
"Bagaimana, Kal? Kamu bisa mengikuti pekerjaan di sini?" Sementara di ruang kerjanya, Gagah sedang berbincang dengan Haikal. Gagah menyuruh Haikal menghadapnya setelah istirahat makan siang. Dia ingin tahu apakah adik iparnya itu mengalami kesulitan di hari pertama bekerja di kantor pusat.
"Aku masih mempelajari, Kak. Semoga bisa aku kuasai dengan cepat," tekad Haikal tak ingin mengecewakan Gagah yang sudah memberikan kepercayaan kepadanya untuk mengembangkan karirnya di kantor pusat.
"Jika kamu ada kesulitan, jangan ragu untuk bertanya," saran Gagah.
"Baik, Kak." sahut Haikal.
"Oh ya, Kal. Apa kamu sudah punya kekasih?" Tiba-tiba Gagah mengorek hal pribadi Haikal.
Haikal terkesiap mendengar perkataan kakak iparnya itu. Tak menyangka jika pertanyaan itu akan terlontar dari mulut Gagah. Gagah yang dia kenal cukup serius, tak ia duga membahas perihal privasinya.
"Hmmm, sedang tidak ada, Kak." jawab Haikal, "Memangnya kenapa, Kak?" tanyanya kemudian.
Gagah mengembangkan senyuman penuh arti. Dia menyadari jika adik iparnya itu mempunyai tampang lumayan tampan. Tentu saja kehadiran Haikal di kantor itu akan menarik perhatian karyawati terutama yang masih berstatus single. Dan yang pasti, Gagah tidak ingin Haikal akan terjerat cinta dengan salah satu karyawan wanita di perusahaan itu, sebab ia berharap Haikal bisa bersama dengan Gadis.
"Aku ingin kamu fokus dengan pekerjaan di sini, jangan sampai terlibat cinta atau asmara dengan karyawati di sini. Aku yakin akan banyak karyawan wanita yang akan tertarik denganmu, Kal. Aku hanya menjaga agar jangan sampai terjadi persaingan antara karyawati di sini untuk mendapatkan perhatian kamu, karena hal itu akan berimbas pada pekerjaan mereka." Gagah sudah memberi ultimatum agar Haikal tidak meladeni atau merespon apa pun sikap dan godaan yang akan timbul dari karyawatinya. Hal tersebut dia lakukan untuk menjaga agar Haikal tidak tersentuh oleh perempuan lain selain Gadis.
"Baik, Kak." Agak aneh sebenarnya permintaan kakak iparnya itu bagi Haikal. Sebab menurutnya setiap orang berhak tertarik pada wanita atau pria mana pun juga, meskipun dalam lingkup perusahaan yang sama, asalkan saling memahami aturannya jika sampai melanjutkan ke jenjang pernikahan. Salah satu karyawan pasti ada yang harus mengundurkan diri dari perusahaan. Tapi, Haikal hanya bisa menuruti apa yang disyaratkan oleh kakak iparnya itu.
***
Sejak masuk kantor tadi, Gadis tidak keluar ruangan. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangannya, menyibukkan diri mengecek beberapa proposal yang harus dia pelajari sebelum ia tangan tangani.
"Wi, apa Gadis datang ke kantor?" Gagah keluar dari ruang kerjanya dan bertanya pada Dewi. Sebab hari ini dia tidak melihat penampakan Gadis masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Mbak Gadis ada di ruangannya, Pak." jawab Dewi, "Datang sejak jam istirahat," lanjutnya.
Gagah mengerutkan keningnya, dia heran sebab Gadis tidak masuk ke dalam ruangan kerjanya. Padahal setiap hari, Gadis biasanya selalu menyempatkan diri muncul di ruang kerja Gagah termasuk ketika mengantar dokumen yang sudah ia tandatangani.
__ADS_1
"Tumben sekali dia tidak kelihatan hari ini." Gagah melangkah ke arah ruang kerja Gadis.
Tok tok tok
Gagah menunggu Gadis membukakan pintu atau setidaknya Gadis menyuruhnya masuk. Dia tidak ingin terlalu lancang masuk ke dalam ruangan Gadis.
"Masuk ...!" Suara Gadis terdengar dari dalam ruangannya, membuat Gagah akhirnya membuka pintu ruang kerja Gadis.
"Kamu sedang mempelajari apa?" Gagah berjalan masuk ketika ia melihat Gadis serius dengan kertas-kertas di hadapannya.
"Aku sedang mempelajari proposal ini, Kak." Gadis menunjuk kertas yang dipegangnya.
"Apa ada yang masih belum kamu pahami?" tanya Gagah kemudian.
"Sejauh ini bisa aku pelajari," jawab Gadis.
"Aku datang setelah jam istirahat tadi," jawab Gadis serius. Entah mengapa, tiba-tiba merasa kesal pada Gagah, padahal Gagah tidak melakukan kesalahan padanya. Hanya karena mendapati foto Haikal bersama seorang wanita yang dia duga adalah kekasih Haikal.
"Aku tadi dapat data-data karyawan cabang yang hari ini mulai bekerja di sini dari Pak Jojo." Gadis mulai membahas soal karyawan yang baru bergabung di kantor pusat.
Kedua alis Gagah terangkat mendegar ucapkan Gadis, sebab dia yakin Pak Jojo tidak mungkin memberikan laporan kepada Gadis jika bukan karena Gadis sendiri yang memintanya.
"Apa ada yang ingin kamu tanyakan?" Gagah tahu, jika maksud perkataan Gadis berhubungan dengan Haikal. Jika Gadis sudah menerima data soal karyawan cabang yang dipanggil untuk bekerja di pusat, sudah pasti Gadis sudah tahu soal keberadaan Haikal di sana.
Gadis mengedikkan bahunya, tak perlu ia menyinggung soal Haikal karena itu akan membuat Gagah meledeknya saja. Apalagi menanyakan siapa wanita yang bersama Haikal.
"Tidak ada!" tegas Gadis kemudian.
"Apa kamu keberatan dengan salah satu karyawan yang terpilih berkarir di pusat?" tanya Gagah memancing.
__ADS_1
"Sepertinya semua orang yang direkomendasikan bekerja di sini adalah pilihan yang terbaik, kan?" sindir Gadis, sebab ia yakin pemilihan Haikal pasti karena hubungan dekat antara Gagah dengan Haikal. "Tapi setelah di sini, mereka akan aku pantau, jika kinerja mereka di sini tidak baik, aku akan kembalikan mereka ke cabang mereka masing-masing." Kalimat Gadis terindikasi ancaman. Sebab ia akan mengambil penuh peranannya sebagai bos di perusahaan itu.
Kening Gagah mengerut, tak mengerti kenapa Gadis membuat pernyataan demikian. Biasanya Gadis akan meminta pendapatnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Dia menduga, mungkin Gadis tidak menyukai kehadiran Haikal di kantor pusat. Gadis tidak secara terang-terang menentang keputusannya hanya saja memberi sinyal akan memulangkan Haikal kembali ke Yogyakarta.
"Baiklah, jika kamu ingin seperti itu, aku setuju saja." Namun, Gagah tidak mempermasalahkan keputusan Gadis, dia harus bersikap profesional. Saat ini, Gadis lah yang mempunyai kuasa penuh atas Bintang Departement Store.
Gagah lalu bangkit dan berjalan ke arah pintu ingin keluar dari ruangan Gadis. Tidak ada rasa marah atas keputusan Gadis. Gagah hanya ingin kembali ke ruang kerjanya karena ingin bersiap untuk pulang.
"Kak Gagah!" Langkah Gagah tertahan ketika Gadis memanggilnya, hingga membuat pria tampan itu menoleh ke arah Gadis.
"Apa Kak Gagah marah?" Ada rasa khawatir di hati Gadis jika Gagah akan tersinggung dengan ucapannya tadi. Dia seakan tersadar jika kehadiran Gagah di perusahaan milik Papanya itu sangat penting. Gadis cemas jika Gagah akan sakit hati merasa dilangkahi dalam mengambil keputusan, Gagah akan hengkang dari perusahaan retail milik papanya. Tentu saja hal itu adalah suatu kerugian bagi BDS.
Gagah memicingkan matanya hingga membuat kedua alisnya bertautan.
"Marah? Karena apa?" tanya Gagah heran.
"Karena aku ambil keputusan itu tanpa berdiskusi dulu dengan Kakak," ujar Gadis menyesal.
"Tidak masalah buat saya. Tindakan kamu itu sudah sangat tepat." Gagah mengulum senyuman sebelum meninggalkan ruangan Gadis.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1