
Gagah sengaja tidak memberitahu soal rencana menjemput Airin pulang sore ini. Saat ini, Gagah sudah seperti ABG yang sedang jatuh cinta, yang mengejar ke mana pun Airin pergi.
Mungkin dia sedang mengalami yang namanya kualat, sebab sebelumnya ia meremehkan status Airin. Bisa juga itu suatu balasan, karena dia pernah merobek foto Airin dan Luna saat Widya berencana ingin mengenalkan Airin kepadanya.
Gagah sudah memarkirkan mobilnya di halaman parkir Central Bank dari setengah jam lalu. Dia rela harus menunggu Airin menyelesaikan pekerjaannya. Dan ketika dia melihat Airin keluar dari gedung kantor Central Bank, Gagah pun akhirnya menjalankan mobilnya mengikuti Airin dan rekannya yang berjalan ke arah parkiran motor.
Mobil yang dikendarai Gagah berhenti di sisi Airin berjalan, hingga membuat Airin terkejut dengan kemunculannya.
Gagah menurunkan setengah kaca pintu mobilnya, lalu dia membuka pintu mobil untuk menyuruh Airin masuk.
" Ayo, masuk! Saya antar kamu pulang," ucapnya kemudian.
Airin yang terkejut dengan kedatangannya langsung melirik ke arah Fany seketika itu juga.
Sementara Fany seketika terperangah dengan mulut terbuka dan mata terbelalak melihat sosok yang menjemput Airin saat ini. Tentu saja dia masih ingat akan sosok pria tampan yang pernah disebut Stevan sebagai seorang CEO di perusahaan retail terkenal. Wajah tampan dan penampilan menawan sudah pasti tidak mudah dilupakan begitu saja oleh Fany.
"Rin, itu 'kan bos Bintang Departemen Store," bisik Fany, membuat Airin menggigit bibirnya karena akhirnya Fany tahu juga soal Gagah.
"Ayo, masuk ...!" Melihat Airin tak bergerak dari posisinya, Gagah kembali meminta Airin untuk naik ke dalam mobilnya.
"Hmmm, Fan, a-aku duluan." Airin terpaksa masuk ke dalam mobil Gagah, karena dia tahu, jika dia menolak, Gagah akan punya beribu cara untuk memaksa pulang bersama pria itu. Dan hal tersebut akan semakin mengundang perhatian karyawan lain yang ada di sana.
"Oh, oke, Rin." Walaupun isi kepalanya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan, namun dia tidak bisa memaksa Airin bercerita saat itu juga.
Airin menutup pintu mobil Gagah sedikit kencang. Dia benar-benar tidak suka cara pria itu yang terang-terangan ingin dekat dengannya, hingga menunjukkan ke semua pegawai bank tempat Airin bekerja dengan mengantar dan menjemput Airin.
"Saya minta Bapak jangan tiap hari datang ke sini! Saya tidak enak jadi pergunjingan orang di sini karena Bapak sering mengantar dan menjemput saya." Airin melayangkan protesnya, karena dia teramat kesal dengan sikap Gagah.
"Kalau kamu tidak ingin menjadi pergunjingan orang, bagaimana kalau kita languang menikah saja? Kamu beritahu status kamu saat ini pada mereka, lalu kita menikah, agar tidak terjadi fitnah di antara kita, jika itu yang kamu takutkan," sahut Gagah enteng.
__ADS_1
Sontak Airin terperanjat dan melotot ke arah Gagah mendengar ucapan Gagah tadi. Terdengar tanpa beban Gagah mengucapkan kalimat tersebut.
Bagi Airin, menikah dengan Gagah dalam waktu dekat adalah hal tergila jika dilakukan. Di saat orang belum tahu dia sudah bercerai dengan Rey, tiba-tiba dia menikah dengan Gagah. Itu akan menimbulkan anggapan, jika dia lah yang berselingkuh dengan pria lain, apalagi pria yang mengejarnya saat ini mempunyai tampang dan jabatan jauh di atas Rey. Yang tidak tahu masalah dirinya dengan Rey, pasti akan beranggapan buruk kepadanya.
"Saya tahu respon kamu pasti seperti itu." Gagah mengulum senyuman melihat reaksi Airin.
"Kamu tenang saja, saya masih memberi waktu kamu untuk bisa menerima saya," lanjutnya kemudian.
"Tapi tentang status kamu sekarang ini, sebaiknya kamu tidak terus menyembunyikannya. Justru keputusan kamu yang menyembunyikan soal perceraian kamu lah yang bisa menimbulkan fitnah. Nanti saya malah dianggap ingin merebut istri orang." Gagah meminta Airin berhenti menutupi statusnya saat ini.
Airin mendengus kasar, setelah perceraian dengan Rey, sebenarnya dia membutuhkan ketenangan. Bukan malah dikejar-kejar oleh orang yang baru saja dikenalnya, apalagi Gagah terkenal nekat dengan aksi-aksinya.
"Kita langsung pulang atau kamu ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Gagah saat mulai menjalankan mobilnya keluar dari parkiran Central Bank.
"Ke suatu tempat yang tidak kamu ketahui!" gumam Airin.
"Ke mana?" Sepertinya Gagah mendengar Airin berbicara pelan, namun tak jelas berbicara apa.
"Oke," ucap Gagah.
Sementara di halaman kantor Central Bank, beberapa karwayan bank yang melihat Airin naik ke dalam mobil mewah langsung menghampiri Fany untuk mencari tahu.
"Fan, Airin dijemput sama siapa, tuh? Kayaknya bukan lakinya, deh. Tadi pagi juga aku lihat dia datang diantar pakai mobil itu." Karyawan bank bernama Mika langsung bertanya pada Fany.
"Aku tidak tahu, Mik." Fany berusaha menutupi jika orang yang menjemput Airin adalah nasabah besar di tempat mereka bekerja.
"Memang kamu tidak melihat orangnya, Fan?" tanya Ovi, karyawan lainnya ikut bertanya pada Fany.
"Lihat hanya sepintas," sahut Fany.
__ADS_1
"Bukan suaminya, kan?" tanya Mika kembali masih penasaran.
"Bukan, kata Airin sih, kerabat dari keluarganya." Fany menyebutkan seperti yang diucapkan Airin tadi pagi.
"Kerabat apa kerabat, tuh? Kemarin siang juga aku lihat mobil itu jemput Airin makan siang." Siska, karyawan lainnya berucap nyinyir.
"Kerabat ketemu gede mungkin, hahaha ..."Ovi menyahuti.
"Jangan-jangan selingkuhannya Airin lagi. Serem, deh. Sudah punya laki diantar jemput pria lain." Mulut pedas Siska terus berprasangka buruk pada Airin.
"Bisa-bisa akan ada drama labrak melabrak kayak kemarin. Gawat, bisa jelek reputasi bank ini kalau karyawannya banyak terkena skandal." Ovi menimpali dan semakin asyik bergosip.
"Kata Mbak Melly, sekretaris Pak Andika, kemarin Airin disuruh menghadap Pak Andika saat Pak Andika kedatangan tamu. Aneh, kan? Biasanya karyawan paling disuruh menghadap ke HRD, Pak Ramli. Tidak menghadap bos langsung. Menurut kalian, kenapa Pak Andika memanggil Airin saat kedatangan tamu, lalu di saat yang bersamaan, Airin pergi makan siang dengan orang yang bawa mobil mewah tadi? Aku curiga kalau orang yang membawa mobil itu adalah tamunya Pak Andika." Siska makin memanaskan gosip yang baru saja beredar.
"Jangan-jangan Airin 'jalan' lagi sama tamunya Pak Andika. Airin itu 'kan cantik, siapa tahu tamunya Pak Andika naksir Airin. Soalnya kalau dilihat dari mobilnya, kebanyakan yang punya mobil kayak gitu kelasnya bos besar, bukan sekedar supervisor atau manager lagi," tuding Ovi.
"Punya suami kalau sampai jadi simpanan pria lain, wah ... parah banget itu Airin," celetuk Mika.
"Tapi, kok Pak Andika membiarkan saja, ya? Bukannya menegur Airin." lanjut Mika terheran.
"Hei, kalian jangan suka menuduh yang tidak-tidak! Dosa memfitnah orang." Fany yang masih berada di sana mencoba membantah gosip yang sedang perbincangan rekan-rekannya yang lain.
"Lagipula Airin mau dijemput sama siapa pun juga, itu hak dia. Tidak ada yang salah dengan yang dia lakukan saat ini. Airin sudah bercerai dengan suaminya, jadi suka-suka dia mau diantar jemput dengan siapa!" Fany terpaksa mengatakan jika status Airin saat ini sudah tidak menikah, agar teman-teman mereka tidak beranggapan buruk tentang Airin, apalagi dengan mengatakan Airin selingkuh di belakang suaminya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️