JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Untuk Papa Nanti Saja


__ADS_3

Gagah melirik Haikal yang masuk ke dalam ruangannya membawa beberapa dokumen yang telah ditandatangani Gadis. Sebenarnya Gagah ingin menanyakan hal yang diceritakan oleh istrinya semalam soal cerita Luna yang menyebutkan Haikal berpegangan tangan dengan Gadis. Apa yang ia dengar soal Haikal dan Gadis adalah suatu hal menarik baginya, sebab ia berada di garda terdepan dalam mendekatkan mereka berdua.


Sejak pagi sebenarnya Gagah menunggu Haikal masuk ke dalam ruangannya, karena ia tidak ingin menganggu waktu kerja Haikal jika ia memanggil Haikal hanya untuk menanyakan hal tersebut.


"Surat-surat ini sudah ditandatangani semua, Kak." Haikal menyodorkan surat-surat penting pada Gagah.


Gagah menerima dokumen yang diberikan kepadanya, membuka lembaran surat-surat itu untuk mengecek kembali bagian yang sudah ditandatangani oleh Gadis. Semua sudah lengkap tak ada tanda tangan dan paraf yang terlewatkan oleh Gadis. Dia lalu meletakkan surat-surat itu di atas meja, nanti ia akan suruh Dewi untuk mengambil surat itu.


"Semalam Kakakmu cerita soal Gadis, Kal." Gagah mulai menyinggung soal kejadian yang diceritakan oleh Luna pada Airin.


Haikal menatap ke arah Gagah, sejujurnya ia tak terkejut dengan perkataan kakak iparnya itu. Jika suatu masalah sudah tembus ke sang kakak, tak heran jika kakak iparnya itu pun ikut mengetahui, begitu juga sebaliknya.


"Itu hanya salah paham, Kak. Tidak seperti yang dipikiran Mbak Airin," tepis Haikal menyanggah dugaan-dugaan yang muncul di pikiran kakaknya.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Gagah menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya.


"Itu karena ada wanita-wanita yang menggodaku, Kak. Mereka ingin mengajak berkenalan, lalu dia menyentak dan memarahi wanita-wanita itu. Aku coba menasehati agar dia tidak bersikap buruk pada mereka, tapi dia tidak terima. Mbak Gadis marah, tak mau makan dan memilih ingin kembali ke kantor." Haikal menyebut alasannya melakukan hal tersebut pada Gadis.


Suara tawa Gagah terdengar ketika Haikal selesai memberikan penjelasan tentang yang sebenarnya terjadi. Gagah sudah mendengar sedikit penjelasan Luna yang disampaikan Airin. Setelah mendengar lebih jelas dari Haikal, ia yakin apa yang dilakukan Gadis dilandasi karena rasa cemburu yang sedang mempegaruhi hati Gadis.


"Apa kamu belum menyadari kalau Gadis itu menyukai kamu, Kal?" tanya Gagah meledek adik iparnya.


Haikal menghempas panjang nafasnya. Dia tahu, jika ia bicara jujur pada kakak iparnya, Gagah pasti akan menghubungkan perasaan suka Gadis kepadanya.


"Apa kamu tidak tertarik pada Gadis, Kal?' Pertanyaan pertamanya belum dijawab oleh Haikal, Gagah sudah melempar pertanyaan kedua.


"Dia masih kekanakkan, Kak. Aku seperti mengasuh Luna ketika aku dekat dengan dia," ungkap Haikal sejujurnya. Haikal memang tidak menganggap Gadis sebagai wanita yang spesial meskipun Gadis adalah bosnya.


"Hahaha ..." Gagah tergelak mendegar kejujuran Haikal. Tak bisa ia bayangkan seandainya Gadis mendengar secara langsung perkataan Haikal tadi, pasti Gadis akan uring-uringan. "Dia masih belia, Kal. Masih wajar bersikap kekanakkan seperti itu, apalagi baru merasakan suka pada lawan jenis." Gagah memaklumi sikap Gadis yang dalam beberapa hal tidak bersikap dewasa.


"Tapi, tidak selamanya Gadis bersikap seperti itu, kan? Gadis mau memimpin perusahaan, mau belajar mengurus perusahaan ini, itu salah satu bentuk kedewasaan dan tanggung jawab dia terhadap keluarganya." Harus objektif, Gagah pun memuji sikap positif yang dimiliki oleh Gadis. Walaupun tanggung jawab di perusahaan tersebut masih dalam pengawasannya.


Haikal memilih diam, tak membalas apalagi sampai membantah ucapan kakak iparnya. Sejujurnya, ia pun merasa kagum dengan sosok Gadis. Gadis mau memimpin dan mengurus perusahaan besar di usia yang masih belia di saat Gadis seharusnya menikmati masa mudanya dengan bersenang- senang.


"Sejujurnya, Kal. Kakak berharap kamu bisa dekat dengan Gadis dan Kakak lebih senang Gadis menyukai kamu daripada dia menyukai laki-laki lain yang mungkin akan memanfaatkan dia. Saat ini Gadis sudah menjelma sebagai seorang pengusaha muda, milyarder kaya raya, tak sedikit pria yang kelak akan mendekatinya, mungkin ada yang tulus, tapi tidak menutup kemungkinan ada juga yang akan mengambil keuntungan dari Gadis." Gagah secara gamblang mengharapkan atas kedekatan Gadis dan Haikal.


"Kakak lebih tenang jika kamu yang menjaga Gadis daripada pria lain, Kal. Kakak lebih percaya kamu yang akan menuntun Gadis ke depannya," sambung Gagah kemudian.


Haikal menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. Permintaan kakak iparnya itu terasa berat untuk ia lakukan. Seperti yang dikatakan oleh Airin, dia harus tahu diri dan sadar, siapa dia dan keluarganya, sangat jauh jika dibandingkan dengan Gadis.


"Karena itu juga kakak menyuruhmu melanjutkan pendidikan akademik, agar kamu mendapatkan posisi yang layak, dan tidak harus minder jika kamu harus berdampingan dengan Gadis." Gagah memang berbeda pendapat dengan Airin, jika istrinya itu tidak ingin adiknya terlibat asmara dengan Gadis, Gagah justru sebaliknya, ia mendorong agar Haikal dan Gadis bisa bersama.


Meskipun Gadis bukanlah anggota keluarganya, namun Gagah merasa bertanggungjawab atas kebahagiaan Gadis di masa datang. Dia tidak ingin Gadis terjebak pada cinta yang salah dan jatuh pada orang yang tidak bertanggung jawab, hingga ia berusaha mendekatkan Gadis dengan adik dari istrinya itu.


"Oh ya, bagaimana rencana kuliahmu? Sudah pilih kampus yang kamu inginkan?" Gagah mengubah topik pembicaraan, sebab ia merasa adiknya tidak cukup nyaman membicarakan soal perasaan Gadis pada Haikal.


"Sudah ada beberapa yang aku minati, Kak. Aku hanya harus memastikan waktu kuliah. Kemarin aku baru tanya Mbak Gadis saol jam kerja aku, Kak." jawab Haikal.


"Kamu bilang pada Gadis jika kamu akan kuliah?" tanya Gagah.


"Iya, Kak. Aku bicara apa adanya," sahut Haikal.


"Jujur sekali kamu, Kal." Gagah meledek Haikal, "Lalu? Bagaimana responnya?" Gagah penasaran.


"Tidak masalah selama tidak mengganggu waktu kerja aku, Kak." balas Haikal.


"Kalau begitu segera daftar agar kamu bisa mulai kuliah, Kal. Jangan membuang waktu." Gagah menyarankan agar Haikal tidak banyak berpikir untuk mendaftar di perguruan tinggi untuk mendapatkan pendidikan yang lebih mumpuni demi masa depan Haikal sendiri.


"Iya, Kak." jawab Haikal.


"Ya sudah, kamu kembali ke mejamu, nanti kekasihmu kehilangan karena kamu terlalu lama aku tahan di sini.' Gagah terkekeh menggoda Haikal kembali dengan menyebut Haikal adalah kekasih Gadis.


Haikal sedikit salah tingkah digoda kakak iparnya, dia langsung berpamitan daripada terus mendegar Haikal meledeknya.


***


Waktu sudah menunjukan pu kul sepuluh malam. Luna sudah terlelap dalam dekapan Airin di sampingnya. Sementara Gagah baru kembali dari ruang kerja Prasetyo, membahas seputar bisnis dan perusahaan seperti yang biasa mereka lakukan menunggu waktu tidur.


Gagah mendekat ke sisi tempat tidur yang ditempati oleh Airin lalu duduk di samping sang istri berbaring. Tangannya membelai kepala Airin dengan penuh kasih lalu mengecup kening Airin. Tak lama ia pun ikut merebahkan tubuhnya tepat di sebelah Airin tertidur.


Ruang geraknya terasa sempit, namun ia merasa lebih nyaman karena dapat tertidur dengan memeluk istrinya tercintanya. Sejak kejadian Luna menangis tengah malam saat Rey kecelakaan, Airin tidak tega menyuruh Luna untuk tidur sendirian malam hari di kamar Luna. Hanya siang hari Luna akan tidur di kamarnya.


Airin menggeliat ketika merasakan sesuatu yang berat menimpa pahanya, membuat wanita itu terjaga. Apalagi saat ia rasakan hembusan hangat nafas di kulit lehernya. Saat ia menoleh terlihatlah wajah sang suami yang sedang memejamkan matanya.


"Mas? Kenapa tidur di sini?" tanya Airin heran.

__ADS_1


Gagah membuka matanya tanpa mengendurkan pelukan pada tubuh Airin. "Biar aku bisa memelukmu, Ay," ujar Gagah memberikan alasan.


Airin spontan melirik ke arah putrinya, merasa jika kehadiran putrinya membuat Gagah terganggu dan tak bebas bersentuhan dengannya.


"Pasti karena Luna ya, Mas?" Airin tak enak hati merasa bersalah, "Luna dipindah saja ke kamarnya kalau begitu, Mas." Airin sampai meminta Gagah membawa Luna pindah kamar.


"Jangan, Ay. Kasihan kalau Luna dipindah, biarkan saja dia di sini dulu." Justru Gagah tak mengijinkan permintaan Airin.


"Tapi, kalau Mas tidur begini sempit, Mas." Airin menggeser tubuhnya agar suaminya mempunyai ruang lebih luas untuk berbaring.


"Biar nanti Luna aku geser sedikit biar aku bisa tidur di samping kamu, Ay." Gagah kembali bangkit lalu menggeser tubuh Luna, namun dengan jarak yang aman agar bocah itu tidak terjatuh, setelah itu ia membaringkan tubuhnya kembali di samping Airin.


"Tadi apa saja yang dilakukan di rumah Mas Bagus?" tanya Gagah baru sempat menanyakan aktivitas sang istri setelah dibawa Mamanya ke rumah Bagus.


"Ngobrol biasa saja, Mas. Namanya juga wanita," sahut Airin.


"Menggosipkan suami kalian?" Gagah menyampirkan rambut ke belakang telinga Airin.


"Menggosipkan suamiku yang ternyata seorang milyarder dalam usia muda." Airin menyindir suaminya karena ia tidak banyak tahu soal kekayaan Gagah.


Kening Gagah berkerut mendegar sindiran sang istri. Ia yakin jika ada yang diceritakan oleh Mamanya dan juga kakak iparnya..


"Mama cerita apa?" tanya Gagah kemudian.


"Mama cerita kalau suamiku ini eksekutif muda yang sukses," sahut Airin, ia kemudian menoleh ke arah sang suami. "Apa di apartemen Mas ada perabotannya?" tanyanya.


"Ada. Kenapa, Ay? Kamu ingin melihat ke sana?" tanya Gagah.


"Ada tempat tidurnya?" tanya Airin lagi.


"Lengkap semua ada," jawab Gagah.


"Nanti malam minggu kita menginap di sana, yuk, Mas!" Tiba-tiba Airin ingin mengunjungi aparetemen milik sang suami yang diceritakan Widya siang tadi.


"Kamu ingin menginap di sana, Ay?" Terkejut Gagah mendengar permintaan sang istri.


"Iya, Mas. Merasakan tinggal di tempat sendiri tanpa ada orang tua dan mertua." Airin menyampaikan keinginannya.


"Memangnya kenapa kalau tidak ada mertua? Apa kamu mulai tidak betah tinggal di sini? Apa ada sikap Mama yang membuat kamu tidak nyaman, Ay." Gagah justru menduga jika Airin mulai tidak betah tinggal bersama di rumah Prasetyo.


"Hanya apa, Ay?" Gagah penasaran sampai memo tong ucapan Airin.


"Kalau di tempat sendiri, kita bisa bebas bermesraan di mana saja, Mas." Airin terkekeh dan tersipu malu menyampaikan pendapatnya.


Guratan di kening dan senyuman di bibir Gagah menandakan pria itu menyukai jawaban dari sang istri. Sebagai pria dewasa, tentulah ia memahami apa arti ucapan Airin tadi. Sebenarnya ia tak menyangka istrinya mempunyai keinginan suasana yang berbeda dalam melakukan percintaan, namun justru ia sangat antusius untuk menyetujui usulan dari sang istri.


"Kamu ingin kita bercinta di mana, Ay?" Gagah senang sebab Airin sudah tak malu mengutarakan keinginan bercinta dengan nuansa berbeda.


"Kalau di tempat sendiri bebas 'kan, Mas? Mau di dapur, di ruang tamu, tapi nunggu Luna tidur dulu ..."Airin kembali tertawa, dia bahkan melupakan jika saat ini waktu sudah semakin larut.


"Hmmm, kamu mulai nakal rupanya, ya, Ay?" Gagah langsung mengabsen ceruk leher Airin dengan bibirnya membuat Airin tertawa geli. "Fantasi kamu liar, Ay. Tapi aku suka." Kini Gagah menyatukan bibir mereka, hanya melampiaskan rasa cinta, tak sampai melanjutkan ke aktivitas lainnya sebab ia tidak ingin membuat tidur Luna terganggu dengan guncangan akibat akitivitas mereka.


Sementara di kamarnya, Rey sedang merenungkan nasibnya. Dia merasa sebagai manusia yang tidak berguna dengan kelumpuhan yang ia alami akibat kecelakaan beberapa waktu lalu. Sungguh memprihatinkan nasibnya saat ini, mengalami musibah tanpa anak dan istri yang mendampingi dan merawatnya.


Rey menatap kakinya yang terasa berat untuk bergerak. Entah berapa lama ia akan sembuh dari kelumpuhannya itu. Dia meratapi nasibnya saat ini, tak pernah terbayangkan olehnya dia akan mengalami hal seperti ini. Ketika ia sedang menikmati karirnya, kemalangan menimpanya. Rumah tangganya hancur, bahkan kini kelumpuhan menghantuinya. Entah bagaimana dengan pekerjaannya saat ini


Memikirkan soal Airin dan Luna membuat hatinya makin teri ris. Bisa dia bayangkan saat ini Airin sedang bermesraan dengan Gagah, Dan Luna, Luna sudah semakin ketergantungan pada Gagah, Gagah sudah benar-benar menguasai Airin dan Luna. Hal itu tidak dapat diterima di hati Rey.


"Aaarrrggghhh ...!" Rey berteriak melampiaskan rasa frustasinya atas kemalangan yang menimpanya saat ini.


"Rey, ada apa?" pintu kamar Rey terbuka, Wulan berlari menghampiri Rey, "Kamu kenapa, Rey?" Wulan khawatir melihat putranya itu menangis dan berteriak. Di rumah itu saat ini hanya dihuni Rey, Wulan dan ART. Sementara perawat yang menjaga Rey hanya bekerja di pagi hari.


"Hidupku tidak ada artinya, Ma." Rey menangis frustasi.


"Rey, jangan bicara seperti itu! Kamu jangan putus asa seperti ini, Nak." Wulan mencoba menenangkan putranya yang menangis.


"Hidupku sudah tak berguna, Ma. Tidak ada lagi yang bisa aku harapkan, Ma. Bahkan darah dagingku sendiri lebih memilih Papa tirinya daripada aku, Ma." Rey menangis pilu.


"Istighfar, Rey. Ini adalah cobaan yang Allah beri kepadamu agar kamu selalu ingat terhadap-Nya. Supaya kamu tidak melupakan-Nya." Sebenarnya Wulan pun measa kasihan kepada Rey. Orang tua mana yang tega melihat anaknya bersedih? Meskipun Rey sudah berbuat salah, Rey tetaplah anaknya.


Kesalahan yang dilakukan Rey sebelumnya tidaklah memutuskan ikatan darah dirinya dengan anaknya. Walaupun ia sempat menolak Rey menginjakkan kaki di rumahnya, itu hanya sebagai efek jera agar Rey bisa memperbaiki diri.


"Sebaiknya kamu istirahat, Rey. Biar pikiranmu bisa tenang, Nak." Wulan mengusap pundak Rey memberi kekuatan kepada anaknya agar anaknya itu selalu beristighfar dan tidak melupakan pasa Dzat pemilik alam semesta beserta isinya itu.


***

__ADS_1


Tak sulit bagi Airin meminta ijin pada Widya untuk menginap di apartemen milik Gagah. Sebab mereka hanya menginap di waktu weekend, sementara di hari-hari biasa Airin masih bersama dengan Widya. Widya memberikan ijin agar Airin tidak bosan tiap hari ada di rumah tanpa ada kegiatan lain.


Sabtu siang, Gagah membawa Airin dan Luna pergi ke apartemen Gagah sesuatu yang dijanjikan oleh Gagah. Gagah jarang memakai apartemen miliknya, namun tetap dirawat dengan baik. Gagah menyewa orang untuk merapihkan dan membersihkan apartemennya secara rutin, apalagi Gagah termasuk orang yang perfeksionis.


"Ini lumah capa, Ma?" tanya Luna mengendar pandagan matanya karena merasa asing dengan apartemen yang ia masuki.


"Ini rumah Papa, Luna." Airin menunjuk ke arah suaminya.


"Papa lumahnya banyak, cih?" Luna kagum karena menganggap Papa sambungnya mempunyai banyak rumah.


"Rumah Papa cuma satu, Luna. Rumah Papa hanya yang ini," jawab Gagah mengangkat tubuh Luna lalu menaruh di pangkuannya, "Kalau di sana bukan rumah Papa tapi rumah Kakek Pras." Gagah menjelaskan pada Luna.


"Kok' bagus lumah Kakek, cih?" Luna berkata jujur. Tentulah apartemen Gagah, meskipun semuanya difasilitasi dengan fasilitas smart home, namun tak sebanding dengan rumah besar Prasetyo.


"Luna jangan bicara seperti itu, Nak." Airin menegur Luna karena mengolok apartemen milik Gagah tak sebagus rumah Prasetyo.


"Luna masih belum paham, Ay. Biarkan saja ..." Gagah tak ambil pusing atas cibiran Luna. Gagah memang bisa menempatkan diri dan bersikap bijak.


"Papa sama Mama mau tidur di rumah Papa ini, Luna mau ikut tidur di sini, tidak?" Gagah minta persetujuan Luna, ia khawatir Luna akan menolak


"Di cini ada pelosotannya ndak, Pa?" tanya Luna.


"Ada, dong. Ayo Papa kasih lihat." Gagah mengajak Luna untuk melihat kamar Luna. Dia lalu membawa Luna ke kamar yang ia siapkan untuk Luna.


Airin mengekor di belakang Gagah, mengikuti suaminya yang berjalan ke salah satu kamar yang ada di apartemen itu.


"Ini kamar untuk Luna." Gagah membuka pintu kamar Luna dan memperlihatkan apa yang ada di dalam ruangannya itu.



"Holeeee ...!" Luna langsung berlari dan menaiki anak tangga karena ingin mencoba papan seluncurnya. Bocah itu terlihat sangat bahagia dengan kamar barunya.


Airin menghampiri Gagah seraya tersenyum, lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Gagah dan menyandarkan kepala di dada sang suami.


"Terima kasih, Mas." Merasa perlu mengucapkan terim kasih atas perhatian besar yang ditunjukan Gagah pada putrinya. Airin sungguh terharu dengan perlakuan Gagah pada Luna.


"Aku hanya ingin membuat Luna senang, Ay. Karena kalau Luna senang pasti Mamanya akan senang juga, kan? Kalau Mamanya senang, rencana making love sambil masak pasti jadi, dong!?" Gagah mengedipkan mata seraya meledek Airin.


"Iiiih, Mas." Airin mencu bit pinggang Gagah merespon celetukan suaminya itu.


"Luna suka tidak?" tanya Gagah merangkul Airin dan berjalan menghampiri tempat tidur Luna.


"Iya, Pa. Luna mau bobo di cini cama Papa cama Mama." Jika Papa dan Mamanya menginap di apartemen itu, tentu saja Luna tidak akan menolak, apalagi Gagah sendiri menyediakan kamar untuknya.


"Nanti Papa belikan tempat untuk mandi bola untuk Luna, Luna mau?" Gagah ingin melengkapi kamar Luna yang tidak seluas kamar di rumah Prasetyo dengan permainan yang akan membuat Luna betah dan nyaman di apartemen itu.


"Mau, Pa. Holeee ...!" Luna melompat-lompat kegirangan.


"Masya Allah, Mas. Mas baik banget." Bola mata Airin bahkan sampai berkaca-kaca menahan rasa harunya, melihat putrinya itu bahagia.


"Kalau mau menangis, menangis saja jangan ditahan, Ay." ledek Gagah melihat cairan bening sudah memenuhi bola mata sang istri.


"Mama napa nangis?" Melihat air mata Airin akhirnya menetes, Luna langsung mendekati Mamanya.


"Mama napa, Pa?" Luna khawatir Gagah menyakiti Mamanya.


"Mama menangis karena Mama merasa senang, Nak. Mama menangis karena Papa sayang sama Luna." Gagah menjelaskan kenapa Airin menangis.


"Mama menangis bukan karena Mama sedih, Luna." Airin memeluk Luna dan menciumi pipi anaknya itu.


"Hmmm, Papanya tidak dikasih cium juga, nih?" Gagah memprotes Airin karena janya mencium Luna saja. Dia menyodorkan pipinya untuk dicium oleh Airin.


Airim mengusap pipi Gagah tak memberi ciuman yang diminta oleh Gagah.


"Untuk Papa nanti saja, ya!?" Airin tersenyum kemudian mendekatkan bibirnya di telinga Gagah, "Nanti malam saja." Dengan semu merah di wajahnya, Airin berbisik pelan di telinga sang suami.


*


*


*


Bersambung ....


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2