JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Fokus Bekerja


__ADS_3

Selama perjalanan menuju rumah, Dicky terus saja menggerutu dan mengumpat akan sikap Gadis yang dia anggap kurang ajar. Seandainya saja dia tidak dapat menahan diri, rasanya ia ingin menam par Gadis. Seandainya tadi tidak ada Gadis, dia akan lebih mudah mempengaruhi Farah untuk mendapatkan uang yang dia minta tadi.


"Bagaimana, Mas? Berhasil tidak minta uang sama Mbak Farah?" tanya Lidya ketika melihat suaminya itu sampai di rumah.


"Ck ...!" Dicky berdecak seraya menghempaskan tubuh di sofa.


"Mbak Farah tidak mau membantu, Mas?" tanya Lidya penasaran, dia pun duduk di samping Dicky.


"Anak si alan itu yang menghalangi, makin kurang ajar saja dia." Dicky masih geram dengan sikap Gadis.


"Gadis?"


"Siapa lagi memangnya yang menentang kita!?"


"Apa dia itu sudah dipengaruhi oleh Gagah, Mas?" Lidya beranggapan jika peran Gagah sangat besar mempengaruhi Gadis untuk menentang mereka.


"Tentu saja, tidak mungkin Gadis berani membantah jika bukan karena dicuci otaknya oleh Gagah." Tak beda jauh dengan sang istri, Dicky juga menduga jika Gagah lah yang banyak mempengaruhi sikap Gadis. Dia menuduh Gagah telah mendokrin Gadis, hingga sikap Gadis selalu bertentangan dengannya.


"Itu tidak bisa didiamkan, Mas. Kita harus bertindak agar Gagah tidak terus memanfaatkan Gadis untuk keuntungannya sendiri." Lidya meminta suaminya segera mengambil tindakan.


"Bukannya aku tidak mau, tapi kita harus hati-hati, sebab kita sudah tanda tangan di hadapan pengacara untuk tidak mengusik keluarga Mas Bintang." Dicky masih berpikir resiko jika mengganggu keluarga kakak tirinya tersebut, meskipun meminta bantuan uang yang tadi dia lakukan adalah bentuk dari mengusik.


Lidya mendengus kasar, dia harus berpikir keras membantu suaminya agar mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Menguasai Bintang Departement Store masih menjadi ambisi mereka, tak masalah jika Gadis yang tetap menjadi menjadi CEO, namun mereka harus merebut pengaruh terhadap Gadis dari Gagah pada mereka.


***


Dengan menggunakan motor matic milik Airin, Haikal datang ke rumah Prasetyo atas undangan Gagah. Sebab Gagah  ingin membicarakan soal tugas yang akan dikerjakan oleh Haikal. Gagah memilih mengobrol di rumah agar lebih santai berbincang dan memberikan arahannya pada adik iparnya itu.


Haikal menekan bel di dekat pintu utama rumah Prasetyo. Matanya mengedar pekarangan rumah mertua kakaknya itu nampak luas dan sangat asri dengan banyaknya pohon juga tanaman hias. Sebagai seorang adik, tentulah ia senang kakaknya mendapatkan pasangan hidup yang baik dengan keluarga mertua yang dapat menerima status kakaknya kala itu. Terlebih keluarga Gagah pun tidak mempermasalahkan status ekonomi orang tua Airin yang juga adalah orang tuanya. Haikal merasa jika kakaknya sangat beruntung menikah dengan Gagah.


Ceklek


Haikal langsung menolehkan pandangan ke arah pintu saat mendengar suara pintu terbuka, hingga muncul Bi Junah dari balik pintu.


"Assalamualikum, Bu. Kak Gagah sama Mbak Airin ada di rumah, Bu?" sapa Haikal.


"Waalaikumsalam, Mas Gagah sama Mbak Airin ada di kamar, Mas. Silahkan masuk ..." Bi Junah mempersilahkan Haikal masuk, "Mas ini adiknya Mbak Airin, ya?" tanya Bi Junah.


"Iya benar, Bu." sahut Haikal.


"Sebentar Bibi panggilkan dulu, silahkan duduk dulu, Mas." Setelah mempersilahkan Haikal duduk, Bi Junah langsung menaiki anak tangga untuk memberitahu Gagah juga Airin soal kedatangan Haikal.


"Om Ikal ...!" Tak berapa lama, dari arah atas tangga suara Luna terdengar memanggil nama Haikal.

__ADS_1


Haikal bangkit dari duduknya ketika melihat Gagah dan Airin berjalan menuruni anak tangga menggandeng Luna.


"Halo, anak cantik ..." Haikal langsung merentangkan tangannya saat tiba di anak tangga paling bawah, Luna berlari ke arahnya.


"Om Ikal bawa apa?" Luna melihat bungkusan di atas meja.


"Oh, ini Om belikan burger sama ice cream buat Luna." Sebelum ke rumah Prastyo, Haikal sempat mampir ke franchise burger untuk membelikan makanan itu untuk keponakannya.


"Luna mau makan bulgel, Om." Luna minta diturunkan dari gendongan Haikal.


"Sini sama Mama saja, Luna. Om Haikal mau bicara sama Papa." Airin ingin adiknya fokus berbicara dengan suaminya tanpa diganggu oleh Luna.


"Duduk, Kal." Gagah menyuruh Haikal duduk kembali, "Kamu sudah makan, Kal?" tanya Gagah kemudian.


"Tadi sebelum ke sini sudah makan dulu," jawab Gagah.


"Besok siap dengan tugas kamu, Kal?" tanya gagah pada Haikal setelah mereka semua duduk di sofa tamu, sementara Airin langsung menyuapi burger pada Luna.


"Saya masih bingung harus mengerjakan apa, Kak?" Haikal menyampaikan kebingungannya.


"Jangan terlalu serius dipikirkan, Kal. Santai saja ..." Gagah terkekeh melihat adik iparnya kebingungannya.


"Sebenarnya Gadis itu hanya butuh dekat kamu, Kal. Dia tidak akan memberikan tugas yang berat padamu." Di tengah kecemasan Haikal, Gagah justru mengajak bercanda adik iparnya itu.


Perkataan Gagah justru mengusik hati Haikal. Jujur dia tidak berharap apa yang dia cemaskan terjadi. Jika Gadis memang menyukai dirinya, dia tidak tahu harus bagaimana?


"Meja kerja Haikal nanti di mana, Mas? Kalau asisten itu tidak mungkin jauh dari Gadis?" Airin ikut bertanya, sebab ia takut jika Haikal akan dalam satu ruangan dengan Gadis.


"Tidak akan satu ruangan, tapi tentu tidak jauh dari ruangan Gadis." Gagah menjelaskan.


"Kamu harus bisa jaga sikap, Kal." Airin kembali menasehati Haikal, tak ingin adiknya terjebak dengan sikap Gadis yang dipengaruhi perasaan ketertarikannya pada Haikal.


"Iya, Mbak" jawab Haikal.


"Jam kerja Haikal bagaimana, Mas? Apa hanya di jam kerja kantor saja?" tanya Airin.


"Untuk itu nanti biar Haikal tanyakan langsung pada Gadis." Gagah menyerahkan pada Gadis soal jam kerja Haikal. "Kamu bisa bawa mobil?" tanyanya kemudian, sebab tidak menutup kemungkinan Haikal akan diminta oleh Gadis untuk mengawalnya.


"Bisa, Kak." jawab Haikal.


"Apa Haikal jadi driver Gadis juga, Mas?" tanya Airin lagi.


"Bisa jadi kalau Gadis akan meminta Haikal mengantarnya pulang pergi ke kantor," sahut Gagah. Gagah tahu sebenarnya keinginan Gadis mempunyai asisten, adalah cara Gadis untuk bisa dekat dengan Haikal. Karena untuk saat ini dia yakini belum banyak pekerjaan yang akan dikerjakan oleh Gadis di perusahaan itu. Jadi kemungkinan Haikal akan diminta mengantar dan menjemput Gadis aktivitas di kantor sudah pasti sangat besar.

__ADS_1


"Kamu hati-hati nyetirnya, Kal. Pasti nanti kamu bawa mobilnya mobil mahal, lho." Airin terus saja menasehati Haikal agar bekerja lebih fokus saat menjadi asisten Gadis nantinya.


***


Haikal tuba bersamaan dengan karyawan lainnya Senin pagi ini di kantor BDS. Dia merapihkan meja yang akan dia tinggalkan sebab tidak mungkin dirinya akan berada di ruangan divisi pemasaran sementara dirinya menjabat sebagai asisten Gadis.


Setelah merapihkan mejanya, Haikal berpamitan pada rekan-rekan di divisi marketing agar mereka tidak kehilangan saat dirinya tidak akan berada di dalam ruangan itu lagi.


"Memang kamu mau ke mana, Haikal?" tanya Keisha, salah satu staf di divisi marketing.


"Mulai hari ini aku akan membantu Mbak Gadis, Mbak." sahut Haikal.


"Wah, mendampingi bos, nih! Enak, dong." celetuk Eddy, staff lainnya menimpali.


"Enak atau tidaknya saya tidak tahu, Mas. Tapi mungkin lebih enak di sini daripada harus terus sama Mbak Gadis, kita merasa terus diawasi." Secara jujur Haikal menyampaikan anggapannya tentang tugas yang akan ia jalankan.


"Kalau itu sih iya, tapi di sisi lain, enak bisa dekat-dekat terus sama Mbak Gadis, siapa tahu Mbak Gadis bisa kesemsem sama kamu, Kal. Kamu ganteng gini kayak model. Siapa tahu nanti malah jadi jodohnya bos, terus kamu yang gantiin Gadis urus perusahaan ini." Eddy berkelakar dengan berandai-andai, "Tapi, kalau sudah jadi bos, jangan lupain kita, Kal. Minimal kita diangkat jadi manager gitu, hahaha ..." lanjut Eddy tertawa.


"Saya tidak mau menghayal seperti itu, Mas." Meskipun ia tahu dari Gagah jika Gadis teridentifikasi menyukainya, tapi Haikal tidak berangan-angan akan menjadi kekasih Gadis apalagi menjadi bos di perusahaan BDS.


"Kal, kalau kita mempunyai peluang menjadi lebih mapan dalam perekonomian, apa salahnya kita coba? Yang penting jalannya masih benar." Eddy memberikan pandangannya.


"Saat ini saya fokus menjalankan tugas dengan baik, Mas. Apalagi yang saya hadapi Bos langsung," sahut Haikal, "Saya pamit, ya, Mas, Mbak." Setelah berpamitan, Haikal lalu meninggalkan ruangan marketing menuju lantai di mana ruang Gadis berada.


"Pagi, Mbak Dewi." sapa Haikal ketika sampai di lantai ruangan kerja Gadis juga Gagah.


"Eh, Haikal." Dewi membalas sapaan Haikal.


"Meja saya di mana, Mbak?" tanya Haikal, namun ia melihat meja kerja yang ada di depan ruangan Gadis, sepertinya itu adalah meja yang disiapkan untuknya melakukan aktivitasnya.


Dewi berdiri lalu menghampiri Haikal. "Kamu di sini mejanya, Haikal." Dewi meneruskan langkah ke meja kerja yang tadi lihat Haikal.


"Kak Gagah bilang, saya harus bertanya pada Mbak Dewi soal tugas-tugas saya di sini, mohon dibantu, Mbak." Haikal minta kerjasama Dewi dalam mempelajari tugasnya sebagai asisten.


"Oke, nanti aku kasih tahu kamu apa saja yang harus kamu handle." Dewi menjawab, "Semua sudah saya pindahkan ke lap top kamu ini. Nanti saya akan terangkan semua," lanjutnya sambil mulai menerangkan pada Haikal soal tugas Haikal.


***


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2