JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Sebuah Modus


__ADS_3

Airin menarik nafas dalam-dalam. Dia harus siap menjawab jika Wulan sampai bertanya-tanya soal keberadaan dirinya dan Luna di rumah Om Fajar.


" Oh, Luna menginap di rumah Kakek Fajar?" Wulan tidak terlalu mengenal Om Fajar, namun dia ingat kalau di Jakarta Airin mempunyai keluarga dari Mamanya.


" Iya, Nek. Kata Mama, cekalang Luna tidul di lumah Kakek Pajal telus." Luna yang tidak memahami konflik yang terjadi pada kedua orang tuanya hingga menyebabkan kedua orang tuanya berpisah menceritakan tanpa beban kepada Neneknya.


" Sama Papa juga?" Nada bicara Wulan terdengar terkejut dengan laporan yang diberikan oleh Luna.


" Luna, sini Mama mau bicara sama Nenek." Airin meminta ponselnya yang dipegang Luna.


" Nenek, Mama mau ngomong cama Nenek." Setelah bicara dengan Neneknya, Luna lalu menyerahkan ponsel Mamanya itu.


" Airin, apa maksud kata-kata Luna tadi?" Wulan merasa penasaran dengan kalimat yang diucapkan oleh sang cucu sehingga dia meminta penjelasan dari Airin.


" Iya, Bu. Aku dan Luna memang sekarang tinggal di rumah Om Fajar." Airin mempertegas apa yang dikatakan putrinya tadi.


" Lho, memangnya kenapa? Kamu sedang ada masalah dengan Rey sampai kamu dan Luna harus menginap di rumah Om kamu?" selidik Wulan.


Airin melirik ke arah Luna yang memperhatikannya berbicara dengan Wulan via video call.


" Luna, su sunya dihabiskan dulu sambil nonton tivi lagi, ya!" Airin meminta Luna untuk kembali dengan aktivitasnya semula, karena dia tidak ingin anaknya ikut mendengar percakapannya dengan Wulan.


" Bu, aku ganti panggilan telepon biasa saja, tidak enak jika Luna mendengar apa yang akan aku bicarakan." Setelah Luna kembali menonton televisi, Airin lalu mengganti komunikasi mereka dengan panggilan telepon biasa.


" Airin, sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian?" Wulan mulai mengendus sesuatu yang tidak beres dengan rumah tangga anak dan menantunya itu.


Airin menarik nafas kembali, sebelum akhirnya dia menjawab, " Aku dan Mas Rey sudah berpisah, Bu." Airin mengucapkan kalimatnya dengan menutupi dengan tangan. Dia tidak ingin Luna mendengar, meskipun anaknya itu belum paham.


" Berpisah? Apa maksudmu, Airin?" Wulan begitu terkejut mendengar kata berpisah yang diucapkan oleh Airin.


" Aku dan Mas Rey sudah bercerai tiga bulan yang lalu, Bu." Rasa sakit itu masih tetap ada ketika harus membeberkan apa yang terjadi dengan rumah tangganya dengan Rey yang terpaksa berakhir.


" Astaghfirullahal adzim! Kalian bercerai?" Wulan sepertinya syook mendengar perceraian Airin dan Rey.


" Sebenarnya ada masalah apa dengan kalian, Airin? Kenapa kalian tidak mengatakan hal ini pada Mama? Siapa tahu Mama bisa membantu menyelesaikan masalah kalian. Apa kalian tidak kasihan melihat Luna masih kecil sudah harus melihat orang tuanya berpisah?" Wulan menyayangkan keputusan perceraian anak dan menantunya itu.


" Sebaiknya Ibu mencari tahu apa yang menyebabkan kami berpisah dari Mas Rey langsung." Airin tidak ingin membuka kelakuan Rey pada Mamanya sendiri. Dia tentu masih menjaga perasaan mantan Mama mertuanya itu.


" Rey tidak cerita apa-apa ke Mama soal perceraian kalian. Kalian menutup-nutupinya dari Mama, Airin?" Terdengar suara isak tangis Wulan.


" Tentu saja Mas Rey tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya, karena semua terjadi karena perselingkuhan dia!" batin Airin.


" Airin, cerita sama Mama, apa yang menyebabkan perceraian kalian?" Wulan mendesak Airin untuk bercerita.


" Mas Rey berselingkuh, Ma." Akhirnya Airin mengatakan penyebab perceraiannya dengan Rey.


" Astagfirullahal adzim! Kamu yakin Rey selingkuh, Airin?" Wulan seakan tidak percaya putranya melakukan perselingkuhan, karena selama yang dia tahu, Airin adalah satu-satunya wanita yang dicintai oleh putranya itu.


" Aku sudah melihat dengan mata kepala sendiri, Bu. Mas Rey berselingkuh dengan seorang wanita yang berprofesi sebagai LC di karaoke. Dan perselingkuhan Mas Rey terjadi sejak awal pernikanan kami!" Dengan dada bergejolak, Airin mengungkapkan perselingkuhan yang dilakukan oleh mantan suaminya itu. Bola matanya bahkan sudah dipenuhi cairan bening.


" Astaga!" Tangis Wulan semakin pecah mendengar cerita tentang kelakuan putranya itu.


" Aku minta maaf kalau aku tidak bisa melanjutkan pernikahan aku dengan Mas Rey, Bu. Terlalu menyakitkan saat aku tahu perselingkuhan itu terjadi dari awal pernikahan kami." Airin mengusap air mata yang mulai menitik di pipinya.


Walau terasa sakit, namun dia merasa lega karena mantan Mama mertuanya itu sudah tahu bagaimana nasib rumah tangga dengan Rey.

__ADS_1


***


Seperti biasanya, Airin merapihkan penampilannya terlebih dahulu di toilet sebelum dia melayani para nasabah bank.


Setelah selesai di toilet, Airin kembali ke meja kerjanya karena beberapa nasabah yang mempunyai kepentingan dengan customer service sudah mengantri di kursi tunggu. Dan ketika jam kerja dimulai, bersama rekan-rekan lainnya Airin pun mulai melayani para nasabah bank satu persatu sesuai antrean.


Satu jam berselang, saat Airin sedang berbincang dengan nasabah yang sedang dia layani, dia melihat seorang pria yang sangat familiar masuk dari pintu. Pria yang tak lain adalah Gagah terlihat berbincang dengan security. Dan security itu memberikan nomer antrean sambil mempersilahkan Gagah duduk di kursi tunggu yang ada di hadapan costumer servis.


" Ya ampun, dia lagi ..." Airin mende sah saat melihat Gagah duduk di kursi tunggu tak jauh darinya, sementara tatapan mata Gagah tertuju ke arahnya.


Airin tidak dapat menghindar dengan memalingkan wajah, karena tatapan mata mereka sudah saling bertemu. Dia lalu memberikan senyuman menyapa Gagah. Tidak enak jika tidak bersikap ramah kepada nasabah.


Gagah mendapat antrean ke dua puluh lima, bersama lima orang lainnya dia menunggu di kursi tunggu nasabah. Jika tidak fokus dengan ponsel di tangannya, tatapan mata pria tampan itu pasti mengarah kepada Airin. Kecantikan wanita itu seolah sudah menghipnotisnya.


" Pak Gagah? Lho, Bapak ada di sini?" Seseorang menyapa Gagah, membuat Gagah menolehkan pandangan pada orang yang menyapanya tadi.


" Oh, Pak Stevan." Gagah pun langsung bangkit saat melihat Stevan, kepala bagian kredit Central Bank, lalu bersalaman dengan Stevan.


" Ada masalah apa, Pak? Ada yang bisa kami bantu?" tanya Stevan menawarkan jasa pada Gagah. Karena jabatan tinggi Gagah, membuatnya perlu memberi pelayanan prioritas pada Gagah.


" Oh, ini, Pak Stevan. Kartu debit saya hilang. Dan saya ingin membuat yang baru." Gagah menjelaskan tujuannya datang ke bank itu.


" Sebentar saya bantu, Pak Gagah." Stevan melihat Fani sudah hampir selesai melayani nasabah, karena Fani dan nasabah yang dilayani sudah sama-sama berdiri dan bersalaman.


" Fan, jangan panggil antrian dulu!" Stevan melarang Fani menekan tombol mesin operator pemanggil nasabah.


" Ada apa, Pak?" tanya Fani kepada Pak Stevan.


" Fan, tolong layani Pak Gagah." Stevan menunjuk ke arah Gagah. Beliau mau ganti kartu debit yang baru. Beliau nasabah besar di sini, CEO Bintang Departement Store." Stevan menjelaskan kepada Fani untuk melayani Gagah terlebih dahulu.


Setelah memberi perintah kepada Fani, Stevan kembali menghampiri Gagah.


" Pak Gagah, silahkan di CS dua." Stevan mempersilahkan Gagah untuk maju dan dilayani oleh Fani.


Gagah melihat layar antrean yang baru menunjukkan nomer dua puluh tiga. Berarti ada satu nasabah lagi di depan dia yang belum dilayani.


" Terima kasih, Pak Stevan. Biar saya tunggu sesuai antrean saja. Masih dua nomer lagi." Gagah menolak dilayani oleh Fani.


" Tidak apa-apa, Pak Gagah. langsung ke costumer service dua saja." Stevan tidak enak melihat Gagah mengantre. Sementara untuk melayani satu nasabah memerlukan durasi yang cukup lama.


" Biasakan mengantre dengan tertib, Pak Stevan. Kasihan yang antre di depan saya." Gagah beralasan, padahal tujuannya adalah dilayani oleh Airin.


" Nanti menunggu lama, Pak." ujar Stevan.


" Tidak masalah, Pak Stevan. Saya juga tidak terlalu terburu-buru," balas Gagah.


" Ya sudah kalau begitu." Stevan lalu memberikan kode pada Fani untuk melanjutkan melayani nasabah yang lain.


" Maaf, Pak Gagah. Saya tinggal dulu. Saya ada kunjungan ke nasabah pagi ini." Stevan berpamitan meninggalkan Gagah.


" Oh, silahkan, Pak Stevan." Gagah mempersilahkan Stevan yang ingin melanjutkan aktivitasnya.


" Nomer antrian B dua puluh empat, silahkan di customer service dua." Mesin operator memanggil nasabah selanjutnya.


Sepuluh menit berselang ...

__ADS_1


" Nomer antrean B dua puluh lima, silahkan di customer service tiga."


Gagah menoleh ke arah nasabah di sebelahnya. Dia melihat orang itu memegang antrean nomer dua puluh tujuh. Dia lalu menoleh ke arah kursi belakangnya.


" Ibu antrean nomer berapa?" tanya Gagah pada Ibu yang sedang menunggu di antrean customer service


" Dua puluh enam, Mas" sahut Ibu itu.


" Ibu pakai nomer antrean saya saja dulu, saya tukar dengan nomer Ibu." Gagah rela bertukar nomer antrean karena costumer service yang akan melayani nomer antreannya bukanlah Airin.


" Oh, makasih, Mas." Ibu itu menyetujui permintaan Gagah.


" Antrean B dua puluh lima silahkan di CS tiga." Susan, pegawai yang bertugas di costumer service tiga sampai memanggil secara manual nasabah bernomer antrean dua puluh lima.


Setelah bertukar nomer antrean dengan Gagah, si Ibu langsung maju ke meja Susan.


Lima menit kemudian, Airin sudah selesai melayani nasabah. Dia pun melanjutkan memanggil nasabah berikutnya yang harus dia layani.


" Nomer antrean B dua puluh enam, silahkan di customer service satu."


Gagah langsung berdiri, berjalan menghampiri Airin, saat nomer antrean yang dia pegang diarahkan menghampiri meja Airin.


" Selamat pagi, Pak. Silahkan ..." Setelah berjabatan tangan dengan Gagah dan mempersilahkan Gagah untuk duduk.


" Pagi ..." balas Gagah.


" Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Airin ramah kemudian duduk kembali.


" Kartu debit saya hilang kemarin. Saya mau membuat kartu debit yang baru." Gagah mencerirakan tujuannya datang ke bank yang sebenarnya hanya sebuah modus untuk bisa bertemu kembali dengan Airin.


" Apa Bapak sudah menelepon customer care untuk memblokir kartu debitnya, Pak?" tanya Airin kemudian.


" Sudah saya blokir kartu debit saya yang hilang," ujar Gagah.


" Baik, Pak. Bisa pinjam KTP dan buku tabungannya?" Airin meminta dokumen yang dibutuhkan sebagai syarat membuat kartu ATM baru.


" Oke, sebentar." Gagah lalu mengambil KTP dari dompet dan buku tabungan yang sejak tadi dia pegang, karena dia meninggalkan tas kerja di mobilnya.


" Apa perlu nomer HP saya?" tanya Gagah setelah dia menyerahkan KTP dan buku tabungan kepada Airin.


" Oh, tidak usah, Pak." Airin menjawab dengan mengulum senyuman.


" Kalau saya perlu nomer HP kamu, bagaimana?"


Pertanyaan Gagah seketika membuat Airin terkesiap dengan membulatkan bola matanya dia spontan menoleh ke arah pria tampan yang saat ini sedang tersenyum dan menatap lekat wajahnya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2