JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Tidak Akan Ngidam Yang Aneh-Aneh


__ADS_3

Betapa senang rasa hati Gadis, setelah membujuk dan meyakinkan sang Mama, akhirnya dia diijinkan oleh Mamanya untuk ikut menemani Airin ke Yogyakarta. Menggunakan alasan agar bisa mengenal lebih dekat dengan keluarga Haikal, akhirnya ijin itu diperoleh Gadis dari sang Mama.


Wajah sumringah terlihat jelas sepanjang perjalanan menuju rumah Prasetyo. karena akhirnya akan berkunjung ke rumah keluarga Haikal di Yogyakarta. Hal ini ia rasakan dapat membuka jalan hubungannya dengan keluarga Haikal agar lebih akrab.


Sesampainya di rumah Prasetyo, mereka sudah ditunggu oleh Airin, Luna dan Widya yang berkumpul di ruangan tamu. Widya tak melarang Airin pergi ke Yogyakarta, karena ia juga pernah mengalami bagaimana rasanya berhendak ketika mengalami masa kehamilan.


Mereka berbincang-bincang beberapa saat karena tiket yang berhasil dipesan oleh Dewi jadwal penerbangannya pu kul 11.30 WIB. Jam sepuluh tepat mereka berniat meninggalkan rumah Prasetyo agar terhindar telat dari kemacetan


"Ma, aku pergi dulu, ya." Airin berpamitan dan memeluk sang Mama mertua.


"Hati-hati, semoga sampai tujuan dengan selamat. Salam untuk Bapak sama Ibu kamu, Rin." sahut Widya.


"Iya, Ma." jawab Airin.


"Saya pamit antar Mbak Airin, Tante." Giliran Haikal yang berpamitan pada Widya, "Maaf, kalau keinginan Mbak Airin agak berlebihan." Haikal menyelipkan meminta maaf atas sikap Kakaknya yang ia rasa aneh.


"Tidak apa-apa, Haikal. Bukan ibu hamil namanya kalau tidak ngidam yang aneh-aneh. Nanti kalau kamu sudah berkeluarga dan istri kamu hamil, kamu harus siap menghadapi segala macam permintaan yang aneh-aneh," ujar Widya terkekeh sambil menasehati Haikal agar Haikal tidak kaget jika sudah berumah tangga nanti.


"Aku sih kalau hamil nanti tidak akan minta yang aneh-aneh, Tante." celetuk Gadis, membuat semua orang menolehkan pandangan ke arah Gadis terkecuali Luna.


Airin dan Widya menahan senyuman mendengar celetukan Gadis, sementara Haikal mendadak kikuk di hadapan kakak dan mertua kakaknya itu.


"Memangnya kamu ingin cepat menikah, Gadis?" tanya Widya terkekeh.


"Eh, hmmm, maksudnya nanti kalau aku sudah cukup umur dan menikah, Tante." Rasanya malu saat menyadari dirinya sudah kelepasan bicara, padahal Haikal yang diajak bicara tapi dirinya yang menyahuti, sehingga Gadis langsung membuat klarifikkasi dengan menggigit bibirnya dan menundukkan kepala tak berani menatap Haikal.


"Kamu masih muda, Gadis. Masih belum pantas memikirkan hal itu. Selesaikan saja dulu sekolahmu, lalu bantu mengurus perusahaan Papa kamu dengan baik. Kamu cantik dan baik, nanti juga akan banyak pria yang berlomba-lomba ingin mendapatkan hatimu, Gadis." Tangan Widya melingkar di punggung Gadis seraya menasehati remaja belia itu.

__ADS_1


Gadis kini melirik ke arah Haikal yang sedang menatapnya. Segera ia menurunkan kembali pandangannya, tak sanggup berlama-lama berbalas pandang dengan pria yang sering membuat hatinya bergetar.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang saja,. yuk. Kami berangkat ya, Ma. Assalamualaikum ..." Airin memutuskan segera berangkat dan tidak terus membahas soal Gadis.


"Waalaikumsalam, hati-hati." sahut Widya melepas rombongan kecil yang akan terbang ke Yogyakarta.


***


Menggunakan penerbangan businees class maskapai domestik utama Indonesia, Airin dan rombongan akan berangkat meninggalkan Jakarta beberapa menit lagi.. Airin mengatur kursi berdampingan dengan Gadis, sementara Haikal bersebelahan dengan Luna, karena Luna memilih ingin duduk bersama Haikal daripada dengan Mamanya.


Harus duduk bersebelahan dengan Airin, sebenarnya bukan seperti ini skenario yang diharapkan Gadis. Dia berharap dan mungkin menduga jika ia lah yang duduk berdampingan dengan Haikal, sebab Luna pasti tidak ingin jauh dengan Airin, nyatanya Luna justru memilih duduk bersama Haikal.


"Nanti kamu mau menginap di hotel mana, Gadis? Apa sudah dibooking dulu?" tanya Airin mengajak berkomunikasi Gadis.


"Kak Airin menginap di hotel juga?" tanya Gadis.


"Kalau begitu aku ikut menginap di rumah Kak Haikal saja, deh. Eh, maksudku di rumah orang tua Kak Airin." Gadis tersipu malu sebab menyebut nama Haikal padahal yang sedang ia ajak bicara adalah Airin. Mungkin karena belakangan ini nama Haikal lah yang memenuhi hati dan pikirannya.


Kembali Airin tersenyum melihat sikap Gadis yang nampak grogi. Dia memaklumi, ia pun dulu seperti Gadis ketika mencintai seorang pria, dan pria itu tak lain adalah Papa kandung Luna yang kini sedang menerima teguran dari Sang Khaliq atas apa yang diperbuat dulu.


"Kamu yakin mau menginap di rumah Kakak? Rumah Kakak biasa saja, bukan rumah gedongan kayak rumah Mas Gagah apalagi rumah kamu, Gadis." Meskipun rumah orang tuanya sudah direnovasi dengan dana yang diberikan oleh Gagah, namun rumahnya tetap tidak bisa menandingi rumah keluarga orang tua suaminya dan rumah orang tua Gadis.


"Tidak apa-apa, Kak. Daripada sendirian nginap di hotel, tidak ada yang menemani, mending menginap di rumah orang tua Kak Airin. Tidur sekamar dengan Kak Airin juga tidak apa-apa kok, Kak." Bukan saja karena ia takut menginap sendiri, tapi juga memang karena ia ingin dekat dengan Haikal dan keluarganya hingga memaksa ingin menginap di rumah keluarga Haikal.


"Kirain tidak apa-apa sekamar dengan Haikal, ups ..." Airin tersenyum dan menutup mulut dengan tangannya meledek Gadis.


Gadis terbelalak mendengar ucapan sindiran dari Airin, hingga wajahnya memerah karena malu.

__ADS_1


"Iiihh, Kak Airin ..." Antara rasa malu dan senang kini bercampur jadi satu, sebab dari candaan yang diucapkan oleh Airin, menunjukkan Airin sudah mengetahui perasaannya terhadap Haikal dan Airin terlihat mendukungnya dekat dengan Haikal.


Airin melirik ke arah Luna, dia yakin kalau Gadis pasti berharap ingin duduk bersebelahan dengan Haikal, namun Luna malah menjadi penghalangnya.


"Luna, Luna sini duduk sama Mama!" Airin sengaja menyuruh Luna berpindah duduk di dekatnya agar Gadis bisa berpindah di samping Haikal.


"Ndak mau, Mama. Luna mau cama Om Ikal." Dengan menggelengkan kepalanya Luna menolak permintaan sang Mama.


"Luna, adek di perut Mama mau bobo, tapi Tante Gadis berisik dari tadi tanya-tanya Mama terus, jadi Mama tidak bisa istirahat." Airin sampai harus berbohong mengatakan jika keberadaan Gadis di sampingnya membuat Airin tidak nyaman, agar anaknya itu mau pindah di sebelahnya.


Kembali bola mata Gadis terbelalak, tak menduga jika Airin ternyata tak beda jauh dengan Gagah, sama-sama senang menggodanya sampai berbohong mengatakan dirinya mengganggu Airin. Namun, saat ia ingat jika semua itu dilakukan Airin adalah cara mendekatkan dirinya dengan Haikal, Gadis tentu saja tidak membantah apa yang dikatakan oleh Airin tadi.


"Kak Adis ndak boleh nakalin adek bayi!" Tangan Luna menu kul udara seperti hendak memu kul Gadys dengan memasang wajah memberengut, seakan menyalahkan Gadis atas pengaduan yang dikatakan oleh Airin.


"Luna tidak boleh seperti itu!" Merasa bersalah sampai Luna bereaksi kasar seperti tadi, Airin merasa tak enak hati pada Gadis, "Maaf, ya, Dis." Dia pun langsung menyampaikan permohonan maaf pada Gadis.


"Ah, emmmm, i-iya, Kak." Gadis seperti masih tercengang dengan ide konyol Airin hanya untuk memberikan kesempatan kepadanya agar bisa duduk bersebelahan dengan Haikal.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2