JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Om Ikal Cama Kak Adis Pacalan, Ya?


__ADS_3

Airin dan Gagah mengijinkan Gadis membawa Luna, apalagi Luna sendiri meminta pergi bersama Gadis. Mereka mempercayakan Luna pada Gadis sebab ada Haikal yang akan ikut menemani Luna.


Setelah kepergian Gadis dan Luna, Airin dan Gagah melanjutkan makan mereka. Airin menyiapkan nasi dan lauk lagi untuk Gagah, meskipun ia masih agak kesal pada suaminya, karena saat berdebat tadi, Gagah berbicara dengan nada tinggi.


"Kamu lihat perubahan penampilan Gadis tadi, Ay?" tanya Gagah membahas perubahan penampilan Gadis, sama sekali tak menyadari jika istrinya sedang dalam mode kesal dengan ucapanya tadi.


"Iya," jawab Airin singkat.


"Sepertinya Gadis memang sedang berusaha menarik perhatian Haikal dengan mendekati Luna," ucapan Gagah merefleksikan dirinya ketika mendekati Airin, ia pun memakai Luna sebagai pendukung untuk mendapatkan hati wanita yang telah mencuri hatinya itu.


Airin melirik Gagah, memperhatikan suaminya yang terkekeh seolah menertawakan sikap Gadis.


"Kamu tahu, Ay? Kadang orang bisa bersikap konyol ketika sedang jatuh cinta, seperti aku dulu." Dan Gagah pun menyadari bagaimana sikapnya yang terbilang aneh di mata orang-orang yang mengenalnya selama ini. Gagah seorang pria perfeksionis, rela menjadi supir Airin, rela menjadi pengasuh Luna, semua itu dia lakukan agar mendapatkan perhatian Airin.


Airin masih diam, belum banyak merespon ucapan-ucapan Gagah. Hatinya masih belum terima Gagah bicara dengan nada tinggi meskipun ia yakin itu dilakukan Gagah hanya karena suaminya merasa cemburu dirinya menyebut nama Tegar.


"Kamu kenapa cemberut saja, Ay?" Gagah baru menyadari istrinya lebih banyak diam tidak seperti sebelumnya.


Airin mendesah mendengar pertanyaan sang suami. Tangannya meletakkan sendok dan garpu di tepi piring lalu menarik tissue untuk mengelap mulutnya dari sisa makanan.


"Aku tidak senang Mas bicara dengan nada bicara tinggi seperti tadi." Airin menyampaikan ketidaksukaannya pada kata-kata Gagah termasuk nada bicara sang suami padanya.


"Kata-kata yang mana, Ay?" Gagah tak menyadari jika nada bicaranya telah menyinggung hati sang istri.


"Kenapa Mas marah, waktu aku tegur Mas karena bicara hal yang tidak pantas di depan Luna? Apa aku salah, aku menyamakan Mas dengan kakak Mas, padahal sama saja mengatakan hal seperti itu di depan anak-anak?!" Airin mengungkap unek-unek yang sejak tadi ia pendam.


"Oh, karena itu?" Gagah terkekeh mendengar keluhan sang istri, "Maafkan kalau tadi aku kelepasan bicara, Ay. Aku tidak bermaksud marah atau menyentak kamu." Bangkit dari duduknya, Gagah kini berjalan dan berhenti di belakang Airin. Ia membungkukkan tubuhnya, lalu merangkul Airin dari belakang kemudian menghujani pipi Airin dengan kecupan.


"Mama Airin jangan marah, dong." Gagah mempererat rengkuhannya, membujuk sang istri agar tidak terus merajuk sambil terus memberikan sentuhan bibir di pipi mulus sang istri.


"Makanya Mas jangan suka bicara yang tidak pantas di depan anak-anak!" ujar Airin masih menganggap suaminya bersalah.


"Iya, iya, aku minta maaf, Ay. Jangan terus merajuk gini, dong." Gagah memohon.


Airin mendesah, mendapatkan perlakuan manis Gagah seperti itu, mana mungkin Airin tahan berlama-lama merajuk. Apalagi apa yang membuatnya marah bukanlah yang besar dan serius. Matanya kini melirik ke piring makan Gagah, nasi dan lauk milik Gagah baru termakan separuhnya.


"Ya sudah, Mas habiskan dulu makannya." Ia meminta suaminya untuk melanjutkan makan.


Gagah mengurai pelukan di tubuh Airin, lalu mengambil piring nasinya dan duduk di samping Airin.


"Kamu yang suapi aku, Ay." Kemudian ia meminta Airin untuk menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Mas manja banget, deh!" cibir Airin.


"Hahaha ... bukankah kamu pernah suapi aku makan?" Tak peduli disebut manja, Gagah tetap meminta Airin menyuapinya agar ia cepat menghabiskan makanan itu.


Airin menggelengkan kepala menanggapi sikap sang suami. Dia tak terus menolak permintaan suaminya itu, namun melakukan apa yang Gagah minta darinya.


Tok tok tok


Suara pintu ruangan kerja Gagah kembali diketuk dari luar dan Dewi kembali muncul dari balik pintu.


"Oh, maaf, Pak, Bu." Dewi terkaget lalu menahan senyuman ketika melihat Airin sedang menyuapi Gagah makan. Terkesan romantis walau terlihat sedikit lebay menurutnya.


"Ada apa, Wi?" tanya Gagah, tak sedikit pun merasa malu ketahuan Dewi sedang disuapi Airin.


"Maaf, Pak. Tadi ada telepon dari perwakilan PT. Manunggal Mandiri, katanya rencana jadwal kunjugan esok hari minta diundur lusa, Pak. Mereka menunggu jawaban segera soal perubahan jadwal kunjungan tersebut. Apa Pak Gagah tidak keberatan jadwalnya diundur lusa?" tanya Dewi menyampaikan alasannya masuk menemui bosnya.


"Besok saya ada jadwal apa, Wi?" tanya Gagah


"Besok Pak Gagah akan ke BDS di Tangerang sebelum jam makan siang, Pak." sahut Dewi menyebut jadwal kerja sang bos.


"Oke, kalau begitu jadwalnya jam satu saja jika mereka ingin datang kemari." Gagah menentukan waktu pertemuannya dengan perwakilan dari salah satu relasi bisnisnya.


"Oh, baik, Pak. Permisi ..." Setelah mendapatkan kepastian waktu dari Gagah, Dewi kembali ke mejanya.


"Mas tidak malu?" tanya Airin pada sang suami.


"Malu karena apa?" tanya Gagah enteng.


"Ketahuan sekretaris Mas sedang disuapi aku makan." Airin memperjelas pertanyaannya.


"Untuk apa malu? Yang menyuapi istriku sendiri," jawab Gagah santai.


"Oh ya, Mas. Tadi Pak Birin cerita sama aku." Tiba-tiba Airin teringat obrolannya dengan Sobirin dalam perjalanan menuju kantor BDS tadi.

__ADS_1


"Pak Birin cerita apa?" tanya Gagah kemudian.


"Kata Pak Birin, waktu dia dikasih tugas oleh Mas untuk mengantar motorju yang bocor itu, pulang dari bank, Pak Birin langsung menggosipkan kita sama Mama dan bibi di rumah." Airin memaparkan apa yang ia dengar dari Sobirin.


"Oh ya?" Namun, Gagah tak terlalu terkejut mendengar apa yang diceritakan Airin soal orang tua dan ART nya yang menggunjingkan mereka, karena ia yakin bukan hal buruk yang digunjingkan oleh mereka.


"Iya," sahut Airin dengan kepala mengangguk.


"Berarti Mama sudah tahu kalau Mas itu sedang mendekati aku, padahal dulu Mas sempat menolak dijodohkan denganku?" tanya Airin.


Gagah menatap istrinya, seulas senyuman terlihat di sudut bibirnya, mengingat dia memang pernah menolak dijodohkan dengan Airin. Apalagi saat ia tahu Airin berstatus janda dengan satu anak. Padahal ia sendiri menginginkan seorang wanita yang belum tersentuh oleh siapa pun untuk menjadi istrinya. Namun, ujung-ujunganya dirinya justru takluk pada kecantikan wajah dan hati Airin.


"Sudahlah, Ay. Jangan singgung hal itu terus. Aku sadar, kesalahan terbesarku adalah menolak dijodohkan Mama denganmu, sampai aku merobek fotomu yang Mama tunjukkan kepadaku saat itu." Gagah menyadari kebo dohannya kala itu sebab sudah menentang sang Mama yang akan memilihkan jodoh terbaik untuknya.


Pengakuan Gagah membuat bola mata Airin terbelalak. Dia tidak pernah tahu soal fotonya yang pernah disobek Gagah. Dia memang pernah diberitahu oleh Tante Mira jika Widya meminta foto miliknya, tapi ia tidak menyangka jika foto itu justru dicetak dan dirobek oleh Gagah.


"Mas merobek fotoku?" tanyanya terkejut menatap dengan memicingkan matanya.


Kali ini bola mata Gagah yang melebar, dia menyadari jika telah kelepasan bicara soal foto Airin yang pernah ia robek. Terlihat sang istri kini menatap tajam kepadanya. Kemarahan Airin yang tadi mereda kini seakan terpercik kembali.


Tak ingin amarah Airin kembali melebar, Gagah langsung menarik tubuh Airin ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat-erat.


"Maaf, Ay. Jangan marah, ya!? Aku tahu aku salah, waktu itu aku hanya kesal sebab Mama terus saja mendesakku untuk segera menikah." Gagah menyampaikan permintaan maafnya dan membujuk Airin agar mau memaafkannya.


"Tapi, sungguh aku tidak tahu jika foto itu adalah kamu, Ay. Aku justru tidak sempat melihat foto itu. Saat Mama memberikan foto itu, langsung aku sobek, Ay." Gagah tak jujur dengan mengatakan tak melihat wajah orang di foto itu, agar Airin tidak terus merajuk.


"Jangan marah, Ay. Aku itu sudah jatuh cinta saat melihat kamu, bagaimana mungkin aku merobek foto kamu kalau ternyata wanita di foto itu secantik bidadari?" Gagah masih terus berdusta. Dia ingin menyelamatkan diri agar Airin tidak tersinggung dengan sikapnya dulu yang mengacuhkan bahkan merendahkan status Airin.


"Apa ada rahasia lain yang tidak aku ketahui yang Mas sembunyikan dariku?" tanya Airin mendadak curiga jika ada banyak hal yang dirahasiakan Gagah darinya.


Gagah mengurai pelukannya namun tangannya masing memegang pundak Airin.


"Rahasia apa, Ay? Tidak ada rahasia lagi yang aku sembunyikan." Gagah menepis jika ia banyak menyimpan rahasia yang tidak boleh diketahui oleh istrinya itu.


"Selain merobek fotoku, apalagi yang Mas sembunyikan?" selidik Airin penuh kecurigaan.


"Demi Allah, aku tidak menyembunyikan hal lain darimu, Ay." Gagah menggenggam tangan Airin lalu mendekatkan ke dadanya. Dia berusaha meyakinkan sang istri agar istrinya itu tidak terus merajuk dan mau memaafkannya. "Oke, aku mengaku salah karena aku sudah merobek fotomu, tapi kamu tahu sendiri, kan? Waktu pertama kali aku bertemu kamu, aku seperti tersihir olehmu. Kamu ingat ketika aku menabrak banner karena aku terus memperhatikanmu? Itu sebagai tanda aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali bertemu, Ay." Gagah terus melontarkan kata-kata manis untuk meredakan kemarahan Airin.


Airin menatap kedua bola mata Gagah bergantian. Tak ada dusta yang terlihat ketika Gagah menyampaikan ungkapan perasaan terhadapnya, sehingga ia yakin jika suaminya saat itu tidak sedang berbohong.


"Kamu bisa belah dadaku ini untuk memastikan jika aku tidak berbohong, Ay." Gagah mengucapkan kalimat bak penyair agar Airin percaya jika ia benar-benar berkata jujur.


"Ppffftt ..." Airin menahan senyuman mendengar suaminya menggunakan kata-kata yang berlebihan.


Melihat Airin hendak menertawakannya, Gagah justru bernafas lega. Dia senang ternyata berhasil membuat istrinya bisa menerima penjelasan dan mau memaafkannya.


"Apa ini artinya kamu sudah mau memaafkanku, Ay?" tanya Gagah memastikan jika dirinya sudah mendapatkan maaf dari Airin.


"Hmmm ..." Airin berpikir.


"Jangan kebanyakan mikir dong, Ay." Gagah lalu mendekatkan tangannya di perut Airin dan mengusapnya perlahan. "Baby, bilang sama Mama, Mama jangan marah-marah terus sama Papa," sambung Gagah dengan mengulum senyuman menatap lembut perut Airin lalu menatap netra sang istri. Gagah memangkas jarak mendekatkan bibirnya ke arah bibir Airin.


Airin terbelalak saat menyadari sang suami ingin menciumnya. Airin menyadari jika saat ini mereka sedang berada di kantor, bukan di kamar mereka, dan siapa saja bisa masuk ke dalam ruangan itu.


"Mas, ini kantor!" Airin menahan bibir Gagah yang hampir mendekati bibirnya dengan telapak tangannya agar suaminya itu menghentikan aksinya.


***


Gadis tidak memilih makan siang di rumahnya atau keluar dari kawasan BDS. Remaja belia itu justru memilih makan siang di salah satu restoran yang ada di Mall BDS. Tentu saja dengan Haikal yang mengawal dirinya dan juga Luna.


Gadis berjalan beriringan dengan Luna dan saling bergandengan tangan. Mereka seperti seperti sepasang kakak beradik yang sedang menikmati waktu senggang di mall. Sementara Haikal berjalan tepat di belakang mereka.


Haikal memperhatikan kedua orang yang berjalan di depannya itu. Secara reflek sudut bibirnya melengkungkan senyuman melihat keakraban Gadis dan Luna. Menurutnya Gadis memang lebih pantas bermain dengan Luna daripada mengurus perusahaan sebesar BDS.


"Cowok ganteng, tuh!"


Celetuk berapa wanita muda yang berlawan arah dengan Haikal, mereka melihat berjalan sendirian. Mereka adalah anak-anak kuliah yang sengaja mampir ke mall selepas pulang kuliah.


"Kok sendirian saja, Mas? Kita ramai-ramai, nih," goda salah satu wanita dengan terkikik.


Haikal hanya membalas sapaan wanita-wanita muda itu dengan mengulum senyuman. Berbeda dengan Gadis yang seketika itu juga langsung menoleh ke belakang saat menyadari wanita-wanita yang tadi melintas di sampingnya sedang berusaha menggoda Haikal.


Tentu saja Gadis tidak suka ketika ada wanita-wanita cantik yang berusaha mendekati Haikal. Apalagi melihat sikap Haikal, bukannya bersikap acuh, Haikal malah mengembangkan senyuman.


"Kak Haikal jalannya cepat, dong! Lelet banget, sih!" Masih menggandeng Luna, Gadis berjalan ke arah Haikal ingin mengajak Haikal segera menjauh dari wanita-wanita yang mengganggu itu.

__ADS_1


Para wanita yang tadi menggoda Haikal spontan menoleh ke arah Gadis dan memperhatikan Gadis dari atas sampai bawah.


"Om Ikal, gendong ..." Luna merentangkan tangannya. Luna merasa tak sanggup berjalan karena merasa kekenyangan. Dan Haikal pun langsung menggendong Luna dengan lengan kekarnya.


"Iiih, adik lucu sekali. Siapa namanya?" Wanita lainnya mencu bit pelan pipi Luna, "Keponakannya cantik, lho, Mas. Om nya juga ganteng." Tak malu, wanita itu menggoda Haikal.


Gadis mendengus kasar melihat wanita itu berani terang-terangan menggoda Haikal di hadapannya.


"Eh, Mbak. Jangan sembarang pegang-pegang anak orang, ya! Mbak tahu, tidak?! Anak kecil ini adalah anak pemilik mall ini. Jadi jangan berani cubit-cubit dia. Kalau Papanya tahu, habis semua kalian!" Gadis menebar ancaman dengan sedikit mengarang cerita.


"Saya itu tidak mencu bit, kok! Hanya pegang, doang!" sanggah wanita tadi.


"Tidak usah pegang-pegang juga! Siapa tahu tangan Mbak itu banyak bakterinya dan membawa virus yang menular dan bikin dia sakit!" Gadis terlalu melebih-lebihkan menanggapi sikap wanita tadi.


"Yaelah, lebay amat, sih!" Wanita tadi memutar bola matanya, yang langsung disambut oleh teman-temannya serempak mencemooh Gadis.


"Mbak tidak percaya apa yang aku katakan tadi!?" Gadis bertolak pinggang, "Kak Haikal, cepat telepon Pak Gagah, bilang anaknya ada yang mengganggu, biar Pak Gagah suruh security mengurus mereka." Gadis sampai menyebut Gagah dengan sebutan 'Pak' agar wanita itu segera pergi dari hadapan mereka.


"Dasar wanita gila!" Wanita tadi mengumpat, merespon ucapan Gadis. Wanita tadi kemudian bersama teman-temannya berlalu meninggalkan Gadis, Haikal dan Luna dengan terus menggerutu.


Haikal melirik ke arah Gadis, wajah wanita belia itu terlihat memerah, karena diselimuti emosi. Haikal merasa apa yang dilakukan Gadis tadi terlalu berlebihan hanya untuk melindungi Luna. Namun ia yakin, sebenarnya bukan karena Luna, Gadis bersikap sekeras itu pada beberapa wanita tadi. Haikal mencoba menelisik sikap Gadis, ia pun mulai menyakini apa yang dikatakan oleh kakak iparnya jika Gadis memang benar menyukainya. Mungkin apa yang dilakukan oleh Gadis adalah bentuk kecemburuan Gadis ketika ada wanita lain yang menggoda dan mendekatinya.


Fakta itu tentu membuat Haikal benar-benar merasa tidak nyaman. Sungguh ia tidak ingin Gadis sampai jatuh cinta kepadanya. Haikal merasa terjebak ke dalam kondisi yang tidak pernah ia harapkan.


"Kak Haikal kalau ada orang-orang iseng seperti itu jangan diam saja, dong! Senang dikelilingi wanita-wanita, ya!?" Gadis menyalahkan Haikal karena Haikal justru tersenyum, walaupun tidak menjawab dan meladeni wanita tadi.


Haikal mengerjapkan mata saat mendengar Gadis berkata menyalahkannya.


"Mereka tidak berbuat jahat kepada Luna, Mbak." Haikal seolah bertentangan dengan Gadis. "Dia mencu bit bukan karena ingin menyakiti Luna, tapi karena merasa gemas melihat pipi Luna," lanjut Haikal membela wanita tadi. Entah mengapa, Haikal yang biasanya menurut dan tunduk pada perintah Gadis, kini justru melawan bosnya itu.


Jawaban Haikal tentu membuat Gadis jengkel, karena Haikal justru membela wanita pengganggu itu. Dengan mendengus kasar ia pun berkacak pinggang, sama seperti saat ia menghadapi wanita-wanita tadi.


"Jadi Kak Haikal anggap aku yang salah?" Gadis menatap tajam Haikal, tak terima dirinya disalahkan oleh Haikal.


"Maaf, Mbak. Saya tidak menyalahkan Mbak Gadis." sanggah Haikal, "Saya hanya ingin meluruskan saja. Mereka tidak berbuat jahat pada Luna. Reaksi Mbak Gadis tadi terlalu berlebihan. Apa jadinya kalau mereka tahu kalau Mbak ini adalah bos asli mall ini? Mereka pasti tidak akan respect terhadap Mbak Gadis. Mereka juga bisa menyebarkan hal ini ke khalayak umum dan itu suatu kerugian bagi Mbak Gadis sebagai bos di sini ke depannya." Haikal menyampaikan pendapatnya. Ia pun mengkritik sikap Gadis yang dipengaruhi usia belianya sehingga bersikap kekanakan.


"Om Ikal, Kak Adis kok belantem, cih? Papa cama Mama tadi belantem, cekalang Om Ikal cama Kak Adis belantem juga. Jangan belantem telus, nanti Allah nya malah kalau semua belantem." Melihat kedua orang dewasa di hadapannya bertengkar, Luna pun memprotes dan menasehati mereka berdua seperti orang tua yang sedang memberi nasehat.


Haikal dan Gadis menoleh ke arah Luna, kemudian mereka pun saling berpandangan secara bersamaan.


"Aku mau kembali ke kantor!" Gadis kemudian berjalan meninggalkan Haikal dan Luna. Dia mengurungkan niatnya ingin makan di restoran bersama Haikal.


"Mbak Gadis katanya mau makan?" tanya Haikal mengejar Gadis yang berjalan menjauh darinya.


"Aku sudah tidak naf su!" ketus Gadis tak menghentikan langkahnya.


"Tapi Mbak Gadis belum makan, sekarang sudah jam satu, Mbak. Nanti Mbak Gadis sakit kalau Mbak telat makan." Haikal mencoba membujuk Gadis agar tidak terus merajuk. Dia mempunyai tanggung jawab terhadap tugasnya sebagai asisten pribadi Gadis, termasuk wajib memberitahu Gadis agar selalu menjaga kesehatan.


"Tidak usah sok perduli! Aku makan atau tidak, itu bukan urusan Kak Haikal!" ketus Gadis kembali.


Mereka berdua sudah seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar, hingga tingkah mereka menyita perhatian orang yang ada sekitar mereka.


"Kalau begitu Mbak ingin makan apa? Biar nanti saya yang belikan saja." Haikal berpikir sebaiknya dia saja yang memesankan makanan untuk Gadis, daripada Gadis tidak makan.


"Tidak perlu! Aku tidak lapar!" tolak Gadis masih dengan nada menyentak.


Melihat dirinya tak juga bisa membujuk Gadis, Haikal akhirnya menarik tangan Gadis hingga langkah Gadis terhenti, bahkan tubuh Gadis berputar dan kini menghadap Haikal.


Gadis terkesiap saat tangan Haikal menahan tangannya. Dia tidak menduga jika Haikal berani menyentuh lengannya meskipun saat ini lengannya terbalut blazer.


Mata Gadis mengarah pada tangan Haikal yang masih menyentuhnya, lalu ia menaikkan padangan menatap Haikal. Seketika itu jantungnya berdetak tak beraturan. Emosinya yang tadi menggebu seketika mengikis dan menghilang entah ke mana. Apalagi saat tatapan mata Haikal ia rasakan langsung menembus hatinya, hingga sanggup meluruhkan kemarahan yang tadi menguasainya.


"Hihihiiii, Om Ikal cama Kak Adis pacalan, ya?" Luna terkikik menutup mulut dengan tangannya. Dia menyebut Gadis dan Haikal pacaran hanya karena mereka berdua bergandengan tangan.


Kedua orang dewasa yang bersama Luna seketika tersadar. Haikal langsung melepas tangan Gadis, sementara semburat merah langsung merayapi pipi Gadis karena sikap Haikal tadi. Apalagi saat mendengar celetukan Luna.


"Sebaiknya Mbak makan dulu. Kalau kita kembali ke kantor sekarang, nanti akan jadi pertanyaan Kak Gagah dan Mbak Airin.," ujar Haikal kemudian.


*


*


*


Bersambung .....

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2