JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Menemani Luna Bermain


__ADS_3

Selama di ruangan Gagah, Rey lebih banyak terdiam karena ia selalu kalah dalam berargumentasi dengan Gagah. Dia yang bekerja di bagian marketing, yang biasanya pandai berkata-kata seperti mati kutu di hadapan pria yang kini telah menjadi suami dari mantan istrinya dulu.


Rey pun merasa seperti seorang pendosa yang sedang disidang oleh Gagah atas kesalahan-kesalahan yang telah dia perbuat. Apa pun yang ia sampaikan seakan bisa terpatahkan oleh argumentasi Gagah.


Gagah sendiri sengaja menahan Rey lebih lama di tempatnya, sebab dia ingin Rey melihat saat Airin dan Luna datang ke kantornya. Bisa dikatakan Gagah ingin memamerkan kemesraannya dengan Airin di hadapan Gagah. Gagah seolah ingin membalaskan sakit hati Airin atas perselingkuhan Rey dengan Joice. Padahal sejujurnya, dia lah pihak yang paling diuntungkan dengan perceraian Airin dengan Rey.


"Maaf, Pak Gagah. Jika boleh, saya minta diberikan banyak waktu untuk bisa bersama Luna, sebab selama ini Airin terkesan membatasi saya berinteraksi dengan Luna. Saya harap Pak Gagah bisa lebih bijak terhadap saya mengenai hal ini." Kepalang tanggung sudah berhadapan dengan Gagah, Rey meminta bantuan Gagah agar diberikan haknya sebagai Papa kandung Luna. Karena dia merasa Airin bersikap tidak adil terhadapnya dalam hal hak mengasuh Luna.


Gagah mengusap rahangnya yang ditumbuhi rambut halus. Seperti yang ia ungkapkan pada Wulan kemarin, dia tidak akan melarang siapa pun yang hendak menemui Luna, selama orang itu tidak memberi dampak buruk terhadap putri sambungnya. Sedangkan Rey sendiri sampai saat ini masih saja berhubungan dengan Joice, seorang wanita penghibur yang selalu mendapat imej buruk dari masyarakat. Apalagi Joice jelas-jelas pemeran antagonis dalam kisah rumah tangga Airin sebelumnya. Tentu saja Gagah tidak akan membiarkan Luna terlalu sering bersama Papa kandungnya itu.


"Saya menghargai keputusan Airin, Pak Rey. Saya rasa Airin mempunyai alasan yang jelas kenapa dia mengambil sikap itu," ucap Gagah menanggapi permintaan Rey. "Kemarin saya sudah sampaikan kepada Ibu Wulan. Saya tidak menghalangi keluarga dari orang tua Luna untuk bertemu Luna, kami persilahkan, asal ..." Gagah menjeda kalimatnya. Dia terus memfokuskan tatapan kepada Rey, "Asal Luna berada dalam lingkungan yang baik," lanjut Gagah.


"Maksud Pak Gagah jika Luna bersama saya, dia berada di dalam lingkungan yang buruk?" Rey merasa tersinggung dengan ucapan Gagah kali ini.


"Saya rasa Anda dapat menilai, Pak Rey. Dari mana asal wanita yang saat ini sedang menjalin hubungan dengan Anda? Apa menurut Anda Luna akan aman bersama wanita itu? Wanita yang sudah merebut suami Mamanya. Wanita yang sudah memfitnah Mamanya Luna, menuduh Mamanya Luna berselingkuh padahal jelas-jelas Anda sendiri lah yang berselingkuh, dan wanita itu yang sudah merusak rumah tangga orang tua kandung Luna." Gagah membalas pernyataan Rey dengan nada tegas dan sindiran pedas.


Rey kembali tak dapat menyangkal ucapan Gagah. Dia mengakui jika Joice memang tidak bisa dia percayai dapat mengurus Luna, apalagi Joice yang terbiasa dengan kehidupan malam terbiasa dengan merokok, minuman dan memakai pakaian sek si. Tapi, jika karena itu alasannya, bukankah bisa saja dia tidak membawa Joice jika ingin bertemu dengan Luna? Itu yang masih ingin dia pertanyakan.


"Tapi ...."


Tok tok tok


"Assalamualaikum ...."


Suara ketukan pintu dan suara Airin yang terdengar dari arah pintu membuat Rey menghentikan ucapannya.


"Waalaikumsalam ..." sahut Gagah berbarengan dengan Rey.


"Papa ...!" Bersamaan dengan Gagah dan Rey membalas ucapan salam dari Airin, Luna berlari ke arah Gagah.


Apa yang dilakukan Luna terhadap Gagah sontak membuat Rey tertegun. Posisi Rey yang membelakangi pintu masuk membuat Luna tidak melihat keberadaan dirinya di ruangan kerja itu.


Hati Rey seakan tercubit melihat Luna berlari ke arah Gagah dan memeluk pria itu. sementara dirinya yang papa kandung Luna justru merasa terasingkan di ruangan itu. Bahkan hatinya terasa terca bik saat Luna bergelayut manja di tubuh Gagah dan langsung mencium pipi Luna.


Airin sendiri melirik ke arah Rey. Dia melihat saat Rey memperhatikan interaksi antara Gagah dengan Luna. Dia dapat melihat kekecewaan dari tatapan mata mantan suaminya itu.


"Luna sudah antar Nenek pulang?" tanya Gagah pada Luna yang bergelayut manja di pangkuannya dengan tangan melingkar di tengkuk Gagah. Luna duduk membelakangi Rey dan masih belum menyadari kehadiran Rey.

__ADS_1


"Udah, Pa." sahut Luna, "Pa, Luna mau main pelosotan, ya, Pa?" Luna meminta bermain di area permainan anak yang ada di mall Bintang Departemen Store.


"Mau main di sana?" tanya Gagah lagi.


"Iya, Pa." Luna mengangguk bersemangat.


"Ya sudah, sekarang Luna salim dulu sama Papa." Gagah menujuk ke arah Rey yang sejak tadi memperhatikan dirinya dan Luna.


"Papa Ley?" Luna turun dari pangkuan Gagah lalu berlari Rey saat menolehkan pandangan dan mendapati Rey di kursi seberang Gagah duduk.


"Luna anak Papa." Rey memeluk dan menciumi wajah Luna bertubi-tubi. Seakan menunjukkan jika dirinya begitu merindukan putrinya itu.


Airin memalingkan wajahnya. Dia tak ingin melihat interaksi Luna dengan Rey. Sejak dia mengetahui Rey berselingkuh sejak awal pernikanan mereka atau sebelum dirinya mempunyai Luna, dia menganggap rasa cinta Rey terhadap Luna hanya palsu belaka. Jika Rey menyanyangi Luna, tidak mungkin Rey akan bertahan berselingkuh bertahun-tahun di belakanganya.


"Tadi ada Nenek Ulan, Pa. Papa liat Nenek Ulan ndak?" Maksud ucapan Luna menanyakan apakah Rey bertemu Wulan atau tidak.


"Papa tidak ketemu dengan Nenek, Sayang. Pap sedang bekerja jadi Papa tidak bertemu dengan Nenek." Rey memberi alasan.


Airin memutar bola matanya mendengar alasan Rey yang hanya mengada-ngada, karena Wulan tiba di Jakarta sore, mungkin waktu bekerja Rey pun sudah selesai. Dia menebak jika Rey sedang menghabiskan waktu dengan sekingkuhannya itu.


"Apa kamu mengantar Bu Wulan sampai masuk bandara?" Gagah berdiri dan mendekat ke arah Airin. Pria itu lalu melingkarkan tangannya di pinggang ramping Airin lalu memberi kecupan di kening Airin.


"Oh ya, Airin. Pak Rey datang kemari membicarakan soal hak mengasuh Luna. Dan aku sudah menjelaskan kepada Pak Rey, jika sikap yang kamu ambil dengan membatasi pertemuan dengan Luna itu karena suatu alasan yang jelas." Di hadapan Airin, Gagah menjelaskan apa yang sudah dia bicarakan dengan Rey tadi.


"Coba kamu perjelas lagi, agar Pak Rey tidak mempunyai pikiran jika aku justru ikut mempengaruhi sikap kamu dalam hal ini," lanjut Gagah.


Airin melirik Rey dengan tatapan mata sinis. Bagaimanapun juga dia sulit untuk melupakan perselingkuhan yang sudah Rey lakukan terhadapnya.


"Aku tidak ingin Luna di sentuh wanita selingkuhan Papanya!" tegas Airin membuang pandangan ke arah lain dengan melipat tangan di dadanya.


"Jika ingin bertemu dengan Luna, nanti akan ada yang mengawasi. Aku tidak ingin Luna dibawa pergi jauh." Lalu Airin menyebutkan syarat yang harus dijalani oleh Rey jika ingin bertemu putrinya. Airin tidak perduli dianggap egois oleh Rey karena menghalangi hak Rey untuk bersama Luna. Lagipula perlakuan tegas itu hanya ia berikan kepada Rey, tidak dengan anggota keluarga Rey yang lain seperti Wulan.


"Luna mau main pelosotan cama Papa Gagah, Pa." Luna belum paham situasi yang terjadi, dan tidak menyadari jika apa yang dia ucapkan membuat hati Rey semakin panas. Kehadiran Gagah benar-benar membuat dirinya merasa tersisihkan, padahal Gagah baru saja menjadi Papa sambung Luna, bagaimana nanti ke depannya, bisa saja dirinya akan dilupakan oleh Luna.


"Pa, ayo main pelosotan cekalang!" Menoleh ke arah Gagah, Luna kembali mengajak Gagah untuk cepat mengajaknya ke area permainan anak.


"Maaf, Pak Rey. Kalau memang sudah tidak ada lagi yang ingin Anda bicara dengan saya, saya ingin membawa Luna ke Kidz Zone." Gagah menggunakan alasan Luna untuk menyuruh Rey pergi dari kantornya secara halus.

__ADS_1


"Luna mau main perosotan? Sama Papa saja ayo mainnya, biar nanti Papa Rey yang antar main perosotannya." Rey tidak mau kalah, hingga dia menawarkan diri untuk mengantar Luna bermain. Padahal hal itu akan membuat dirinya telat kembali ke kantornya.


"Iya, Pa. Cama Papa Ley aja," sahut Luna mengiyakan.


Sontak Airin dan Gagah saling berpandangan karena Luna menyetujui tawaran Rey. Airin tentu tidak setuju Luna bermain dengan Rey. Namun dengan anggukkan kepalanya, Gagah seolah menyuruh Airin membiarkan apa yang diinginkan Rey.


"Pak Gagah, Luna ingin saya temani bermain, biar saya saja yang mengantar Luna bermain." Merasa di atas angin karena Luna menyetujui tawarannya, dengan percaya diri Rey berkata kepada Gagah. Dia ingin Gagah dan Airin tahu jika anaknya itu sebenarnya masih ingin bersamanya. Dan agar mereka berdua tidak terus menghalangi dirinya bersama Luna.


"Silahkan saja, Pak Rey. Seperti yang dikatakan Airin tadi, Luna akan kami awasi." Gagah merangkulkan tangannya di pundak Airin, "Kita sekalian makan siang di luar ..." ucap Gagah pada Airin. Gagah dan Airin berencana mengawasi Luna dari are foodcourt yang ada di dekat area permainan anak di mall Bintang Departement Store.


***


Rey terlihat sibuk dengan panggilan di ponselnya. Terhitung sudah empat orang yang menghubunginya tadi. Padahal belum lima belas menit dia menemani Luna. Rey sendiri bahkan tidak konsen mengawasi Luna karena harus berbicara dengan orang-orang yang meneleponnya membahas urusan pekerjaan.


"Huwaaaa ... Papa ..." Bahkan saat Luna terjatuh pun Rey tidak menyadarinya, sebab ia terlalu sibuk dengan ponselnya.


"Pak, anaknya nangis, tuh! Jatuh ..." Seorang ibu menepuk pundak Rey dan menunjuk ke arah Luna yang sedang duduk sambil menangis.


"Pak Ben, maaf, saya putus dulu teleponnya. Nanti saya hubungi Pak Ben lagi." Rey segera mengakhiri panggilannya. Dia pun lalu berlari ke menghampiri Luna.


"Luna kenapa kamu, Nak?" Rey langsung menggendong Luna dan berusaha untuk menenangkan putrinya yang masih terus menangis.


"Maaf, Pak. Tadi anak Bapak didorong sama anak saya. Saya minta maaf, ya, Pak." Seorang wanita menghampiri Rey dan meminta maaf sebab anaknya telah membuat Luna terjatuh.


"Seharusnya anaknya dijaga, diawasi, Bu! Jadi tidak mencelakai orang lain!" Rey memarahi wanita yang secara baik-baik meminta maaf atas kesalahan anaknya. Tanpa berkaca jika dia sendiri pun tidak fokus mengawasi anaknya bermain. Rasa iri tak ingin kalah bersaing dengan Gagah di mata Luna membuat Rey terpaksa memakai waktu kerjanya untuk menemani Luna, padahal dia sendiri disibukkan dengan pekerjaannya.


"Iya, maaf, Pak." sahut wanita itu merasa menyesal.


"Mama ... Huwaaaa ..." Luna mencari keberadaan Mamanya.


"Luna sudah jangan menangis! Kalau jadi anak tidak boleh cengeng. Kalau ada anak yang nakalin Luna, Luna harus lawan jangan diam saja!" Bahkan Rey mengajarkan hal yang tidak baik terhadap anaknya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2