
Satu bulan berlalu, saat ini usia kandungan Airin sudah memasukin usia enam bulan. Seperti kehamilan pertamanya, tak banyak perubahan dari tubuh Airin selain perutnya yang mulai terlihat membesar. Airin sendiri menjalani masa kehamilan dengan penuh rasa bahagia. Tentu saja karena perhatian sang suami dan kedua mertuanya yang membuatnya bagaikan seorang ratu di rumah itu. Untung saja ia orang yang sadar diri, tidak besar kepala apalagi sok mengatur karena semua anggota keluarga bahkan sampai para ART di sana sangat memperhatikannya.
Airin baru selesai memakai pakaian setelah mandi sore, ketika tiba-tiba tangan Gagah memeluknya dari belakang sambil menyodorkan sebuah amplop coklat kepadanya.
"Apa ini, Mas?" Airin mengambil amplop yang disodorkan oleh suaminya. "Uang bulanan, ya?" Airin terkekeh, sebab selama ini Gagah selalu mentransfer uang bulanan untuknya.
"Sejak kapan pikiranmu ini memikirrkan soal jatah bulanan, Ay?" Gagah menciumi leher jenjang Airin. Selama menikahi Airin, Gagah tak pernah telat memberikan jatah bulanan kepada istrinya, dan Airin pun tak pernah menagih, sebab uang bulanan sudah otomatis masuk ke rekening tabungan Airin dengan jumlah yang fantastis. "Seharusnya yang mesti kamu tanyakan adalah jatah mengunjungi calon baby kita di sini." Tangan Gagah mengusap perut buncit Airin
"Kalau itu tidak perlu ditanyakanlah, Mas. Bahaya ..." Sambil terkekeh wanita cantik itu menjawab ucapan suaminya.
"Apanya yang bahaya, hmm?" Gagah kembali melancarkan kecupan-kecupan, dan kini sekitar wajah yang dikuasai Gagah.
"Bisa-bisa aku disuruh mandi junub tiap pagi, hahaha ..." seloroh Airin dengan tertawa, membuat Gagah semakin senang menghujani ciuman di pipi Airin,
"Ini apa, sih, Mas?' Airin menanyakan isi amplop itu.
"Buka saja kalau penasaran." Gagah menyuruh Airin mencari tahu sendiri isi dari amplop tersebut.
"Bukan berlian, deh." Airin menggoyang amplop coklat di tangannya, siapa tahu ada benda padat di dalamnya.
"Hahaha, aku pikir kamu tidak suka berlian, Ay." Gagah meladeni candaan istrinya.
"Tidak terlalu suka, tapi kalau dikasih pasti senang, Mas." Airin terkekeh, kemudian membuka amlop. Dia menarik brosur dari dalam amplop, brosur travel perjalanan ke luar negeri. "Ini apa, Mas?" tanya kemudian.
"Kita akan pergi di Spanyol, Kita akan melewati babymoon di sana," jawab Gagah.
Bola mata Airin seketika membulat, gerakan lehernya berputar menoleh ke arah sang suami dengan tercengang. Tidak munafik jika Airin ingin merasakan traveling ke benua eropa, hal yang selama ini hanya ada dalam khayalannya saja. Dia memang pernah pergi ke luar negeri, saat ia pergi berbulan madu dengan Rey ke Singapura, setelah itu ia tidak pernah pergi-pergi ke luar negeri lagi.
"Ke Spanyol, Mas?" tanya Airin masih seperti mimpi.
"Iya, atau kamu punya pilihan tempat lain?" tanya Gagah memberikan kebebasan kepada istrinya untuk memilih temoat yang akan mereka kunjungi untuk babymoon.
__ADS_1
"Luna bagaimana, Mas?" Tidak langsung merespon tempat lain yang diinginkan untuk mereka pergi babymoon, Airin justru menanyakan soal Luna. Dia tahu, Luna tidak akan bisa jauh dengannya dalam waktu yang lama.
"Luna akan ikut kita dan aku akan bicara sama Mama agar Mama bisa bantu kita menemani Luna selama kita di sana, Jadi, kalau kita ingin oergi berdua malam hari, Mama bisa menemani Luna di hotel." Gagah sudah mengantisipasi, termasuk meminta bantuan sang Mama menjadi 'Pengasuh' bagi Luna.
"Ya ampun, Mas. Aku tidak enak merepotkan Mama." Airin tidak enak hati harus membuat Mama mertuanya itu repot mengurus Luna, karena bagaimanapun juga Luna bukan cucu kandung Widya, meskipun Widya sendiri tidak mempermasalahkan soal itu.
"Kalau untuk urusan vacation, tidak ada kata repot bagi Mama, Ay." Gagah menjelaskan, sebab ia tahu Mamanya pasti akan senang ia ajak berlibur. "Oh ya, kamu punya paspor?" tanya Gagah kemudian.
"Aku ada, Mas. Tapi, Luna belum punya," jawab Airin.
"Ya sudah, nanti aku suruh Dewi urus ke biro untuk bikin paspor Luna. Paspor kamu masih berlaku, kan?" Gagah mengurai pelukannya.
"Masih, tahun depan kayaknya harus perpanjang," sahut Airin.
"Ya sudah, nanti kita ke bawah, kita bicara sama Mama." Gagah mengajak Airin bertemu dan berdiskusi dengan Mamanya untuk membahas rencana kepergian mereka ke Spanyol.
***
Tok tok tok
Jam saat ini menunjukkan pu kul 00,01 menit, membuat kening Haikal berkerut. Tatapan Haikal kini mengarah ke pintu balkon, Siapa yang mengetuk kamarnya dini hari begini? Apakah manusia yang mengetuk pintu? Lalu, siapa orang yang mengetuk pintu itu? Sempat terlintas di benak Haikal jika itu mahluk halus yang melakukannya. Namun, seketika itu juga ia singkirkan pemikiran seperti itu.
Dengan membaca ayat Kursi, Haikal berjalan ke arah pintu balkon. Meski mencoba menepis jika itu adalah perbuatan mahluk halus, tetap saja Haikal perlu membentengi diri dengan membaca ayat-ayat suci memohon perlindungan dari Allah SWT, Sang Pencipta alam semesta beserta isinya.
Haikal menyibak sedikit gordyn di pintu balkon untuk mengetahui siapa yang mengetuk pintu kamarnya tengah malam seperti ini.
Bola mata Haikal melebar ketika ia melihat Feby berdiri dengan memegang bolu ulang tahun di tangannya. Gerakan mulut Feby terlihat mengucapkan kalimat "Surprise". Haikal pun segera membukakan pintu untuk Feby.
"Surprise ...! Happy Birthday, Kak Haikal ...!" Feby langsung memberikan ucapan selamat dan merangkulkan tangannya ke pinggang Haikal.
"Astaga, By. Kamu kurang kerjaan banget tengah malam bawa kue ulang tahun dari balkon. Kamu lompat balkon lagi, ya!?" Haikal justru mengkritik ulah adik sepupunya yang ia anggap bahaya. "Kamu bagaimana bisa bawa kue ini ke balkon?" tanyanya penasaran, tak merespon ucapan selamat ulang tahun padanya.
__ADS_1
"Tadi Mama yang bantu." Feby kemudian berjalan ke arah pintu kamar untuk membukakan pintu, sebab kedua orang tuanya sudah menunggu di depan pintu untuk mengucapkan ulang tahun.
"Selamat ulang tahun, Haikal." Setelah pintu terbuka, Tante Mira dan Om Fajar masuk ke dalam kamar Haikal dan memberikan ucapan selamat secara bergantian pada keponakannya itu.
"Terima kasih, Om, Tante." Haikal justru tidak ingat jika saat ini dirinya berulang tahun. Seperti kebanyakan kaum pria pada umumnya, tidak terlalu mengingat hari lahirnya walaupun mereka ingat tanggal kelahiran mereka.
"Tiup lilinnya dulu, Kak." Feby menyodorkan bolu di tangannya ke hadapan Haikal. "Jangan lupa male a wish," sambungnya.
Setelah berdoa untuk kebaikan untuk dirinya, Haikal kemudian meniup lilin angka dua dan lima. Saat ini usianya sudah genap dua puluh lima tahun. Sesudahnya, kembali keluarga Om Fajar mengucapkan selamat dan memberikan pelukan kepada Haikal.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Cake ulang tahunnya besok pagi saja dipo tongnya." Karena waktu sudah larut, Tante Mira menyuruh Haikal dan yang lainnya beristirahat. Tante Mira dan Om Fajar segera meninggalkan kamar Haikal, sementara Feby masih bertahan di kamar itu.
"Kamu jangan keseringan lompat dari balkon, By. Bahaya, tahu!" Haikal kembali mengingatkan Feby akan kebiasaan adik sepupunya itu.
"Kan, mau kasih surprise, Kak." Feby menyeringai.
"Ya sudah, sana tidur! Besok kamu sekolah, kan!?" Haikal menyuruh Feby untuk istirahat.
"Oh ya, Kak Haikal sudah kasih ucapan ulang tahun ke Gadis belum?" tanya Feby kemudian.
"Memang kapan Gadis ulang tahun?" Haikal tidak tahu jika Gadis mempunyai tanggal kelahiran yang sama dengannya.
"Kak Haikal sama Gadis ultahnya 'kan samaan, Kak." Karena Feby yang sering berkomunikasi dengan Gadis, hingga ia tahu tanggal lahir Gadis dengan Haikal ternyata mempunyai kesamaan tanggal dan bulan.
"Oh ya?" Haikal terkesiap setelah mengetahui tanggal lahir mereka berdua sama.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️