JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Cukup Duduk Manis Sebagai Istri Saya


__ADS_3

Airin merasakan sentuhan bibir di pipinya berkali-kali. Ia bahkan merasakan permukaan kulit pipinya terasa lembab karena sentuhan itu. Airin menggeliat, namun sentuhan itu terus saja berulang mengenai pipinya, meskipun ia selalu mengelak karena membuatnya tak nyaman.


"Mas, saya capek ..." keluh Airin mengusap wajah dan menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Aktivitas semalam seakan meremukkan tubuhnya dan mengendurkan staminanya. Empat bulan lebih tak melakukan hubungan in tim setelah kasus perselingkuhan Rey, membuat tubuhnya kaget menerima serangan Gagah yang bertubi-tubi sejak semalam hingga sebelum Shubuh tadi.


"Hihihi ... Mama napa ditutupin?"


Suara Luna dan tawanya yang ceria membuat Airin mengerjapkan matanya. Ia pun menurunkan kembali selimut yang tadi ia naikkan untuk menutupi wajahnya. Pandangannya kini mendapati Luna duduk di sampingnya sedang menertawakannya.


"Luna?" Pandangan Airin kini mencari keberadaan Gagah, karena sebelumnya dia menduga jika yang menciumnya tadi adalah Gagah. Dia melihat sang suami sedang berdiri tersenyum kepadanya. Wajah Airin langsung bersemu malu. Dia berharap jika Gagah tak mendengar ucapannya tadi.


"Apa kamu sedang membayangkan saya dalam tidurmu tadi, Airin?" tanya Gagah kemudian duduk di tepi tempat tidur di dekat Luna dengan terkekeh meledek Airin.


"Mama napa bobo aja, cih? Luna lapel, Ma. Ayo makan!" Luna membangunkan Airin.


Selesai bermain, Gagah langsung membawa Luna kembali ke kantor, karena saat ini sudah masuk jam makan siang. Gagah sudah menyuruh Dewi untuk memesankan makanan untuknya, Airin juga Luna. Gagah sengaja memilih makan bersama Airin dan Luna di ruang kerjanya, daripada makan berdua saja dengan Luna di restoran cepat saji.


Airin bergegas bangkit lalu turun dari tempat tidur. Dia menoleh jam dinding yang sudah menunjukkan pu kul 12.30 menit. Rupanya hampir satu setengah jam dia tadi tertidur.


"Luna mau makan apa?" Airin merapihkan rambutnya dengan jari-jari tangannya.


"Saya sudah pesankan makanan untuk kita, sebentar lagi juga diantar kemari." ujar Gagah.


"Hmmm, saya mau Dzuhur dulu, Mas. Di sini ada tempat sholat untuk karyawan? Saya mau pinjam mukenah." Tak melihat perlengkapan sholat untuk wanita di lemari Gagah, sehingga Airin ingin ke musholah khusus karyawan di kantor Gagah untuk melaksanakan sholat Dzuhur.


"Kamu sholat di sini saja. Nanti saya suruh Dewi belikan perlengkapan sholat untuk kamu." Gagah lupa menyiapkan perlengkapan sholat untuk istrinya itu di kantor. Padahal ia pasti akan sering membawa Airin ke kantornya itu.


"Tidak usah beli, Mas. Saya pinjam punya karyawan saja" Airin menolak dibelikan perlengkapan sholat yang baru, karena dia tidak berpikir jika Gagah akan mengajaknya kembali ke kantor itu.


"Kamu harus punya perlengkapan untuk ditaruh di sini, jadi jika kamu ke sini lagi, kamu punya perlengkapan sholat sendiri." Gagah lalu mengambil ponselnya, lalu menghubungi Dewi.


"Wi, tolong kamu ke mall. Carikan mukenah yang bagus dan bahannya nyaman di pakai untuk Airin. Tolong belikan dua buah, yang satu langsung bawa ke laundry, yang satu mau dipakai sekarang." Gagah memberi perintah kepada Dewi.


Tak lama kemudian, makanan yang dipesan oleh Gagah telah tiba. Sembari menunggu pesanan mukenah untung Airin, mereka memilih menyantap makanan terlebih dahulu.


"Tadi ada Papa Ley waktu Luna mau main pelosotan, Ma." Ketika Airin menyuapi Luna makan, Luna menceritakan pertemuannya dengan Rey.


Airin spontan menolehkan pandangan ke arah Gagah untuk meminta penjelasan tentang apa yang diucapkan Luna tadi.


"Tadi waktu lewat hall mau ke tempat permainan anak, di sana ada expo otomotif. Dan ada Papanya Luna juga di pameran itu. Dia ternyata melihat saya dan Luna." Gagah memberi penjelasan kepada Airin, bagaimana Luna bertemu dengan Papanya.


"Lalu?" Airin penasaran apa yang dikatakan mantan suaminya itu saat melihat Gagah bersama Luna. Dia ingin tahu, apakah Gagah menceritakan soal pernikahan mereka kepada Rey.


"Dia menanyakan keberadaanmu. Mungkin karena melihat ada Luna bersama saya," ujar Gagah.


"Terus?" Tak sabar Airin mendengar jawaban Gagah. Apakah Gagah sudah mengatakan statusnya kepada Rey atau belum.


"Saya mengatakan jika kamu sedang kelelahan akibat bercinta semalaman dengan saya." Dengan menyeringai, Gagah menceritakan apa yang dikatakannya pada Rey.


Bola mata indah Airin membulat mendengar perkataan Gagah. Dia melirik ke arah Luna, berharap putrinya tak mendengar perkataan yang tak sepantasnya diucapkan di depan anak-anak oleh suami barunya itu.


"Sebaiknya Mas menjaga ucapan di depan Luna." Airin memprotes Gagah.

__ADS_1


"Luna pasti belum mengerti apa yang saya ucapkan tadi." Gagah melakukan pembelaan, membuat Airin mendengus kesal.


"Mantan suami kamu itu sepertinya sangat kecewa mengetahui pernikahan kita." Gagah menarik dua lembar tissue untuk membersihkan bibirnya dari sisa makanan.


Tanpa dijelaskan oleh Gagah, Airin sudah tahu, jika mantan suaminya itu pasti akan kecewa, karena Rey memang tidak menginginkan perceraian dengan dirinya.


"Dia itu sungguh egois! Tak ingin melihat kamu bahagia, sedangkan dia sendiri seenaknya bersenang-senang dengan wanita lain." Gagah mengkritik sikap Rey yang terkesan seperti pecundang, tidak ikhlas lepas dari Airin, akan tetapi justru menyakiti Airin dengan berselingkuh.


"Luna bagaimana tadi?" Airin ingin tahu bagaimana sikap putrinya saat bertemu Rey.


"Luna sangat pintar. Dia justru membuat Papanya sendiri semakin cemburu terhadap saya, karena Luna memilih bermain bersama saya daripada dengan Papanya sendiri." Gagah tersenyum dengan penuh kemenangan, karena benar-benar memberi skakmat pada Rey, sehingga mantan suami dari istrinya itu tak berkutik.


Gagah lalu bangkit karena dia sudah selesai menghabiskan makanannya kemudian menghampiri Airin. Tangannya mengusap kepala Airin lalu berucap, "Kamu tidak perlu berbuat apa-apa untuk membalas apa yang sudah dia lakukan kepadamu. Cukup duduk manis sebagai istri saya saja. Saya pastikan, mantan suamimu itu akan menyesali atas perbuatannya terhadapmu dulu," ujar Gagah dengan pandangan lekat menatap istrinya yang cantik.


Airin menatap Gagah, tak mengerti apa yang ada di dalam pikiran Gagah, dan apa yang direncanakan oleh suaminya itu pada Rey.


"Mas mau melakukan apa pada Papanya Luna?" tanya Airin, khawatir Gagah akan melakukan hal yang buruk terhadap Rey. Bukan karena dia perduli pada mantan suaminya itu. Tapi, dia tidak ingin Gagah terlibat masalah pelik hanya karena ingin membalas Rey.


"Kamu masih mengkhawatirkan dia?" Gagah salah menduga maksud perkataan Airin.


"Saya ... saya tidak ingin Mas mendapat masalah. Tidak perlu mengusik dia. Saya tidak ingin Mas membuang waktu mengurusi dia lagi." Airin menepis anggapan Gagah tadi.


"Kamu mengkhawatirkan saya?" Gagah mengambil piring nasi Luna lalu menarik kursi dan duduk di samping Luna, "Biar saya yang lanjut menyuapi Luna. Kamu habiskan dulu makananmu." Gagah mengambil tugas Airin menyuapi Luna.


"Terima kasih, Mas." ucap Airin karena Gagah membantunya menyuapi Luna, sehingga dia bisa menyelesaikan makanannya.


"Kamu belum menjawab pertanyaan saya tadi," ujar Gagah setelah Airin menghabiskan makanannya.


"Apa kamu mengkhawatirkan saya?" Gagah mengulang pertanyaannya kembali.


"Saat ini Mas sudah menjadi suami saya. Tentu saja saya tidak ingin Mas terlibat masalah, apalagi yang berhubungan dengan Papanya Luna," jawab Airin. Sejak berpisah dengan Rey, sejujurnya Airin tidak ingin berurusan lagi dengan pria itu. Bahkan jika saja tidak ada Luna di antara mereka. Dia berharap tidak bertemu, berinteraksi dan berhubungan kembali dengan Rey.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan saya, Airin. Saya bisa menjaga diri saya." Gagah meyakinkan Airin agar istrinya itu tidak mengkhawatirkannya.


"Tapi, Mas jangan berurusan dengan Papanya Luna." Airin kembali mengingatkan Gagah, "Saat ini Papanya Luna bersama wanita yang tidak baik. Wanita itu bisa saja mempengaruhi dia untuk mengusik kehidupan saya dengan Luna kembali. Saya tidak ingin berurusan lagi dengan mereka, Mas." Airin memohon agar suaminya itu mengerti.


"Baiklah ..." Untuk menenangkan Airin, Gagah akhirnya menyetujui apa yang diminta oleh sang istri.


***


Braaakkk


Rey menyingkirkan benda yang ada di atas nakas dengan lengannya secara kasar. Kecemburuan terhadap Gagah yang saat ini sudah menjadi pemilik Airin bahkan berusaha menggantikan posisinya sebagai Papa dari Luna, membuat hatinya meradang.


Rey benar-benar terbakar cemburu. Dia pun tak pernah menyangka jika Airin akan cepat menemukan penggantinya, bahkan pria yang menjadi suami Airin seorang pria kaya raya.


"Si al! Bagaimana Airin semudah itu melupakanku?" Rey tak habis pikir melihat Airin begitu cepat berpaling, padahal dia sangat percaya diri jika Airin begitu mencintainya.


"Apa yang dikatakan Joice itu benar? Kalau Airin itu diam-diam selingkuh di belakanganku dengan Pak Gagah?" Bahkan Rey mulai teracuni ucapan wanita yang menjadi selingkuhannya, yang mengatakan jika Airin sudah menjalin hubungan dengan Gagah ketika Airin masih berstatus istri Rey.


"Breng sek! Pintar sekali dia memutarbalikan fakta, menganggapku yang paling bersalah, padahal dia pun melakukan hal yang sama." Rey nampak geram menduga Airin benar selingkuh.

__ADS_1


"Dasar wanita tak tahu diri!" umpat Rey kesal, merasa telah ditipu oleh Airin.


"Aku dimusuhi keluargaku karena dia sudah mengadukan perselingkuhanku dengan Joice. Bahkan Mama sampai melarangku menginjakkan kaki di rumah. Ternyata dia sendiri sama be jatnya, tak jauh beda denganku." Rey terus saja menggerutu, merasa dirugikan dengan pengaduan Airin soal perceraian mereka.


"Dia bisa senang menikah dengan pria itu, menjadi istri bos. Sementara aku? Aku bahkan terancam tidak akan mendapatkan harta Papa dan Mama." Rey makin berprasangka buruk terhadap Airin. Semua itu karena pengaruh Joice ditambah rasa cemburu yang berkobar di hati Rey.


Ddrrtt ddrrtt


Rey mengambil ponsel di dalam saku blazer untuk mengetahui siapa yang menghubunginya saat ini. Ternyata nama Robby, adiknya yang saat ini muncul di layar ponselnya.


"Halo." Dengan nada sedikit menyentak, karena dirinya saat ini dipenuhi rasa emosi, Rey mengangkat panggilan telepon dari adiknya.


"Sepertinya aku menelepon di waktu yang salah." Mendengar sang kakak berbicara agak ketus, Robby menduga jika kakaknya sedang dalam kondisi tidak senang,


"Ada apa kau meneleponku?" Rey masih belum merubah intonasi suaranya.


"Kayaknya Abangku ini sedang tidak mood. Ada masalah apa, Bang?" Robby bertanya dengan menyelipkan suara tawa meledek.


"Tidak usah ikut campur dengan urusanku!" hardik Rey, merasa terusik dengan pertanyaan Robby.


"Hahaha ... semenjak bercerai dengan Mbak Airin, Abangku ini cepat sekali naik darah." Robby tidak tahu jika yang membuat buruk suasana hati kakaknya saat ini adalah kecemburuan akan pernikahan Airin dengan Gagah. Adik dari Rey itu justru mengolok Rey dengan menyebut nama Airin. Tentu saja hal itu membuat Rey semakin geram.


"Jangan kau sebut nama wanita itu lagi!" Rey kembali bicara dengan nada menyentak.


"Hei, ada apa ini, Bang?" Sudah pasti Robby merasa heran dengan ucapan kakaknya, yang seolah mempertegas jika Rey begitu membenci Airin. Seingatnya, Rey tidak pernah berkata kasar terhadap Airin.


"Dengar, Rob! Jangan sekalipun kau sebut wanita ja lang itu lagi di depanku! Aku muak mendengar namanya!" Emosi yang membuncah di dada Rey dibarengi kecemburuan yang tak beralasan telah membutakan akal sehatnya.


"Apa maksud Abang? Kenapa Abang bicara seperti itu pada Mbak Airin?" Terkejut, itulah yang dirasakan Robby ketika mendengar Rey menyebut Airin sebagai ja lang. Pertanyaan pun mulai berkecamuk di hati dan pikirannya. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Rey menyebut kasar pada Airin? Bukankah Rey pernah mengatakan berat bercerai dengan Airun? Kenapa Rey berubah seratus delapan puluh derajat? Pertanyaan itu silih berganti muncul di otak Robby.


"Sudahlah! Jangan bicarakan dia! Ada apa kau meneleponku?" Rey enggan membicarakan soal Airin. Dia mengalihkan pembicaraan dan menanyakan tujuan adiknya itu menghubunginya saat ini.


"Aku ingin memberitahu Bang Rey, kalau aset Papa akan dijual. Pekan depan aku akan ke Bali, siapa tahu nanti kebagian duit dari hasil penjualan itu. Aku telepon Bang Rey untuk menanyakan apakah Bang Rey juga akan ke Bali? Tapi, sepertinya itu tidak mungkin, karena Mama memberi syarat jika Bang Rey ingin bisa menginjakkan kaki di rumah mereka lagi. Bang Rey harus rujuk dengan Mbak Airin, kan? Melihat kondisi sekarang, kayaknya makin berat dirimu, Bang." Robby terkekeh mencibir penderitaan sang kakak.


"Aku akan ke sana! Aku pastikan aku akan datang ke sana! Dan aku akan tunjukkan pada Mama jika keputusan bercerai dengan Airin adalah keputusan yang tepat! Aku akan tunjukkan pada Mama, jika Mama telah salah membela Airin dan menyudutkanku!" Bermodalkan keyakinan jika Airin berselingkuh saat masih menjadi istrinya, Rey yakin jika dirinya akan bisa meyakinkan orang tuanya, jika Airin juga berada di posisi yang salah. Dengan demikian, orang tuanya akan memaafkan dirinya, dan tidak lagi melarangnya menginjakkan kaki di rumah keluarganya.


"Aku sungguh tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, Bang. Kenapa Bang Rey bicara seperti itu pada Mbak Airin?" Selama mengenal Airin, Robby merasa jika Airin seorang wanita yang baik selain Airin mempunyai paras yang sangat cantik, yang mampu menggoyahkan hati kaum Adam jika melihatnya. Dia sempat berpikir, betapa beruntungnya sang kakak mendapatkan istri seperti Airin.


Ketika mengetahui sang kakak bercerai dengan Airin karena kakaknya itu berselingkuh, Robby menganggap jika Rey adalah seorang pria yang bo doh. Terlebih setelah Mamanya memberitahu, seperti apa wanita yang merusak rumah tangga Airin dan Rey itu.


"Astaga, Honey. Ada apa ini?" Suara Joice yang masuk dari pintu kamar Rey membuat Rey yang sedang berbicara dengan Robby di telepon menolehkan wajahnya ke arah pintu kamar.


"Siapa, Bang? Apa dia gun dikmu itu?" tanya Robby mencibir. Sepertinya suara Joice sampai di telinga Robby sehingga adik Rey itu langsung mengolok kakaknya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2