JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Buka Hati Dulu


__ADS_3

Di saat Gagah sedang berusaha mengakrabkan diri dengan Luna sampai menumpang makan siang di rumah Om Fajar. Airin justru pergi makan siang dengan Fany di sebuah kedai bakso, karena Fany masih penasaran soal Gagah yang mengantar dan menjemput Airin ke kantor.


"Rin, kok' kamu bisa sama Pak Gagah, sih? Dia itu bos perusahaan retail Bintang Departement Store, lho!" Fany ingat secara mendetail soal Gagah. Dari tampang dan penampilan yang menawan, dan juga nama yang unik, serta jabatan yang disandang oleh Gagah. Tidak mudah baginya mengabaikan sosok pria tampan yang dia anggap istimewa itu begitu saja.


"Pak Gagah itu anak dari sahabat Tanteku, Fan." jawab Airin.


"Lalu, kenapa dia bisa antar jemput kamu?" tanya Fany penasaran. "Tidak mungkin jika tidak ada sesuatu, kan?" Fany curiga ada sesuatu yang spesial antara Gagah dan Airin.


Airin tak langsung menjawab pertanyaan Fany, dia masih ragu untuk menceritakan alasan Gagah mengantar dan menjemputnya beraktivitas kepada Fany.


"Kamu bisa cerita ke aku, Rin. Tenang saja, aku tidak akan kasih tahu yang lain, kok! Kalau soal status kamu, aku terpaksa memberitahu, agar orang tidak beranggapan jelek ke kamu." Fany beralasan kenapa dia sampai membuka soal status Airin kepada rekan-rekan kerjanya.


"Teman Tanteku itu ingin menjodohkan aku dengan Pak Gagah, Fan." Airin tidak dapat terus menghindar dari pertanyaan Fany. Dia juga tidak mungkin bisa terus berbohong. Fany bukanlah anak kecil, Fany pasti akan curiga jika Airin berkata yang tidak jujur soal Gagah.


"Serius, Rin?" Bola mata Fany terbelalak lebar mendengar pengakuan Airin tentang hubungannya dengan Gagah.


"Kamu dijodohkan dengan Pak Gagah? Oh my God, mimpi apa kamu, Rin? Kamu bakal jadi istri bos besar." Fany terlihat excited dengan pengakuan Airin.


"Sumpah, Rin. Awalnya aku kecewa kamu bercerai dengan Mas Rey. Tapi, kalau dapat gantinya kayak Pak Gagah, wuih ... itu hoki banget, lho, Rin! Bukan kaleng-kaleng dapatnya." Fany menyebut Airin seperti mendapat durian runtuh karena mendapatkan Gagah.


Airin mendesah, sudah dia duga jika Fany akan bereaksi seperti yang lain, menganggap Gagah adalah calon pendamping yang terbaik untuknya.


"Oh ya, apa Pak Gagah dan keluarganya sudah tahu soal status kamu, Rin?" tanya Fany sambil memasukkan bakso ke dalam mulutnya.


"Sudah," jawab Airin.


"Mereka tidak masalah?" tanya Fany lagi.


"Sepertinya memang begitu." Bukan hanya sepertinya, keluarga Gagah memang benar-benar tidak memperdulikan status yang disandang oleh Airin saat ini. Antara Gagah dan Keluarganya kelihatan sama-sama terpikat pada Airin.


"Wah, bagus kalau begitu, Rin. Kamu jangan sia-siakan Pak Gagah, Rin." Fany seperti orang-orang terdekat Airin yang mendukung Airin bisa berjodoh dengan Gagah.


"Aku baru bercerai, Fan. Apa orang bilang kalau aku menjalin hubungan dengan pria lain?" Airin ingin Fany mengerti posisinya saat ini.


"Kamu sudah empat bulan cerai, kan? Sudah lewat masa Iddah, aku rasa tidak masalah kamu dekat dengan pria lain." Fany menerangkan.


"Aku tahu, Fan. Hanya saja, pasti akan ada orang yang beranggapan buruk tentangku." Airin masih belum bisa menghilangkan rasa insecure dalam hatinya.


"Jangan jadikan omongan orang sebagai penghalang untuk mendapatkan kebahagiaanmu, Rin. Justru kamu harus mengambil kesempatan ini untuk menunjukkan kepada Mas Rey, jika kamu bisa mendapatkan pria yang jauh melebihi Mas Rey. Buat dia menyesal telah mengkhianati kamu!" Fany seakan memba kar motivasi Airin agar tidak takut dengan pergunjingan orang. Apalagi yang dilakukan Airin bukanlah suatu hal yang melanggar hukum.


"Entahlah, Fan. Aku ragu ..." Airin berkecil hati.


"Rin, kamu punya Luna. Kamu juga harus memikirkan anakmu. Dia bukan hanya butuh biaya ke depannya, tapi juga butuh figur Papa yang baik. Apalagi anakmu itu perempuan. Jika kelak dia dewasa nanti, jangan sampai ada rasa trauma karena kelakuan Papanya terhadapmu, dan itu bisa mempengaruhi Luna dalam mengambil keputusan untuk berumah tangga jika sudah dewasa." Fany mengingatkan pentingnya figur Papa untuk seorang anak, khususnya anak perempuan.


"Kalau aku jadi kamu, aku tidak pikir panjang lagi, Rin! Aku terima Pak Gagah itu jadi calon Papa sambung Luna." Fany nampak bersemangat, dan mengumpamakan seandainya dia lah yang dijodohkan dengan Gagah.


Airin tersenyum tipis menanggapi ucapan Fany, sayangnya dia tidak bisa serileks Fany dalam menghadapi masalahnya saat ini.


Ddrrtt ddrrtt


Airin mengambil ponsel di meja ketika terdengar benda itu berbunyi. Dia melihat pesan masuk dari Tante Mira di ponselnya. Airin segera membuka pesan dari Tantenya itu.


Airin terbelalak melihat pesan Tante Mira, yang berupa pesan gambar. Pesan gambar yang memperlihatkan foto Luna yang duduk di samping Gagah di meja makan rumah Om Fajar.


Luna terlihat memeluk sebuah boneka yang baru pertama kali Airin lihat. Pandangan Luna mengarah pada Gagah yang sedang menikmati makanan.


"Ya ampun, apa yang dia lakukan di rumah Om Fajar?" batin Airin segera mengetikkan balasan terhadap pesan gambar Tante Mira.


"Tante, Pak Gagah ada di rumah? Dia masih di sana sekarang?" balas Airin.

__ADS_1


"Kenapa, Rin?" Fany dapat melihat kecemasan Airin.


Airin lalu menunjukkan foto Gagah bersama Luna kepada Fany. Dia sudah kadung bercerita kepada rekan kerjanya itu.


Sama seperti Airin, Fany pun seketika tercengang melihat foto Gagah dengan Luna yang nampak akrab.


"Itu Pak Gagah dan Luna?" Fany bahkan mengambil ponsel Airin dan memperbesar pesan gambar itu dengan mengerakkan jarinya di layar ponsel.


"Iya," sahut Airin.


"Di mana itu, Rin? Kapan?" Fany mengembalikan ponsel pada Airin.


"Sekarang ini di rumah Om ku." Airin melirik ponselnya menunggu balasan pesan dari Tante Mira yang tak kunjung muncul.


"Sampai segitunya?" Fany tak percaya perhatian Gagah untuk mendapatkan Airin begitu maksimal, sampai berkunjung ke rumah tinggal Airin dan menemui Luna.


"Iya, dia itu nekat banget, Fan." keluh Airin diakhiri dengan de sahan.


"Itu tandanya Pak Gagah serius, Rin. Sudahlah, Rin. Apa lagi yang kamu cari? Apalagi keluarganya mendukung dan menerima kamu." Berusaha mempengaruhi Airin, Fany mencoba meyakinkan temannya itu agar tidak ragu untuk menerima Gagah.


Airin mendesah, siapa pun yang mengetahui masalahnya dengan Gagah, selalu mendukung pria itu. Apakah artinya dia harus membuka hati untuk Gagah? Dan mengabaikan orang yang akan menggunjingkannya. Entahlah, yang pasti saat ini hati Airin dilanda gelisah.


***


Bagus melirik ke arah pintu ruangannya saat seseorang masuk ke dalam ruangan kerjanya. Sosok Tegar lah yang kini tertangkap matanya.


"Assalamualaikum, Mas." sapa Tegar berjalan ke arah sofa, lalu mendudukkan tubuhnya di sofa di ruangan kerja Bagus.


"Waalaikumsalam, dari mana kamu, Gar?" Bagus bangkit dari kursi lalu berjalan ke arah sofa menyusul Tegar.


"Kebetulan mampir saja, Mas. Tadi baru bertemu klien," sahut putra kedua Prasetyo dan Widya itu.


"Maksudmu, keponakan temannya Mama itu? Bukannya dia menolak?" Walaupun Bagus belum sempat bertemu langsung, namun istrinya banyak cerita soal Airin kepada Bagus.


"Menolak di depan, mengejar di belakang." Tegar tertawa terbahak menganggap sikap adiknya yang menurutnya konyol.


"Kenapa Gagah seperti itu? Bukankah Mama menyetujui? Kenapa harus sembunyi-sembunyi?" Bagus heran dengan sikap Gagah.


"Dia beralasan tidak ingin direcoki oleh Mama," jelas Tegar.


"Lalu?" Bagus mulai penasaran dengan kisah percintaan Gagah.


"Yang jadi masalah, janda muda itu ogah-ogahan didekati Gagah, Mas. Karena adik Mas Bagus itu terlalu memaksa dan membuat wanita itu tidak nyaman didekati Gagah. Tapi, aku sudah kasih tips ke Gagah, cara menaklukan hati janda muda itu," tutur Tegar.


"Gagah bertemu guru yang tepat," sindir Bagus karena sangat mengenal sikap Tegar. "Asal kau tidak mengajarkan hal yang tidak benar saja!" cibir Bagus kembali.


"Hahaha, mengajarkan yang tidak baik seperti apa, Mas?" Sudah pasti Tegar paham maksud kakaknya. "Aku hanya berusaha menolong saudara." Tawa Tegar masih belum hilang.


"Apa Mas Bagus sudah pernah melihat Airin? Fotonya?" tanya Tegar.


"Tidak, aku belum pernah lihat. Tapi, Ayu bilang dia cantik." Saat acara undangan makan malam, Bagus memang berhalangan hadir.


"Bukan cantik saja, Mas. Tapi begini." Tegar mengangkat kedua ibu jarinya bersamaan. "Kalau aku belum nikah saja, aku mau dikasih dia." Tawa Tegar makin kencang mengakhiri kelakarnya.


Bagus hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya yang sejak remaja terkenal playboy itu.


"Ingat anak-anakmu, Gar!" tegur Bagus kemudian.


"Sudah pasti ingatlah, Mas! Aku bilang 'kan, kalau aku belum menikah." Tegar berkilah dengan menyeringai.

__ADS_1


"Kamu sudah makan, Gar?" tanya Bagus.


"Sudah tadi sekalian bertemu klien," jawab Tegar.


"Aku mau sholat Dzuhur dulu, terus makan siang." Tak bermaksud mengusir adiknya, Bagus mengatakan apa yang ingin dia kerjakan saat ini, lalu bangkit dari sofa.


"Kalau begitu aku pulang, deh, Mas." Tegar ikut bangkit dan berpamitan kembali ke kantornya.


"Ya sudah, hati-hati," sahut Bagus.


"Oke, Mas. Assalamualaikum ..." pamit Tegar.


"Waalaikumsalam ..." sahut Bagus mengantar Tegar sampai pintu ruangan kerjanya.


***


"Mama ...! Om Gagah kacih Luna boneka balu, Ma." Ketika Airin sampai di rumah saat pulang kerja, Luna langsung menyambut dengan berlari sambil memperlihatkan boneka pemberian Gagah padanya.


"Ini temannya Mona, Ma. Ateu Peby bilang namanya Nola. Bonekanya bagus ya, Ma?" Jangankan Luna yang anak kecil, Airin saja senang melihat boneka itu.


"Luna, Mama mau mandi dulu. Luna sama Nenek dulu sini." Tante Mira menggandeng Luna agar tidak menghalangi Airin yang ingin membersihkan tubuhnya lebih dulu sepulang beraktivitas.


"Tidak apa-apa, Tante." Airin lalu mengangkat putrinya dan mendudukkan Luna di lengannya.


"Tadi Om Gagah ke sini?" Airin bertanya pada Luna seolah dia tidak tahu.


"Iya, Mama. Om Gagah ke cini kacih boneka ke Luna. Telus Nenek culuh Om Gagah makan." Luna mencetitakan apa yang terjadi siang tadi pada Mamanya.


Pandangan mata Luna kini mengarah ke Tante Mira. Sampai sebelum pulang tadi, pesannya pada Tante Mira tidak juga mendapatkan balasan, hingga membuat dirinya menasaran.


"Apa Pak Gagah lama di sini, Tante?" tanya Airin pada Tante Mira.


"Sekitar setengah jam," jawab Tante Mira.


"Pak Gagah bilang apa, Tante?" Airin yakin jika kedatangan Gagah bukan hanya sekedar ingin bertemu dengan Luna saja.


"Gagah banyak mengobrol dengan Luna," jawab Tante Mira kembali. "Sepertinya dia serius, Rin. Luna sendiri kelihatannya bisa menerima Gagah," sambungnya.


Airin kini menoleh ke arah putrinya. Luna saat ini memeluk erat boneka barunya itu.


"Aku takut, Tante." Airin mengutarakan rasa khawatirnya.


"Bismillah saja, Rin. Tidak perlu tergesa-gesa untuk melangkah ke jenjang setius, setidaknya kamu buka hati dulu untuk Gagah. Biarkan dia tunjukkan kesungguhannya terhadap kalian." Tante Mira menepuk pundak Airin. Tidak Fany, tidak kedua sahabatnya, Liliana dan Ambar, juga Tantenya. Semuanya mendukung dirinya untuk menerima Gagah.


"Iya, Tante." Airin menurunkan Luna kembali, karena dia ingin ke kamarnya dan mandi. "Mama mau mandi dulu, ya!" Airin mengusap kepala Luna, lalu berjalan ke arah tangga menuju kamarnya.


Airin meletakkan tas di atas meja, lalu melepas blazernya kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Semakin hari, semakin banyak saja orang-orang yang mendukungnya bersama Gagah.


Airin mendesah seraya mengusap kasar wajahnya. Dia benar-benar dibuat galau dengan kehadiran Gagah di dekatnya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2