JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Kelalaian Haikal


__ADS_3

Haikal tersentak kaget ketika mendengar teriakan Gadis dibarengi suara benturan orang yang terjatuh ke aspal. Seketika Haikal menghentikan motornya dan berlari menghampiri Gadis dengan sangat panik, ketika ia menyadari jika Gadis lah yang terjatuh.


Bagaimana tidak panik? Gadis baru saja mengalami percobaan penjambretan, meskipun aksi pejambret itu gagal sebab sling bag Gadis tidak terlepas dari tangan Gadis. Apalagi dia juga yang mengajak Gadis jalan ke luar malam hari menggunakan motor. Selain rasa cemas dengan kondisi Gadis, Haikal juga takut disalahkan karena lalai menjaga Gadis.


"Astaghfirullahal adzim, kamu terluka?" Haikal membantu Gadis untuk bangkit dengan mendekap tubuh Gadis yang gemetaran. Dari pencahayaan lampu yang temaram ia dapat melihat bola mata Gadis sudah berlinang air mata sambil memegang kepala bagian kanannya. Cairan merah terlihat membasahi buku jari lentik Gadis karena tangannya menutupi bagian kanan kepala sampai pilipisnya. Rasa panik dan bersalah semakin menggelayuti hati Haikal. Apalagi saat Gadis mulai terisak, karena rasa sakit dan juga syok.


"Astaghfirullahal adzim, kamu berdarah?" Haikal kalut melihat darah dari kepala Gadis. "Kita ke rumah sakit sekarang. Apa kamu kuat berdiri?" Haikal mengedar pandangan mencari kendaraan yang bisa ia pinjam untuk membawa Gadis ke rumah sakit. Namun, jalanan itu sepi.


"Hiks ..." Gadis langsung menangis, mungkin jika tidak terkena musibah, ia pasti merasa senang karena saat ini Haikal sedang memeluknya. Bukankah itu yang ia harapkan dari Haikal? Namun, rasa sakit dan syok yang ia rasakan kali ini lebih kuat dibanding rasa hatinya yang sedang jatuh cinta pada Haikal.


"Maafkan saya, Gadis. Ini semua salah saya," sesal Haikal merutuki kesalahannya, "Kita ke rumah sakit sekarang, kamu harus mendapatkan perawatan." Haikal kemudian mengangkat tubuh Gadis, sebab Gadis kesulitan untuk berjalan. Dengan bergegas Haikal kembali ke motor lalu mendudukkan Gadis di jok belakang. Setelah ia menaiki motornya, ia menarik satu tangan Gadis untuk memeluknya dan merapatkan tubuh Gadis ke punggungnya.


"Pegang erat-erat pinggang saya. Kalau kepala kamu terasa berat dan sakit, bersandar saja di punggung saya." Rasa bersalah Haikal yang begitu kuat membuat Haikal rela melakukan apa saja untuk menebus kesalahannya itu. Dia bahkan memegangi tangan Gadis yang melingkar di pinggangnya, agar Gadis tidak limbung dan jatuh kembali ke aspal.


Gadis pasrah, dia tidak memikirkan hal lain selain rasa sakit karena benturan dan juga kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing sehingga ia menyandarkan kepalanya di punggung Haikal dengan terus terisak.


Dua puluh menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. Haikal langsung membawa Gadis ke UGD agar Gadis segera ditangani oleh dokter. Dengan rasa cemas Haikal menunggu hasil pemeriksa dokter yang menangani Gadis. Dia berharap Gadis tidak mengalami luka serius.


Ddrrtt ddrrtt


Ketegangan Haikal menunggu hasil pemeriksaan Gadis terpecah saat ponsel di dompet HP di pinggangnya berbunyi. Haikal segera mengeluarkan ponselnya, ia lihat nama ibunya yang saat ini menghubungi. Ketakutan hati Haikal semakin menguat jika sampai ia memberitahu apa yang baru dialami oleh Gadis.


Haikal menghela nafas sebelum menerima panggilan masuk dari sang Ibu. Dia harus siap jika dia akan dimarahi habis-habisan karena kesalahannya tadi. "Assalamualaikum, Bu." Suara Haikal seakan tertahan di tenggorokan.


"Waalaikumsalam ... Kal, Bapak suruh kamu pulang, ada kakak iparmu datang. Jangan lama-lama bawa Gadis pergi malam-malam." Ibu Heny menyampaikan apa yang dipesankan suaminya.


Haikal menelan salivanya mendengar Gagah ada di rumahnya saat ini. Sudah dapat dibayangkan kakak iparnya itu akan murka jika tahu kondisi Gadis.


"Aku ... aku sedang di rumah sakit, Bu." sahut Haikal pelan.

__ADS_1


"Rumah sakit? Memangnya kenapa, Kal?" Suara Ibu Heny terdengar terkejut dibalut rasa cemas.


Agak berat Haikal menceritakan apa yang baru saja ia dan Gadis alami. "Bapak mana, Bu? Aku ingin bicara dengan Bapak." Haikal memilih mengatakan apa yang baru mereka alami kepada Pak Baskoro, karena jika menyampaikan berita itu kepada Ibu Heny, ibunya itu pasti akan mengandalkan perasaan emosional seperti yang biasa terjadi pada wanita.


"Pak, Haikal mau bicara. Katanya dia ada di rumah sakit." Terdengar suara Bu Heny berbicara pada suaminya.


"Halo, ada apa, Kal? Kenapa kamu ada di rumah sakit?" Kini suara Pak Baskoro lah yang terdengar di telinga Haikal.


Haikal menarik nafas kembali, berusaha menyusun keberanian untuk menyampaikan berita buruk tentang Gadis. "Tadi kami mengalami musibah, Pak. Gadis mengalami penjambretan dan ia terjatuh dari motor," tutur Haikal menjelaskan dengan sejujurnya.


"Astaghfirullahal adzim!" Pak Baskoro terperanjat dengan pengakuan Haikal. Jika mengikuti naf su, ingin rasanya ia memarahi putranya karena gagal menjaga Gadis dengan baik. Namun semua itu ia tahan. "Lalu bagaimana kondisi Gadis sekarang? Di rumah sakit mana kalian?" tanya Pak Baskoro.


"Di RS X, Pak. Sekarang ini Gadis sedang diperiksa sama dokter," jawab Haikal.


Dengusan nafas panjang Pak Baskoro tertangkap pendengaran Haikal.


"Maaf, Pak." Haikal menyampaikan penyelesalnya yang mendalam.


Kembali terdengar hempasan nafas Pak Baskoro. "Bapak menyesalkan kelalaian kamu, Kal. Bapak dan Ibu sudah wanti-wanti kamu agar hati-hati." Pak Baskoro akhirnya tidak dapat menahan rasa kecewanya terhadap sang anak. Karena musibah yang dialami oleh Gadis ia anggap sangat fatal. Dan itu terjadi karena kelalaian Haikal.


"Iya, Pak. Aku benar-benar menyesal." Sekali lagi Haikal menyampaikan rasa bersalahnya.


"Ya sudah Bapak tutup teleponnya dulu, Assalamualaikum ..." Pak Baskoro memutuskan panggilan telepon mereka.


"Waalaikumsalam ..." sahut Haikal. Setelah sambungan telepon dengan Bapaknya berakhir, Haikal menaruh kembali ponselnya ke dompet HP nya. Dia pun masih harus menunggu hasil pemeriksaan Gadis.


***


Ibu Heny sejak tadi memperhatikan air muka suaminya yang terlihat menegang saat berbicara dengan Haikal, membuatnya makin penasaran. Apalagi saat tadi mendengar Haikal mengatakan sedang berada di rumah sakit. Apa yang terjadi dengan Haikal dan Gadis? Itulah yang membuatnya bertanya-tanya, sehingga saat ia melihat suaminya mengakhiri sambungan telepon dengan Haikal, ia langsung mengorek informasi.

__ADS_1


"Ada apa, Pak? Siapa yang di rumah sakit?" tanya Bu Heny memegang lengan sang suami ingin segera tahu apa yang sedang berlaku pada anaknya.


"Gadis mengalami kecelakaan jatuh dari motor, Bu." Pak Baskoro mengatakan apa yang didengar dari Haikal.


"Astaghfirullahal adzim." Ibu Heny tersentak kaget sampai membekap mulut dengan tangannya. "Kenapa bisa jatuh, Pak? Apa Haikal ngebut bawa motornya? Lalu bagaimana kondisi Gadis, Pak?" Ibu Heny nampak senewen setelah mengetahui musibah yang dialami Gadis. Karena itulah Haikal tidak ingin menyampaikan masalahnya pada sang Ibu.


"Gadis sedang ditangani oleh dokter, Bu." Pak Baskoro menepuk pundak sang istri. tapi ia tak mengatakan tentang penjambretan yang dialami oleh Gadis, sebab tak ingin membuat istrinya makin panik. "Bapak harus bicara dengan menantu kita, Bu. Sebab Gagah harus tahu masalah ini." Pak Baskoro melangkah meninggalkan kamarnya menuju kamar Airin. Dan Bu Heny pun mengikuti langkah sang suami.


Sesampainya di depan pintu kamar Airin, Pak Baskoro  mengetuk pintu kamar Gadis tidak terlalu kencang, agar tidak mengangetkan Airin, Gagah ataupun Luna.


"Nak Gagah ...! Airin ...! Apa kalian sudah tidur?" Selain mengetuk pintu, Pak Baskoro pun berseru memanggil nama Gagah dan Airin.


Pintu kamar tak lama terbuka, dan memperlihatkan Gagah yang keluar dari kamar. Terlihat Gagah terkesiap melihat kedua mertuanya sudah berdiri di hadapannya, hingga kerutan nampak di kening Gagah.


"Ada apa, Pak? Bu?" tanya Gagah heran, ada apa kedua mertuanya menemuinya.


"Maaf kalau kami menganggu istirahat kamu, Nak. Tapi, Haikal baru saja memberi kabar kalau Gadis saat ini ada di rumah sakit karena jatuh dari motor." Sangat hati-hati Pak Baskoro menyampaikan kabar buruk soal Gadis pada Gagah meskipun Gagah adalah menantunya sendiri.


Kening Gagah semakin berkerut. "Gadis jatuh dari motor? Memangnya Haikal dan Gadis sedang ke mana?" Karena terlalu rindu ingin berjumpa dengan istrinya hingga ia tidak sempat menanyakan keradaan Gadis. Dia sama sekali tidak tahu jika Haikal dan Gadis sedang tidak ada di rumah saat ia datang tadi.


*


*


*


Bersambung ....


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2