
Airin duduk dengan menyandarkan kepalanya ke bahu Gagah di kursi ayunan yang ada di balkon kamar mereka. Sedangkan Luna sudah tertidur walaupun bukan di kamarnya. Luna baru pertama kali menginap di apartemen Gagah, mana mungkin mereka tega meninggalkan Luna tidur sendiri di kamar baru Luna.
Semilir angin menerpa tubuh mereka membuat Airin semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh sang suami. Mereka berdua layaknya sepasang insan yang sedang dilanda asmara, memadu kasih dengan saling bersentuhan, kadang dengan bibir berpagutan.
Disaksikan bintang dan bulan di langit hitam, mereka menikmati kebersamaan seakan merasa dunia hanya milik mereka berdua. Airin kini sudah tak canggung terhadap suaminya. Tak jarang ia menggoda Gagah hingga membuat hubungan rumah tangga mereka semakin harmonis.
Gagah menciumi ceruk leher Airin, mengi gitnya perlahan, membakar gai rah sebelum mereka melakukan percintaan mereka yang sesungguhnya.
"Mas, Luna tidur di kamar, kita nanti gimana?" Tak mungkin Airin melakukan hubungan di tempat yang sama dengan Luna tidur, sebab ia tidak ingin Luna terbangun dan menyaksikan live percintaan mereka.
"Di mana saja, Ay. Kamu bilang kita bisa melakukan di mana saja sesuka kita," bisik Gagah menggoda, "Di sini juga bisa, kok," ucapnya terkekeh.
Airin terbelalak sambil menoleh sang suami, segila-gilanya ia berfantasi, tak pernah ia berpikir akan melakukan percintaan di tempat terbuka meskipun masih dalam area privasi.
"Di tempat terbuka begini, Mas? Aku tidak mau!" Tegas Airin menolak.
"Tidak akan ada orang yang lihat ini, Ay." ujar Gagah meyakinkan istrinya agar mau mengikuti ide gilanya.
"Malu, Mas." Dan Airin tetap pada pendiriannya."Di ruang tamu saja, matikan lampu." Airin bangkit mengulurkan tangan pada sang suami, meminta Gagah mengikutinya.
Ajakan Airin sudah pasti diterima oleh Gagah, hingga ia menyambut uluran tangan Airin, membiarkan istrinya itu membawanya ke luar dari kamar mereka.
Gagah memasang lampu temaram di ruang tamu, agar aktivitas mereka tidak dapat dilihat Luna jika Luna terbangun nanti. Gagah juga tidak menutup pintu kamar rapat-rapat, agar Luna bisa keluar kamar.
Gagah berbaring dengan posisi miring di sofa empuk di ruang tamu, sementara Airin berbaring di sampingnya. Ia membiarkan suaminya itu melakukan sentuhan-sentuhan fisik yang nantinya akan berlanjut pada aktivitas yang lebih membakar gai rah percintaan mereka dan mengakhirinya dengan pelepasan.
Keesokan paginya Airin menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Sementara Gagah dan Luna bercanda di ruang tamu sambil menonton film kartun di televisi yang ada di ruangan tamu.
Luna menumpuk cashion untuk ia tiduri, tiba-tiba saja ia menemukan benda di selilpan sofa yang tertutup dengan cushion. Tangan Luna pun mengambil benda yang berwarna mirip dengan warna sofa tersebut.
"Mama sudah selesai masak, ayo kita sarapan dulu." Selesai membuat nasi goreng, Airin mengajak Gagah dan Luna untuk menyantap makanan yang sudah ia masak.
"Kok, celana Mama ada di cini?" Luna menunjukkan pakaian dalam Mamanya yang ia pegang.
Sontak pandangan mata Airin dan Gagah mengarah pada benda yang ditunjukkan oleh Luna. Bahkan bola mata Airin seketika melebar menyadari jika benda itu adalah celana miliknya.
Airin bergegas mengambil celananya dari tangan Luna lalu menyembunyikan di belakang tubuhnya. Tatapan matanya melirik ke arah sang suami yang sedang menahan senyuman. Semalam setelah percintaan mereka, Airin memang tak memakai kembali pakaian yang ia pakai sebelumnya, Gagah lah yang membawa pakaian yang dipakai Airin lalu memasukkan ke dalam keranjang di dekat kamar mandi, sehingga ia pun tidak tahu jika ada yang tertinggal di sofa itu.
"Kenapa celana Mama ada di cini?" Luna kembali melontarkan pertanyaan yang sama dengan kening berkerut.
"Hmmm, ayo makan dulu." Airin segera meninggalkan ruang tamu untuk menaruh celananya ke dalam keranjang pakaian kotor daripada dirinya harus menjawab pertanyaan kritis anaknya.
"Ayo, kita makan dulu." Gagah menggedong Luna, membawa bocah cilik itu ke ruang makan, mengalihkan pertanyaan Luna soal pakaian dalam Airin yang tertinggal di sofa akibat perbuatannya.
***
Gagah terkekeh melihat wajah Airin yang merona karena kejadian pakaian dalam yang tertinggal. Sepanjang menikmati sarapan, bahkan Airin tidak berani menatap putri kecilnya itu. Bagi Airin hal itu adalah kejadian memalukan. Untung saja Luna masih sangat kecil sehingga Luna tidak akan mengerti bagaimana celananya bisa sampai tertinggal di balik cushion sofa,
"Luna senang tidak tidur di rumah baru?" tangan kiri Gagah mengusap kepala Luna.
"Cenang, Pa." sahut Luna.
"Kalau Luna senang tidur di sini, tiap weekend kita menginap di sini saja, Ay. Bagaimana?" Gagah mengusulkan mereka untuk tidur di apartemen miliknya setiap akhir pekan.
"Apa Mama akan kasih ijin, Mas?" tanya Airin tak yakin Mama mertuanya akan memberikan ijin.
"Mama pasti kasih ijin, Ay. Kita juga berhak tinggal di rumah kita sendiri." Gagah menyakinkan jika Mamanya tidak akan keberatan dengan keingingannya untuk membawa keluarganya menginap di apartemen setiap akhir pekan.
"Ya sudah, aku setuju, Mas." Airin tak mungkin menolak, karena dia juga ingin merasakan privasi tinggal bersama suaminya seperti ketika dirinya bersama dengan Rey.
"Okelah kalau kamu setuju, nanti aku beli apa yang kurang lengkap di sini, biar kamu dan Luna betah di sini," ujar Gagah.
"Dilengkapi apa lagi, Mas? Segini sudah lengkap, kok." sahut Airin.
"Mainan Luna, Ay. Biar di sini juga dia banyak punya mainan," jawab Gagah.
"Luna mau beli mainan, ya, Pa?" Mendengar kata mainan, Luna cepat merespon.
"Iya, nanti Papa belikan mainan untuk Luna agar kamar Luna makin banyak mainannya," sahut Gagah mengiyakan.
"Aciiikkk ...!" Luna bersorak dengan menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Bocah itu begitu riang dan bahagia karena mendapatkan limpahan kasih sayang dari Papa sambungnya itu.
Gagah memang memenuhi janjinya untuk menyayangi Luna seperti anak kandungnya sendiri jika ia ingin menjadikan Airin istrinya. Sejauh ini, Gagah sudah menunjukkan rasa sayang dan perhatiannya pada Luna bahkan sebelum ia menaklukan hati Airin.
***
Dengan berlari kecil, Gadis menuruni anak tangga. Seperti janjinya pada Luna, ia berniat datang mengunjungi rumah Prasetyo. Tentu saja tujuan utama Gadis adalah agar bisa bertemu dengan Haikal di hari libur kerja.
__ADS_1
Gadis mengenakan dress selutut dengan balutan cardigan crop berbahan rajutan, dengan sling bag keluaran brand terkenal dari Prancis dan sepatu sneakers. Style girly sangat cocok dengan usia gadis saat ini dengan pulasan make up natural.
"Mau ke mana kamu, Dis?" Farah sedang duduk membaca majalah di sofa tamu, matanya langsung mengarah ke tangga saat mendengar suara langkah kaki Gadis yang menuruni anak tangga.
"Aku mau ke rumah Kak Gagah, Mas." sahut Gadis menghampiri Mamanya lalu menyalami Widya untuk berpamitan.
"Ke rumah Gagah? Memangnya ada apa?" Farah menaruh kembali majalah yang tadi ia pegang ke tempatnya.
"Hanya mau main saja, Ma. Kemarin aku sudah janji sama Luna ingin main ka sana," jawab Gadis.
"Luna?" Farah masih kurang paham siapa Luna.
"Luna itu anak tiri Kak Gagah, Ma." jelas Gadis.
"Oh ..." Farah mengangguk mengerti, "Ya sudah, hati-hati. Kamu diantar siapa? Haikal tidak ke sini, kan?" tanya Farah kemudian.
"Tidak, Ma. Ini hari libur jadi Kak Haikal tidak bekerja." Justru dirinya ingin ke rumah Prasetyo karena ingin bertemu dengan Haikal, namun Gadis tidak berani mengungkapkannya. "Biar Pak Abdul saja yang antar aku, Mam." lanjutnya.
"Ya sudah kalau begitu, jangan malam-malam pulangnya." Farah memberi ijin dengan syarat.
"Iya, Ma. Assalamualaikum ..." Gadis mencium pipi kanan dan kiri Mamanya sebelum meninggalkan rumah.
"Waalaikumsalam ..." balas Farah memperhatikan anaknya yang berjalan menjauh darinya.
"Kita ke mana, Non?" tanya Pak Abdul setelah Gadis masuk ke dalam mobil dan memasang seat belt nya.
"Ke rumah Kak Gagah, Pak." jawab Gadis.
"Siap, Non." Pak Abdul mulai menjalankan mobil ke luar dari pekarangan rumah Prasetyo.
"Hmmm, nanti Pak Abdul pulang sendiri saja naik ojek online ya, Pak. Biar nanti pulang aku diantar sama Kak Haikal." Ada saja akal Gadis agar bisa berdua dengan Haikal, dia menyuruh Pak Abdul meninggalkannya dan memilih Haikal yang akan mengantarnya pulang.
"Oh, baik, Non." Dengan senyuman mengembang di sudut bibir pria paruh baya itu mengiyakan permintaan anak majiukannya tersebut. "Mbak Gadis bisa saja, mintanya ditemani sama Mas Haikal yang ganteng." Pak Abdul menggoda Gadis. Dia yang sudah cukup usia, sangat paham dengan trik-trik yang digunakan Gadis, sehingga ia bisa menilai jika anak majikannya itu senang berdekatan dengan Haikal.
"Pak Abdul ngomong apa, sih!? Aneh banget, deh!" tepis Gadis menyangkal apa yang diucapkan supir pribadi keluarganya itu.
"Hehehe ... Bapak juga dulu pernah muda, Non. Bapak juga pernah merasakan ketertarikan kepada lawan jenis. Kalau sedang jatuh cinta, memang inginnya selalu dekat dan tidak ingin berjauhan." Bukannya berhenti, Pak Abdul makin menggoda Gadis.
Gadis memalingkan wajah, tak ingin memperlihatkan semburat merah yang sudah merayapi wajah cantiknya. Dia malu karena Pak Abdul ternyata mengetahui akal bulusnya.
"Tapi, kalau Pak Abdul boleh kasih nasihat, Mbak Gadis harus hati-hati dekat atau suka dengan pria, Non." Tak ragu Pak Abdul menasehati Gadis. Dia sudah lama bekerja pada keluarga Bintang Gumilang. Seperti halnya Gagah, ia juga tidak ingin Gadis bergaul atau jatuh pada pria yang salah. "Harus cari tahu dulu siapa dia? Bagaimana keluarganya? Apakah dia dari keluarga baik-baik? Latar belakang keluarganya kayak gimana? Soalnya Non Gadis akan jadi bos besar, jadi Non Gadis jangan salah pilih laki-laki yang akan jadi pendamping Non Gadis," sambung Pak Abdul. Dia mempunyai pandangan yang sama dengan Gagah.
"Mas Haikal memang kelihatannya baik, Non. Tapi, Non Gadis belum tahu siapa dan bagaimana Mas Haikal itu, kan?" Pak Abdul tidak tahu jika Haikal adalah adik ipar Gagah, hingga ia merasa berkewajiban memberi pendapatnya pada Gadis agar Gadis tidak terjebak dengan perasaan ketertarikannya pada Haikal.
"Kak Haikal itu 'kan adik ipar Kak Gagah, Pak. Adik dari istrinya Kak Gagah." Gadis mengungkap identitas Haikal pada Pak Abdul.
Ekspresi wajah Pak Abdul terkejut mendegar pengakuan Gadis tentang siapa sebenarnya Haikal. Dia memang tidak pernah kepikiran jika orang yang menjadi asisten pribadi Gadis adalah adik ipar dari Gagah, orang yang sangat dia hormati dan ia kenal sebagai salah satu anak buah Bintang Gumilang yang sangat loyal kepada majikannya.
"Adik ipar Pak Gagah? Aduh, Non. Jangan dilaporkan ke Pak Gagah kalau Pak Abdul bicara kayak tadi, ya, Non!?" Pak Abdul merasa bersalah karena telah berpikir negatif tentang Haikal, meskipun ia tahu sikap Haikal tidak ada yang mencurigakan.
Gadis tergelak melihat Pak Abdul yang ketakutan jika ia laporkan apa yang dikatakan Pak Abdul padanya tentang Haikal. Namun, ia juga tidak mungkin menceritakan hal tersebut kepada Gagah, karena ia pun tahu tujuan Pak Abdul melakukan hal tersebut karena Pak Abdul perduli kepadanya.
Gadis senang, hampir semua orang-orang yang bekerja pada orang tuanya selalu bersikap baik kepadanya. Tidak seperti orang yang mengaku keluarga, namun justru bersikap licik pada keluarganya.
Beberapa menit kemudian, Gadis sampai juga di rumah besar milik Prasetyo. Setelah ia turun dari mobil, ia langsung meminta kunci mobil dari Pak Abdul dan menyuruh Pak Abdul pulang menggunakan ojek online
Gadis menekan bel di dekat pintu masuk rumah Prasetyo, menunggu pintu rumah itu dibuka dari dalam.
"Eh, Non Gadis." Ketika pintu terbuka, Bi Junah menyapa Gadis.
"Assalamualaikum, Bi. Mbak Airin sama Luna ada?" Gadis langsung menanyakan keberadaan Airin dan Luna.
"Waalaikumsalam, Non. Mbak Airin sama Neng Luna sedang menginap di apartemen Mas Gagah, Non." jawab Bi Junah.
"Oh, tidak ada di sini, ya, Bi?" Suara Gadis terdengar lemas sangat mengetahui ternyata Airin dan Luna tidak ada di tempat.
"Siapa, Jun?" Terdengar Widya berbicara dari arah dalam rumah, "Gadis?" Belum sempat Bi Junah menjawab pertanyaannya, Widya sudah muncul di belakang Bi Junah.
"Tante?" Gadis menyalami dengan mencium tangan Widya.
"Kamu kok' tidak suruh Gadis masuk, Jun!?" tegur Widya pada ART nya, "Ayo masuk, Gadis." Lalu Widya menyuruh Gadis masuk ke dalam.
"Maaf, Bu. Tadi baru mau saya suruh masuk." Bi Junah melakukan pembelaan, ia kemudian berpamitan masuk ke dapur untuk membuatkan Gadis minuman
"Ada apa, Gadis? Mau bertemu Gagah? Gagah sedang di apartemennya." Dengan merangkul pundak Gadis, Widya membawa remaja belia itu masuk ke dalam rumahnya kemudian menyuruh Gadis duduk.
"Hmmm, aku tidak tahu kalau Luna akan menginap di apartemen Kak Gagah, Tan." sahut Gadis.
__ADS_1
"Kamu sudah kasih tahu Gagah atau Airin kalau akan datang ke sini?" tanya Widya.
Gadis menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak mengatakan akan berkunjung ke tempat pasangan suami itu. Dia hanya mengatakannya pada Luna.
"Aku hanya bilang ke Luna, Tante." jawab Gadis jujur.
"Oalah ... pantas saja. Kalau bilang ke Gagah sama Airin, pasti mereka tidak menginap di sana," ujar Widya.
"Iya, Tan." sahut Gadis, "Hmmm, kalau Kak Haikal ada, Tante? Aku mau minta antar pulang Kak Haikal saja kalau Luna tidak ada, Tante." Bingung mau melakukan apa, Gadis akhirnya menanyakan keberadaan Haikal pada Widya, sebab dia ingin berpamitan.
"Haikal? Haikal tidak ada di sini, Gadis." jawab Widya, "Dia tidak di sini, Haikal itu tinggal di rumah Om nya," sambungnya kemudian.
"Oh, Kak Haikal tidak tinggal di sini, Tante?" Gadis terkejut saat mengetahui Haikal ternyata tidak menetap di rumah Prasetyo.
"Benar, Dis. Tadinya Tante sudah bujuk Haikal untuk tinggal di sini agar dekat dengan Airin dan Luna, tapi Haikal menolak," cerita Widya.
"Oh, gitu ya, Tan?" Gadis benar-benar kecewa, hal itu dapat terlihat dari raut wajahnya. Belum lagi jika dia ingat kalau dirinya sudah ditinggal Pak Abdul, sementara dia tidak bisa mengendarai mobil.
"Iya, Dis. Kamu mau minta antar Haikal pulang? Memangnya kamu tadi sama siapa datang kemari?" Widya tadi mendengar alasan Gadis mencari Haikal.
"Tadi aku diantar sama Pak Abdul, Tante. Tapi tadi Pak Abdul pulang naik ojek karena ada keperluan, Tante." Alasan Gadis benar-benar tidak masuk akal. Mana mungkin Gadis ditinggalkan oleh Pak Abdul. Pak Abdul pasti akan mengutamakan majikannya daripada keperluan pribadinya.
"Kalau begitu nanti di antar pulang saja sama Birin atau Mamat kalau kamu mau pulang." Widya menyarankan supirnya yang akan mengantar Gadis.
"Atau kamu ingin Haikal yang mengantar kamu?" Widya sepertinya tahu jika Gadis mengharapkan Haikal yang mengantarnya.
Gadis mengerjapkan mata menyadari Widya seperti mengetahui isi hatinya. Dia pun seketika menjadi salah tingkah dengan wajah merona merah.
"Hmmm, tidak usah, Tante." Gadis menolak, walaupun hatinya memang berkeinginan seperti itu.
"Ya sudah kalau begitu sama Mamat atau Birin saja, nanti Tante suruh siapkan mobilnya," ujar Widya.
Bi Junah keluar dari dapur dengan membawa makanan dan minuman untuk Gadis.
"Silahkan diminum, Non." kata Bi Junah lalu berbalik tubuh ingin kembali ke dapur.
"Jun, suruh Birin antar Gadis pulang nanti." Sebelum Bi Junah pergi, Widya sudah memberi perintah.
"Hmmm, jangan, Tante. Biar aku suruh Pak Abdul balik ke sini." Gadis mengambil ponsel dari sling bag nya, kemudian mencari nomer Pak Abdul untuk menjemputnya kembali. Namun, beberapa kali ia hubungi, tak juga panggilannya diangkat.
Gadis menghempas nafas panjang, sebab Pak Abdul sulit ia hubungi. Karena merasa frustasi, ia pun akhirnya mencari nomer telepon Haikal. Dia lalu mengetik pesan untuk ia kirimkan pada Haikal. Tapi, hampir sepuluh menit ia menunggu, ternyata pesannya itu tidak terbaca apalagi dibalas oleh Haikal.
***
Haikal memakai peci di kepalanya, dia ingin melaksanakan sholat Dzuhur ketika suara notif pesan masuk ke ponselnya. Haikal mengabaikan pesan masuk itu, dia ingin mendahulukan menjalankan ibadahnya terlebih dahulu sebelum mengetahui siapa yang mengirimnya pesan.
Sepuluh menit setelah menunaikan ibadah empat rakaatnya barulah Haikal mengambil ponsel di atas nakas seraya menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Namun, saat ia membaca pesan yang masuk ke ponsel miliknya seketika itu juga ia bangkit dari tidur.
"Kak, aku di rumah Kak Gagah, tolong ke sini, antar aku pulang, aku tadi ditinggal sama Pak Abdul."
Pesan itulah yang membuat Haikal bergegas menganti pakaiannya. Namun sebelumnya ia membalas pesan dari Gadis dan menyuruh Gadis menunggu.
"Baik, Mbak. Saya meluncur ke sana." Itu pesan yang dikirim oleh Haikal.
"Kal Haikal mau ke mana?" tanya Feby saat berpapasan dengan Haikal ketika keluar dari kamar.
"Apa kerjaan, By." jawab Haikal berlari meninggalkan Feby.
"Minggu-minggu kerja, Kak?" tanya Feby sedikit berteriak.
"Bos yang minta." Seruan Haikal masih tertangkap di telinga Feby.
"Bos Kak Haikal menyuruh Kak Haikal kerja di hari Minggu? Iisshh, jangan-jangan itu hanya modus bosnya Kak Haikal saja. Kak Haikal 'kan ganteng, pasti dia ingin dekat-dekat Kak Gagah saja." Bahkan Feby pun dapat menebak-nebak maksud dari Gadis menyuruh Haikal bekerja di hari libur kerja.
"Kenapa, By?" Tante Mira yang melihat Feby berkata sendiri, bertanya pada anaknya itu.
"Itu, Ma. Bos nya Kak Haikal suruh Kak Haikal bertugas, tugas apa coba? Ini 'kan hari libur, kantor BDS juga libur, mau mengerjakan apa? Paling juga tugas menemani bosnya itu." Feby menyampaikan dugaannya.
"Oh, itu ... Ya sudah tidak apa-apa, yang penting Haikal bisa menjalankan pekerjaan dengan baik." Tante Mira justru lebih bijak dalam memberikan pendapatnya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️