JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Akan Menemanimu Dari Sini


__ADS_3

Tak pernah terlintas di benak Gagah, jika ia akan melakukan hal yang tidak masuk di akal menurutnya. Saat ini dia harus menginap di rumah milik Rey, rumah yang dulu menjadi tempat tinggal Rey dan Airin saat mereka masih bersama. Gagah terpaksa mengambil keputusan tersebut, sebab Luna menolak menginap di rumah Rey jika tidak ditemani dirinya atau Airin, meskipun sudah dibujuk akan dibelikan banyak mainan olehnya.


Gagah dan Airin tidak dapat memaksa Luna untuk menginap di sana sendiri. Mereka juga tidak bisa menolak keinginan Wulan. Akan semakin sulit bagi Rey dan Luna untuk bertemu, jika Rey pindah ke Bali. Hal itulah yang membuat Gagah harus merendahkan egonya dengan menemani Luna menginap di rumah Rey.


"Nak Gagah, Ibu minta maaf jadi merepotkan, Nak Gagah."


Gagah yang sedang menikmati udara malam di teras runah Rey terkesiap, saat mendengar suara Wulan dari arah pintu rumah. Gagah bangkit dari duduknya kemudian merespon ucapan Wulan.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya juga minta maaf, bukan saya tidak percaya meninggalkan Luna di sini. Tapi, Luna tidak mau ditinggal sendirian tanpa ada kehadiran saya ataupun Mamanya." Gagah pun menjelaskan kepada Wulan agar Wulan tidak salah paham.


"Luna sangat dekat dengan Nak Gagah, ya? Ibu senang Luna mendapatkan Papa sambung seperti Nak Gagah. Sehingga dia tidak seperti anak yang menjadi korban broken home karena perpisahan kedua orang tuanya." Seandainya waktu dapat diulang, rasanya ia ingin kembali ke masa saat Airin dan Rey masih menjalani masa pacaran, hingga ia bisa menghalangi perbuatan anaknya yang berselingkuh.


"Luna ibarat nafas bagi Airin. Tanpa Luna, Airin tidak akan bisa bertahan hidup dengan tenang. Sebab itu, tidak mungkin saya mengabaikan Luna, Bu Wulan. Saya mencintai Airin, tentu sudah menjadi kewajiban bagi saya untuk menyayangi Luna dan memberikan perhatian yang selayaknya ia dapatkan," jawab Gagah, Bukan dirinya ingin dipuji oleh Wulan. Sebab baginya, rasa kagum dari orang lain tidaklah penting. Kebahagiaan Airin lah yang paling utama baginya.


"Airin benar-benar beruntung mendapatkan suami seperti Nak Gagah. Mungkin itu adalah balasan atas rasa sakit hati Airin atas perselingkuhan Rey darinya," lirih Wulan kecewa karena sikap anaknya yang tidak dapat menjaga harta berharga dalam sebuah keluarga.


"Sebaiknya tidak usah membahas masalah itu, Bu Wulan. Saat ini Airin sudah menjani hidupnya yang baru." Agak malas Gagah membahas soal masalah perselingkuhan Rey, meskipun ia lah yang ketiban untung atas perselingkuhan dan perceraian Rey dengan Airin.


Sementara di kamar Rey, pria itu sedang berbincang dengan Luna. Meskipun ia agak terganggu dengan keikutserataan Gagah menginap di rumah miliknya. Namun, mau tak mau, ia harus menerima kedatangan Gagah agar Luna mau menginap di rumah yang rencananya akan dia jual.


"Papa, ini masih cakit, ya?" Luna menunjuk kaki Rey yang mesti diangkat oleh tangan jika ingin bergerak.


"Iya, Sayang. Kaki Papa masih sakit sampai tidak bisa digerakkan," sahut Rey.


"Telus, nanti kalau Papa pelgi jalannya gimana, Pa?" tanya Luna.


"Nanti Papa pakai kursi roda." Rey menatap buah cintanya dengan Airin itu. Sedih ia rasakan, melihat nasibnya saat ini. Bagaimana Luna bisa diajak pergi ke Bali? Menginap di rumahnya saja harus didampingi Gagah, Jujur saja ia merasa cemburu dengan kedekatan Luna dengan Gagah.


"Luna, apa Papa Gagah pernah marah-marah sama Luna dan Mama?" Rey mulai mengorek informasi seputar sikap Gagah terhadap anak dan juga mantan istrinya,


Luna menatap serius wajah Rey dengan kening berkerut. "Papa Gagah 'kan cayang cama Luna cama Mama juga, Pa." Ternyata Luna mmberikan jawaban yang tidak diharapkan oleh Rey,


"Papa Gagah ndak pernah malah-malah. Papa Gagah cenangnya cium-cium Mama, peluk-peluk Mama. Papa Gagah juga cenang beliin Luna mainan yang banyak, Pa. Papa Gagah kacih Kamal Luna bagus, Pa. Ada pelosotan, ada mandi bola, ada ayunan ..." Dan masih banyak lagi yang diceritakan Luna mengenai kamarnya yang seperti tempat permainan anak.


Rey hanya bisa terdiam. Semakin banyak kata-kata yang keluar dari mulut Luna semakin membuat hatinya terbakar. Luna seperti sedang mempromosikan semua kebaikan-kebaikan Gagah di depannya, membuat dirinya benar-benar menyesali kebo dohannya telah menyia-nyiakan Airin juga Luna.

__ADS_1


***


Di dalam kamar, Airin nampak gelisah. Dia beberapa kali merubah posisi tidurnya. Tanpa kehadiran sang suami dan anaknya, dia merasakan sesuatu yang hilang, hingga rasa kantuk yang ia rasakan pun tak bisa membuatnya terlelap.


Suami tercintanya itu saat ini harus menemani Luna menginap di rumah Rey. Airin tak menyangka, Gagah sampai rela berkorban untuknya dan juga Luna seperti itu. Seketika rasa bersalah hinggap di hatinya, karena dulu sempat menolak dan bersikap buruk terhadap Gagah.


Airin menyibak selimut yang menggulung tubuhnya. Dia bangkit dan mengambil ponsel di atas di nakas, ingin menghubungi sang suami dan menanyakan bagaimana kabar Luna di sana.


Ddrrtt ddrrtt


Belum sempat Airin menghubungi, ponsel Airin sudah berbunyi. Panggilan video call itu berasal dari orang yang ingin ia hubungi. Dengan cepat Airin mengangkat panggilan video dari sang suami.


"Assalamualaikum, Mas. Gimana, Mas? Luna rewel tidak?" tanya Airin saat sambungan video call terhubung. Yang dia tanyakan lebih dulu adalah Luna.


"Waalaikumsalam, Luna sepertinya sudah tidur. Dia tidur di kamar Papanya," jawab Gagah, "Kamu belum tidur, Ay?" tanyanya kemudian.


"Aku tidak bisa tidur, Mas." jawab Airin.


"Kenapa? Karena tidak ada aku yang memelukmu?" Gagah menggoda Airin.


"Aku juga tidak betah, Ay. Ingin pulang ke sana saja rasanya." Sepertinya Gagah merasakan hal yang sama dengan Airin. Terbiasa tidur memeluk sang istri sejak menikah, rasanya ia tak tahan harus tidur hanya dengan memeluk guling saja.


"Jangan, Mas. Kalau Luna bangun terus nangis cari Mas, gimana?" Airin mengkhawatirkan putrinya jika sampai Gagah nekat meninggalkan Luna di rumah Rey.


"Kamu tidak perlu khawatir, Ay. Mana mungkin aku tega meninggalkan Luna di sini." Gagah menegaskan jika dirinya akan menjaga Luna hingga esok hari kembali ke rumah.


Gagah terlihat meletakkan ponsel di dekat guling dan memiringkan tubuhnya yang berbaring di atas tempat tidur.


"Kamu tidurlah, Ay. Jangan dimatikan ponselnya. Aku akan menemani dari sini sampai kamu tertidur," ucap Gagah mengusap wajah Airin dari layar ponselnya.


Kalimat yang diucapkan Gagah membuat hati Airin bergetar. Terdengar sangat romantis kalimat yang diucapkan oleh suaminya tadi. Gagah bersedia menemaninya tidur meskipun jarak mereka terpisah. Gagah berjanji akan mengawasinya dari layar ponsel sampai dirinya terlelap. Mereka berdua bagaimana sepasang insan yang sedang kasmaran namun dipisahkan oleh jarak ratusan atau mungkin ribuan mil.


"Mas jangan matikan ponselnya, ya!?" Airin lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Tidurlah ..." sahut Gagah.

__ADS_1


Airin tersenyum menatap wajah suami dari layar ponselnya. Terlihat tampan wajah suaminya dengan rambut tipis tumbuh di sekitar rahang.


"Kenapa?" tanya Gagah melihat istrinya tersenyum.


"Mas ganteng banget," ucap Airin mengagumi ketampanan Gagah.


"Aku tahu ..." jawab Gagah terkekeh, "Sudah sekarang kamu tidur, Ay. Sudah jam sepuluh." Gagah menganjurkan Airin cepat beristirahat.


"Selamat malam, Mas." Airin tak mengucapkan Assalamualaikum karena ia menganggap sambungan telepon mereka masih tetap berlangsung


"Selamat malam, Ay. Semoga mimpi indah bercinta denganku," jawab Gagah dengan terkekeh kembali.


Jawaban Gagah membuat Airin melebarkan bola matanya.


"Kelopak matanya ditutup, jangan dibuka seperti itu!" sindir Gagah melihat respon sang istri.


Terlihat Gagah mendekatkan bibirnya ke arah layar dan membuat gerakan mengecup layar ponselnya seolah mencium wajah Airin.


Cup


"Tidurlah, Ay. Aku akan menunggu sampai kamu tertidur," ujar Gagah kemudian.


Airin tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. Dia bahagia dengan perlakuan Gagah terhadapnya saat ini.


"Selamat malam, Mas." Airin lalu memejamkan matanya. Dalam pengawasan Gagah yang memantau dari ponselnya, Airin akhirnya dapat terlelap, karena ia sebenarnya sudah mengantuk.


"Mimpi indah, Ay. I love you ..." Walau Airin tidak melihat, namun layar ponsel Airin memperlihatkan gerakan Gagah yang mengarahkan sebuah kecupan kembali padanya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2