JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Ay


__ADS_3

Ddrrtt ddrrtt


Suara getaran di ponsel Airin membuat Airin bangkit dari tempat tidur Luna, sebab ia baru saja menemani Luna tidur siang. Bahkan ia hampir saja terlelap jika saja ponselnya tadi tidak berbunyi. Airin melihat nama Wulan di layar ponselnya ingin melakukan panggilan video call dengannya. Airin pun segera mengangkat panggilan video tersebut


"Assalamualaikum, Bu." Airin memberi salam ketika mengangkat panggilan video dari mantan mertuanya itu.


"Waalaikumsalam, Rin. Maaf kalau Mama mengganggu. Luna sedang apa, Rin?" tanya Wulan.


"Luna baru saja tidur, Bu." jawab Airin, "Ibu mau ngobrol Luna, ya? Nanti kalau Luna sudah bangun, aku video call Ibu, deh." Tak ada kecurigaan di hati Airin jika Wulan menghubungi atas permintaan Rey.


"Rey yang sebenarnya ingin bicara dengan Luna, Rin," ungkap Wulan mengatakan alasannya menelepon Airin.


"Oh ..." Airin terkesiap saat mengetahui yang ingin video call dengan Luna adalah mantan suaminya.


"Ma, aku mau bicara dengan Luna." Suara Rey tiba-tiba terdengar di belakang Wulan.


"Luna baru saja tidur, Rey." Terjadi percakapan antara Wulan dengan Rey.


"Aku mau bicara dengan Airin saja, Ma."


Airin membulatkan matanya saat mendengar permintaan Rey yang tertangkap di telinganya. Dia mendengar Rey ingin bicara dengannya.


"Rin, Rey mau bicara sama kamu. Tidak apa-apa?" Wulan bertanya lebih dulu pada Airin, tak langsung memberikan ponselnya pada Rey, sebab dia khawatir Airin akan keberatan.


"Hmmm, silahkan, Bu." Sejujurnya Airin enggan bicara dengan Rey, tapi dia pun tak enak jika sampai menolak permintaan Rey, sebab ada Wulan di sana.


"Sebentar, Rin." Wajah Wulan menghilang dari layar ponsel Airin, berganti dengan gambar Rey yang berbaring di atas brankar.


"Airin ..." Rey menyebut nama Airin, "Maafkan aku ..." ucapnya kemudian.


Airin mendesah, dia bingung ingin bicara apa pada mantannya itu. Sebenarnya ia tidak ingin terus diusik tentang kisah perselingkuhan Rey dulu, sebab dia pun kini sudah menemukan kebahagiaannya tersendiri.


"Iya, Mas. Gimana kondisi Mas Rey sekarang? Aku harap cepat membaik." Airin mencoba basa-basi.


"Mungkin ini hukuman atas perbuatanku dahulu terhadap kamu, Rin. Tuhan sudah memberi balasan setimpal untukku," ujar Rey getir.


Airin kembali menghempas nafas panjang. Meskipun ia sakit hati dengan perbuatan mantan suami, tak mungkin ia mensyukuri musibah yang menimpa Rey saat ini.


"Apa pun yang terjadi, aku harap ini menjadi pelajaran bagi Mas Rey. Kita pasti akan menerima konsekuensi dari apa yang sudah kita perbuat." Airin hanya bisa berharap agar Rey bisa mengambil hikmah atas kejadian yang sudah menimpa mantan suaminya itu.


"Seandainya saja dulu aku bisa menjaga hatiku ..." sesal Rey.


"Hmmm, Mas Rey bilang ingin melihat Luna, Luna baru saja tertidur." Airin sengaja mengarahkan layar ponselnya ke arah Luna yang berbaring di tempat tidur, saat Rey mulai berandai-andai, sebab ia tidak membahas masalah itu lagi dengan Rey.


"Nanti kalau Luna bangun coba video call lagi saja." Airin merubah topik pembicaraan, agar Rey tidak menyinggung soal hubungan mereka yang telah kandas.


"Apa Luna takut melihatku saat datang ke sini?" Rey menanyakan apa yang diceritakan Wulan padanya.


"Iya, Luna memang ketakutan dan tidak ingin melihat Mas dengan kondisi Mas seperti itu." Airin menjelaskan agar Rey tidak salah paham.


"Maafkan Papa, Luna. Luna pasti sedih lihat Papa seperti ini, ya?" ucap Rey sedih.


"Aku tutup teleponnya dulu, Mas. Aku mau sholat Dzuhur." Airin terpaksa berbohong, agar Rey segera mengakhiri sambungan video call itu, padahal dia sendiri sudah sholat Dzuhur tadi.


"Ya sudah, Rin. Kalau kamu mau sholat, Mama tutup dulu teleponnya." Wulan langsung mengambil alih pembicaraan.


"Maaf ya, Bu. Nanti kalau Luna sudah bangun, aku kasih tahu Ibu." Airin berjanji akan memberi kesempatan Rey untuk berbicara dengan Luna.


"Iya, Rin." sahut Wulan.


"Assalamualaikum ...."


"Waalaikumsalam ...."


Setelah panggilan video call dengan Wulan terputus, Airin kini menghubungi sang suami untuk memberitahu jika Rey ingin berbicara dengan Luna. Padahal sebelum makan siang tadi dia sudah melakukan sambungan video call dengan Gagah untuk Luna.


"Assalamualaikum, Mas. Apa Mas sedang sibuk?" tanya Airin saat panggilan teleponnya tersambung.


"Waalaikumsalam, sebentar lagi ada relasi bisnis yang akan datang kemari. Ada apa?" balas Gagah.


"Oh, ya sudah kalau Mas sedang sibuk." Airin mengurungkan niatnya menceritakan soal Rey.


"Ada apa memangnya?" tanya Gagah penasaran.


"Nanti saja kalau Mas sudah tidak sibuk aku beritahunya." Airin tak enak mengganggu waktu kerja suaminya apalagi Gagah akan bertemu rekan bisnisnya.


"Kamu meneleponku hanya untuk membuat aku penasaran, hmm?" tanya Gagah.


"Aku mengganggu tidak, Mas?" Airin masih ragu, apalagi jika sampai berita yang ingin dia katakan mengganggu mood Gagah, sebab berhubungan dengan Rey.


"Katakan saja ada apa, Ay?"

__ADS_1


Airin mengeryitkan keningnya saat Gagah menyebuk kata 'Ay', kata yang asing di telinganya itu terucap dari mulut Gagah.


"Ay?" Airin mengulang kata yang disebut oleh Gagah tadi,


"Ayank, cocok untuk nama kamu Ai ... rin. Kamu suka aku panggil itu?" tanya Gagah seraya terkekeh. Dia ingin memberi panggilan sayang pada Airin.


"Ppffftt ..." Airin menahan tawanya, sebab ia merasa suaminya itu terlihat lebay sekarang ini, sampai menggunakan panggilan kata sayang yang biasa digunakan untuk anak-anak ABG.


"Kamu menertawakanku?" Gagah sepertinya mendengar suara tawa Airin yang tertahan.


"Mas kayak ABG yang sedang kasmaran saja panggilannya," ujar Airin tertawa kecil karena ketahuan Gagah tadi menertawakan suaminya itu.


"Hahaha, sebab aku baru saja menyidang ABG yang sedang kasmaran, Ay." jawab Gagah.


"ABG kasmaran? Siapa, Mas?" tanya Airin penasaran.


"Bosku." Singkat dan jelas jawaban Gagah.


"Gadis? Memang dia sedang kasmaran? Kenapa Mas menyidang dia? Biarkan sajalah, Mas. Anak seusia dia wajar kalau sedang kasmaran, Mas tidak usah ikut campur urusan Gadis." Airin menasehati sang suami agar tidak terlalu mencampuri urusan asmara Gadis.


"Bagaimana mungkin aku tidak ikut campur? Pria yang membuat Gadis kasmaran itu adik iparku sendiri, kok." jawab Gagah.


"Hahh?? Maksud Mas ... Haikal?" Airin terkesiap tak menyangka jika Gadis benar-benar menyukai adiknya.


"Memangnya aku punya adik ipar berapa orang, Ay?"


"Serius, Mas?" Airin bahkan melupakan jika dia ingin memberitahu soal Rey. Kisah Gadis yang jatuh cinta pada adiknya justru lebih menarik perhatiannya.


"Nanti aku cerita di rumah, sebentar lagi tamuku datang." Gagah berniat menceritakannya di rumah.


"Ya sudah, Mas. Aku tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum ..." Airin ingin mengakhiri panggilan telepon dengan sang suami.


"Tunggu dulu, kamu tadi Ingin bicara apa, Ay?" tanya Gagah tak ingin obrolan mereka berakhir sebelum Airin menyebut alasan menghubunginya.


"Hmmm, tadi Bu Wulan telepon, katanya Papanya Luna ingin video call dengan Luna, Mas. Tapi Luna sedang tidur. Dan Papanya Luna bilang akan video call lagi kalau Luna sudah bangun. Tidak apa-apa, kan, Mas?" Airin meminta ijin pada Gagah.


"Ya sudah, kalau dia ingin video call tidak apa-apa." Gagah tidak melarang Rey ingin berkomunikasi dengan Luna.


"Terima kasih, Mas." Airin tetap mengucapkan terima kasih pada suaminya karena sang suami telah memberikan ijin.


"Ya sudah, nanti kita sambung di rumah. Assalamualaikum ...."


***


Airin mendengarkan penjelasan Gagah soal peristiwa yang terjadi siang tadi soal Gadis dan Haikal. Airin tak menyangka jika Gadis benar-benar tertarik dengan Haikal, sampai menguntit akun media sosial milik Haikal. Hal itu masih saja mengkhawatirkan baginya. Dia takut adanya penolakan dari Haikal dan itu agak menyinggung Gadis. Dia juga takut seandainya ada penolakan dari pihak keluarga Gadis mengingat Haikal hanya orang biasa saja.


"Menurut Mas apa Gadis benar-benar suka sama Haikal?" Airin masih kurang yakin, dan berharap jika anggapan suaminya itu salah.


"Menurut kamu apa namanya jika bukan suka kalau Gadis sampai menguntit akun milik Haikal?" Gadis menyakinkan istrinya.


"Aku tidak mengerti, sebenarnya apa resep Bapak dan Ibu saat membuat kamu dan Haikal, sampai membuat aku dan Gadis mengejar-ngejar kalian sampai hampir kehilangan akal sehat." Gagah terkekeh mengakui jika dirinya saat mengejar Airin sempat mengesampingkan logikanya.


Airin mengerutkan keningnya mendengar kelakar sang suami sambil menatapnya.


"Mana aku tahu, Mas." sahutnya kemudian seraya mengedikkan bahunya.


"Oh ya, bagaimana tadi Luna waktu telepon Papanya?" Gagah merubah topik pembicaraan menanyakan reaksi Luna.


"Luna tidak mau melihat Papanya. Dia terus menutupi wajahnya takut melihat Papanya, Mas." Airin mencerikan apa yang terjadi saat Rey menelepon Luna tadi.


"Ya sudah, jangan terlalu dipaksakan. Dicoba perlahan saja, nanti juga Luna pasti akan mau bertemu dengan Papanya. Selama ini juga Luna selalu Wellcome terhadap Papanya." Gagah berusaha bijaksana menyingkapi semua permasalahan yang terjadi dalam rumah tangga.


Sementara di kamar Gadis.


Gadis terlihat gelisah di kamarnya, dia sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Kejadian siang tadi di kantor saat dirinya disidang oleh Gagah di hadapan Haikal, pria yang tiba-tiba saja mengganggu pikirannya membuat dirinya benar-benar mati kutu.


Sampai di rumah pun Gadis menyesali tingkahnya yang sangat kekanakkan, sama sekali tidak menunjukkan sikap seorang CEO yang seharusnya bersikap elegan dan bijak.


Gadis mengacak rambutnya. Dia tak tahu bagaimana nantinya jika bertemu dengan Haikal lagi. Apalagi jika Haikal pun menyadari jika dirinya merasa tertarik pada pria itu.


"Duuhhh, gini amat rasanya." Gadis bangkit dari tempat tidurnya. Dia lalu mengambil ponselnya, kemudian membuka kembali akun media sosial Haikal. Dia menatap foto-foto Haikal lekat-lekat, terlihat tampan adik ipar Gagah itu di matanya.


"Ternyata kamu hanya mantan," gumam Gadis saat menatap kembali foto wanita yang diakui Haikal sebagai mantan kekasihnya.


"Tapi, sepertinya akan banyak karyawan cewek di kantor yang pada caper sama dia." Gadis menduga akan banyak wanita yang akan mengejar Haikal untuk menjadi kekasih mereka.


"Aku harus mencegah mereka agar tidak mendekati Haikal, tapi tidak boleh ketahuan Kak Gagah. Kalau Kak Gagah tahu, bisa habis aku diolok-olok." Gadis berpikir keras untuk mencegah agar tidak ada karyawati kantornya itu yang akan menarik perhatian Haikal.


"Tapi bagaimana caranya, ya?" Gadis bingung harus berbuat apa? Gejolak jiwa mudanya yang baru tersentuh getaran cinta tak dapat dibendung. Sosok Haikal menurutnya sangat berbeda dari teman-teman pria di sekolahnya yang selama ini mengejar dan mengharapkan cinta darinya.


Gadis terus berpikir mencari cara agar Haikal tidak tersentuh oleh wanita lain di kantor BDS. Dia bergegas turun dari tempat tidur dan berhambur ke luar dari kamarnya, menuju kamar sang Mama.

__ADS_1


Tok tok tok


"Ma ..." Gadis mengetuk pintu kamar Farah, "Mama sudah tidur belum?" lanjutnya dari luar kamar mamanya.


"Ada apa, Dis?" Tak berapa lama, pintu kamar Farah dibuka dari dalam.


"Mama sudah tidur, ya?" Gadis takut mengganggu Mamanya.


"Belum, kok. Kenapa, Dis?" tanya Farah.


"Ma, aku mau cari pengawal ...," Gadis masuk ke dalam kamar Farah saat Farah membuka lebar daun pintu.


"Pengawal? Memangnya kenapa, Dis? Apa ada orang yang mengganggu kamu?" Seketika Farah khawatir mendengar permintaan putrinya.


"Bukan, bukan gitu, Ma!" tepis Gadis menyadari dirinya sudah menimbulkan kekhawatiran sang Mama. "Maksudku, aku butuh asisten pribadi yang bisa membantu aku mengurus ini itu." Gadis menjelaskan kenapa dia membutuhkan asisten pribadi.


"Apa kamu repot sekali, Nak?" Farah membelai kepala Gadis, khawatir anaknya itu stress dengan urusan pelajaran dan pekerjaan secara bersamaan.


"Repot-repot banget sih, tidak, Ma. Hanya saja biar waktu aku lebih terkontrol, Ma." Gadis memberi alasan. Dia yakin Mamanya itu pasti akan percaya dengan apa yang dia katakan.


"Lalu Mama harus bagaimana, Nak?" tanya Farah.


"Mama bisa minta Kak Gagah untuk carikan aku Aspri, tapi Mama jangan bilang kalau aku yang minta. Mama bilang saja Mama kasihan lihat aku, bilang aja di rumah juga aku masih harus belajar gitu, Ma." Gadis mencoba merayu Mamanya agar Mamanya itu mau mengikuti kemauannya. Entah mengapa dia merasa yakin jika Gagah akan memilih Haikal untuk menjadi asisten pribadinya. Dan kalau Mamanya yang meminta pasti Gagah akan mendengarkan. Dia yakin Gagah tidak akan curiga jika Mamanya yang meminta.


"Kenapa Mama harus berbohong, Gadis?" tanya Farah bingung.


"Aku ... Aku tidak ingin terlihat lemah di mata Kak Gagah, Ma. Nanti aku dianggap tidak mampu menjalankan perusahaan." Gadis memberi alasan.


"Ya sudah, nanti Mama akan bicara dengan Gagah," ujar Farah menyetujui permintaan Gadis.


"Makasih, Ma." Gadis memeluk Mamanya karena senang Mamanya terbujuk rayuannya untuk menjalankan rencananya.


"Tapi ingat ya, Ma. Jangan bilang ini permintaanku." Gadis kembali mengingatkan sang Mama.


"Iya, Mama tidak akan bilang ini permintaan kamu," ucap Farah.


Setelah Farah menyetujui permintaannya, Gadis kembali ke kamarnya dengan mengembangkan senyuman, karena jika saja Gagah akan menjadikan Haikal sebagai asisten pribadi dirinya, dirinya akan bisa mencegah wanita-wanita lain di kantor BDS mendekati Haikal.


***


Di rumah Om Fajar, Haikal pun masih kepikiran tentang sikap Gadis yang terlihat aneh terhadapnya. Bahkan Gadis sampai menyelidiki akun media sosialnya.


Ada apa dengan wanita ini? Kenapa dia begitu tertarik sampai menyelidikinya? Pertanyaan itu berkecamuk di benaknya. Dia mengabaikan jika Gadis tertarik padanya, sebab dirinya hanya lah orang biasa, sementara Gadis saat ini seorang CEO, pemilik perusahaan retail terkenal dan mempunyai puluhan cabang yang tersebar di seluruh pulau. Haikal sangat tahu diri untuk tidak mengkhayal terlalu tinggi.


Ddrrtt ddrrtt


Haikal melirik ponsel yang ada di samping ia berbaring saat bunyi getaran ponselnya terdengar. Haikal melihat nama Airin yang menghubunginya saat ini.


"Assalamualaikum, Mbak. Mbak Airin belum tidur?" tanya Haikal saat mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Waalaikumsalam. Mbak kepikiran sama cerita Mas Gagah, Kal." sahut Airin dari seberang.


"Kak Gagah cerita apa, Mbak?" Haikal yakin jika kakak iparnya itu sudah menceritakan apa yang terjadi siang tadi antara dirinya dengan Gadis.


"Soal kamu dengan Gadis, Kal." ungkap Airin.


"Masalah itu?" Seperti dugaan Haikal, yang ingin dibicarakan Airin adalah soal Gadis.


"Iya. Kal. Mbak berpesan kamu hati-hati kalau bertindak, Kal." Airin berusaha menasehati Haikal.


"Apa Gadis tidak menyukai keberadaan aku di kantor itu, Mbak?" Mendengar ucapan sang kakak, Haikal menduga jika Gadis ingin menyingkirkannya dari kantor BDS pusat.


"Bukan itu, Kal." tepis Airin.


"Lalu apa, Mbak?" tanya Haikal bingung.


"Mas Gagah bilang kalau Gadis itu suka sama kamu, makanya dia bersikap seperti itu kepada kamu." Airin menyebut apa yang dijelaskan oleh suaminya.


"Hahh??" Haikal terkejut mendengar penjelasan Airin soal perasaan suka Gadis terhadapnya.


"Kal, Mbak mohon kamu jangan sampai membuat Gadis marah atau kecewa apalagi sakit hati. Kalau kamu menolak Gadis, kasih alasan yang bisa diterima agar Gadis tidak tersinggung dengan penolakan kamu." kata Airin memberitahu Haikal untuk melakukan apa yang harus dan tidak boleh dilakukan adiknya itu.


"


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2