JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Minum Jamu Kuat Agar Tidak Cepat Loyo


__ADS_3

Hari yang ditunggu akhirnya datang juga. Dengan rias pengantin paes Ageng Jogya, Airin menjelma seperti seorang putri keraton nan anggun berbalut kebaya berwarna broken white. Aura kecantikan wanita itu seolah terpancar seperti seorang gadis yang akan dipersunting pangeran. Tak akan ada yang menduga jika statusnya adalah janda yang sudah memilik putri berusia tiga tahun.


"Mama ...!" Pintu kamar Airin terbuka, suara Luna terdengar bersamaan dengan munculnya bocah cilik yang memakai gaun berwarna senada dengan kebaya yang dipakai Airin. Putri Airin itu pun sudah dirias tipis menggunakan alis, eyes shadow, blush on juga lipstik dengan rambut diberi pita.


"Mama mana?" Luna bingung, karena ia tak menjumpai sosok Mamanya di kamar itu.


"Ini Mama, Luna. Sini-sini ... anak Mama sudah cantik ini, ya!?" Airin menyuruh Luna mendekat ke arahnya.


Kening Luna berkerut melihat penampilan aneh Mamanya.


"Mama mau ke mana?" Luna menatap heran Mamanya karena penampilan Airin yang tak biasa. Dengan riasan wajah dan rambut yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


"Ini anaknya, Mbak?" MUA itu terkejut saat mengetahui Airin ternyata sudah mempunyai anak.


"Iya, Mbak." sahut Airin tersipu.


"Tapi Mbak auranya seperti masih gadis, lho, Mbak." MUA itu hampir tak percaya. Dia sama sekali tak curiga melihat banyak mainan anak di kamar itu.


"Saya sudah dua puluh tujuh tahun, Mbak. Sudah tua." Airin merendah, tak ingin berbangga disebut terlihat masih seperti gadis.


"Ah, tidak, kok, Mbak. Saya sering merias pengantin. Kadang saya melihat wanita yang masih single, belum pernah menikah sebelumnya, tapi aura gadisnya tidak keluar. Tapi Mbak Airin ini, sudah pernah menikah sebelumnya dan sudah punya anak, tapi justru auranya terpancar. Seperti gadis yang baru pertama kali menikah, makanya saya bilang begitu tadi." Mbak MUA menuturkan pengalamannya selama menjadi MUA pengantin.


"Terima kasih atas pujiannya, Mbak." Airin mengulum senyuman, lalu kembali menoleh ke arah Luna yang terlihat mengerutkan kening hingga matanya menyipit.


"Mama mau ke mana, cih? Kok muka cama lambutnya gitu?" tanya Luna heran.


"Mama mau ke rumah Eyang Widya. Katanya Luna ingin Om Gagah jadi Papa baru Luna." Tangan Airin mengusap pipi chubby Luna.


"Mulai hari ini, Om Gagah akan jadi Papa Luna. Mulai hari ini, kita akan tinggal sama Om Gagah, dan Om Gagah akan menemani Luna setiap hari," sambung Airin menuturkan alasannya berpakaian pengantin seperti saat ini.


"Hole, Om Gagah jadi Papa balu Luna." Luna melompak kegirangan.


Airin dan Mbak MUA saling berpandangan dan melempar senyuman melihat sikap Luna.


"Adik senang sekali mau punya Papa baru, ya?" tanya Mbak MUA pada Luna.


"Cenang, Ateu." sahut Luna riang.


"Rin, apa sudah selesai?" Suara Ibu Heny terdengar dari pintu kamar Airin, menanyakan apakah Airin sudah selesai dirias.


"Sudah selesai, Bu." Mbak MUA yang menjawab. Dia lalu membantu Airin bangkit dari kursi.


"Kita berangkat sekarang saja kalau kamu sudah siap. Supir keluarga Pak Prasetyo sudah tiba dari tadi." Ibu Heny memutuskan untuk pergi menuju rumah keluarga Prasetyo secepatnya jika Airin sudah selesai dirias.


"Sini Luna sama Nenek." Tante Mira yang ikut di belakang Ibu Heny menggandeng tangan Luna, sementara Airin dibantu Ibu Heny dan Mbak MUA turun ke bawah, untuk bersiap pergi ke rumah orang tua Gagah untuk pelaksanaan akad nikah.


Airin di dampingi Pak Baskoro dan Ibu Heny juga Luna berada di dalam mobil milik keluarga Prasetyo yang dikendarai oleh Sobirin. Sementara keluarga Om Fajar dan Haikal mengendarai mobil sendiri. Begitu juga rombongan anak tertua Om Fajar dan juga keluarga dari adik Pak Baskoro yang menjadi saksi pernikahan Airin. Ada juga mobil keluarga Liliana dan Ambar yang memakai satu mobil. Rombongan enam mobil itu berjalan beriringan menuju rumah yang akan dijadikan tempat akad nikah Airin dan Gagah.


Degup jantung Airin tak dapat dikendalikan selama perjalanan menuju tempat acara. Bahkan mungkin lebih grogi dari pernikahan pertamanya dengan Rey. Status sosial yang jauh berbeda antara dirinya dan Gagah membuat dirinya tidak bisa bersikap percaya diri, berbeda dengan pernikahannya dengan Rey terdahulu. Walau baru pertama menikah, namun ia sudah mengenal hampir seluruh keluarga Rey. Tak ada rasa takut akan menjadi pergunjingan keluarga seperti yang ia rasakan saat ini.


Airin mendesah, telapak tangannya yang terasa dingin karena gugup, memilin sapu tangan dalam genggamannya.


Hanya suara Luna yang terdengar tak berhenti menyanyi di dalam mobil yang membawa Airin ke rumah Gagah. Dan sesekali Ibu Heny ataupun Airin menjawab pertanyaan bocah itu. Begitu juga Pak Baskoro yang hanya bertanya seperlunya kepada Sobirin, karena ia tidak ingin mengganggu konsentrasi Sobirin yang terlihat tegang karena mendapat tugas menjemput pengantin.


Jalanan yang tak terlalu ramai membuat rombongan keluarga mempelai wanita lebih cepat sampai di rumah Prasetyo. Setelah mobil mobil terparkir, dibantu oleh kedua orang tuanya turun dari mobil.


"Assalamualaikum ..." Pak Baskoro dan Ibu Heny mengucapkan salam saat melihat keluarga Prasetyo telah menyambutnya.


"Waalaikumsalam, mari silahkan Pak Baskoro ...."


Prasetyo dan keluarganya menyambut keluarga Pak Baskoro, lalu mengenalkan keluarganya kepada keluarga Airin, juga mengenalkan Airin, yang akan menjadi istri Gagah pada keluarga besarnya.


Setelah perkenalan selesai, mata Airin mencari keberadaan pria yang akan menjadi pendamping hidupnya. Hingga ia mendapati pria itu berjalan mendekat dengan pandangan lekat menatap ke arahnya tanpa berkedip.


***


Di dalam ruangan tamu, Gagah terlihat gelisah. Beberapa kali melirik arloji di tangannya, padahal ia tahu, acara akad nikah masih sekitar setengah jam lagi dari waktu yang dijadwalkan.


"Sabarlah, Gah. Sebentar lagi juga resmi, malamnya bisa sudah kamu ajak tidur janda muda itu," bisik Tegar melihat kegelisahan Gagah yang tak sabar, dibarengi dengan tepukan di pundak Gagah membuat adiknya itu terkesiap.


"Dia itu punya nama, Mas!" Gagah memprotes kakaknya yang selalu mengolok Airin dengan sebutan janda muda.


"Hehe, sorry, sorry. Serius sekali kamu ini," sindir Tegar menanggapi kemarahan adiknya.


Tin tin


Suara klakson mobil terdengar dari luar pagar rumah membuat Gagah mengarahkan pandangan ke arah jendela. Acara pernikahan Gagah dan Airin memang tertutup untuk umum, sehingga pintu gerbang pun tidak dibuka lebar layaknya mengadakan pesta pernikahan.


Gagah segera berdiri, dia tak sabar untuk menjemput Airin yang telah tiba di halaman yang sebagian sudah dipasang tenda untuk acara.


"Sabar dulu, Gah. Biarkan nanti mereka masuk ke sini. Ini yang namanya dunia terbalik, mempelai wanita yang dijemput sama pihak mempelai pria." Tegar masih saja meledek adiknya, membuat Gagah merasa kesal menghadapi sikap Tegar.


"Jaga mulutmu, Gar! Di sini banyak saudara, apalagi nanti kalau didengar keluarga Airin!" Bagus menegur Tegar, sepertinya kakak sulung Gagah itu mendengar sindiran Tegar tadi kepada Gagah.


"Bercandalah, Mas." Tegar berkilah.


Gagah memilih meninggalkan Tegar dan ikut bersama Bagus keluar dari ruangan tamu.

__ADS_1


Manik coklat gelap mata Gagah terpaku pada sosok wanita yang turun dari mobil, terlihat anggun dengan balutan kebaya berwarna putih tulang dengan riasan paes Ageng Yogya.


"Kau lihat lekukan tubuhnya, Gah? Benar-benar aduhai calonmu itu." Secepat kilat, Tegar kini sudah berada di samping Gagah.


"Aaakkhh ...!" Namun, tak lama suara pekikan keluar dari mulut Tegar, karena Putri saat ini sudah berada di samping Tegar dengan menjewer telinga Tegar.


"Mas bilang apa tadi?!" Mata Putri melotot tajam ke arah suaminya.


"Aku hanya bercanda kok, Sayang." kilah Tegar dengan tangan melingkar di pinggang Putri mencoba meredakan amarah sang istri, karena dia kedapatan mengangumi wanita lain di hadapan istrinya.


Gagah menarik satu sudut bibirnya ke atas melihat drama antara kakak dengan kakak iparnya itu. Ia pun kemudian berjalan mendekat ke arah keluarga Airin yang sedang diperkenalkan oleh keluarganya.


Gagah menatap Airin yang terlihat cantik bak putri keraton tanpa kedip, apalagi saat wanita itu pun kini menolehkan pandangan ke arahnya.


"Gagah, ini perkenalkan keluarga Airin." Widya memanggil Gagah untuk mendekat kepadanya.


"Bapak, Ibu, ini Gagah putra saya, calon suami Airin." Widya lalu mengenalkan putranya kepada keluarga Airin dari pihak Pak Baskoro maupun dari pihak Ibu Heny.


Keluarga Airin yang lain, yang belum pernah bertemu Gagah begitu terpesona melihat ketampanan Gagah. Tak sedikit yang membandingkan dengan Rey. Apalagi ketika melihat sosok Gagah juga status ekonomi Gagah, sangat jauh berbeda dengan Rey.


"Airin beruntung sekali mendapat calon suami seperti Nak Gagah, Mbakyu." Itu salah satu komentar yang mampir di telinga Ibu Heny.


"Apa acaranya bisa dimulai sekarang, Pak?" tanya penghulu kepada Prasetyo.


"Bagaimana, Gah? Kalian sudah siap?" Prasetyo bertanya kepada putranya.


"Siap, Pa." jawab Gagah dengan tegas.


Gagah bersama Airin yang dituntun oleh Ibunya berjalan ke meja tempat dilaksanakan ijab qobul. Kedua insan yang sebentar lagi akan memasuki kehidupan baru sebagai sepasang suami istri itu saling berpandangan.


Gagah mengulum senyuman, sementara Airin seketika itu memutus pandangan dan tertunduk menyembunyikan rona wajahnya.


Acara prosesi ijab kabul pun segera dimulai, Dari pembukaan acara, pembacaan ayat suci Alquran, khutbah nikah, hingga sampai pada acara yang paling ditunggu, pembacaan ijab qobul yang akan dipimpin langsung oleh Pak Baskoro.


Airin yang kini duduk berdampingan dengan Gagah melirik ke arah tangan Gagah yang sedang berjabatan tangan dengan Pak Baskoro untuk pengucapan ijab qobul. Jantungnya berdebar kencang. Pasokan udara yang masuk ke dalam rongga pernafasannya pun seolah tertahan. Tangannya terus meremas sapu tangan yang masih ada dalam genggamannya.


Airin memejamkan matanya. Jika kalimat ijab qobul lancar, mungkin kurang dari satu menit lagi ia akan menjadi istri sah Gagah. Airin pasrah dan berdoa, semoga pernikahannya ini adalah pernikahan terakhir baginya. Dia pun berharap diberikan kebahagiaan dalam rumah tangganya bersama Gagah.


"Bismillahirahmanirohim ..." Baskoro memulai dengan mengucap Basmallah sebelum menyerahkan anaknya kepada Gagah.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Ananda Gagah Prasetyo Hadiningrat bin Prasetyo Hadiningrat dengan putri saya Ananda Airin Humairah binti Baskoro Herlambang dengan maskawin logam mulia seberat satu kilogram dan uang tunai senilai sebelas juta tujuh puluh dua ribu dua puluh tiga rupiah dibayar tunai." Baskoro mengucapkan kalimat ijab yang selanjutnya dijawab kalimat qobul oleh Gagah.


"Saya terima nikah dan kawinnya Airin Humairah binti Baskoro Herlambang dengan maskawin tersebut tunai!" jawaban kalimat Gagah disambut tarikan nafas lega tamu yang datang di acara akad nikah itu.


"Sah?"


Gagah menghela nafas lega, tugasnya yang membuatnya sedikit gugup adalah mengucapkan jawaban atas ijab yang diucapkan oleh sang ayah mertua. Dan dia sudah menjalankan tugasnya itu dengan baik. Gagah lalu menoleh ke arah Airin yang menundukkan wajahnya. Dia tahu jika wanita itu merasa gugup dengan pernikahan mereka.


Setelah pengucapan kalimat ijab qobul lalu dilanjut dengan penandatanganan dokumen nikah. Setelah itu prosesi pemasangan cincin pernikahan dan penyerahan maskawin kepada mempelai wanita.


Airin dan Gagah kini saling berhadapan untuk prosesi pemasangan cincin di jari pasangan. Dengan pandangan mata saling bertautan, Gagah mengambil tangan kiri Airin. Ia pun menyematkan cincin berlian ke jari manis Airin setelah diperintahkan oleh pembawa acara.


Gagah merasakan tangan Airin yang terasa dingin saat ia sentuh. Tentu saja Airin merasa grogi menjadi pusat perhatian tamu yang hadir saat ini.


Setelah cincin pernikahan melingkar cantik di jari ramping Airin, kini saatnya Airin memasangkan cincin di jari Gagah. Dengan tangan bergetar Airin memasang cincin itu di jari Gagah.


"Alhamdulilah, sudah benar-benar terikat kedua mempelai ini. Sekarang waktu mempelai pria mencium mempelai wanita." Pembawa acara memberi panduan, membuat suasana langsung ramai. Momen kemesraan inilah yang ditunggu selain momen ijab qobul tadi.


Tangan Gagah memegang kedua lengan Airin. Dengan tatapan mata masih menatap manik mata Airin. Perlahan ia dekatkan bibirnya di kening Airin beberapa saat.


Airin memejamkan matanya, juga menelan saliva ketika bibir Gagah menyentuh keningnya. Denyut jantungnya berpacu cukup kencang, apalagi saat tiba-tiba dagunya diangkat oleh jari telunjuk dan ibu jari Gagah hingga ia merasakan bibirnya disentuh oleh bibir Gagah, membuat dia terkesiap dan membuka matanya.


Tindakan Gagah yang mencium bibir Airin sontak membuat heboh anggota keluarga dan tamu yang hadir di sana.


"Sabar, Gah. Tunggu nanti malam. Di sini masih banyak anak-anak." Aksi Gagah langsung mendapat respon dari Tegar yang tertawa terkekeh melihat tindakan adiknya tadi.


Suara tawa pun langsung terdengar riuh setelah Tegar menyelesaikan ucapannya. Tak bisa dibayangkan warna muka Airin saat ini. Dia merasa malu karena tindakan Gagah yang mencium bibir di depan banyak orang.


"Mas Gagah sepertinya sudah tidak sabar, nih. Sudah gemas dengan Mbak Airin rupanya ya, Mas?" Pemandu acara pun ikut berkomentar dibarengi dengan tawa kecil


"Bukankah kami sudah sah suami istri? Benar begitu, Pak?" Gagah bertanya kepada penghulu, seakan apa yang sudah dia lakukan kepada Airin tidaklah salah.


Pertanyaan Gagah hanya dibalas dengan anggukkan kepala dan senyuman pak penghulu. Sepertinya penghulu sudah dapat memaklumi apa yang dilakukan oleh Gagah. Sedangkan Prasetya, Widya dan Bagus hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Gagah. Sementara Ayuning dan Putri hanya melempar senyuman.


Setelah prosesi ijab qobul selesai, acara dilanjut dengan sungkem pada orang tua kedua mempelai dan dilanjut dengan ucapan selamat kepada mempelai oleh para kerabat dan tamu yang hadir.


"Selamat atas pernikahan kalian. Gagah, mulai saat ini, Airin dan Luna sudah menjadi tanggung jawabmu. Mas doakan semoga kalian hidup bahagia." Bagus memberikan ucapan selamat pada Gagah dan Airin.


"Terima kasih, Mas." Gagah berpelukan dengan kakak sulungnya.


"Terima kasih, Pak." sahut Airin masih canggung memanggil kakak dari suaminya itu.


"Mas Bagus itu sekarang kakak ipar kamu, Rin. Jangan panggil Pak, dong. Panggil seperti aku dan Putri manggil Mas Bagus." Ayuning yang ada di samping Bagus memprotes, "Selamat ya, Rin. Semoga pernikahan kalian samawa." Ayuning pun memeluk Airin.


"Terima kasih, Mbak." sahut Airin tersipu malu.


"Happy Wedding my lil bro. Sudah siap tempur untuk nanti malam? Minum jamu kuat dulu biar tidak cepat loyo." Gagah saat ini sudah jadi bulan-bulan Tegar, tak pandang situasi.

__ADS_1


Tegar kini melirik ke arah Airin laku berkata, "Airin, nanti kamu jangan langsung ilfil karena adikku ini masih amatir," celetuknya kembali.


"Mas Tegar!" Putri langsung menegur Tegar yang dia anggap berucap memalukan.


"Airin, maafkan suamiku. Dia memang usil." Tak enak hati pada Airin, Putri langsung mnyampaikan permintaan maaf kepada Airin.


"Tidak apa-apa, Mbak." jawab Airin.


"Seharusnya suami Mbak Putri itu dipasung di kamar agar tidak bisa keluar ke mana-mana!" Kali ini Gagah membalas kakaknya.


"Si al, kau!" Tegar menin ju bahu Gagah dengan kepalan tangannya sambil tertawa.


"Rin, happy wedding. Semoga Samawa till jannah." Setelah Tegar dan Putri berlalu, kini giliran Liliana dan Ambar memeluk Airin berbarengan. Kedua sahabat Airin itu ikut berbahagia atas pernikahan Airin dan Gagah.


"Aamiin, terima kasih untuk dukungan kalian selama ini." Airin tak tahan untuk tidak menitikkan air matanya, merasa haru atas support mereka berdua.


Sementara istri-istri mereka saling berpelukan, Eko dan Sonny memberi ucapan selamat kepada Gagah.


"Selamat atas pernikahannya, Pak Gagah. Saya Eko, suami Liliana, sahabat Airin. Dan ini Sonny, suami Ambar. Kami sudah seperti keluarga karena pertemanan mereka." Eko menjelaskan bagaimana hubungan mereka dengan Airin.


"Terima kasih, Pak Eko, Pak Sonny. Senang bisa mengenal keluarga sahabat Airin. Semoga saya juga bisa ikut bergabung." Gagah tentu ingin bisa akrab dengan keluarga sahabat istrinya agar Airin semakin nyaman bersamanya.


"Dengan senang hati jika Pak Gagah juga bisa ikut bergabung kalau kami berkumpul bersama," sahut Sonny.


"Hei, kalian. Jangan buat make up Airin luntur karena menangis. Masih banyak yang ingin memberikan ucapan selamat." Eko menegur istrinya dan juga Ambar yang masih berpelukan dan menangis haru.


"Pak Gagah, selamat menempuh hidup baru. Saya titip Airin, tolong jangan bikin kecewa Airin di pernikahan keduanya kali ini." Setelah mengurai pelukannya dengan Airin, Liliana memberi ucapan selamat kepada Gagah, dan menitipkan pesan agar Gagah benar-benar menyayangi Airin juga Luna.


"Saya berjanji, saya akan melakukan itu untuk Airin," tegas Gagah menjawab ucapan Liliana.


"Happy wedding, Pak Gagah. Semoga Pak Gagah adalah jodoh terakhir untuk Airin." Ambar bergantian memberi ucapan selamat.


"Terima kasih, kalian sudah datang kemari." Gagah menyampaikan rasa terima kasihnya. Baginya kedatangan keluarga sahabat Airin adalah suatu dukungan baginya.


Setelah keluarga Liliana dan Ambar yang memberikan ucapan selamat, para tamu lainnya yang hadir di sana pun memberikan ucapan termasuk Andika dan juga Fany yang datang bersama tunangannya.


"Pak Gagah, Airin, selamat atas pernikahan kalian. Semoga kalian menjadi keluarga yang Sakinah Mawaddah dan Warohmah." Andika memberi selamat.


"Aamiin, terima kasih atas kedatangan Pak Andika," sahut Gagah.


"Terima kasih, Bapak sudah berkenan datang kemari," jawab Airin.


"Sama-sama, Pak Gagah, Airin. Saya juga senang diundang di acara yang bersifat privacy ini," balas Andika.


"Airin, selamat, ya. Semoga kamu menemukan kebahagiaan di pernikahanmu sekarang." Tak lama berselang setelah Andika, Fany menghampiri dan memeluk Airin untuk memberikan ucapan selamat.


"Aamiin, terima kasih kamu sudah datang, Fan." jawab Airin.


"Selamat menempuh hidup baru, Pak Gagah." Fany bergantian memberi ucapan selamat pada Gagah.


"Aamiin, terima kasih juga atas bantuan kamu selama ini." Gagah merasa berterima kasih karena Fany sudah mau berkerjasama dengannya.


Airin sontak menolehkan pandangan mendengar ucapan Gagah. Ia pun mengalihkan tatapan matanya ke arah Fany dengan kening berkerut. Dia tidak mengerti, bantuan apa yang sudah diberikan Fany sehingga Gagah mengucapkan terima kasih kepada Fany.


"Memang Fany membantu apa, Mas?" Tak ingin lama berpikir, Airin segera bertanya setelah Fany meninggalkan mereka.


"Mengawasimu," sahut Gagah dengan senyum mengembang lebar di bibirnya.


"Mengawasi saya?" Airin terbelalak, "Mas menyuruh Fany memata-matai saya?" Baik Gagah dan Airin masih menggunakan panggilan formal.


"Hanya ingin tahu, siapa saja yang berani mengganggu kamu dan mendekati kamu." Gagah masih melebarkan senyumnya.


"Mama cama Om Gagah duaan telus, Luna ndak diajak!" Luna mendekat ke arah Gagah dan Airin dengan merajuk. Sejak acara akad nikah dimulai, Luna memang sengaja dijauhkan dari pengantin oleh keluarga Airin, agar tidak mengganggu jalannya prosesi akad nikah. Mereka tidak enak hati dengan keluarga Gagah yang lain jika Luna sampai menggangu acara.


"Luna, Sayang. Maafin Mama, ya?" Airin mengusap wajah anaknya. ia merasa bersalah karena telah mengacuhkan Luna.


"Luna kok masih panggil Om Gagah? Sekarang ini Luna panggilnya Papa ke Om Gagah." Gagah mengangkat tubuh Luna dan menaruh di lengannya.


"Papa balu?" tanya Luna.


"Iya, mulai sekarang, Luna sama Mama tinggal di rumah ini sama Papa. Luna mau tidak?" Gagah mencoba merayu Luna agar tidak terus merajuk.


"Mau, Om." sahut Luna.


"Lho, kok panggilnya Om lagi?" Gagah memprotes Luna yang masih menyebutnya Om.


"Mau, Pa." Luna langsung meralat ucapannya dengan tertawa kecil.


Interaksi Gagah dan Luna tentu saja mengundang perhatian keluarga orang tua Gagah. Sebagian dari mereka belum tahu jika wanita yang dinikahi oleh keponakannya itu berstatus janda.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2