
Saat keluar dari kantor, Airin mengedar pandangan mencari di mana Gagah memarkirkan mobilnya, karena Gagah meninggalkan pesan jika pria itu akan menunggu dirinya di dalam mobil.
"Cari siapa, Mbak Airin?" tanya Pak Wawan, security yang berjaga di depan, saat melihat Airin seperti sedang mencari seseorang.
"Tidak cari siapa-siapa, Pak." jawab Airin. Menyadari dirinya sedang diperhatikan oleh security, Airin segera melangkah ke arah parkiran karena dia sudah menemukan mobil milik Gagah.
Airin mengetuk kaca pintu mobil Gagah setelah sampai. Dia lalu masuk ke dalam mobil, setelah Gagah membukakan pintu untuknya dari dalam.
"Jika hanya mengajak saya makan siang, kenapa Bapak harus bilang pada Pak Andika?" Ketika baru duduk di jok mobil, Airin langsung menyampaikan kritikannya, karena menganggap Gagah terlalu berlebihan sampai melibatkan Andika segala, padahal ini bukanlah urusan yang bersangkutan dengan pekerjaan.
"Saya hanya tidak ingin kamu mendapat teguran karena keluar makan siang lebih awal." Gagah beralasan jika yang dilakukannya agar Airin tidak terkena masalah, tanpa disadari justru sikap Gagah lah yang justru akan menimbulkan masalah bagi Airin.
"Bukankah yang Bapak lakukan tadi akan menimbulkan pertanyaan Pak Andika?" Airin tidak terima dengan alasan yang diberikan oleh Gagah.
"Kalau Bapak tidak ingin membuat saya terkena masalah, kenapa Bapak tidak menjemput sesuai jam istirahat saja!?" ketus Airin, sepertinya rasa respect pada Gagah sebagai nasabah di tempatnya bekerja semakin mengikis.
"Apa yang salah jika saya meminta ijin Pak Andika? Beliau atasan kamu, kan? Kenapa kamu terlalu memikirkan hal itu? Pak Andika bukan tipe orang yang suka bergosip, kan?" Gagah menatap wajah Airin yang terlihat kesal kepadanya.
"Saya tidak ingin timbul gosip tidak enak setelah ini," ungkap Airin menahan rasa kesal di hatinya.
"Gosip tidak enak? Memang apa salahnya pergi makan siang dengan saya?" tanya Gagah tidak mengerti, jika Airin mencemaskan akan timbul gosip, karena Airin masih menutupi statusnya seorang janda.
"Orang kantor tidak ada yang tahu tentang perceraian saya. Mereka berpikir jika saya masih berstatus menikah." Walau sebenarnya malu megungkap hal itu, namun, Airin harus mengatakannya pada Gagah, agar Gagah mengerti tentang kondisinya saat ini.
Gagah terkesiap mengetahui Airin ternyata merahasiakan perceraian dari teman-teman kantornya. Bahkan tidak ada yang tahu satu pun teman Airin yang tahu. Gagah berpikir, apakah Airin tidak mempunyai teman dekat sebagai teman curhat di kantornya itu.
"Kenapa kamu menyembunyikan status kamu saat ini? Apa kamu masih berharap kembali pada mantan suami kamu?" Entah kenapa Gagah malah menuding Airin sengaja menutupi statusnya karena masih berharap rujuk dengan mantan suaminya.
Airin langsung mendelik mendengar tudingan Gagah terhadapnya. Aura wajahnya bahkan menampakkan kemarahan atas ucapan Gagah tadi.
Airin yang kesal pada sindiran Gagah, berniat turun dari mobil karena merasa tersinggung dan enggan melanjutkan rencana makan siang bersama Gagah. Dia sudah memengang handle pintu. Tapi, Gagah lebih dulu mengunci pintunya, tak memberi kesempatan kepada Airin untuk turun dari mobilnya.
"Mau ke mana?" tanya Gagah tanpa merasa bersalah.
"Tolong buka pintunya! Saya mau turun!" Airin meminta Gagah menurunkannya. Dia sudah tidak berminat lagi menerima ajakan makan siang bos retail ternama itu.
"Kita mau makan siang, kan?" Gagah menanyakan kenapa Airin ingin turun dari mobilnya.
"Saya sudah tidak berminat!" ketus Airin kesal.
"Begitu cara kamu berterima kasih pada orang yang sudah menolong kamu?" Gagah justru menyingung soal pertolongannya tadi pagi pada Airin.
Airin mendengus kasar saat Gagah menyindir pertolongannya. Padahal dia sendiri tidak berharap dibantu oleh pria itu.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Saya tidak berharap ditolong oleh Bapak!" bantah Airin karena pagi tadi, tanpa bangunan Gagah pun, dia masih bisa sampai ke kantor, walaupun mungkin agak telat.
"Ya sudah, kalau begitu kita pergi sekarang." Tanpa memperdulikan kemarahan Airin, Gagah justru menjalankan mobilnya keluar dari kantor Central Bank.
Airin kembali mendengus kesal dengan sikap pemaksa Gagah yang membuat dirinya merasa infeel terhadap pria itu.
Kekesalan Airin justru membuat Gagah semakin tertarik untuk menaklukkan hati wanita itu.
"Saya minta maaf, jika perkataan saya tadi menyingung kamu." Gagah segera meminta maaf kepada Airin agar Airin tidak terus marah terhadapnya.
Airin diam, tak bisa juga dia memaksa untuk turun, karena itu akan membuat dirinya menjadi perhatian orang.
Dalam perjalanan menuju restoran, Airin memilih diam tak bicara. Beberapa pertanyaan Gagah bahkan dia lewatkan pegitu saja tanpa balasan.
"Kamu makan di mana?" tanya Gagah.
"Kamu suka makanan apa?" Gagah masih terus bertanya kepada Airin, meskipun Airin terus saja mengunci mulutnya.
Gagah kini mengarahkan mobilnya masuk ke halaman sebuah restoran western mewah. Airin sendiri belum pernah makan di tempat itu, karena dia yakin harganya pasti sangat mahal.
"Kita makan di sini saja." Gagah melepas seat belt lalu mengajak Airin turun dari mobil.
Dengan ragu Airin dari mobil Gagah. Dia memperhatikan mobil yang terparkir di depan restotan itu adalah mobil-mobil mewah. Tidak heran, karena sekali makan di tempat itu rata-rata menghabiskan dana jutaan rupiah.
Airin berjalan sedikit di belakang Gagah. Biarlah dia terlihat seperti sekretaris bagi Gagah, karena dia tidak cukup percaya diri untuk berdampingan dengan seorang CEO seperti Gagah.
"Selamat siang, Pak, Bu. Silahkan ..." Pelayan dengan ramah menyambut Gagah dn Airin saat mereka berdua masuk ke dalam restoran tersebut. Pelayan itu pun kemudian bertanya, "Sudah reservasi tempat sebelumnya?'
"Belum, Mbak. Saya ingin yang private room, apa masih tersedia?" tanya Gagah,
"Sebentar saya cek dulu, Pak." Pelayan restoran mengecek ketersediaan tempat yang dipesan Gagah.
Airin menaikkan kedua alisnya saat Gagah memesan private room untuk mereka berdua. Namun tak lama dia memicingkan matanya, menatap curiga pada Gagah.
"Kenapa dia pesan private room? Mencurigakan sekali orang ini." Airin terus memperhatikan Gagah dari ekor matanya.
"Untuk private room ada di lantai atas, Pak. Mari, silahkan ..." Pelayan itu lalu meminta salah seorang rekannya untuk mengantar Gagah dan Airin ke private room yang tersedia.
"Silahkan, Pak." Waitress lainnya yang mengantar Gagah dan Airin kini mempersilahkan mereka masuk setelah membuka pintu room dan menyalakan lampu.
Sesudah Gagah dan Airin duduk, waitress itu menyodorkan buku menu kepada Gagah juga Airin, dan siap mencatat makanan yang dipilih oleh mereka. Sambil menunggu Gagah dan Airin memilih makanan, waitress itu menyalakan audio hingga terdengar musik instrumental dari tiupan saxophone Kenny G mengalun dalam ruangan itu.
"Saya minta Steak Salmon sama Chicken Cordon Bleu." Gagah menutup buku menu yang tadi dia pegang lalu memberikannya kembali kepada pelayan restoran setelah dia memesan menu makanannya. Dia pun lalu bertanya kepada Airin, "Kamu pesan apa?"
__ADS_1
"Disamakan saja." Airin kemudian menyerahkan buku menu pada waitress tadi.
"Minumnya apa, Pak?" tanya Waitress kemudian.
"Lemon iced tea," sahut Gagah.
"Ibu?" Kini Airin yang ditanya waitress.
"Itu juga ..." Airin pun memilih menu yang sama dengan Gagah.
"Baik, Bu." Setelah waitress mengkonfirmasi kembali pesanan Gagah dan Airin agar tidak ada yang terlewat, dia lalu meninggalkan room itu untuk mempersiapkan menu pesanan Gagah dan Airin.
Alunan Theme From Dying Young dari Kenny G masih mengalun dalam ruangan yang hanya ditempati oleh Gagah dan Airin, membuat suasana romantis menguar dalam ruangan itu. Mungkin waitress tadi menganggap jika Gagah dan Airin adalah sepasang kekasih hingga sengaja menyetel musik romantis seperti itu.
"Saya sengaja memilih private room, agar mata kamu tidak menoleh ke kakan dan kiri karena takut ada yang melihat kamu makan berdua dengan saya." Gagah seperti dapat membaca pikiran Airin yang mempertanyakan kenapa Gagah memilih private room.
Mungkin benar juga yang dikatakan oleh Gagah. Di private room, Airin tidak perlu merasa cemas orang akan memandang ke arahnya karena saat ini dirinya jalan berdua dengan Gagah.
"Oh ya, saya sengaja mengajak kamu makan siang berdua, karena saya ingin membahas soal rencana orang tua kita. Maksud saya, Mama saya dan juga Tante kamu." Gagah beralasan jika tujuan membawa Airin pergi makan siang karena ingin membahas soal rencana perjodohan mereka.
Airin seketika membulatkan matanya saat Gagah menyinggung soal rencana yang digadangkan oleh Tantenya juga Mama dari Gagah itu.
"Kamu pasti tahu kalau mereka berniat menjodohkan kita, kan?" tanya Gagah.
Airin melirik ke arah Gagah, lalu menjawab, "Iya," setelah menjeda beberapa saat, dengan membuang pandangan
"Lalu?" Pertanyaan Gagah kali ini membuat Airin memusatkan pandangan pada pria tampan di hadapannya saat ini.
"Kamu setuju?" lanjut pertanyaan Gagah.
Airin menelan salivanya. Inilah yang dia takutkan saat Tante Mira mengatakan ingin mengenalkan Gagah dengannya.
"Hmmm, saya belum berpikir ke arah sana, Pak. Maaf ..." Airin jujur mengatakan apa yang dia rasakan. Saat ini dia sedang menata kembali hatinya yang telah hancur berkeping-keping. Dan dia belum siap untuk membuka hatinya untuk menerima pria lain, apalagi dalam waktu dekat setelah perceraiannya bersama Rey.
"Apa itu artinya kamu menolak dijodohkan dengan saya?" Airin kembali menatap Gagah yang sejak tadi terus saja menatap wajahnya, saat Gagah bertanya.
"Maaf, Pak." jawab Airin dengan nada tercekat di tenggorokan. Ditatap dengan lekat oleh Gagah, seperti saat ini membuat Airin seakan butuh oksigen untuk bernafas.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️