JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Jangan Sebut Nama Kakakku!


__ADS_3

Sesampainya di kantor Bintang Departement Store, Airin langsung menuju lantai di mana suaminya bertugas. Airin membalas ramah setiap karyawan yang menyapanya. Dia harus meninggalkan kesan yang baik, sebab saat ini dirinya adalah istri dari salah seorang petinggi yang punya perpengaruh kuat di kantor itu. Untung saja Airin sudah terbiasa dengan situasi kantor dan bertemu dengan banyak orang. Posisinya dulu sebagai costumer service, membuatnya tak canggung harus berhadapan dengan banyak orang.


Ting


Lift yang membawa Airin ke lantai di mana ruangan Gagah berada terbuka, ia pun bergegas keluar dari lift sebelum pintu lift itu tertutup kembali.


Tatapan Airin tidak mengarah pada Dewi atau ruangan kerja suaminya, tapi tertuju pada sisi ruangan kerja Gadis, hingga ia mendapati Haikal yang duduk di belakang meja kerja yang berada di depan ruangan Gadis.


"Siang, Bu. Mau jemput Luna ya, Bu?" Sementara Dewi yang menyadari kedatangan Airin langsung menyapa istri dari bosnya itu.


"Siang, Mbak. Iya, Mbak. Luna mengganggu Papanya tidak, ya?" tanya Airin mencemaskan jika Luna sampai mengganggu pekerjaan suaminya.


"Kayaknya tidak, Bu. Luna anteng nungguin Papanya kerja, kok." jawab Dewi.


"Syukurlah kalau begitu," sahut Airin, "Mbak Dewi, tolong ambilkan piring tiga untuk makan, ya!" Airin minta bantuan Dewi untuk menyediakan peralatan makan.


"Baik, Bu." Dewi langsung berjalan ke arah pantry untuk mengambil apa yang dimintai Airin.


"Mbak ..." Kini Haikal yang menyapa sang kakak.


"Kerja yang fokus, Kal." Airin menasehati adiknya supaya fokus dalam bekerja agar tidak terjadi kesalahan dan mendapat teguran dari Gadis.


"Iya, Mbak." sahut Haikal tak banyak memprotes meskipun kalimat itu berulang kali ia dengar dari Airin.


"Mbak masuk dulu," pamit Airin lalu meninggalkan Haikal menuju ruangan suaminya.


Tok tok tok


"Assalamualaikum, Mas." Airin membuka pintu ruangan Gagah dengan mengucap salam.


"Waalaikumsalam ..." Gagah menjawab salam Airin. Pria itu tidak duduk di kursi kerjanya, namun duduk menyandarkan tubuhnya di sofa, di samping Luna yang sedang bermain dengan boneka pemberian Gagah dulu.


"Mama ..." Walau berseru memanggil nama Airin, namun Luna tidak turun dari sofa menyambut Luna. Sepertinya Luna memang merasa lebih nyaman bersama Gagah,


"Aduh, kalau dekat Papa, Mama dicuekin sama Luna, nih?!" Airin berpura-pura merajuk di depan anaknya, membuat Luna menyeringai memperlihatkan gigi-gigi mungilnya.


"Kamu bawa apa, Ay?" Gagah lalu bangkit, mendekat dan mengambil tas bekal di tangan Airin.


"Aku bawakan bekal untuk makan siang Mas sama Luna." Airin menyerahkan tas bekal yang diminta Gagah, "Tolong ditaruh di meja saja dulu, Mas. Nanti aku yang menata, Mbak Dewi sedang mengambil piringnya. Mas mau makan sekarang?" tanya Airin berjalan mengekor Gagah yang menaruh makanan yang dibawanya dari rumah.

__ADS_1


"Boleh ..." Gagah kemudian menarik kursi makan untuk Airin, untuknya dan untuk Luna. "Luna, ayo makan dulu, Sayang." Gagah melambaikan tangan kepada Luna, meminta anak sambungnya itu untuk mendekat.


Luna menaruh bonekanya dengan rapih di atas sofa, kemudian dia berlari mendekat ke arah Gagah dan Airin. Dia lalu menaiki kursi makan tanpa minta bantuan orang tuanya.


Tok tok tok


"Permisi, Bu. Ini piringnya." Dewi masuk ke dalam ruangan Gagah dan menyerahkan peralatan makan pada Airin, kemudian kembali keluar dari ruang kerja bosnya itu.


Airin mengambil nasi juga lauk untuk Gagah terlebih dahulu. Setelannya, ia mengambil nasi dan lauk untuk Luna.


"Luna disuapi sama Mama saja, ya? Soalnya ada kuahnya, nanti tumpah-tumpah air kuahnya kalau Luna makan sendiri." Airin memilih menyuapi putrinya terlebih dahulu, sebelum ia mengisi perutnya sendiri.


"Biar aku saja yang menyuapi Luna, Ay. Kamu makan saja dulu." Gagah tak ingin istri juga calon bayi mereka telat mendapatkan nutrisi.


"Aku saja, Mas. Mas saja yang makan dulu, lauknya sudah dicampur sama nasi, nanti nasinya tidak enak kalau tidak cepat dimakan." Airin menolak, dia ingin menyuapi Luna sendiri.


"Kamu makan saja punyaku, aku makan setelah menyuapi Luna." Gagah memindah piring berisi makanan miliknya ke hadapan Airin dan mengambil piring berisi makanan punya Luna dari tangan Airin, "Kamu juga tidak boleh telat makan, Ay. Kasihan calon baby kita kalau kamu telat makan." Sebagai seorang pria, seorang suami dan seorang ayah, tentu Gagah harus mengalah dan lebih mengutamakan istri juga anak-anaknya.


Airin akhirnya menuruti apa yang diminta suaminya. Dia tak banyak menentang keputusan Gagah, sehingga ia pun mulai menyantap makanan yang diberikan oleh Gagah kepadanya.


"Bagaimana tadi, Mas? Luna sudah tidak takut lagi ketemu Papanya?" Airin mulai bertanya soal pertemuan Luna dengan Papanya,


Airin terbelalak mendengar kalimat terakhir sang suami, karena Gagah membelokkannya ke aktivitas hubungan suami istri. Dia lalu menoleh ke arah Luna, takut Luna mendengar ucapan Gagah. Untungnya Luna tidak paham kalimat Gagah sehingga tak memperhatikan ucapan papa sambungnya itu.


"Mas jangan bicara seperti itu di depan Luna! Jangan ketularan Mas Tegar, deh!" protes Airin, ia bahkan menyamakan kelakuan suaminya mirip seperti sikap Tegar yang kadang tak terkendali jika bicara.


"Hei, kenapa kamu tiba-tiba mengingat dia, Ay? Jangan ada pria lain di dalam pikiran kamu, apalagi kakakku yang satu itu!" protes Gagah, merasa cemburu karena Airin menyebut nama Tegar, Sebab kakaknya itu pernah menyampaikan kekagumannya pada Airin.


"Kalau begitu, kenapa Mas bicaranya seperti Mas Tegar." Airin memutar bola matanya.


"Aku bilang jangan sebut nama kakakku itu, Ay!" Gagah kembali memprotes, karena Airin masih saja membahas soal Tegar.


"Makanya Mas, kalau bicara itu jangan yang aneh-aneh, apalagi di depan anak kecil." Airin merasa apa yang ia ucapkan dalam menegur suaminya tidak ada yang salah.


"Papa cama Mama napa belantem?" Melihat terjadi perdebatan di antara kedua orang tuanya, Luna langsung bereaksi sambil bergantian menatap Airin dan Gagah.


Gagah dan Airin sontak menoleh ke arah Luna. Mereka kemudian saling berpandangan karena menyadari telah melakukan kesalahan telah bertengkar di depan Luna.


"Papa sama Mama tidak sedang berantem, Luna." Dengan lembut Gagah berbicara pada Luna, memberi pengertian jika dia dan Airin tidak melakukan hal yang disebutkan oleh Luna tadi.

__ADS_1


"Papa Mama ndak boleh belantem, olang belantem itu ndak disayang cama Allah." Bahkan Luna menasehati kedua orang tuanya itu, membuat Gagah dan Airin sama-sama terdiam dan kembali saling pandang.


Tok tok tok


"Kak, aku mau keluar makan dulu ..." Suara Gadis tiba-tiba terdengar dari arah pintu, "Eh, Kak Airin sudah datang?" Gadis tidak tahu soal kedatangan Airin tadi.


"Apa kabar, Gadis?" Airin menyapa Gadis.


"Alhamdulillah baik, Kak. Kak Airin sendiri bagaimana?" Gadis mendekat dan bersalaman dengan Airin.


"Seperti yang kamu lihat, Alhamdulillah baik juga," sahut Airin dengan mengembang senyuman melihat penampilan Gadis yang terlihat berbeda seperti biasanya.


Gadis melirik Luna yang sedang disuapi oleh Gagah, tiba-tiba ia mendapatkan ide untuk mengajak Luna pergi dengannya.


"Kak, aku boleh mengajak Luna pergi tidak?" Gadis menyampaikan keinginannya membawa Luna pergi bersamanya agar ada yang menemaninya saat dia pergi bersama Haikal. Dia yakin kehadiran Luna di antara dirinya dengan Haikal akan membuat suasana lebih hidup dan dirinya tidak merasa canggung,


"Kamu mau ke mana, Gadis?" tanya Airin.


"Mau makan siang, Kak." jawab Gadis.


"Tapi Luna sudah makan, Dis." sahut Airin.


"Tidak apa-apa, Kak. Biar aku ada temannya. Tidak jauh-jauh, kok, Kak. Hanya di sekitar mall saja." Gadis mencoba meyakinkan Airin.


"Luna mau ikut Kak Gadis?" Airin bertanya kepada anaknya apa anaknya mau atau tidak tawaran Gadis.


"Mau, Ma. Nanti main pelosotan, ya, Kak Adis?" Luna bersemangat.


"Ya sudah, tapi Luna jangan nakal, jangan lari-lari juga, ya!?" Airin memperingatkan anaknya agar anaknya itu tidak membuat Gadis repot.


"Iya, Mama. Luna ndak nakal, Ma. Luna 'kan anak pintal." Luna berjanji jika dia tidak akan nakal dan akam menurut pada Gadis.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2