JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Pancingan Mendapatkan Hati Airin


__ADS_3

Airin mengaktifkan kembali ponselnya setelah dia melaksanakan sholat Shubuh. Sejak pulang kerja, dia sengaja menonaktifkan ponselnya. Dia tidak ingin diganggu dengan suara telepon atau pesan masuk dari Gagah, karena dia begitu yakin jika Gagah akan mencecarnya dengan pesan dan telepon.


Kening Airin berkerut, karena dia tidak mendapati satu pesan atau panggilan masuk dari Gagah. Di sosial media chatting nya hanya masuk beberapa pesan dari rekan-rekan kerjanya termasuk Fany.


Jantung Airin berdebar melihat rentetan pesan masuk dari teman sekantornya itu. Dia yakin ini ada kaitannya dengan kedatangan Gagah yang mengantar terutama saat menjemputnya pulang kemarin.


Airin memilih membuka pesan dari Fany lebih dahulu, karena Fany pasti merasa penasaran dengan kedatangan Gagah yang menjemputnya kemarin, apalagi Fany mengenali siapa Gagah.


"Rin, sorry, aku terpaksa membuka status kamu ke teman-teman. Daripada mereka berpikiran negatif tentang kamu."


Ternyata Fany menyampaikan permintaan maafnya, karena harus memberitahu rekan-rekannya demi kebaikan Airin. Agar tidak ada lagi yang beranggapan buruk tentang Airin.


Airin mendesah, akhirnya tiba juga saatnya teman-temannya itu tahu tentang statusnya kini. Pasti akan banyak pertanyaan dari mereka-mereka yang kepo tentang hal pribadinya. Hal itu terbukti dengan banyaknya pesan masuk di ponselnya saat ini. Airin terlalu takut membaca pesan-pesan yang masuk sehingga dia memilih mengacuhkan pesan masuk itu.


"Tidak apa-apa, Fan. Terima kasih, Fan." Airin memilih membalas pesan dari Fany saja sebelum turun ke bawah untuk membantu Tantenya menyiapkan makanan untuk sarapan.


Di tempat yang berbeda, Gagah yang juga baru menyelesaikan sholat Shubuh kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan ponsel di tangannya. Dia merasa gatal ingin menghubungi Airin. Namun, mengingat saran dari Tante Mira dan Tegar, dia harus menahan diri dan tidak terlalu bernafsu agar Airin tidak merasa risih dengan sikapnya saat ini.


"Si al, kenapa aku jadi seperti ini?" keluh Gagah, benar-benar merasa galau karena hatinya sudah tercuri oleh janda muda beranak satu itu.


"Mas Tegar benar, Airin memang cantik ..." Senyuman terkulum di bibirnya saat membayangkan wajah cantik Airin. Mata yang indah, kulit putih bersih, juga bibir yang sek si. Benar-benar membangkitkan gairahnya sebagai pria normal.


"Si al, kenapa Mas Tegar sampai memikirkan ke arah sana!? Ini bahaya! Kalau aku menikah dengan Airin, aku harus jauhkan Airin dari Mas Tegar!" Gagah sudah mulai posesif terhadap Airin. Dia tidak ingin kakaknya itu terus berfantasi liar terhadap Airin.


"Mas Tegar itu pandai menaklukan hati wanita, jangan sampai Airin sampai terjebak dengan pesona Mas Tegar." Gagah bahkan takut kalah saing dengan pesona sang Kakak, padahal Tegar saat ini sudah menikah.


***


Pagi ini, Airin berangkat ke kantor seperti biasa dia lalui saat belum bertemu dengan Gagah. Awalnya dia sempat khawatir jika Gagah akan datang lagi menjemputnya. Untung saja hal tersebut tidak sampai terjadi, sehingga Airin bisa bernafas dengan lega.


"Pagi, Mbak Airin." Security menyapa Airin saat Airin masuk ke dalam kantor Central Bank.


"Pagi, Pak." balas Airin kemudian bergegas ke arah tangga untuk absensi terlebih dahulu.


"Eh, Rin. Benar kamu sudah cerai? Kemarin Fany bilang seperti itu." Ovy yang bertemu Airin saat melakukan absensi langsung menanyakan tentang kebenaran perceraian Airin ketika mereka sama-sama menuruni anak tangga.


Hanya senyuman tipis respon yang diberikan Airin atas pertanyaan Ovy.


"Kenapa cerai, Rin? Padahal kamu sama suami kamu kelihatan harmonis banget, lho!" Ovy penasaran dengan alasan perceraian Airin dengan Rey.


"Sudah tidak berjodoh, Vy." jawab Airin memilih alasan itu.


"Sayang banget, ya! Suamimu itu ganteng lho, Rin." Airin dan Rey memang selama ini dianggap pasangan yang ideal. Yang wanita cantik paripurna yang pria tampan mampu bersaing dengan para dewa.


Airin menarik nafas yang begitu berat untuk dia hirup. Kenapa orang selalu memandang fisik? Seolah ketampanan adalah jaminan akan mendatangkan kebahagiaan. Dari kalimat yang diucapkan Ovy seolah mengatakan jika dia rugi jika melepas Rey.


"Kalau sudah tidak berjodoh, mau bilang apa?" Airin mengedikkan bahunya, lalu kembali berucap, "Aku duluan, Vy." Airin berlari kecil menuruni anak tangga mendahului Ovy, karena dia malas membahas soal Rey, karena rekan-rekan di kantornya seolah mendewakan Rey, hanya karena berwajah tampan dan mempunyai jabatan sebagai marketing manager di sebuah perusahaan otomotif.


"Hei, Rin." sapa Leo, head teller saat berpapasan dengan Airin yang ingin berjalan ke mejanya. Leo dulu sempat menyukai Airin, namun karena Airin memilih menikah dengan Rey, pria itu memilih mundur secara teratur dan sampai saat ini belum menikah, meskipun usianya sudah menginjak tiga puluh lima tahun. Dan berita soal perceraian Airin yang cepat merebak di kalangan karyawan Central Bank sepertinya menumbuhkan kembali harapan pria itu untuk mendekati Airin kembali.


"Pagi, Pak." Airin membalas sapaan Leo. Dia lalu melanjutkan langkahnya. Airin takut saat melihat Leo tersenyum kepadanya, senyum yang mengandung arti tentunya.


"Rin, apa benar gosip yang beredar itu?" Susan yang sudah tiba lebih dahulu menanyakan soal kabar yang beredar ketika Airin sampai di mejanya.


"Iya, San." Airin menganggukkan kepala membenarkan apa yang ditanyakan Susan.


"Aku turut prihatin, Rin. Tidak menyangka kalau kamu sudah bercerai beberapa bulan lalu. Kamu tidak cerita ke kita, sih!" Susan menyesalkan karena Airin menyembunyikan perceraiannya.


"Ya sudahlah, semua sudah terjadi. Dan aku tidak ingin membahas soal itu lagi, San." Airin tidak ingin semua orang merasa kasihan kepadanya.


"Fany belum datang, ya?" Airin menoleh ke arah meja Fany yang masih kosong.


"Tuh, dia!" Susan menunjuk ke arah pintu di mana Fany masuk dan berlari untuk absensi.


Airin kemudian mulai mengaktifkan komputer dan perangkat lainnya yang biasa gunakan untuk melayani nasabah, sambil menunggu waktu jam kerja dimulai.


Tak lama kemudian Fany sudah berjalan ke meja customer service. Dia mendatangi meja Airin terlebih dahulu, sebelum ke mejanya.


"Rin, sorry, ya!" Fany kembali menyampaikan permohonan maafnya, karena telah membuka rahasia Airin.

__ADS_1


"It's OK, Fan." sahut Airin memaksakan tersenyum.


"Tapi, menurutku lebih baik seperti ini, Rin. Jadi kalau ada pria lain yang mendekati kamu, tidak akan jadi fitnah." Susan berpendapat.


"Sudah, sudah, sebaiknya jangan bergosip di tempat kerja!" Airin kembali menolak membahas masalah pribadinya.


"Kamu hutang penjelasan padaku soal bos yang kemarin menjemputmu itu, Rin," bisik Fany sebelum kembali ke tempatnya.


Airin mendelik ke arah Fany, berharap Fany tidak membuka kedekatannya dengan Gagah pada rekan kerja yang lain, karena Gagah adalah nasabah besar di Central Bank. Bisa dibayangkan akan seheboh apa karyawan Central Bank, jika tahu Gagah menyukai dirinya.


***


Gagah mengambil paper bag berisi boneka di kursi sebelahnya sebelum turun dari mobilnya. Waktu istirahat makan siang ini, Gagah memilih datang ke rumah Om Fajar untuk menemui Luna. Dia mulai menjalankan misi untuk mendekati Luna untuk mendapatkan kepercayaan dari Airin.


Gagak menekan bel di pintu gerbang rumah Om Fajar. Karena di rumah itu hanya ada Tante Mira, Luna dan satu ART saja, karena itu pintu gerbang dikunci jika siang hari.


Tak berselang lama, ART di rumah Om Fajar keluar dan berlari untuk membukakan pintu untuk Gagah.


"Assalamualaikum, Tante Mira dan Luna ada, Bi?" tanya Gagah pada ART rumah Om Fajar.


"Waalaikumsalam, ada, Mas. Silahkan masuk, Mas." Setelah gerbang dibuka, ART mempersilahkan Gagah masuk.


"Terima kasih, Bi." Gagah melangkah ke arah teras rumah terlebih dahulu kemudian disusul oleh si Bibi.


"Silahkan di dalam saja, Mas." Bibi berlari kecil mendahului Gagah dan mempersilahkan Gagah masuk ke dalam rumah tamu ketika Gagah ingin duduk di kursi teras rumah. Karena si Bibi tahu, jika Gagah adalah kerabat keluarga majikannya.


"Terima kasih, Bi." Gagah mengurungkan niatnya duduk di teras rumah dan masuk ke dalam ruangan tamu rumah Om Fajar, lalu duduk di sofa setelah dipersilahkan oleh Bibi.


"Sebentar, saya panggilkan Ibu dulu, Mas!" Bibi kemudian menaiki anak tangga untuk memberitahu soal kedatangan Gagah kepada Tante Mira yang sedang menemani Luna di dalam kamarnya.


Gagah memperhatikan ruangan tamu di hadapannya saat ini. Terdapat foto keluarga Om Fajar dan Tante Mira dengan anak-anaknya. Gagah menduga jika keluarga dari Airin adalah Tante Mira bukan Om Fajar, karena Airin terlihat sangat akrab dengan Tante Mira.


"Om Gagah ...!" teriak Luna dari arah tangga memanggil nama Gagah.


Gagah sontak menolehkan pandangan ke arah suara Luna yang sedang berjalan menuruni anak tangga bersama Tante Mira.


"Assalamualaikum, Tante." Gagah kini menyapa Tante Mira.


"Waalaikumsalam, duduk, Gah." Tante Mira mempersilahkan Gagah untuk duduk kembali.


"Iya, Tante." Gagah lalu mengambil paper bag berisi boneka untuk Luna.


"Om punya ini untuk Luna." Gagah lalu mengeluarkan boneka baru untuk Luna.



"Buat Luna lagi bonekanya, Om?" Luna langsung berlari menghampiri Gagah.


"Iya, ini untuk Luna, biar boneka yang kemarin ada temannya." Gagah menyerahkan boneka itu pada Luna.


"Luna mauuuu ..." Luna menerima boneka itu dengan melompat kegirangan.


"Makacih, Om." Luna memeluk boneka pemberian Gagah seraya mengucapkan terima kasih.


"Sama-sama, Luna." Gagah mengusap kepala anak Airin itu.


"Aduh, jadi merepotkan kamu, Gagah. Jangan sering memberikan hadiah pada Luna, nanti kebiasaan dia minta sama kamu, lho!" Walaupun dia menyarankan Gagah untuk mendekati Luna, tapi, Tante Mira kurang setuju jika Gagah terlalu memanjakan Luna dengan memberikan hadiah-hadiah apalagi yang harganya mahal.


"Tidak apa-apa, Tante. Biar Luna senang," sahut Gagah.


"Luna sini duduk sama Om." Gagah mengangkat tubuh Luna, lalu menaruh di pangkuannya.


"Luna sudah makan belum?" tanya Gagah kembali.


"Udah, Om. Tadi Luna makan cama cayul cama ayam goleng," cerita Luna.


"Anak pintar." Gagah mengusap kepala Luna kembali. "Luna mau sekolah, tidak?" tanyanya kemudian.


"Mau, Om." jawab Luna lantang.

__ADS_1


"Tante, kapan rencananya Luna ingin sekolah? Kemarin saya menawarkan untuk Luna sekolah di fullday bersama keponakan saya, tapi Airin menolak." Gagah menceritakan rencananya kepada Tante Mira yang ditolak oleh Airin.


"Kalau Tante terserah Airin saja, Gagah." Tante Mira merasa tidak punya hak untuk mengatur keputusan Airin.


"Kalau pendapat saya, tidak ada salahnya Luna disekolahkan sekarang, Tante. Biar Luna punya banyak teman dan bisa berinteraksi dengan banyak orang. Jadi, Luna tidak hanya berhalusinasi dengan mainan-mainannya saja." Gagah ingin Luna bisa lebih ceria lagi jika banyak berinteraksi dengan anak-anak sebayanya.


"Di fullday school yang saya rekomendasi sangat bagus, Tante. Mungkin Tante bisa membantu memberi pendapat pada Airin, siapa tahu Airin mau berubah pikiran jika Tante yang bicara. Ini demi pendidikan Luna, Tante." Gagah mengatasnamakan Luna, padahal, dialah yang ingin Luna akrab dengannya juga dengan keluarganya.


"Ya sudah, nanti Tante Coba bicara dengan Airin." Tante Mira menyetujui permintaan Gagah.


"Oh ya, kamu sudah makan belum, Gagah? Kalau belum, makan saja di sini, nanti Tante suruh Bibi siapkan." Karena saat ini adalah waktu jam makan siang, Tante Mira menduga jika Gagah belum sempat makan siang karena buru-buru datang ke rumahnya.


"Tidak usah repot-repot, Tante." Gagah menolak halus.


"Tidak apa-apa, kok! Kamu langsung kemari, pasti belum sempat makan siang, kan?" Tante Mira bangkit dari kursi, lalu berkata, "Tante suruh Bibi siapkan dulu makanannya." Tanpa minta persetujuan Gagah, Tante Mira beranjak ke arah dapur meninggalkan Gagah dan juga Luna yang masih dalam pangkuan Gagah.


"Luna suka tidak boneka pemberian Om?" tanya Gagah pada Luna.


"Iya, Om. Bonekanya cantik kayak Luna," celoteh Luna terkekeh.


Gagah ikut tertawa mendengar Luna berceloteh. Namun, dia senang karena dia mulai bisa akrab dengan anak dari Airin itu.


"Om Gagah halum baunya." Luna menghirup aroma wangi maskulin yang menguar dari tubuh Gagah.


Gagah tersenyum mendengar pujian dari Luna, dia pun membalas, "Luna juga harum wanginya." Gagah mencium puncak kepala Luna.


"Om halum kayak Papa Ley." ucap Luna kemudian.


Gagah terdiam ketika Luna menyamakan dirinya dengan Papanya.


"Gagah, ayo makan dulu!" Untung saja Tante Mira sudah kembali ke ruang tamu dan menyuruh Gagah untuk makan. "Luna, Om Gagah nya suruh cepat makan!" Tante Mira menyuruh Luna mempengaruhi Gagah agar mau makan.


"Om Gagah makan dulu, nanti pelutnya cakit kalau ndak makan, Om." Luna turun dari pangkuan Gagah. Tangan mungilnya kini menggandeng tangan Gagah dan menariknya ke ruangan makan.


Mau tak mau Gagah pun mengikuti langkah Luna sampai ke arah meja makan.


"Om Gagah makan dulu." Luna menyuruh Gagah duduk di kursi makan, lalu dia sendiri menarik kursi karena dia juga ingin duduk menemani Gagah makan.


Gagah membantu Luna menarik kursi, lalu Luna menaikinya.


"Luna mau makan lagi?" tanya Tante Mira melihat Luna duduk di kursi meja makan.


"Ndak, Nek. Luna mau nemenin Om Gagah makan," ucap Luna.


"Wah, terima kasih, Luna. Luna baik sekali mau menemani Om." Gagah mengusap kepala Luna kembali.


"Om Gagah juga baik. Om Gagah kasih boneka Luna dua." Luna sungguh anak pintar yang sangat tahu berterima kasih. Karena Gagah sudah dia anggap baik kepadanya, sehingga dia pun ingin membalas kebaikan Gagah.


Tante Mira tersenyum melihat interaksi Gagah dan Luna. Luna bisa akrab dengan Gagah, itu adalah awal yang baik untuk menjalin hubungan antara Gagah dan Airin. Dan Tante Mira berharap Gagah benar-benar tulus terhadap Luna, bukan hanya sebagai pancingan untuk mendapatkan hati Airin saja.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2