
Ketika Gagah dan Airin berjalan menuju toko mainan untuk membelikan Luna mainan, tiba-tiba seseorang menyapa Gagah, membuat Gagah dan Airin menoleh ke arah suara tadi.
Gagah terperanjat saat melihat sosok wanita yang tadi menyapanya. Tentu saja Gagah sangat kenal dengan wanita itu. Wanita yang pernah dekat dengannya beberapa waktu lalu. Wanita yang ia tolak untuk menjadi istrinya saat ia tahu wanita itu mempunyai menganut gaya kehidupan bebas yang selalu berkonotasi negatif.
Wanita yang tak lain adalah Adinda itu kini berjalan mendekat ke arahnya dan ingin memeluk dirinya. Seperti yang biasa Adinda lakukan saat bertemu dengannya.
"Hai, Gah. Apa kabar?" sapa Adinda pada Gagah, namun matanya melirik ke arah Airin yang bergenggaman tangan dengan Gagah.
Gagah menggerakkan langkah kakinya ke belakang, berusaha menghindari Adinda. Tentu dia tidak mau Adinda bisa seenaknya berbuat seperti dulu kepadanya.
Seketika Airin mengerutkan keningnya, saat wanita yang menyapa suaminya tadi terlihat mendekat dan Ingin memeluk Gagah. Tentu saja hal itu membuat Airin terkesiap. Dia bertanya-tanya, siapa wanita di hadapannya saat ini? Siapa pun wanita itu, Airin merasa jika wanita itu pernah mempunyai kedekatan dengan Gagah.
"Kenapa kamu menolak, Gagah? Hanya cipika-cipiki saja. Kita putus bukan berarti kita bermusuhan, kan!?" Adinda tidak terima Gagah menghindarinya, bahkan dengan percaya diri menyatakan hubungannya dengan Gagah di masa lalu adalah sepasang kekasih.
"Tidak perlu saling berpelukan untuk menunjukkan jika kita tidak bermusuhan. Lagipula kita sudah tidak punya urusan." Gagah melepas genggaman dari tangan Airin namun berganti merangkulkan tangan di pundak Airin. Seakan mempertegas ada hati yang mesti dia jaga.
Adinda melirik kembali dengan senyum sinis ke arah Airin. Ia menatap Airin dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Jadi ini istri kamu yang katanya janda itu?" sindir Adinda.
Gagah tidak tahu dari mana Adinda tahu tentang pernikahannya dengan Airin, termasuk status Airin kala itu.
"Oh, Gagah ... Kalau kamu akhirnya menikah dengan seorang janda, apa bedanya denganku? Kamu sama-sama tidak mendapat wanita yang perawan juga, kan?" Adinda merasa sikap Gagah menolaknya demi menikahi seorang janda adalah hal konyol.
"Jangan menyamakan istriku denganmu! Jelas dia jauh berbeda denganmu! Dia memberikan kesuciannya dalam ikatan pernikahan, tidak sepertimu yang rela memberikan kesucianmu pada kekasihmu. Aku tidak tahu, berapa banyak pria yang sudah meni durimu?!" Gagah membantah pernyataan Adinda. Dia pun melanjutkan langkahnya membawa Airin juga Luna menjauh dari Adinda tanpa berpamitan pada Adinda. Gagah merasa dirinya sudah tak ada sangkutan dengan Adinda, dia merasa tak perlu banyak berbasa-basi dengan Adinda.
Airin menoleh ke belakang. Dia melihat wajah sinis Adinda menatap dirinya. Buru-buru ia memalingkan wajahnya seraya mengedikkan bahunya melihat tatapan tajam Adinda.
"Wanita tadi siapa, Mas? Mantan, Mas?" tanya Airin penasaran dengan sosok wanita yang berbicara dengan Gagah tadi.
"Dia itu anak dari relasi Mas Bagus, dulu sempat ingin dijodohkan denganku." Gagah menjelaskan siapa Adinda agar Airin tidak curiga padahal dia sendiri malas membahas soal Andinda.
"Dia cantik," ucap Airin berkata jujur dengan penampilan fisik Adinda yang sangat menarik dengan paras yang cantik.
"Cantik, namun tidak bisa menjadi harga dirinya sebagai seorang wanita, apa gunanya? Senang melakukan hubungan in tim dengan banyak pria tanpa ikatan suci pernikahan, apa yang bisa dibanggakan?" Gagah merasa penampilan fisik saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan kecantikan hati dan juga perilaku yang baik.
"Sudahlah, jangan bicarakan dia, dia itu tidak penting bagi kita." Gagah tidak ingin terus membahas soal Adinda. Kedekatan dirinya dengan Adinda sudah berakhir, tak perlu diungkit kembali.
***
__ADS_1
Gadis baru ke luar dari kamar, dia langsung menutup pintu kamarnya ketika ia mendengar suara pria dari lantai bawah. Dia pun bergegas mendengar ke arah tangga untuk melihat orang yang berbincang di ruangan tamu.
"Saya minta dukungan Mbak Farah untuk membatu Dista agar bisa kuliah di London." Suara Dicky kembali terdengar jelas sedang mencoba merayu Farah.
"Memangnya kamu butuh berapa?" Farah merespon permintaan Dicky.
"Tidak banyak, Mbak. Saya hanya butuh satu milyar saja, Mbak. Untuk biaya kuliah Dista di sana." Dicky menyebut jumlah yang ia butuhkan dari Farah.
"Nanti Mbak akan bicarakan dulu sama Gadis dan Flo." Farah tidak bisa mengambil keputusan tanpa berdiskusi dengan kedua anaknya. Dia tidak berani mengambil keputusan sendiri.
"Tidak perlu bicara dengan aku lagi, Ma. Mama berhak menolak langsung." Gadis yang tadi mencuri dengar perbincangan Farah dan Dicky langsung keluar dari persembunyiannya dan berjalan menuruni anak tangga.
Kehadiran Gadis, membuat ekspresi wajah Dicky berubah. Terlihat wajah kesal Dicky saat Gadis menyuruh Farah menolak permintaannya.
"Bukankah Om Dicky dan Om Romy sudah mendapatkan bagian dari warisan milik Papa?" Gadis tidak suka adik tiri Papanya itu masih saja merongrong keluarganya, padahal Papanya sudah berbaik hati memberi hartanya untuk Dicky dan Romy.
"Om tahu itu, Gadis. Om tidak menuntut warisan Papa kamu. Om hanya minta dukungan untuk Dista dalam menuntut ilmu dengan berkuliah di sana." Om Dicky beralasan dan menepis anggapan Gadis yang menganggap dirinya masih menginginkan harta warisan Bintang Gumilang.
"Memangnya Dista Ingin kuliah di mana?" tanya Gadis.
"Rencananya Dista akan mengambil kuliah di salah satu universitas di London, Gadis." Dicky menerangkan.
"Benar, Gadis. Kamu tahu itu, kan? Om juga tidak ingin Dista terlatar jika tinggal di sana." Dicky melihat Gadis mulai terpengaruh dengan kata-katanya tadi, apalagi ia mengatakan jika alasannya datang meminta bantuan dana demi pendidikan anaknya.
"Kalau Om tahu biaya kuliah di sana pasti mahal, kenapa tidak kuliah di sini saja?" Namun ternyata perkiraan Dicky salah tentang respon dirinya tadi.
"Om ingin memberikan pendidikan yang terbaik untuk Dista, Gadis." Dicky beralasan.
"Pendidikan terbaik itu tergantung kita sendiri, Om. Kalau kita serius belajar, tanpa harus jauh-jauh kuliah di luar negeri juga bisa, kok!" Gadis menyanggah perkataan Dicky jika pendidikan terbaik hanya ada di luar negeri. Gadis menduga itu hanya alasan Dicky saja ingin mengirim Dista kuliah di luar negeri hanya karena gengsi.
Dicky mendengus kasar, baginya Gadis adalah penghalang segala upayanya untuk menguasai perusahaan retail yang kini dipimpin oleh Gadis, dan sekarang, hanya meminta yang satu milyar saja, Gadis kembali menentangnya.
"Gini saja, Dicky. Nanti Mbak kasih seratus juta untuk Dista ...."
"Ma!" Gadis langsung memo tong ucapan Mamanya saat Farah mengatakan akan membantu Dicky dengan memberikan uang.
"Tidak apa-apa, Gadis. Mama pakai uang Mama saja." Farah menjelaskan jika dirinya akan menggunakan uang pribadi untuk membantu Dicky.
"Hanya seratus juta? Saya harus cari di mana kurangannya, Mbak?" Dicky terlihat kecewa hanya diberi bantuan tidak sesuai dengan keinginannya.
__ADS_1
Gadis tersenyum sinis mendengar perkataan Dicky. Dia sudah menduga jika Dicky akan merasa keberatan dengan jumlah yang disebutkan oleh Mamanya. Gadis sudah mengendus jika rencana Dicky hanya akal-akalan adik tiri Papanya itu saja.
Gadis merasa, jika sekali saja dirinya atau sang Mama memberikan apa yang diinginkan Dicky, ia yakin Dicky akan terus mengulangi. Sebab itulah ia tidak menyetujui permintaan Dicky.
"Om, Mama itu sudah baik hati kasih uang pribadi Mama. Sudah bagus Mama mau membantu, lagipula urusan pendidikan anak Om itu 'kan kewajiban Om, tidak ada sangkut pautnya dengan aku dan Mama." Gadis menegaskan agar Dicky tidak makin melunjak.
"Kamu harus ingat, Gadis. Om ini masih adik Papa kamu!" Dicky geram mendengar ucapan Gadis. Wanita muda itu dianggapnya sudah kurang ajar bahkan tidak menghormatinya sebagai orang yang lebih tua.
"Papaku dan Om tidak sedarah, kan?!" Gadis menegaskan jika antara dirinya dengan Dicky tidak ada hubungan kekerabatan, apalagi Papanya saat ini sudah meninggal.
"Jangan lancang bicara kamu, Gadis! Kamu ini tidak ada sopan santunnya terhadap orang tua!" hardik Dicky sambil bangkit dari duduknya.
"Aku tahu dengan siapa harus bersikap santun! Jika untuk orang-orang seperti Om, aku rasa tidak perlu menggunakan sopan santun!" Tak kalah galak, Gadis pun membentak Dicky, tidak perduli jika orang yang dihadapinya saat ini adalah orang dewasa.
"Gadis, sudah! Jangan berdebat, Nak!" Farah khawatir melihat pertengkaran antara Gadis dengan Dicky, ia mencoba melerai keduanya.
"Biar saja, Ma! Biar Om Dicky itu tahu diri dan tidak jadi benalu bagi kita!" Gadis biara masih dengan nada tinggi.
"Mas Bintang benar-benar tidak bisa mendidik anak!" Dicky makin terpancing emosi, rasanya ingin dia menam par mulut lancang Gadis.
"Jangan menyalahkan suami saya dalam hal ini, Dicky!" Mendengar suaminya dihina, tentu saja Farah tidak terima. "Sebaiknya kamu pergi dari sini, Dicky! Jangan buat keributan di rumah ini lagi!" Farah bahkan menyuruh Dicky pergi dari rumahnya.
"Ya sudah, mana uang yang Mbak mau kasih ke aku tadi?" Tanpa malu dan tak tahu diri, Dicky justru meminta uang yang tadi ditawarkan Farah.
"Jangan dikasih, Ma!" Gadis melarang Farah memberikan uang seratus juta yang ditawarkan tadi.
"Kamu kasih saja nomer rekening bank kamu ...."
"Ma ...!" Gadis kembali melarang Mamanya agar tidak dibohongi terus oleh Dicky.
"Tapi ingat, Dicky. Hanya kali ini saya membantu kamu, dan jangan coba lagi meminta dari kami, apa yang bukan hak kamu!" Farah bersedia memberikan uang yang dia janjikan namun dengan tegas dia memberikan syarat yang harus dipenuhi oleh Dicky.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️