JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Aman Terkendali


__ADS_3

Gadis turun dari mobil yang berhenti di depan lobby kantor Bintang Departement Store. Dia melangkah masuk dan membalas sapaan para pegawainya, dari security sampai staff yang ia lewati sampai ia masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai di mana ruangannya berada.


Ting


Hingga bunyi pintu lift terdengar dan terbuka, Gadis pun segera melangkah ke luar menuju ruang kerjanya. Dia tidak tahu jika ada kejutan besar menantinya saat itu.


"Selamat pagi, Mbak Gadis." Dewi menyapa Gadis ketika melihat kemunculan Gadis dari lift.


"Pagi, Mbak." Gadis membalas sapaan Dewi dengan mengembangkan senyuman lalu membelokkan langkahnya ke arah ruang kerjanya. Namun seketika langkahnya terhenti dengan bola mata membulat lebar saat melihat keberadaan sosok Haikal di depan ruang kerjanya. Apalagi dia pun melihat ada meja dan kursi kerja yang diduduki oleh Haikal. Dia tidak tahu apa yang dilakukan Haikal di meja itu, tapi ia menduga-duga jika Haikal ditugaskan menjadi asisten pribadinya.


"Selamat pagi, Mbak." Haikal langsung bangkit dan menyapa Gadis. Haikal tidak ingin berbuat kesalahan di hari pertama tugasnya itu, terutama membuat mood bosnya itu membentuk, sebab sejak pertama bertemu dengannya, Gadis selalu merespon buruk dirinya.


Bukannya membalas sapaan Haikal, Gadis justru bergegas masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu rapat-rapat. Gadis menyandarkan punggungnya di pintu dengan memegang dadanya.


"Ya ampun, kenapa dia ada di sana?" Gadis berusaha mengatur degup jantungnya yang berdetak kencang dengan menarik nafas dan menghempaskan ya perlahan. Dia mencoba berpikir, bagaimana Haikal bisa ada di depan ruang kerjanya? Apa Gagah yang menyuruh Haikal menjadi asistennya? Tapi, bagaimana Gagah bisa tahu dirinya yang menginginkan Haikal? Apa jangan-jangan Gagah tahu jika semua itu hanya akal-akalannya? Apa Gagah benar-benar tahu jika dirinya memang tertarik pada Haikal? Berbagai pertanyaan berkelebat di dalam otaknya.


Gadis bergerak ke arah jendela, mengintip ke arah luar ruangan, terlihat Haikal duduk di depan ruangannya. Tanpa sadar senyuman mengembang di bibirnya dengan semburat merah menghiasi wajahnya. Gadis selayaknya remaja belia yang sedang terkena panah asmara, hanya dengan melihatnya saja, hatinya sudah langsung berbunga-bunga.


"Kalau dia benar jadi asistenku, aku harus kasih tugas apa, ya?" Gadis berjalan mondar-mandir dengan menggi git kuku jarinya, seketika ia merasa salah tingkah. Apalagi jantungnya saat ini sedang melompat-lompat tak dapat ia kendalikan.


Gadis menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Dia harus bersikap senormal mungkin agar Haikal tidak mengetahui jika berada dekat dengan Haikal membuat jantungnya berdetak cukup kencang.


Dia lalu mengambil ponsel di tasnya, lalu mencari nomer kontak Dewi untuk menyuruh sekretarisnya itu menghadapnya saat ini.


"Mbak Dewi, tolong ke ruanganku sebentar!" Setelah memberikan perintah, Gadis menaruh kembali ponsel  ke dalam tas. Dia pun lalu berjalan ke arah meja kerjanya.


Tok tok tok


"Ada apa, Mbak Gadis?" tanya Dewi ketika masuk ke dalam ruangan Gadis.


"Mbak, kenapa adik ipar Kak Gagah ada di depan ruangan saya?" tanya Gadis memastikan jika keberadaan Haikal memang sebagai asistennya.


"Kata Pak Gagah mulai hari ini Haikal akan menjadi asisten pribadi Mbak Gadis." Dewi menerangkan tugas yang akan dijalani oleh Haikal.


"Asistenku?" Berpura-pura terkejut dengan membelalakkan mata, namun di dalam hatinya Gadis melonjak kegirangan.


"Benar, Mbak." sahut Dewi.


"Memang dia mau mengerjakan apa? Pekerjaanku di sini tidak banyak, kok." Gadis berkilah jika dirinya tidak membutuhkan seseorang untuk membantunya bertugas.


"Kalau itu saya kurang paham, Mbak. Saya hanya diberitahu jika semua pekerjaan yang saya handle berkaitan dengan Mbak Gadis akan dilimpahkan pada Haikal." Dewi lalu memaparkan apa yang dikatakan Gagah kepadanya soal tugas Haikal.


"Mbak Dewi sudah menjelaskan semua jadwal saya ke dia?" tanya Gadis kembali.


"Sudah, Mbak. Termasuk apa saja dokumen yang harus dicek dan ditandatangani oleh Mbak Gadis," papar Dewi kembali.


" Oke, oke, Mbak Gadis boleh kembali ke meja." Setelah mendapat penjelasan dari Dewi, Gadis mempersilahkan Dewi untuk keluar dari ruangannya.

__ADS_1


"Baik, Mbak. Permisi." pamit Dewi.


"Eh, tunggu dulu, Mbak. Tolong panggilkan dia suruh masuk, dong! Aku ingin kasih tahu apa yang harus dia kerjakan." Gadis berdalih ingin memberi penjelasan kepada Haikal, padahal itu hanya alasan jika sebenarnya dia ingin lebih dekat dengan Haikal.


Gadis menganggap Haikal terlalu kaku dalam bersikap kepadanya, meskipun dirinya adalah bos di perusahaan itu, namun beberapa karyawan di sana bersikap lebih santai namun tetap hormat kepadanya.


"Baik, Mbak." Dewi berjalan keluar dari ruangan Gadis.


Gadis mengambil compact powder dari tasnya, dia merapihkan riasan tipis di wajah dan juga merapihahkan rambutnya yang terurai panjang. Tentu saja itu ia lakukan karena ia ingin terlihat cantik di depan Haikal.


Tok tok tok


Gadis buru-buru menaruh Compact powder ke dalam tas kembali mendegar pintu ruangannya diketuk.


"Maaf, Mbak panggil saya?" tanya Haikal.


Sosok Haikal muncul dari balik pintu, hingga membuat Gadis begitu terpesona melihat ketampanan pria itu.


"Ya Tuhan, ganteng maksimal sekali dia." Tanpa sadar Gadis terpaku, tanpa ia sadari terus saja menatap wajah Haikal.


"Maaf, Mbak tadi memanggil saya?"


Pertanyaan kedua dari Haikal membuat Gadis mengerjapkan matanya dan tersadar jika dirinya seolah terhipnotis dengan pesona pria tampan di hadapannya saat ini.


"Hmmm, silahkan duduk!" Gadis buru-buru mempersilahkan Haikal duduk sambil memalingkan wajah tak ingin menatap Haikal, sebab ia tidak ingin Haikal tahu kika saat ini wajahnya sudah bersemu merah.


Haikal tentu saja melihat wajah cantik Gadis yang merona, bahkan dia harus menahan tawa melihat Gadis salah tingkah berhadapan dengannya. Dia pun teringat apa yang dikatakan oleh Gagah soal kemungkinan Gadis yang menyukainya.


"Bagaimana, Mbak? Apa yang harus saya kerjakan?" tanya Haikal.


"Ehemm ..." Gadis memperbaiki duduknya agar terlihat berwibawa, "Aku tidak tahu kenapa Kak Gagah memberi tugas pada kamu untuk menjadi asistenku. Tapi, aku tidak ingin orang yang menjadi asistenku itu asal-asal saja dalam bekerja. Meskipun kamu adalah adik ipar Kak Gagah, tapi kalau tidak bekerja dengan baik, bukan tidak mungkin kamu akan aku berhentikan," ujar Gadis dengan nada tegas seolah tak menganggap Haikal penting baginya, padahal dirinya justru senang bisa dekat dengan Haikal.


"Baik, Mbak." Meskipun mengerti apa yang dikatakan Gadis, namun Haikal cukup merinding mendengar ancaman Gadis.


"Mbak Dewi sudah beritahu apa saja tugas kamu, kan?" Gadis mengambil pulpen dan memainkan pulpen itu dengan jarinya untuk menyamarkan rasa groginya berhadapan dengan Haikal.


"Mbak Dewi sudah memberitahu semua, Mbak." jawab Haikal.


"Oke ..." ucap Gadis menganggukkan kepala. Dia bingung ingin menanyakan apalagi pada Hakial hingga mereka berdua saling diam dan hening beberapa saat.


"Ada lagi yang ingin Mbak sampaikan?" tanya Haikal, sebab Gadis tak berkata-kata lagi.


"Hmmm, tidak ada," jawab Gadis.


"Apa saya bisa kembali ke meja saya, Mbak?" tanya Haikal kemudian.


"Tunggu dulu, saya belum selesai!" Gadis melarang Haikal yang ingin pergi dari hadapannya.

__ADS_1


Tentulah Haikal terheran dengan sikap Gadis. Padahal baru saja bosnya itu mengatakan tidak ada yang ingin dikatakan lagi padanya, namun dia dilarang meninggalkan ruangan itu.


"Oh, baik, Mbak." Haikal mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruang kerja Gadis. "Ada hal lain yang ingin Mbak Gadis sampaikan?" tanyanya kemudian.


"Hmmm ..." Gadis mengetuk-ngetuk meja dengan pensil di tangannya. "Kamu kembali saja ke meja kamu, deh! Aku lupa tadi mau bicara apa?!" Gadis masih belum tahu apa yang ingin ia katakan pada Haikal, sebab berdekatan dengan Haikal seakan membuatnya tiba-tiba menderita amnesia.


"Baik, Mbak." Haikal bangkit dari duduk ingin meninggalkan ruangan Gadis, tapi ia teringat ada sesuatu yang ingin ia tanyakan pada bosnya itu. "Maaf, Mbak. Untuk jam kerja saya, apa sesuai jam kantor saja?" tanya Haikal memastikan.


Mendengar pertanyaan Haikal membuat Gadis mendapatkan ide untuk memberi tugas pada pria itu.


"Kamu bisa mengendarai mobil, tidak?" tanyanya.


"Saya bisa, Mbak." jawab Haikal.


"Oke, kalau begitu sebelum ke kantor kamu ke rumahku dulu, nanti kita berangkat dari rumahku. Begitu juga saat pulang kamu antar aku pulang ke rumah, dan kamu bisa langsung pulang ke tempat kamu." Gadis menyebut tugas tambahan yang harus dikerjakan oleh Haikal.


Tepat seperti dugaan Gagah, Gadis benar meminta Haikal menjemput dan mengantar beraktivitas ke kantor tiap harinya.


"Baik, Mbak." Tak mungkin Haikal menolak perintah Gadis.


Sementara di luar ruangan Gadis, Gagah baru saja sampai di kantor. Dia melihat meja Haikal terlihat kosong.


"Selamat pagi, Pak." sapa Dewi pada Gagah.


"Pagi," jawab Gagah, "Apa Haikal masih di bawah, Wi?" Gagah mengira Haikal masih ada di ruangan marketing.


"Haikal ada di ruangan Mbak Gadis, Pak." sahut Dewi.


"Ada di dalam?" Gagah menunjuk ruangan Gadis, "Gadis sudah datang?" tanyanya kemudian.


"Sudah, Pak." jawab Dewi lagi.


Gagah mengembangkan senyum tipis, dia tak melihat ada keributan dari dalam ruangan kerja Gadis, sehingga ia menganggap semuanya aman terkendali.


"Ya sudah." Gagah melanjutkan langkahnya menuju ruangan, dia memilih membiarkan mereka, tidak ingin mengganggu Haikal dan Gadis. Mungkin ia akan tanyakan pada Haikal nanti di jam istirahat soal respon Gadis saat mengetahui Haikal dia pilih menjadi asisten pribadi Gadis.


*


*


*


Bersambung ...


Untuk readers yg ingin kepoin karya2 REZ Zha silahkan kepoin akun sosmednya 👇


IG : rez.zha29

__ADS_1


FB : Rez Zha


Happy Reading❤️


__ADS_2