JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Punya Papa Dua


__ADS_3

Semua mata kini terarah pada Joice setelah mendengar pengaduan Luna tentang sikap Joice yang tidak baik pada Mamanya. Airin sendiri merasa senang, Luna berani menyampaikan kritikannya pada Joice.


Joice terkesiap saat Luna mengadukannya sehingga kini dia menjadi pusat perhatian orang-orang yang berkumpul di meja itu. Apalagi sorot mata mereka bertiga seakan mengintimidasinya.


"Honey, aku tidak berbuat apa-apa! Jangan percaya apa yang anakmu bilang ini!" Joice berkilah, menyangkal apa yang dituduhkan oleh Luna terhadapnya.


"Saya rasa Anda salah! Saya yakin Luna tidak mungkin berbohong. Anak kecil itu akan berkata jujur pada apa yang dia lihat, dia dengar dan dia rasakan." Gagah langsung menepis anggapan Joice yang mengatakan jika Luna telah berbohong.


"Saya tahu siapa yang berbohong dalam hal ini," sambung Gagah mencibir sikap Joice yang berdalih.


"Luna sudah selesai makannya? Kalau sudah selesai, kita pulang sekarang, yuk!" Gagah ingin mengajak Luna dan Airin pulang, karena dia pun mulai merasa, terlalu lama bersama kedua orang di hadapannya, akan berimbas kurang baik untuk Luna juga Airin.


"Iya, Om." sahut Luna.


"Saya cuci tangan dulu." Gagah berpamitan pada Airin, lalu melangkah ke arah wastafel.


"Kenapa kamu membiarkan Luna dekat dengan dia, Airin? Kamu melarang aku membawa Luna ke Bali, tapi kamu membiarkan orang lain akrab dengan Luna." Ketika Gagah meninggalkan mereka, Rey memprotes sikap Airin yang membiarkan Luna akrab dengan Gagah. Dia menganggap Airin bersikap tidak adil terhadapnya.


"Memangnya kenapa? Dia calon Papa sambung Luna! Tidak ada yang salah kalau dia ingin akrab dengan Luna." Untung saja tidak ada Gagah di sana, sehingga Airin berani mengatakan hal itu di hadapan Rey dan Joice.


"Kenapa kamu semudah itu ingin menikah dengan Pak Gagah, Airin?" tanya Rey mengungkapkan rasa kecewanya karena Airin begitu mudah dan cepat berpaling pada pria lain.


Airin tersenyum sinis menanggapi protes mantan suaminya itu.


"Apa urusannya dengan Mas? Aku mau cepat menikah atau tidak, itu sudah tidak ada sangkut pautnya dengan Mas! Kita sudah bercerai, Mas Rey mesti ingat itu!" tegas Airin, dia tidak suka Rey terlalu ikut campur dengan urusan pribadinya. Termasuk dengan siapa dia dekat dan kapan dia memutuskan untuk menikah kembali.


"Dia itu wanita munafik, Mas! Kelihatan wanita alim, tapi gatel juga, baru juga cerai, sudah mau menikah lagi saja!" cibir Joice menghina Airin.


"Setidaknya saya tidak merebut suami orang, dan tidak menghancurkan rumah tangga orang lain seperti yang kamu lakukan!" bantah Airin membalas cibiran Joice.


"Tapi kamu itu masih punya suami tapi berselingkuh dengan bos itu, kan!? Ngaku saja, deh! Tidak usah menyangkal!" Joice masih menduga jika sebenarnya Airin dan Gagah sudah berhubungan sejak masih menjadi istri Rey.


"Mama cama Ateu jahat itu napa belantem?" Luna merasa heran karena Mamanya dengan Joice terlibat pertikaian.


"Tidak, Sayang. Mama tidak tertengkar, kok!" Airin menepis anggapan Luna.


"Aku harap Mas Rey bisa mengajarkan wanita ini untuk bersikap dan berkata-kata yang lebih sopan, apalagi di hadapan Luna!" Airin lalu bangkit dari kursinya dan menurunkan Luna dari kursi tempat Luna duduk ketika Gagah mendekat.


"Kita pergi sekarang?" tanya Airin pada Gagah.


"Oke," sahut Gagah lalu berkata pada Rey, "Pak Rey, saya pamit dulu."


"Papa, ayo pulang!" Namun, Luna justru mengajak Rey untuk ikut pulang dengannya.


"Hmmm, Papa masih harus bekerja, Luna. Papa tidak bisa ikut pulang dengan kita." Airin melarang Luna yang ingin mengajak Rey ikut bersama mereka, dan memakai alasan jika Rey harus bekerja.


"Papa keljanya lama cekali," keluh Luna.


"Papa masih sibuk, Luna. Tapi, Luna sekarang bisa bertemu Papa, kan? Ayo salam sama Papa dulu!" Airin menyuruh Luna bersalaman dengan Rey namun mengacuhkan Joice, dan ingin segera membawa Luna pergi menjauh dari sana.


Walaupun agak berat, tapi Luna akhirnya mau menuruti permintaan Mamanya.


"Kami permisi dulu, Pak Rey. Senang bertemu dengan Anda." Setelah berpamitan dengan Rey, Gagah lalu menggendong Luna di lengan kirinya, sementara tangan kanannya langsung melingkar di pundak Airin.


Meski agak terkejut dan merasa jengah dengan dekapan tangan Gagah, namun untuk memuluskan sandiwaranya, Airin membiarkan Gagah melakukan hal itu padanya. Dia justru senang telah berhasil membuat Rey cemburu.


Saat sudah menjauh dari restoran, Airin segera menepis tangan Gagah yang melingkar di pundaknya. Dia malu jika Gagah bersikap in tim kepadanya.


Gagah mengulum senyuman dengan penolakan Airin. Padahal, tadi saat di depan Rey dan Joice, Airin tidak menolak sama sekali ketika dia sentuh.


"Mungkin kita harus sering-sering bertemu dengan Papanya Luna, agar kamu tidak menolak saya peluk." Gagah terkekeh menggoda Airin.


Airin tak menggubris ucapan Gagah, Dia tidak ingin terpengaruh dengan sikap Gagah yang menggodanya.


Sementara sepeninggal Airin dan Gagah, Rey terlihat kesal melihat Airin yang begitu cepat move on darinya.


"Kamu lihat sendiri 'kan, Honey? Dia itu tidak mencintaimu! Aku rasa dia itu hanya bermain playing victim, dengan melempar alasan hubungan terlarang kita sebagai dasar dia menggugat kamu cerai. Seharusnya kamu bilang sama orang tuamu itu, agar orang tuamu itu tahu jika mantan menantunya itu tidak sebaik yang mereka pikir!" Joice mencoba mempengaruhi pemikiran Rey, agar Rey tidak terus memikirkan Airin, dan lebih serius dengan rencana menikahinya.


Rey mendengus kesal. Dia tidak dapat menutupi rasa kecewanya mengetahui Airin kini bersama pria lain, apalagi saat dia tahu jika pria yang akan mendampingi Airin adalah seorang CEO ternama.


***


Airin berbincang dengan Tante Mira setelah sampai di rumah. Kepada istri dari Om nya itu, Airin bercerita tentang pertemuannya dengan Rey dan Joice di restoran cepat saji tadi. Airin pun menceritakan, bagaimana sikap Gagah terhadapnya.


"Untung saja ada Gagah di sana, Rin. Kalau tidak, Tante yakin, wanita itu akan semena-mena menyakiti kamu dengan memamerkan kemesraannya dengan Rey di hadapan kamu dan Luna." Tante Mira dapat membayangkan jika Joice pasti akan berulah.


"Iya, Tante." Airin mendesah.


"Lalu Luna sendiri bagaimana saat bertemu Papanya tadi?" tanya Tante Mira menanyakan respon Luna, karena selama ini Luna selalu merengek ingin bertemu Papanya.


"Awalnya Luna langsung menghampiri dan memeluk Papanya. Tapi, setelah itu Luna bersikap biasa saja. Apalagi setelah Pak Gagah kembali, Luna justru terlihat lebih akrab dengan Pak Gagah. Apalagi, Luna malah minta makan disuapi sama Pak Gagah, Tante." Airin menceritakan apa yang terjadi di restoran itu.

__ADS_1


"Tante bisa bayangkan, seperti apa sikap Rey sewaktu melihat Luna bisa akrab sama Gagah." Tante Mira terkekeh membayangkan reaksi Rey.


"Ya seperti itulah, Tante. Mas Rey malah menyalahkan aku, karena membiarkan Luna akrab dengan orang lain, sementara aku banyak membatasi interaksi Mas Rey dengan Luna." Airin menyampaikan keluhan Rey padanya.


"Luna sudah dapat merasakan orang yang tulus terhadapnya, Rin." ujar Tante Mira. "Lalu, bagaimana keputusanmu selanjutnya? Luna sudah semakin nyaman dengan Gagah, apa kamu masih bersikeras menolak Gagah yang ingin serius denganmu?" tanya Tante Mira kemudian.


Airin terdiam. Sekarang ini, dia memang tidak menemukan alasan yang tepat untuk menolak Gagah. Karena semua yang dilakukan oleh pria itu selalu sukses membuat orang-orang di sekitar Airin terkagum-kagum.


"Bapak kenal Mas Rey di mana?" Ketika sampai di mobil, Airin bertanya, karena Airin merasa penasaran saat mengetahui antara Gagah dan Rey ternyata saling mengenal.


"Dia itu perwakilan dari perusahaan otomotif yang akan mengadakan event expo otomotif di mall milik Bintang Departement Store. Dan kemarin dia bersama bosnya sempat datang ke kantorku. Aku tidak tahu jika dia itu mantan suami kamu," sahut Gagah.


Airin mendesah, sebenarnya agak menyakitkan jika membahas soal mantan suaminya itu.


"Aku heran, kenapa kamu bisa memilih suami seperti Rey itu? " Pertanyaan Gagah membuat Airin menolehkan pandangan pada pria itu.


"Aku rasa dia adalah pria terbodoh di dunia ini, karena melepas berlian dan menukarnya dengan kerikil," cibir Gagah karena Rey justru melepas Airin demi wanita murahan seperti Joice.


"Tapi, mungkin aku harus bersyukur dia melepasmu. Artinya, dia sudah menyerahkan jodoh untukku." Dengan percaya diri Gagah menyebut jika Airin adalah jodohnya.


Airin membuang pandangan keluar jendela. Hatinya saat ini benar-benar merasa gamang. Di saat dua merasakan sakit hati karena pengkhianatan dan perceraiannya dengan Rey, Gagah justru datang dengan segenap perhatiannya memberikan harapan baru bagi Airin. Namun, dia masih takut akan terluka untuk yang kedua kalinya.


***


Feby memperhatikan Luna yang sedang bermain dengan kitchen set mainannya barunya. Feby baru kali melihat mainan baru itu. Dan dia menduga jika itu adalah mainan pemberian dari Gagah.



"Cie, cie, yang punya mainan baru ... Pasti dapat dikasih sama Om Gagah, ya?" tanya Feby mendekati Luna.


"Iya, Ateu ..." Luna menoleh ke arah Feby yang muncul di pintu kamar.


"Duh, enak banget sih, Luna dibelikan mainan terus sama Om Gagah. Ateu dikasih tidak?" Feby duduk di lantai beralaskan permadani di samping Luna.


"Ateu minta cama Om Gagah aja!" sahut Luna dengan lugunya.


"Yah, masa Ateu minta sama Om Gagah. Pasti Om Gagah tidak akan kasih ke Ateu, dong!" jawab Feby.


"Napa Om Gagah ndak kacih Ateu? Om Gagah baik, kok!" Luna sudah dapat menilai kebaikan Gagah, apalagi dia merasakan jika Gagah begitu menyayanginya.


"Soalnya Ateu bukan calon anaknya Om Gagah, kalau Luna itu memang calon anaknya Om Gagah." Feby menyinggung soal status Luna yang sebentar lagi akan menjadi anak sambung Gagah.


"Sini Ateu kasih tahu biar Luna mengerti." Feby menyuruh Luna duduk di pangkuannya. "Jadi, Om Gagah itu nanti mau jadi Papa barunya Luna." Feby menerangkan.


"Papa balu?" Luna semakin tidak memahami ucapan Feby.


"Iya, Luna nanti punya Papanya ada dua. Papa Rey sama Papa Gagah," jelas Feby.


"Kok Papa Luna ada dua? Mama Luna 'kan cuma catu, Ateu." Luna menunjuk satu jarinya.


"Mama Luna memang satu, nanti kalau Mama Airin menikah dengan Om Gagah, Om Gagah akan jadi Papa baru Luna." Feby tak menyaring ceritanya. Dia sudah mendahului apa yang belum direncanakan oleh Airin.


"Feby!" Tiba-tiba suara Airin terdengar dari pintu. "Kamu ini bicara apa tadi?" tegur Airin karena mendengar Feby sudah bercerita soal pernikahan.


"Eh, Mbak Airin ..." Feby menyeringai karena ketahuan Airin sedang berbincang dengan Luna soal Gagah yang dia bilang sebagai calon Papa baru bagi Luna.


"Kamu jangan suka bicara yang macam-macam sama Luna, Feby!" Airin memprotes Feby.


"Sorry, Mbak." sahut Feby kemudian berjalan ke luar kamar Airin.


"Luna, ayo bobo. Besok lagi mainannya." Airin meminta Luna segera tidur.


"Luna mau mainan macak-macakan, Ma." Luna menolak.


"Besok lagi mainannya, Luna. Ini sudah malam." Airin tidak suka Luna menentang perintahnya.


"Kalau Luna tidak mau menurut Mama, Mama tidak kasih ijin Luna pergi sama Om Gagah lagi!" Bahkan Airin sampai mengancam tidak mengijinkan Luna bertemu Gagah.


"Jangan, Ma!" Ancaman Airin sukses membuat Luna menciut. Hingga bocah itu segera naik ke tempat tidur. Rupanya Luna takut tidak bisa bertemu dengan Gagah.


"Eh, ayo pipis dulu! Nanti Luna ngompol kalau tidak pipis sebelum tidur," perintah Airin meminta Luna buang air kecil untuk mencegah ngompol saat tidur nanti.


Luna kembali turun dari tempat tidur dan berlari ke arah toilet, diikuti oleh Airin.


Setelah selesai, Airin menggedong Luna dan membaringkan tubuh Luna di atas tempat tidur. Dia pun ikut berbaring di sampingnya.


"Baca doa dulu sebelum bobo." Airin mengingatkan Luna, dan Luna pun berdoa sebelum memejamkan matanya.


"Ma, kata Ateu Peby, Om Gagah Papa balu Luna." Luna sepertinya terpengaruh akan ucapan Feby soal Gagah yang akan menjadi Papa baru bagi Luna.


"Sudah cepat bobo! Jangan bicara terus!" Airin mengusap-usap kening Luna agar anaknya itu segera terlelap. Namun, Luna jutru menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Luna boleh punya Papa dua, Ma?" tanya Luna kembali. "Kalau boleh, Luna mau Om Gagah jadi Papa Luna, Ma." lanjutnya penuh harap.


Airin terkesiap mendengar ucapan Luna. Tak menyangka anaknya akan setuju mempunyai Papa baru, bahkan langsung mengatakan bersedia jika Gagah menjadi Papa barunya.


"Kenapa Luna ingin Om Gagah menjadi Papa baru Luna?" tanya Airin penasaran sambil mengusap wajah putrinya itu.


"Kalena Om Gagah baik cama Luna, Ma" Luna memberikan alasan atas peryataannya.


"Karena Om Gagah selalu kasih Luna mainan?" Airin menganggap Luna berkata demikian hanya karena Gagah selalu membelikan hadiah mainan kepada Luna.


"Iya," sahut Luna dengan lugu.


"Kalau Om Gagah tidak memberi mainan ke Luna, berarti Om Gagah tidak baik, dong! Memang Luna masih mau, Om Gagah jadi Papa baru Luna kalau Om Gagah tidak memberi Luna mainan?" Airin sengaja melempar pertanyaan agar Luna bicara sejujurnya tentang sosok Gagah.


Tanpa berpikir lama, Luna langsung menganggukkan kepalanya, menyatakan jika dia setuju Gagah menjadi Papa baru untuknya.


"Om Gagah baik, kok, Ma." Tak terpengaruh dengan ucapan Airin, Luna tetap beranggapan jika Gagah adalah sosok yang baik di matanya.


"Ya sudah, sekarang Luna bobo dulu." Airin meminta anaknya untuk segera tidur. Karena kepala Airin mendadak pusing ketika pendukung Gagah semakin banyak di sekitarnya.


***


Gagah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan melipat tangan di bawah kepalanya. Senyuman langsung mengembang di sudut bibir pria tampan itu. Membayangkan bisa dekat dan menghabiskan waktu dengan Airin dan Luna begitu menyenangkan baginya.


Gagah benar-benar merasakan peran seperti suami bagi Airin dan Papa bagi Luna. Dia pun merasakan orang-orang yang melihat mereka tadi akan beranggapan seperti itu.


Gagah menghela nafas lalu membuangnya perlahan. Ternyata mempunyai keluarga kecil sangat menyenangkan baginya. Membuat dirinya tidak sabar untuk secepatnya meminang Airin.


Gagah menyibak selimutnya lalu bangkit dari tempat tidur. Dia bergegas keluar dari kamarnya menuju kamar orang tuanya.


Tok tok tok


Gagah mengetuk pintu kamar, karena dia ingin bicara dengan kedua orang tuanya itu untuk menyampaikan niatnya ingin segera melamar Airin.


"Ada apa, Gagah?" tanya Widya ketika pintu kamar terbuka.


"Ma, besok aku akan melamar Airin." Tanpa banyak basa-basi, Gagah langsung menyampaikan niatnya kepada sang Mama.


Sontak Widya tercengang mendengar perkataan Gagah. Walaupun itu memang hal yang dia inginkan, namun dia tidak menyangka anaknya akan secepat itu ingin melamar Airin.


"Kamu yakin, Gagah?" tanya Widya tak percaya.


"Iya, Ma. Aku sudah sangat yakin!" tegas Gagah mantap.


"Ada apa, Ma?" Suara Prasetyo dari dalam kamar terdengar, dia penasaran apa yang sedang dibicarakan istrinya.


"Masuklah dulu, Gagah." Widya membuka lebar daun pintu kamar dan menyuruh anaknya untuk masuk ke kamar.


"Gagah? Ada apa?" Prasetyo terkejut melihat Gagah masuk ke dalam kamarnya.


"Pa, Gagah ingin melamar Airin." Widya menyebut alasan Gagah datang ke kamar mereka.


"Oh ya?" Prasetyo seketika bangkit dari tempat tidur lalu berjalan ke arah sofa duduk di sofa yang ada di kamarnya, diikuti oleh Widya dan juga Gagah.


"Benar, Pa. Aku ingin secepatnya melamar Airin. Aku ingin menikahi dia!" tegas Gagah kembali.


Prasetyo seketika menoleh ke arah istrinya. Seperti Widya, dia pun agak terkejut mendengar keinginan Gagah yang tiba-tiba saja ingin menikahi Airin. Yang ditanggapi Widya dengan mengedikkan pundaknya.


"Apa Papa dan Mama bersedia melamar Airin untukku?" tanya Gagah kemudian. Sebagai anak yang masih mempunyai orang tua, tentu saja dia menghargai orang tuanya dan meminta orang tuanya itu mendampinginya saat dirinya ingin melamar Airin, seperti yang orang tuanya lakukan saat menemani Bagus melamar Ayuning dan menemani Tegar saat menyunting Putri.


"Baiklah kalau tekad kamu ingin meminang Airin sudah cukup bulat, Papa dan Mama akan menemani kamu bicara pada Om dan Tante Airin untuk meminang Airin." Prasetyo menyetujui permintaan Gagah.


"Terima kasih, Pa, Ma." Gagah menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua orang tuanya itu.


"Apa kita undang Airin dan keluarganya makan malam saja di restoran untuk membahas soal lamaran ini? Kita undang kakak-kakakmu sekalian." Widya memberikan usulan.


"Jangan, Ma. Sebaiknya kita datang ke rumah Om Fajar saja." Gagah menolak saran yang diberikan oleh Mamanya.


"Sebaiknya memang kita datang berkunjung ke rumah keluarga Airin. Kalau mereka ingin bertunangan terlebih dahulu, itu bisa kita selenggarakan di restoran dan mengundang beberapa kerabat dekat untuk menjadi saksi pertunangan mereka." Prasetyo lebih setuju dengan pendapat putranya.


"Ya sudah, Mama terserah saja. Yang penting kamu dan Airin jadi menikah." Widya sudah pasti merasa senang, karena putranya sebentar lagi berumah tangga dan mendapatkan calon menantu seperti yang dia inginkan.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2