JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Jatuh Ke Tangan Yang Salah


__ADS_3

Keempat orang yang sama sekali tidak punya hubungan darah dengan Bintang Gumilang terperanjat saat melihat kemunculan Gadis, putri bungsu dari Bintang dan Farah. Mereka tidak mengira jika obrolan mereka ternyata didengar oleh anggota keluarga Bintang itu sendiri.


"Hmmm, Gadis. Kamu jangan berburuk sangka terhadap kami!" sanggah Romi mencoba mengklarifikasi agar Gadis tidak salah paham dan tidak menuduh mereka ingin menguasai harta milik Bintang.


"Justru kami itu berusaha menyelamatkan asset besar milik Papamu agar tidak diambil oleh orang lain," jelas Romi kemudian.


"Om Romi benar, Gadis. Mana mungkin kami ingin menghaki apa yang bukan milik kami. Kami ini hanya berusaha menjaga harta kepemilikan Papa kamu agar tidak jatuh ke tangan yang salah." Dicky menegaskan jika apa yang mereka diskusikan tadi tidak bermaksud buruk kepada keluarga Bintang.


"Siapa yang Om maksud jatuh ke tangan yang salah? Kak Gagah? Bukankah selama ini Kak Gagah mengelola perusahaan Papa dengan baik?" Menyangkal tudingan Dicky, Gadis justru membela Gagah.


"Itu dulu, Gadis. Sebelum Papa kamu meninggal. Sekarang Papa kamu sudah tidak ada, apa itu bisa menjamin dia tidak akan melakukan penyimpangan dengan jabatannya saat ini?" Romi mencoba mempengaruhi Gadis agar mau membantunya mempengaruhi Farah supaya berada di pihaknya.


"Selama ini Papa percaya sama Kak Gagah. Aku yakin Kak Gagah orang yang baik, dia tidak mungkin melakukan hal buruk seperti yang Om tuduhkan tadi!" Gadis tidak mudah dipengaruhi oleh adik tiri Papanya, "Lagipula, siapa yang pantas menghandle perusahaan milik Papa kalau bukan Kak Gagah? Om Dicky? Om Romi? Kalau memang Om Dicky dan Om Romi pandai mengelola usaha Papa, kenapa dulu Papa tidak memercayakan BDS kepada Om Dicky dan Om Romi? Kenapa Papa justru memercayai Kak Gagah?" Gadis melipat tangan di dada. Dia geram dengan sikap Om dan istri-istrinya yang mulai memperlihatkan wajah aslinya.


Ucapan Gadis dengan nada ketus bagaikan tam paran bagi Dicky dan Romi. Jelas saja Bintang tidak menyerahkan jabatan CEO kepada kedua adik tirinya itu karena memang mereka tidak dipercaya oleh Bintang. Bintang sepertinya dapat mengendus niat jahat kedua adik tirinya yang ingin menguasai harta miliknya.


"Dan asal Om tahu, BDS itu adalah usaha milik Papa, bukan milik Opa, jadi Om itu tidak punya hak apa-apa atas harta warisan Papa!" tegas Gadis. Dia merasa perlu mempertahankan harta milik orang tuanya dari tangan-tangan orang licik dan rakus seperti Om dan istri-istrinya.


"Seharusnya Om dan Tante itu tahu diri, kami ini sedang berkabung, tega sekali Om dan Tante membahas soal harta Papa!" Dengan dada bergemuruh Gadis melampiaskan rasa kesalnya hingga berbicara dengan nada tinggi dan menyentak. Dia sama sekali tidak merasa takut dengan keempat orang dewasa di hadapannya saat ini. Dia merasa ada di posisi yang benar sebagai ahli waris Bintang Gumilang yang berhak atas semua peninggalan almarhum papanya.


***


Dalam perjalanan pulang menuju rumah, Gagah dan Prasetyo tak henti membahas soal nasib perusahaan yang saat ini dipegang oleh Gagah, terutama dengan sikap Dicky dan Romi yang terlihat jelas menginginkan Bintang Departement Store.


"Kamu harus hati-hati menghadapi mereka, Gah. Papa rasa mereka akan terus mencoba mengambil alih perusahaan Pak Bintang dari kamu dan ahli waris Pak Bintang yang lebih berhak." Prasetyo mencoba memberikan nasehat kepada Gagah.


"Iya, Pa." sahut Gagah seraya menghempas nafas panjang. "Menurut Papa, langkah apa yang harus aku ambil?" tanya Gagah minta pendapat sang Papa, karena ia yakin Papanya akan memberikan saran dan nasehat terbaik padanya.


"Apa yang kamu inginkan sebenarnya? Sesuai hati nuranimu?" Prasetyo justru membalikkan pertanyaan kepada Gagah.


"Aku sudah berjanji pada Airin akan melepas pekerjaanku jika keinginan Flo akan mengancam rumah tangga kami," jelas Gagah apa yang ia janjikan pada Airin beberapa hari lalu saat Bintang masih hidup.


"Jika kamu nyaman dengan keputusan itu, lakukanlah! Case closed!" sahut Prasetyo.


Gagah menoleh ke arah Prasetyo dan menatap sang Papa. Gagah tahu, ada sesuatu tersirat dengan kata-kata Papanya tadi.


"Apa Papa menginginkan aku tetap di sana?" tanya Gagah, karena sejujurnya, ia pun merasa berat untuk meninggalkan perusahaan retail tersebut setelah Bintang meninggal dunia. Mungkin kondisinya akan berbeda jika dia resign saat Bintang masih hidup.


"Papa hanya ingin kamu mengambil keputusan dengan mempertimbangkan beberapa aspek Gagah.. Bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tapi juga dari segi kemanusiaan. Kamu mungkin aman setelah resign. Tapi, bagaimana dengan BDS? Terutama nasib Farah dan anak-anaknya?" Meskipun sebelumnya Prasetyo menyetujui Gagah resign jika Bintang sampai menekan Gagah atas permintaan Florencia, namun ia kurang sependapat jika Gagah resign saat Bintang telah meninggal. Tentu saja yang paling ditakutkan adalah adik-adik tiri Bintang akan mengambil alih semua warisan Bintang.


Gagah kembali menghela nafas, sudah kuduga jika Papanya keberatan dirinya resign dari Bintang Departement Store.


"Lalu aku harus bagaimana, Pa?" tanya Gagah bingung.


"Adakan rapat secepatnya dan bicarakan tentang kelangsungan BDS ke depannya setelah Pak Bintang meninggal. Jika memang ada pergantian posisi direktur utama, pilih orang yang amanah dengan tugas itu dan tidak mudah diintimidasi oleh kedua saudara tiri Pak Bintang. Bicarakan juga dengan Bu Farah soal hal ini. Barangkali Bu Farah punya calon yang bisa dipercaya menghandle BDS." Prasetyo memberitahu Gagah mengenai langkah yang harus ditempuh putranya itu.


"Seandainya mereka menginginkan aku tetap bertahan, menurut Papa bagaimana?" Gagah cukup percaya diri, selain orang kepercayaan Bintang, Gagah sangat pandai mengelola perusahaan. Terbukti omzet yang didapat oleh Bintang Departement Store meningkat pesat dua tahun terakhir ini. Sehingga dirinya merasa yakin jika para pemegang saham dan pengurus Bintang Departement Store akan keberatan jika ia mengundurkan diri.


"Kamu harus menguatkan dukunganmu, baik dari para pemegang saham, pengurus ataupun dari pikak keluarga," jawab Prasetyo, "Jangan biarkan Dicky dan Romi berhasil masuk ke dalam kepengurusan BDS. Mereka hanya orang tamak yang akan menghancurkan BDS. Kasihan jika perusahaan yang dibangun Bintang sejak muda ini harus jatuh ke tangan yang salah." Prasetyo menasehati Gagah agar bisa menghalau kedua adik tiri Bintang yang ingin menguasai perusahaan milik Bintang.

__ADS_1


"Baiklah, Pa. Nanti aku akan bicarakan hal ini dengan pengurus yang lain sebelum mengadakan rapat. Karena aku juga mesti bicara dengan Ibu Farah. Aku mesti meminta persetujuan beliau." Gagah menyetujui usulan sang Papa. Dia juga masih penasaran dengan hal yang belum sempat dibicarakan Bintang kepadanya.


***


Airin turun dari tempat tidur Luna ketika ia mendengar suara di kamar sebelah. Dia menduga sang suami telah kembali dari rumah Bintang setelah menghadiri acara tahlil hari pertama meninggalnya pemilik perusahaan retail Bintang Departement Store itu.


Airin melihat sang suami melepas baju kokonya. Ia tahu jika Gagah akan membersihkan tubuhnya sebelum beranjak tidur meskipun saat ini waktu sudah mendekati jam sembilan malam.


"Mas mau mandi? Aku siapkan air hangatnya dulu." Airin melangkah ke arah kamar mandi untuk menyiapkan air hangat di bathtub.


"Aku mandi dulu sebentar." Gagah memberikan pakaian yang sudah ia lepas kepada Airin lalu beranjak ke kamar mandi.


Airin melipat pakaian kotor Gagah dan menaruhnya di keranjang pakaian kotor di dekat kamar mandi. Setelah itu ia menyiapkan pakaian tidur untuk Gagah.


Sepuluh menit berselang, Gagah keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk di pinggangnya sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil.


Tubuh berotot Gagah dan lembab terlihat sek si di mata Airin yang saat itu memusatkan perhatian pada sang suami. Bahkan ia membayangkan saat tubuh atletis itu memeluknya hingga membuat bulu romanya seketika meremang.


"Aku harus menyelesaikan sedikit pekerjaan. Kalau kamu sudah mengantuk, kamu istirahat saja dulu," ujar Gagah membelai kepala Airin.


Airin mengerjakan mata ketika tangan suaminya itu mengusap kepalanya, hingga menyadarkan dia yang terlalu asyik bertraveling saat melihat tubuh kekar sang suami. Dia sampai tidak menyadari jika Gagah telah selesai mengenakan pakaiannya.


"Mau aku buatkan teh herbal, Mas?" tanya Airin menawarkan minuman untuk Gagah, karena saat ini Gagah berjalan ke arah meja kerja yang terletak di sudut kiri kamar mereka.


"Tidak usah ..." jawab Gagah mengeluarkan laptop dari tas kerjanya.


"Apa Mas akan terus bekerja di perusahaan Pak Bintang?" Mencoba memberanikan diri, Airin bertanya pada sang suami.


Gagah melirik ke arah Airin saat mendengar pertanyaan sang istri.


"Kenapa?" tanyanya kemudian.


"Hanya bertanya saja, ingin tahu," sahut Airin, ia tidak berani bertanya terlalu dalam karena takut dianggap terlalu ikut campur urusan pekerjaan suaminya.


"Duduklah ...!" Gagah meminta Airin duduk di pangkuan Gagah.


Airin mengerutkan keningnya. Gagah ingin menyelesaikan pekerjaan, tapi kenapa Gagah memintanya duduk di pangkuannya? Apa itu tidak mengganggu? Airin bertanya-tanya. Tapi, Airin tidak menolak, walaupun agak canggung, ia tetap mengikuti apa yang diinginkan oleh suaminya.


"Perusahaan itu bukan milikku, walaupun aku punya sedikit saham di sana, sekitar lima persen di sana. Aku bahkan berencana ingin menarik sebagian sahamku di BDS untuk mendirikan usaha jasa yang dibicarakan kemarin dengan Mas Tegar," ungkap Gagah.


Airin terkesiap saat Gagah menceritakan kepemilikan sekitar lima persen saham Bintang Departement Store. Meskipun kecil dalam jumlah persentase, tapi jika dalam bentuk rupiah pasti jumlahnya sangat besar dan milyaran. Airin seakan tersadar jika suaminya itu memang seorang milyarder dalam usia yang relatif masih muda.


"Kemungkinan nanti akan ada rapat antar pemegang saham, dewan direksi dan komisaris untuk membahas soal ini," lanjut Gagah.


"Mama bilang Pak Bintang itu punya saudara tiri. Apa mereka akan mengambil alih BDS, Mas?" Airin mulai berani bertanya lebih jauh.


Gagah menghempas nafas panjang, sebenarnya ia tidak ingin hal ini menjadi beban pikiran Airin maupun Widya. Meskipun tanda-tanda yang ditanyakan Airin memang sudah terlihat jelas, bahkan saat Bintang masih hidup.


"Bisa jadi, mereka memang menginginkan BDS sejak Pak Bintang resign dari kepengurusan di perusahaan," jawab Gagah sejujurnya.

__ADS_1


Rasa cemas semakin menguat di hati Airin. Apa yang ditakutkan Widya kini mulai mempengaruhi hatinya. Dia takut suaminya akan menjadi korban kelicikan dan kerakusan kedua saudara tiri Bintang.


"Mas harus hati-hati dengan mereka. Jangan sampai ambisi mereka untuk menguasai BDS justru akan menyulitkan Mas di sana." Meskipun Airin sudah berani bertanya menyinggung soal kedua adik tiri Bintang, tapi ia masih belum berani meminta Gagah untuk resign dari perusahaan retail milik Bintang Gumilang.


Gagah tersenyum. Dia senang melihat perhatian yang ditunjukkan Airin kepadanya, Seketika rasa sesal hinggap di hatinya. Kenapa ia baru dipertemukan dengan Airin? Jika ia dipertemukan dengan Airin sejak lama, atau mungkin sebelum Airin menikah dengan Rey, mungkin hidupnya akan semakin bahagia.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku bisa mengatasi hal itu." Gagah mencoba menyakinkan Airin agar tidak cemas.


"Apa Mas tidak berniat untuk resign dari sana?" Akhirnya Gagah menanyakan hal tersebut walaupun awalnya agak ragu menanyakannya.


"Apa kamu ingin aku resign dari sana?" Gagah menyampirkan rambut Airin yang terurai.


"Bukan aku saja yang ingin Mas resign dari sana, tapi Mama juga," sahut Airin.


"Mama?" Kening Gagah berkerut, "Apa Mama yang mempengaruhimu untuk mengatakan ini padaku?" Gagah yakin jika permintaan Airin agar dirinya resign bukan berasal dari Airin pribadi, meskipun dia merasakan perhatian juga kecemasan Airin.


Airin terkesiap karena sang suami mengetahui jika Widya yang mempengaruhinya untuk membujuk Gagah resign.


"Hmmm, Mama tidak mempengaruhi, Mas. Aku hanya cemas jika Mas jadi korban ketamakan mereka. Apalagi anaknya Pak Bintang itu menginginkan Mas," tepis Airin.


Gagah kembali tersenyum dan mengusap lengan Airin.


"Terima kasih atas perhatian dan kecemasanmu, Airin. Tapi ini harus didiskusikan terlebih dahulu dengan pada pemegang saham dan petinggi perusahaan lainnya. Secepatnya kami akan mengadakan rapat." Gagah menjelaskan.


"Mas bilang, Mas siap melepas jabatan Mas jika posisi Mas sebagai CEO mengancam keutuhan rumah tangga kita." Airin menanyakan pernyataan Gagah sebelumnya.


"Aku ingat itu, tapi ... saat ini situasinya berbeda." Gagah harus memperhitungkan secara matang tentang keputusan resign setelah meninggalnya Bintang. Bukannya terlalu percaya diri, namun jika sampai dia resign, dan perusahaan milik Bintang itu jatuh ke kedua adik tiri Bintang, dia yakini, perusahaan yang dibangun oleh Bintang Gumilang akan hancur sebagai perlahan. Dan tentu saja yang dikhawatirkan Gagah adalah nasih Farah, Florencia dan juga Gadis sebagai pewaris yang paling berhak atas harta milik Bintang.


"Apa artinya Mas akan bertahan di sana?" tanya Airin menangkap maksud ucapan sang suami.


"Aku hanya minta dari kamu, doakan suamimu ini dapat menjalankan tugasnya dengan baik, dan dapat mengatasi setiap gangguan yang akan menghadang," pinta Gagah menarik tengkuk Airin dan membenamkan satu kecupan di bibir manis Airin.


"Sudah, Mas. Mas harus menyelesaikan pekerjaan, kan?!" Airin bangkit tak ingin meneruskan bercumbu karena itu akan mengganggu pekerjaan sang suami.


"Aku minta waktu setengah jam untuk menyelesaikan pekerjaanku, setelah itu kita lanjutkan lembur di sana." Gagah menunjuk arah tempat tidur dengan arahan matanya.


Airin terbelalak mendengar ucapan suaminya yang sudah memintanya untuk melakukan hubungan suami istri setelah Gagah menyelesaikan pekerjaannya. Namun Airin tidak membantah, karena semakin hari dirinya pun mulai suka melakukan sentuhan fisik dengan Gagah. Tak bisa dipungkiri, Gagah memperlakukan dirinya begitu istimewa dan membuatnya ketagihan dicumbu mesra oleh sang suami hingga membuatnya seakan melayang ke angkasa.


"


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2