JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Dekati Anaknya


__ADS_3

Braakkk


Airin turun dari mobil Gagah dan menutup pintunya dengan sangat kencang, ketika sampai di depan rumah Om Fajar. Rasa kesal terhadap pria itu sudah tidak dapat terbendung saat ini.


Airin tak mengucapkan terima kasih pada Gagah. Wanita itu justru meninggalkan Gagah dan berlari masuk ke dalam rumah Tante Mira.


"Assalamualaikum ..." Airin tetap menyapa saat masuk ke dalam rumah Om Fajar.


"Waalaikumsalam, kamu pulang sama siapa, Rin?" Tante Mira keluar dari ruang keluarga membalas salam yang diucapkan Airin.


Airin tak menjawab pertanyaan Tante Mira. Dia terus berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Tante Mira mengeryitkan keningnya melihat Airin tak merespon pertanyaannya, merasa heran karena tidak biasanya Airin bersikap seperti itu. Dia pun langsung melongok ke luar dari jendela rumahnya, hingga dia melihat sosok Gagah yang berjalan ke arah teras rumah miliknya.


Tante Mira lalu berjalan ke luar rumah untuk menemui Gagah.


"Assalamualaikum, Tante." sapa Gagah ketika melihat Tante Mira keluar dari dalam rumah.


"Waalaikumsalam, Airin kenapa, Gagah?" Tante Mira menuntut jawaban dari Gagah, karena Gagah lah yang mengantar Airin pulang.


"Airin sepertinya tidak suka saya mengantar dan menjemput ke kantornya, Tante." Gagah yakin, itulah alasan Airin merajuk seperti itu.


"Duduk dulu, Gagah. Atau kita bicara di dalam?"" Tante Mira ingin berbincang dengan Gagah soal Airin.


"Di sini saja, Tante." Gagah memilih duduk di kursi teras.


"Begini, Gagah. Maaf sebelumnya kalau Tante bicara seperti ini. Airin itu masih trauma dengan penghianatan mantan suaminya. Dia sebenarnya butuh waktu untuk menyembuhkan rasa kecewanya. Sebenarnya, Tante juga kurang yakin waktu Mama kamu berniat menjodohkan kalian. Tante takut Airin menolak dan itu akan mengecewakan kamu dan keluarga kamu. Tapi, Mama kamu sepertinya antusias sekali ingin menjodohkan kalian." Tante Mira mengatakan pandangannya soal sikap Airin.


"Apa Gagah benar-benar ingin serius dengan Airin?" Lalu Tante Mira meminta kepastian soal perasaan Gagah terhadap Airin. Karena dia sendiri merasa yakin jika Gagah memang menyukai keponakan suaminya itu.


"Iya, Tante. Saya memang ingin menjalin hubungan serius dengan Airin." Gagah sudah seperti terkena hipnotis dengan pesona Airin, sehingga dia berani mengatakan jika dia memang serius ingin bersama dengan Airin.


"Jika kamu memang benar serius, sebaiknya kasih waktu untuk Airin berpikir dengan tenang. Jangan terburu-buru, kamu harus lebih bersabar. Kalau Airin tidak ingin kamu antar jemput, sebaiknya jangan melakukan itu dulu. " Tante Mira berpendapat.


Gagah terdiam, dia menyadari jika dia terlalu agresif sehingga membuat Airin tidak nyaman. Namun, dia sudah merasa jatuh hati pada sosok Airin. Dia tidak ingin jika ada pria lain yang menduluinya mendapatkan hati Airin.


"Saya, saya minta maaf jika apa yang saya lakukan membuat Airin dan keluarga Tante tidak nyaman. Saya hanya ingin cepat malukukan pendekatan untuk mencegah Airin menemukan pria lain, Tante." Gagah menyampaikan alasannya berbuat seperti itu.


"Tante mengerti, tapi Airin tidak mungkin seperti itu untuk saat ini, Gagah. Airin masih terluka, tidak akan mudah baginya membuka hati pada pria lain. Kalau Tante boleh kasih saran, jika pendekatan yang kamu lakukan kepada Airin membuat dia tidak nyaman, kamu bisa mendekati Luna. Seandainya kamu bisa dekat dan merebut hati Luna, Tante Yakin, lama-lama Airin akan mau membuka hatinya untuk kamu, Gagah." Tante Mira memberikan sarannya kepada Gagah, bagaimana cara menaklukan hati Airin.


Gagah mendesah. Apa yang dikatakan oleh Tante Mira mungkin ada benarnya. Dengan melakukan pendekatan melalui Luna, mungkin akan lebih mudah meluluhkan hati Airin, apalagi tadi pagi Luna terlihat senang dia berikan boneka, mungkin akan lebih mudah untuknya menaklukan hati Luna terlebih dahulu.

__ADS_1


"Baiklah, Tante. Kalau begitu, saya pamit dulu. Terima kasih untuk saran Tante." Gagah memilih berpamitan setelah mendapatkan wejangan dari Tante Mira kepadanya.


"Maaf karena sikap Airin tadi." Tante Mira juga menyampaikan permintaan maafnya, karena sikap Airin yang dia rasa kurang sopan meninggalkan Gagah yang sudah mengantar Airin pulang.


"Tidak apa-apa, Tante. Saya permisi dulu. Assalamualaikum ..." pamit Gagah.


"Waalaikumsalam ..." balas Tante Mira.


Setelah berpamitan, Gagah pun kemudian meninggalkan rumah Om Fajar.


Sedangkan di dalam kamarnya, sejak masuk ke dalam kamar, Airin langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dengan terisak. Airin merasa jengkel kepada Gagah. Pria itu seakan tidak perduli jika apa yang dilakukannya akan mempersulit dirinya di kantor.


Airin tidak tahan jika akan menjadi pergunjingan teman sekantornya. Meskipun dirinya sudah menjadi janda, terlalu cepat rasanya jika dekat dengan pria lain. Mungkin saja mereka akan menuduhnya meninggalkan suaminya demi mendapatkan pria yang lebih kaya.


"Mama ..." Suara Luna terdengar dari arah pintu kamar.


Airin segera menyeka air matanya ketika mendengar suara anaknya itu. Dia pun bangkit dari posisi telungkupnya.


"Mama udah pulang?" Luna menghampiri Airin dengan boneka pemberian Gagah di pelukannya.


"Iya, Sayang." Airin memeluk Luna.


"Mama napa nangis?" Luna melihat pipi Airin yang lembab. jari mungilnya kini mengusap wajah Mamanya.


"Mama tidak apa-apa, kok, Sayang. Tidak ada yang nakal sama Mama." Airin menghujani wajah anaknya dengan kecupan penuh kasih sayang.


"Luna sudah makan belum?" tanya Airin kemudian.


"Udah, Mama. Tadi Makan cama Mona," sahut Luna menunjukkan boneka pemberian Gagah kepada Mamanya.


"Mona?" Airin mengerutkan keningnya. Karena dia baru mendengar nama itu. Mungkin itu adalah teman baru Luna, tetangga baru di komplek perumahan rumah Om Fajar.


"Boneka dali Om Gagah, kata Ateu Peby namanya Mona, Ma." Luna menjelaskan Feby lah yang memberi nama boneka itu Mona. Setiap boneka yang dipunyai Luna selalu diberi nama masing-masing oleh Feby


"Oh ..." Airin mengusap kepala Luna. Anaknya itu terlihat bahagia sekali mendapatkan mainan dari Gagah.


"Luna main sama Mona dulu sambil nonton tivi. Mama mau mandi dulu, ya?" Airin lalu mendudukkan Luna di tempat tidur. Dia pun kemudian menyalakan televisi dan menyetel chanel program anak-anak, sebelum akhirnya dia masuk ke dalam kamar mandi.


***


Sepulang dari rumah Airin, Gagah menghubungi Tegar dan meminta bertemu di sebuah cafe. Gagah sepertinya angkat tangan. Dia tidak bisa menaklukan Airin dengan caranya sendiri. Sepertinya Gagah butuh saran dari sang Kakak yang sejak remaja terkenal sebagai penakluk wanita. Di antara mereka bertiga, Tegar lah yang sering ganti-ganti pacar. Dari Tegar, mungkin dia bisa sedikit mendapatkan tips, bagaimana cara menaklukan wanita seperti Airin.

__ADS_1


"Apa Mama tahu kalau kamu mulai mendekati wanita itu, Gah?" tanya Tegar, dia ingin tertawa lebar saat Gagah menceritakan sedang mendekati Airin, karena selama ini adiknya itu terkenal cuek pada wanita. Kalaupun menjalin hubungan serius, itu pasti wanitanya yang mengejar Gagah lebih dahulu.


"Mama tidak tahu, Mas. Tapi, sebaiknya Mama tidak usah tahu, daripada membuat situasi semakin kacau." Gagah yakin jika sang Mama akan terus menerus mendekatkan dirinya dengan Airin, hal itu akan membuat Airin semakin tidak nyaman.


"Anak durhaka kamu, Gah! Mama yang mengenalkan kamu dengan Airin, malah kamu menyembunyikannya dari Mama." Tegar terkekeh menyindir Gagah.


"Lalu apa masalahnya sekarang?" tanya Tegar kemudian sambil menyesap secangkir Americano Caffee.


"Wanita itu tidak nyaman terus aku dekati, Mas. Memang apa kurangnya aku, sehingga dia terlihat malu aku dekati?" Sebagai seorang pria, Gagah memang sangat sempurna. Mungkin, hanya wanita yang tidak normal saja yang tidak menyukainya. Dan dia tahu jika Airin adalah wanita normal.


"Kamu terlalu grasah grusuh, Gah. Slow dikitlah ..." Tegar merespon sikap adiknya itu. "Kalau aku jadi Airin, sudah pasti aku juga takut didekati seperti itu, tidak ada romantis-romantisnya sama sekali kamu ini." Tegar menyindir sikap Gagah yang dia anggap kurang romantis.


"Bersikap romantis? Bukankah itu hanya omong kosong saja? Tidak semua orang yang bersikap romantis itu tulus, dan belum tentu orang yang tidak romantis sepertiku ini tidak bisa tulus mencintai seorang wanita, kan?" Gagah menampik anggapan Tegar yang menilainya kurang romantis.


"Tapi, untuk memikat hati wanita, sikap romantis itu perlu juga, Gah. Wanita itu senang diperlakukan lembut bukan dipaksa seperti yang kamu lakukan kepada Airin." Tegar sudah seperti guru konseling yang memberikan saran dan masukan atas masalah yang sedang dihadapi adiknya saat ini.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang, Mas?" tanya Gagah benar-benar bingung.


"Aku rasa apa yang dikatakan Tantenya itu benar." Tegar sudah mendengar cerita dari Gagah tentang saran dari Tante Mira.


"Kamu harus mendekati anaknya. Buat anaknya itu merasa nyaman dengan kehadiranmu. Sayangi dan cintai dia seperti anak kandungmu sendiri. Buat anaknya itu membutuhkan kehadiranmu seperti dia membutuhkan kehadiran Papanya. Aku yakin, tidak akan membutuhkan waktu lama, Mamanya akan takluk di tanganmu. Karena biasanya seorang Ibu susah menolak keinginan anaknya. Dan seorang wanita berstatus seperti Airin, pasti akan mencari laki-laki yang menyayangi dan mau menerima kehadiran anaknya " Sebagai Kakak yang menginginkan Gagah segera menikah, Tegar serius menyarankan apa yang harus dilakukan Gagah demi menaklukan hati Airin.


"Lalu, bagaimana dengan Airin sendiri, Mas? Apa yang harus aku lakukan kepadanya?" Gagah pun serius mendengarkan saran dari Tegar.


"Biarkan saja dia melakukan aktivitas seperti biasa tanpa perlu kamu ganggu. Kalau kamu ingin mengajaknya pergi, kamu bisa ajak dia di waktu weekend, jadi tidak menggangu aktivitas dia di kantor, sebab dia merasa tidak nyaman dengan keberadaan kamu di sana." Tegar masih memberikan masukan-masukan positif kepada Gagah.


Tegar memperhatikan adiknya yang begitu serius mendengar wejangannya, hingga akhirnya terdengar tawa kecil dari mulut Tegar.


"Gagah, Gagah ... aku tidak sangka adikku yang perfeksionis ini bisa tergila-gila pada seorang janda muda.Tapi, memang harus aku akui, Airin itu memang cantik, body nya juga oke. Apalagi bagian dada dan bo kongnya itu terlihat padat dan sintal. Enak kalau diremas sambil dimasukin dari belakang." Tegar sudah berfantasi liar mengingat body Airin yang memang membuat kaum pria harus menelan salivanya.


Gagah sontak mendelik tajam mendengar ucapan sang kakak yang membayangkan keindahan tubuh Airin.


"Santai, Bro! Dia itu belum menjadi milikmu. Jadi, aku bebas berpendapat." Tegar masih belum dapat menghentikan tawanya, apalagi melihat Gagah yang marah saat dia mengagumi sosok Airin.


"Sebaiknya, segeralah kau beri perhatian pada calon anak sambungmu itu, Gah. Daripada kau akan kehilangan kesempatan memiliki janda muda itu." Tegar menyeringai, meledek Gagah sambil menggerakkan alisnya naik turun.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2