi tanggunganmu." Ibu Heni kembali menasehati anaknya.


"Iya, Bu. Assalamualaikum ..." pamit Airin.


"Waalaikumsalam ..." sahut Ibu Heni sebelum Airin mengakhiri panggilan teleponnya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2