JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Seketika Sirna


__ADS_3

Gagah akhirnya membawa Airin dan Luna kembali ke rumah, sebab Luna tiba-tiba ketakutan saat melihat kondisi Papanya. Itulah alasan yang sebenarnya mengapa Gagah enggan membawa Luna membesuk Rey, karena khawatir reaksi Luna seperti saat ini.


Di dalam mobil, Luna duduk dengan memeluk Airin. Rasa takut Luna masih belum hilang meskipun mereka sudah menjauh dari rumah sakit tempat Rey dirawat.


"Ma, takuuutt ..." Luna masih menenggelamkan wajah pada dada Airin. Bayang-bayang kondisi Rey dengan peralatan medis juga perban di beberapa bagian tubuhnya begitu menakutkan bagi Luna.


"Luna jangan takut, Sayang. Tadi itu Papa Rey sedang sakit. Katanya Luna mau ketemu sama Papa Rey." Airin mengecup pucuk kepala Luna mencoba menenangkan Luna agar Luna tidak terus dihantui rasa takut.


"Ndak mau, Ma. Luna takut ..." Penjelasan Airin masih belum bisa diterima oleh Luna hingga dia merengek.


"Ya sudah, Luna jangan nangis. Luna jangan takut, ada Papa sama Mama di sini." Gagah pun mencoba menenangkan Luna dengan mengusap kepala Luna.


Airin menoleh ke arah suaminya, sungguh ia merasa bersalah karena meragukan keputusan Gagah yang tidak menginginkan Luna membesuk Rey dalam waktu dekat ini. Mungkin inilah alasannya. Airin terkesan memaksakan kehendak hanya karena takut dianggap keluarga Rey tidak berempati atau sudah tidak memperdulikan kondisi Rey hanya karena Airin dan Rey sudah berpisah.


"Maaf, Mas," sesal Airin.


Gagah menoleh kembali, dia tersenyum tipis, kini justru mengusap kepala Airin. Tak menunjukkan kemarahan atau angkuh karena dirinya ternyata benar dengan keputusannya.


"Tidak usah minta maaf, setidaknya kamu sudah ke sana dan bertemu dengan Bu Wulan, jadi kamu tidak khawatir lagi dianggap tidak menunjukkan keperdulian pada Papanya Luna." Gagah memaklumi keinginan Airin.


"Sekarang kita mau ke mana?" tanya Gagah, "Kita main ke rumah Kakek Fajar, Luna mau tidak?" Gagah mengajak Luna untuk berkunjung ke rumah Om Fajar.


"Luna mau ke rumah Nenek Mira? Nanti ada Ateu Feby di sana." Airin menawarkan pergi ke rumah pamannya.


Pertanyaan Gagah dan Airin dijawab dengan anggukkan kepala Luna, bocah cilik itu menyetujui apa yang ditawarkan kedua orang tuanya.


"Kita video call Ateu Feby dulu, ya!?" Airin mengeluarkan ponselnya, lalu melakukan panggilan video dengan Feby yang Sabtu ini libur sekolah.


"Assalamualaikum, Ateu." Airin memperlihatkan wajah Luna ke layar ponselnya agar Feby dan melihat Luna begitu juga dengan sebaliknya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, halo, Luna ... Eh, Luna kenapa? Kok sedih gitu mukanya? Kangen Ama Ateu, ya?" Feby langsung membalas sapaan Airin dan menyapa Luna.


"Iya, nih, Teu. Luna mau main ke sana, mau ketemu Ateu Feby katanya," jawab Airin.


"Luna mau ke sini? Ya sudah, Ateu tunggu ya, nanti kita beli ice cream. Luna mau tidak?" Feby menawarkan ice cream kegemaran Luna dan Luna pun menganggukkan kepalanya kembali.


"Ya sudah, Luna tutup teleponnya dulu ya, Ateu Feby. Assalamualaikum ..." Airin mengakhiri sambungan telepon mereka.


"Waalaikumsalam ..." Setelah Feby menjawab, Airin langsung menaruh ponselnya kembali ke dalam tas.


***


Sampai di rumah Om Fajar, Airin memandikan Luna lebih dahulu karena baru pulang dari rumah sakit. Umur Luna yang masih di bawah usia lima tahun amat rentan dari penyakit dan virus yang bisa ditularkan di rumah sakit. Setelahnya, Feby membawa Luna pergi ke mini market untuk membelikan Luna ice cream.


"Jadi Luna ketakutan lihat Papanya?" tanya Om Fajar saat mereka berempat berbincang di sofa rumah tamu rumahnya.


"Pelan-pelan saja kamu memberitahu Luna, Rin. Jangan terlalu memaksa jika Luna memang belum siap." Tante Mira menyambung kalimat sang suami.


"Iya, Tante." Airin melirik ke arah Gagah dan tertunduk malu.


"Sebenarnya saya juga berpikir seperti itu, Om, Tante. Hanya saja, tidak enak juga jika Airin dan Luna tidak datang ke sana, takut dianggap saya terlalu mengekang Airin dan Luna." Gagah tak mengatakan jika kepergian mereka ke rumah sakit itu atas saran dari Papanya dan juga keinginan Airin. Dia masih bisa menjaga perasaan orang-orang yang dikasihinya.


"Tante tidak menyangka Rey akan mengalami nasib seperti itu. Apalagi sampai selingkuhannya itu meninggal. Semoga Allah SWT mengampuni semua dosa dan kesalahan almarhumah." Tante Mira berucap prihatin, melihat nasib yang dialami Rey terutama Joice.


"Aamiin ..." Ketiga orang yang bersama Tante Mira menyahuti serempak.


"Kehamilan kamu bagaimana, Rin? Apa ada keluhan?" Kini Tante Mira merubah topik pembicaraan, dengan menanyakan seputar kehamilan Airin.


"Alhamdulillah, Tante. Tidak terlalu rewel kehamilanku sekarang ini, sama seperti waktu hamil Luna," jawab Airin.

__ADS_1


"Syukurlah jika kehamilan kamu tidak ada masalah, Rin." kata Tante Mira.


"Oh ya, kalau Haikal jadi akan pindah ke Jakarta, Rin? Kemarin Ibumu telepon Om, bilang titip Haikal di sini." Haikal sudah bercerita kepada Ibunya, sehingga Ibu Heny langsung menghubungi adiknya yang tinggal di Jakarta itu. Ibu Heny merasa lebih nyaman Haikal tinggal bersama Om Fajar daripada tinggal di tempat keluarga yang ditawarkan Gagah.


Airin melirik kembali pada sang suami, karena Gagah sebenarnya sudah berencana menyuruh Haikal tinggal bersama di rumah keluarga Prasetyo, tentu tidak enak jika Ibunya justru menitipkan Haikal pada Om Fajar.


"Aku belum tahu, Om. Tanya Mas Gagah saja." Tak ingin salah bicara, Airin menyerahkan pada Gagah yang berencana memindahkan Haikal ke kantor pusat.


"Haikal jadi pindah ke Jakarta, Om. Untuk tempat tinggal, biar Haikal ikut sama kami saja," jawab Gagah.


"Kalau menurut Om, lebih baik Haikal tinggal di sini saja, tidak enak kalau selalu merepotkan kamu dan keluarga kamu." Om Fajar menyampaikan pendapatnya, sebab di tempatnya lah sepatutnya Haikal berada. Dia adalah adik dari Ibu Heny, lebih pantas Haikal tinggal bersamanya daripada tinggal bersama Gagah yang hubungannya hanya ipar, belum lagi ada Prasetyo dan Widya yang tinggal sebagai pemilik rumah di sana.


"Itu tergantung Haikalnya saja, Om. Dia ingin menetap di mana." Gagah tidak ingin berdebat dengan Om Fajar dan akan menyerahkan keputusan itu pada Haikal.


"Om menghaturkan terima kasih karena niat baik kamu untuk Haikal, Gagah." Tak lupa Om Fajar menyampaikan rasa terima kasihnya pada Gagah, sebab Gagah selalu membantu keluarganya


"Tidak usah sungkan dengan saya, Om." sahut Gagah.


Mereka berempat melanjutkan pembicaraan seputar banyak hal. Dan setelah sekitar dua jam berbincang di rumah Om Fajar, Gagah dan Airin pun berpamitan untuk pulang ke rumah setelah Luna terlihat ceria saat bertemu dengan Feby yang senang menemani Luna. Rasa sedih dan takut Luna seketika sirna.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading,❤️

__ADS_1


__ADS_2