JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Seperti Keluarga Sendiri


__ADS_3

Wulan tercengang melihat kamar Luna yang cukup luas. Besar kamar Luna saat ini hampir empat kali lipat luas kamar miliknya. Bukan seperti kamar anak-anak pada umumnya yang biasa berukuran lebih kecil. Belum lagi isi kamar Luna yang banyak dipenuhi dengan mainan dan playground, benar-benar kamar impian untuk anak-anak seusia Luna. Tak heran jika Luna begitu betah dan nyaman menetap di tempat Papa sambungnya.


"Mama senang kamu mendapatkan pria yang baik seperti Nak Gagah, Rin. Kamu memang pantas mempunyai suami sebaik Nak Gagah." Tak henti-henti Wulan mengangumi sosok Gagah yang memang sangat baik dan berwibawa sebagai seorang suami dan papa sambung.


"Alhamdulillah, Bu. Mungkin Allah masih sayang terhadap aku." Mungkin Airin harus malu pada dirinya sendiri karena sempat menolak Gagah yang benar-benar serius ingin meminangnya.


"Kamu pasti bahagia sekarang, ya, Rin?" tanya Wulan sambil mengusap lengan Airin.


"Apa yang membuat Luna senang pasti akan membuat aku bahagia, Bu. Karena buat aku Luna yang terpenting," sahut Airin, "Terkecuali, saat aku memutuskan berpisah. Aku tahu itu akan menyakiti batin Luna, tapi ... aku tidak tahan menerima perselingkuhan Mas Rey, Bu. Terlalu menyakitkan untuk aku." Airin berprinsip apa pun akan dia lakukan untuk membahagiakan putrinya, namun tidak untuk bertahan dengan pernikahannya bersama Rey.


"Mama mengerti perasaanmu, Rin. Mama saja kecewa apalagi kamu sendiri yang menjalaninya." Wulan tidak ingin bersikap egois dengan membela Rey hanya karena Rey adalah anaknya.


"Oh ya, Rey tidak tahu jika Mama ada di Jakarta saat ini. Mungkin lebih baik dia tidak usah tahu soal itu." Kesal karena sikap putranya, Wulan mengatakan pada Airin jika dirinya sembunyi-sembunyi datang ke Jakarta.


"Lalu Ibu nanti akan menginap di mana?" Saat Airin masih berstatus sebagai istri Rey, Wulan pasti akan menginap di rumah Rey jika bertandang ke Jakarta untuk menjenguk Luna.


"Mama menginap di hotel saja, Rin. Tadi suami kamu bilang akan memesankan hotel untuk Mama. Dia benar-benar baik sekali orangnya." Wulan kembali memuji Gagah, membuat Airin tersipu malu.


"Pantas saja Luna merasa senang mempunyai Papa baru, Nak Gagah memperlakukan Luna seperti tuan putri," lanjut Wulan menyapu pandangan ke seluruh ruangan kamar Luna yang banyak didominasi warna pink dan baby blue.


"Mas Gagah memang pandai mengambil hati Luna, Bu." Airin pun harus mengakui, sejak pertama berjumpa, Luna sudah menyukai Gagah, walaupun awalnya karena diberi boneka. Namun, Luna bukan termasuk anak yang mudah luluh karena pemberian seseorang. Berbeda pada Gagah, Luna tak menolak dan justru menyukai pemberian Gagah, hingga membuat bocah kecil itu menyukai Gagah.


"Termasuk mengambil hati Mamanya Luna, kan?" Wulan terkekeh menggoda Airin.


Airin terkesiap mendengarkan kalimat menggoda dari mantan Mama mertuanya itu. Hingga membuat semu merah di wajah wanita cantik itu mulai nampak.


"Maaf, Bu. Sebenarnya aku juga tidak berniat untuk menikah dalam waktu dekat ini." Merasa tak enak takut dianggap begitu mudah berpaling, Airin meminta maaf kepada Wulan.


Wulan tersenyum menanggapi permintaan maaf Airin, karena ia menganggap tak perlu Airin meminta maaf kepadanya, sebab Airin tidak bersalah dalam hal ini.


"Tidak usah minta maaf sama Mama, Rin. Jika Mama jadi orang tua kamu Mama juga berharap kamu secepatnya mencari pengganti mantan suami kamu yang tidak becus itu." Wulan memberi penekanan saat mengatakan mantan suami yang tidak becus, menyiratkan dia benar-benar marah dan kecewa pada sikap Rey.


"Mama justru senang sekarang, biar si Rey menyesal seumur hidupnya telah menyia-nyiakan kamu, untuk wanita ja lang seperti itu." Wulan semakin menentang Rey, "Kamu tahu, Rin? Wanita itu pernah datang ke rumah menemui Mama. Orangnya kurang a jar, tidak sopan sama sekali terhadap orang tua. Sudah begitu dia malah memfitnah kamu yang tidak-tidak. Dia bilang kalau kamu itu simpanan bos dan sudah selingkuh dengan seorang bos sejak kamu masih menikah dengan Rey." Akhirnya Wulan menceritakan apa yang mengganjal di hatinya, apalagi Rey juga menceritakan hal yang sama. Namun, setelah ia bertemu langsung dengan keluarga Gagah, ia meyakini jika anak dan selingkuhan anaknya itu memang sengaja ingin menjatuhkan nama baik Airin di matanya.


"Astaghfirullahal adzim, itu sama sekali tidak benar, Bu. Aku malah baru bertemu dengan Mas Gagah sekitar tiga bulan setelah aku bercerai dengan Mas Rey." Dengan tegas Airin menepis tudingan Joice terhadapnya.


"Mama juga tidak sepenuhnya percaya dengan wanita itu, Rin. Mama justru mengusir dia dan Mama langsung memarahi Rey karena membiarkan wanita itu datang ke rumah," ungkap Wulan dengan kesal.


Airin mendengus, ia tak mengerti apa lagi yang diinginkan Joice? Bukankah Joice sudah mendapatkan apa yang menjadi miliknya? Yaitu Rey. Dia sudah melepaskan Rey, lalu mengapa Joice masih saja mengusiknya.


"Mama juga tidak mengerti kenapa Rey bisa memilih wanita seperti itu. Dan sepertinya wanita itu cukup kuat mempengaruhi Rey, sampai Rey juga mengatakan hal yang sama tentang kamu. Mama benar-benar malu dengan ulah Rey, Rin." Wulan terlihat sangat terpukul dengan ulah anak pertamanya itu.


"Bu Wulan, Rin, ayo kita makan dulu." Pintu kamar Luna dibuka oleh Widya, mertua Airin itu mengajak Luna dan Wulan bergabung makan malam.


"Iya, Ma." sahut Airin. "Kita makan malam dulu, yuk, Bu." Airin menghampiri Luna kemudian menggedong anaknya yang sedang bermain dengan kedua bonekanya lalu bersama Wulan dan Widya turun bergabung di meja makan bersama Prasetyo dan Gagah yang sudah menunggu.


Saat menikmati makan malam dengan keluarga mertua Airin yang baru, Wulan benar-benar merasakan kehangatan keluarga Prasetyo dalam menyambutnya sebagai tamu. Sungguh menandakan jika keluarga Prasetyo adalah keluarga yang bermartabat dan terhormat, bukan hanya dari status ekonominya saja, melainkan dari sikap mereka yang membuat orang akan lain respect terhadap mereka.


"Oh ya, Bu Wulan. Gagah bilang Bu Wulan akan pulang ke Bali besok, ya? Dan ingin menginap di hotel? Bagiamana kalau Bu Wulan menginap di rumah kami saja? Kebetulan di sini banyak kamar tamu. Kalau di sini, Bu Wulan bisa ada teman mengobrol dan bisa dekat dengan Luna, kan? Pasti Bu Wulan masih kangen berat sama cucu Bu Wulan." Di luar dugaan Wulan, Widya menawarkan Wulan untuk menginap di rumahnya.


Wulan terkesiap mendapatkan tawaran menginap di rumah itu. "Aduh, tidak usah, Bu Widya. Saya tidak enak sudah banyak merepotkan keluarga di sini." Menganggap dirinya sudah banyak merepotkan keluarga mertua Airin yang baru, Wulan menolak secara halus tawaran Widya untuk menginap. Sebagai Ibu dari mantan suami Airin, sejujurnya ia merasa sangat malu berhadapan dengan keluarga suami baru Airin.. Baik Gagah dan orang tuanya terlihat sangat menghargai dan menyayangi Airin. Mereka mau menerima dan tidak merendahkan status Airin.


"Tidak apa-apa, Bu Wulan. Saya senang jika Bu Wulan mau menginap di sini. Kita bisa menjaga silaturahmi, kan? Luna juga pasti senang ada Neneknya di sini. Luna mau bobo sama Nenek Wulan tidak?" Widya memberikan tawaran pada Luna yang sudah pasti membuat Wulan tidak bisa menolak permintaan Widya. Bagaimana mungkin bisa menolak? Bisa dekat dengan Luna, apalagi bisa tidur bersama cucunya itu adalah hal menyenangkan baginya.


"Mama benar, Bu. Memang lebih baik Ibu menginap saja di sini. Besok jika Ibu akan ke bandara, nanti supir kami yang akan mengantar." Gagah mendukung apa yang dikatakan oleh Mamanya, karena sebelumnya ia sudah berdiskusi dengan kedua orang tuanya untuk menawarkan kamar tamu di rumahnya untuk tempat menginap Wulan malam itu dan hal itu disetujui oleh Prasetyo.


Airin sendiri tidak menyangka jika Mama mertuanya begitu baik menawarkan orang tua Rey untuk menginap di rumah mereka. Sungguh kebahagiaan yang tak terhingga dirasakan oleh Airin, mantan Mama mertuanya itu diperlakukan dengan baik oleh keluarga orang tua Gagah, seperti keluarga Gagah memperlakukan dirinya dan Luna dengan sangat baik. Tidak terlihat sama sekali sikap sombong dan merendahkan Widya pada Wulan padahal keluarga Gagah sudah tahu bagaimana perangai buruk Rey pada Airin.

__ADS_1


"Saya benar-benar berterimakasih atas kebaikan keluarga Bapak dan Ibu. Sungguh saya merasa malu sekali." Sikap baik dan santun keluarga Gagah benar-benar seperti sebuah tam paran baginya. Untung saja Airin bukan wanita pendendam. Jika Airin berhati culas, mungkin saat ini dirinya sudah diusir dan tidak diijinkan bertemu dengan cucunya.


"Terima kasih atas sambutan hangat keluarga Bapak dan Ibu terhadap saya. Saya beruntung cucu saya mendapatkan keluarga baru yang baik seperti keluarga Pak Prasetyo." Rasa haru seketika menghinggapi hati Wulan, tak tahu lagi bagaimana membalas kebaikan keluarga orang tua Gagah tersebut terhadap cucunya.


***


Airin selesai melakukan perawatan pada wajahnya jelang tidur malam. Dia menoleh ke arah tempat tidur, di mana Gagah sudah ada di sana menunggunya. Airin melepas ikat rambut yang mengikat rambutnya hingga terurai, namun ia belum menanggalkan jubah tidurnya.


Airin menyibak selimut sebelum akhirnya bergabung dengan Gagah di tempat tidur, sementara Luna tidur di kamar tamu dengan Wulan.


"Nenek Luna ternyata baik, sangat berbeda jauh dengan anaknya." Gagah mengomentari perbedaan sikap antara Wulan dengan Rey.


Airin mendesah. Sejak berpacaran dengan Rey, Wulan memang sudah menyayanginya. Bisa dikatakan jika dirinya adalah menantu kesayangan bagi Wulan. Bahkan setelah dia tidak menjadi menantu Wulan lagi pun wanita itu tetap menyayangi dirinya.


"Iya, Mas. Ibu memang sejak dulu baik orangnya. Aku juga tidak menyangka Ibu akan bersikap seperti dulu terhadapku," tutur Airin, "Ibu cerita kalau wanita selingkuhan Papanya Luna sempat menemui Ibu di Bali." Airin menyampaikan apa yang didengarnya dari Wulan.


"Rey membawa wanita itu menemui orang tuanya?" Gagah terkesiap.


"Bukan Mas Rey yang membawa, tapi wanita selingkuhannya itu yang mendatangi Ibu." Airin menepis anggapan Gagah.


Mata Gagah menyipit hingga menampakkan kerutan di keningnya.


"Mas Rey?" Gagah terlihat tidak suka dengan sebutan Airin terhadap papa kandung Luna.


"Hmmm, Papanya Luna." Airin buru-buru meralat kalimatnya saat mendengar nada protes dari sang suami.


"Lalu untuk apa wanita itu menemui Bu Wulan? Untuk mempermalukan dirinya sendiri?" Gagah mencibir tindakan Joice, meskipun saat ini Joice tak ada di hadapannya.


"Ibu bilang dia berusaha memfitnah aku, dengan mengatakan jika aku berselingkuh dengan Mas saat masih terikat pernikahan dengan Papanya Luna." Airin menceritakan fitnahan yang disebarkan oleh Joice.


"Dasar wanita tidak tahu diri!" geram Gagah, tidak terima dirinya ikut dilibatkan dalam fitnahan Joice.


"Untung saja Neneknya Luna tidak terpengaruh dengan fitnahan itu," lanjut Airin


Tangan Gagah mengusap punggung Airin, mencoba menegarkan hati sang istri agar tidak terpengaruh dengan fitnahan yang disebarkan oleh Joice.


"Tidak usah ditanggapi gosip yang disebarkan oleh mereka. Mereka yang berbuat jahat, cepat atau lambat mereka akan mendapatkan balasannya." Gagah tentu tak ingin melihat Airin bersedih, ia ingin Airin melupakan masa lalu tentang pernikahan yang buruk dulu, dan lebih fokus dengan rumah tangga yang sedang mereka bina.


Airin menolehkan pandangan ke suami di sebelahnya sambil menganggukkan kepalanya.


"Iya, Mas." sahut Airin.


Buku jari Gagah kini mengusap lengan berkulit lembut Airin.


"Kamu tahu? Apa yang harus kita lakukan jika kita ingin mendapatkan apa yang kita inginkan?" bisik Gagah di telinga Airin, membuat Airin menatap sang suami dengan kening berkerut, tak memahami ke mana arah pembicaraan Gagah.


"Jika kamu menginginkan sesuatu, apa yang akan kamu lakukan?" Gagah menyampirkan rambut Airin yang terurai ke belakang telinga.


"Berusaha keras untuk mendapatkannya?" Jawaban Airin meminta pembenaran dari Gagah.


"Apa kamu akan setengah-setengah melakukannya?' tanya Gagah kembali.


"Maksud, Mas?" Airin masih tidak mengerti maksud sang suami.


"Jika kamu ingin mendapatkan apa yang kamu inginkan, apa kamu akan bekerja dengan keras untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan itu?" Gagah mengulang pertanyaannya.


"Mas lagi bicara apa, sih? Memangnya aku menginginkan apa?" tanya Airin masih dengan kebingungannya, karena saat ini dirinya tidak sedang menginginkan sesuatu.

__ADS_1


"Jawab saja, apa kamu akan terus melakukannya sampai keinginanmu itu tercapai?" Tak mau menjelaskan maksud perkataannya, Gagah justru meminta kepastian jawaban dari sang istri.


"Iya, aku akan berusaha keras untuk mendapatkannya," jawab Airin.


Lengkungan di bibir Gagah seolah menunjukkan jika pria itu cukup puas dengan jawaban sang istri, hingga ia memeluk tubuh Airin dari belakang. Beberapa detik kemudian tangannya sudah menanggalkan jubah tidur berbahan satin yang menutupi pakaian tidur Airin. Bibirnya kini bahkan mulai menciumi pundak, ceruk dan tengkuk Airin.


"Mas, dua hari kemarin kita sudah melakukannya," keluh Airin seakan menolak dengan apa yang dilakukan oleh sang suami.


"Bukankah tadi kamu bilang harus bekerja keras jika ingin mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan? Apa kamu tidak ingin adik Luna segera hadir di sini?" Gagah menyentuh perut Airin.


Airin mendesah, ternyata inilah yang diinginkan oleh suaminya dari pertanyaan tadi. Dan Airin tidak dapat mengelak dari apa yang diinginkan suaminya itu, karena dia pun mulai menikmati sentuhan sang sumi. Apalagi saat ini Luna tidak ada di kamar sebelah sehingga mereka berdua akan aman melakukannya.


***


Wulan memperhatikan cucunya yang sudah terlelap memeluk salah satu boneka pemberian Gagah dengan mulut terbuka. Dia mengusap pipi berkulit lembut Luna. Dia merasa kasihan pada cucunya itu karena di usia dini, Luna harus menjadi korban keretakan rumah tangga orang tuanya padahal di usia sekecil itu Luna membutuhkan bimbingan seorang Papa. Untungnya Airin cepat mendapatkan pengganti Rey, sehingga Luna menemukan sosok Papa sambung yang dapat menemani Luna setiap hari dan memberikan kasih sayang yang Luna butuhkan.


Ddrrtt ddrrtt


Wulan menoleh tasnya saat ia mendengar suara ponselnya berbunyi. Ia bangkit untuk mengambil ponsel di dalam tasnya itu. Wulan melihat nama Robby yang saat ini terlihat di layar ponselnya itu.


"Assalamualaikum, Ma. Mama ada di Jakarta?" Suara Robby terdengar saat panggilan telepon itu tersambung.


"Waalaikusalam, kamu tahu dari mana Mama ada di Jakarta?" Wulan kaget saat Robby tahu saat ini dirinya ada di Jakarta.


"Tadi aku telepon Papa, Papa bilang Mama sedang di Jakarta mau bertemu Luna. Mama sekarang menginap di rumah Bang Rey?" tebak Robby karena di hanya Rey pihak dari keluarganya yang tinggal di Jakarta.


"Tidak, Mama tidak di rumah Rey. Dia bahkan tidak tahu kalau Mama ada di Jakarta. Wulan menepis anggapan Robby.


"Lalu Mama di mana? Menginap di hotel?" tanya Robby kembali.


"Mama menginap di rumah mertua Airin yang baru," jawab Wulan.


"Rumah mertua Mbak Airin? Maksudnya ... Mbak Airin sudah menikah kembali?" Suara Robby terdengar kaget mengetahui Airin telah menikah kembali.


"Iya, dan ternyata suami Airin yang baru itu seorang CEO dan kaya raya. Keluarganya juga sangat baik terhadap Mama." Wulan menceritakan kepada Robby tentang kebaikan keluarga suami baru Airin.


"Apa Mas Rey tahu kalau Mbak Airin sudah menikah lagi, Ma?" tanya Robby


"Ya, tentu saja dia tahu. Bahkan jahatnya abangmu dan selingkuhannya itu sampai tega mengatakan jika Airin itu berselingkuh." Wulan mencurahkan kekesalannya terhadap Rey pada Robby.


"Pantas saja Bang Rey uring-uringan sama Mbak Airin. Ternyata dia ketikung duluan sama Mbak Airin, hahaha ..." Robby menertawakan nasib Rey.


"Kakakmu itu memang bo doh, Robby. Lihatlah ... Tuhan maha adil. Rey menyakiti Airin dengan berselingkuh dengan wanita penghibur, justru Airin mendapat pengganti yang jauh lebih baik dari kakakmu," tutur Wulan merasa miris terhadap anaknya sendiri.


"Bagaimana Mbak Airin bisa menikah cepat, Ma?" tanya Robby penasaran.


"Dia dijodohkan dengan anak Tantenya yang kebetulan sedang mencari jodoh," ucap Wulan kemudian.


"Oh ya, Mama kapan akan pulang? Nanti aku jemput Mama ke sana." Robby yang tinggal di Bandung berniat menjemput Wulan sebelum Wulan pulang ke Bali.


"Mungkin agak siangan Mama pulang. Mama masih kangen sama Luna, Rob." kata Wulan, "Kalau kamu sedang bekerja sebaiknya tidak usah jemput Mama, Rob. Suami Airin bilang akan menyuruh supir untuk mengantar Mama ke bandara. Kamu tidak usah khawatir, suami dan keluarga Airin di sini sangat baik. Mereka semua memperlakukan Mama bukan hanya sebagai tamu tapi seperti keluarga sendiri." Wulan tahu jika Robby punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan sehingga dia tidak ingin mengganggu kesibukan anaknya itu. Apalagi Gagah sendiri sudah menjanjikan akan mengantar sampai dia ke bandara, artinya ia cukup aman berada di Jakarta ini.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2