
Gadis merasa kecewa, karena Haikal tak memberikan ucapan selamat ulang tahun kepadanya. Padahal ia sendiri sudah menyiapkan sebuah hadiah untuk Haikal. Terlihat olehnya Haikal bersikap acuh, seolah tidak memperdulikan jika hari ini adalah hari ulang tahunnya juga. Sehingga ia tak memberikan tas laptop yang biasanya dibawa oleh Haikal saat Haikal tadi meminta tas itu. Gadis justru berjalan lebih cepat ke arah mobil dan bergegas masuk ke dalam mobil.
Penciuman Gadis merasakan aroma yang berbeda ketika ia masuk ke dalam mobil. Aroma parfum mobilnya tidak beraroma seperti biasanya. Namun, ia enggan mencari tahu kenapa Haikal merubah aroma pengharum di mobil miliknya. Dia pun berpura-pura sibuk dengan ponsel ketika Haikal masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobil.
Namun, tiba-tiba sebuah kejutan membuat Gadis terperanjat saat sebuah buket mawar disodorkan Haikal padanya, bersama dengan suara Haikal yang mengucapkan. "Selamat Ulang Tahun."
Gadis sampai tercengang beberapa saat, tak cepat menerima buket pemberian Haikal itu. Dia kaget dan tidak menyangka akan diberi buket mawar merah dari Haikal.
"Kamu tidak suka buketnya, ya?" Karena Gadis tidak segera mengambil buket yang ia sodorkan, Haikal menduga jika buket yang ia beli tidak disukai oleh Gadis.
"Oh, suka, kok." Gadis seakan tersadar, ia pun segera menerima buket mawar yang diberikan Haikal kepadanya dengan wajah berbinar. "Terima kasih, Kak." Semburat merah tanpa bisa dibendung mulai membias di wajah cantiknya. Sungguh Gadis tidak menyangka jika Haikal akan memberikan kejutan seperti ini kepadanya.
Gadis menghirup aroma rose dari buket itu seraya memejamkan matanya. Ketenangan kini mulai menyeruak masuk ke dalam hatinya yang tadi sempat galau karena keacuhan Haikal, menganggap Haikal tidak perduli, sebab tidak memberikan ucapan selamat ulang tahun kepadanya.
"Kak Haikal kapan beli bunga ini?" tanya Gadis dengan senyum bahagia mendekap buket pemberian Haikal. Hatinya bagaikan sedang ditumbuhi ratusan bunga-bunga yang bermekaran.
"Tadi sebelum berangkat ke sini, aku mampir ke toko florist," jawab Haikal.
"Terima kasih, Kak." ucap Gadis kembali. Dia pun kemudian mengambil sesuatu dari tote bag nya. Sebuah paper bag berisi kado yang ia siapkan untuk Haikal, lalu ia menyodorkan kado itu pada Haikal. "Happy brithday juga, Kak. Ini kado untuk Kak Haikal," ucapnya kemudian.
Haikal mengeryitkan keningnya melihat paper bag di tangan Gadis. "Kamu tidak harus kasih kado seperti ini buat saya, saya 'kan bukan anak kecil." Haikal enggan menerima pemberian Gadis.
"Memangnya yang boleh dikasih kado ulang tahun itu hanya anak kecil saja?" Gadis memutar bola matanya menanggapi ucapan Haikal
"Tapi saya tidak enak, kamu sering kasih saya hadiah, saya sendiri tidak memberi kamu hadiah apa-apa." Haikal tahu diri dan tidak enak hati sering diberi hadiah dari Gadis, sementara dia sendiri tidak memberikan apa-apa pada wanita itu.
"Ini hadiah dari Kak Haikal." Gadis menunjuk buket mawar di tangannya. Bagi Gadis itu sudah cukup membahagiakan. Bukankah menerima buket bunga dari seorang pria yang dia sukai di saat ulang tahun terasa sangat romantis? Seperti itulah anggapan Gadis.
__ADS_1
Memang terlihat wajah bahagia Gadis ketika menerima buket dari Haikal, dan itu tertangkap mata Haikal. Dia tak menduga jika pemberiannya ternyata begitu berharga bagi Gadis. Tak ingin merusak kebahagiaan Gadis, akhirnya Haikal mau menerima bingkisan paper bag berisi kado dari Gadis.
"Terima kasih untuk kadonya," ucap Haikal, lalu meletakkan paper bag itu di jok sebelahnya dan mulai menjalankan mobil ke luar dari rumah Bintang Gumilang.
'Oh ya, Kak. Feby minta traktir kita, lho. Gimana kalau nanti malam kita ajak Feby makan-makan?" Gadis teringat permintaan Feby semalam lewat pesan di ponselnya.
"Nanti malam saya dak bisa, paling siang nanti kalau mau traktir Feby." Haikal teringat rencana makan malam yang direncanakan oleh Airin.
"Oh, nanti siang saja kalau begitu. Nanti kita jemput Feby di sekolahnya," ujar Gadis.
"Ya sudah, nanti saya kabari Feby nya," sahut Haikal menyetujui apa yang direncanakan oleh Gadis.
***
Saat tiba di kantor BDS, sebelum turun dari mobil, Gadis mengambil buket mawar pemberian Haikal. Dia ingin menaruhnya di meja ruangan kerjanya, agar menambah mood baginya. Tapi, ia juga ingin menaruh buket di kamarnya, supaya ia dapat merasakan kehadiran Haikal di dekatnya.
"Kak, aku boleh minta buket begini satu lagi, tidak?" Gadis meminta Haikal memberinya satu buket lagi untuknya.
"Untuk aku taruh di kamar, kalau yang ini mau aku taruh di ruang kerjaku di kantor." Gadis seakan lupa dengan syarat yang diberikan sang Mama untuk menahan diri dan tidak menunjukkan sikap Agresif yang memperlihatkan rasa suka Gadis terhadap Haikal. Hanya karena buket mawar pemberian Haikal, terkikis sudah sikap jaga jarak yang hampir dua bulan ini dia bangun,
Mata Haikal menyipit mendengar alasan Gadis yang ia anggap konyol. Baru kali ini ia bertemu dengan wanita seperti Gadis, walaupun ia terbiasa didekati banyak wanita.
"Ya sudah, nanti saya beli lagi sekalian pulang." Haikal tak mungkin menolak permintaan Gadis, meskipun ia harus merogoh isi kantongnya dua kali untuk membeli buket lagi untuk Gadis. Karena hari ini adalah hari ulang tahun Gadis, tak sampai hati ia menolaknya.
"Terima kasih, Kak." jawab Gadis sumringah kemudian turun dari mobil dengan mendekap buket mawar di dadanya.
"Selamat pagi, Mbak Gadis. Selamat ulang tahun, semoga panjang umur dan sehat selalu."
Gadis terkesiap, saat hendak melewati pintu lobby utama kantor BDS, ia disambut oleh security yang memberinya ucapan selamat ulang tahun. Tentu saja hal ini adalah kejutan bagi Gadis. Dia tidak tahu siapa yang memberitahu soal ulang tahunnya, sampai security saja tahu jika hari ini dirinya berulang tahun, bahkan mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.
__ADS_1
Gadis berpikir jika Haikal lah yang memberitahu security, dan ini adalah kejutan lainnya yang ia terima dari Haikal selain buket mawar merah dalam dekapannya.
"Terima kasih, Pak." Dengan senyum lebar, sebab hatinya berbunga-bunga, Gadis membalas ucapan security tadi. Dan ia pun melanjutkan langkahnya.
"Selamat pagi, Mbak Gadis. Happy birthday, Mbak."
"Pagi, Mbak. Selamat ulang tahun ya, Mbak."
Beberapa karyawan BDS yang lain juga memberikan ucapan selamat pada Gadis, membuat Gadis kembali terkejut, sebab ulang tahunnya diketahui semua pegawai di sana.
"Terima kasih atas ucapannya," jawab Gadis sambil menyalami beberapa pegawai yang mengucapkan selamat padanya. Dia lalu menoleh ke arah Haikal yang baru masuk, karena harus memarkirkan mobil terlebih dahulu. Senyuman langsung terkulum di bibirnya, sebab ia merasa Haikal lah yang memberikan kejutan sehingga semua karyawan BDS yang dijumpainya memberinya ucapan selamat.
"Sebenarnya yang hari yang ultah bukan aku saja, kok. Kak Haikal juga ulang tahun hari ini. Tanggal lahir aku dan Kak Haikal ternyata samaan." Ingin membalas kejutan yang diberi Haikal kepadanya, Gadis pun memberitahu karyawannya soal kesamaan tanggal lahirnya dengan Haikal.
"Oh, Mas Haikal ultah juga, ya?"
"Wah, happy birthday, Mas. Panjang umur, lancar rejeki dan semoga cepat mendapatkan jodoh."
Semua karyawan yang tadi mengitari Gadis kini berkumpul mengelilingi Haikal, bahkan pegawai-pegawai wanita saling berebut bersalaman mengucapkan selamat pada Haikal. Sontak saja hal itu membuat hati Gadis yang awalnya berbunga-bunga mulai terpercik cemburu. Dia tidak suka jika ada pegawai wanita yang sok akrab apalagi sampai berusaha menarik perhatian Haikal.
"Eheemm ...!" Gadis berdehem dengan cukup kencang, membuat para pegawai yang berkerumun di dekat Haikal menoleh ke arahnya. "Sebaiknya kalian kembali ke meja masing-masing! Ini jam kerja, bukan jam untuk bersantai dan mengobrol!" tegur Gadis, kemudian membalikkan tubuhnya bergegas menuju lift untuk naik ke lantai di mana ruangannya berada.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️