JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Dia Itu Orang Gila


__ADS_3

Airin memakai cream malam di wajahnya sebelum beranjak ke peraduan. Sekitar jam sepuluh malam, dia sampai ke rumah diantar oleh Gagah. Setelah mencuci wajahnya dari make up dengan facial foam, Airin melanjutkan melakukan perawatan untuk wajahnya.


Airin mengambil ponselnya sebelum membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, karena sejak pergi dengan Gagah tadi, dirinya sama sekali tidak menyentuh ponsel.


Airin melihat banyak pesan masuk di grupnya bersama Liliana dan Ambar. Ada puluhan percakapan di grup itu, dia sendiri tidak tahu apa yang sedang dibahas sahabatnya tadi, hingga akhirnya dia membuka percakapan dalam grup itu.


"OMG, siapa ini?" Pesan Liliana dibarengi dengan gambar foto Airin bersama Gagah yang menggendong Luna di lengannya.


Airin terbelalak melihat foto dirinya bersama Gagah dan Luna ketika dia baru masuk ke dalam cafe. "Apa Liliana ada di sana tadi?" tanyanya dalam hati.


"Itu Airin sama CEO itu bukan, Li? Di mana itu?" tanya Ambar.


"Iya, Bar. Di Golden Caffe. Tadi aku ke sana sama Mas Eko diundang teman Mas Eko yang baru saja naik jabatan. Tidak tahunya memergoki yang sedang pedekate tapi tidak bilang-bilang ke kita," sindir Liliana, karena merasa Airin menyembunyikan hubungannya dengan Gagah dari dirinya juga Ambar.


"Astaga @Airin kamu main kucing-kucingan dari kita?🙄." Ambar sampai tag nama Airin.


"Ya gitulah, Bar. Kalau lagi senang-senang, kita dilupain."


"Padahal cerita ke kita tidak masalah 'kok, Rin. Kita juga akan dukung kamu kalau kamu memang nyaman sama CEO itu."


"Ambar benar, Rin. Kalau memang kamu sudah memutuskan bersama CEO itu, justru kita setuju banget. Biar si Rey gigit jari kamu dapat yang lebih oke."


"Benar, tuh! Biar nangis kejer dia!"


"Ini yang diobrolin malah tidak muncul, asyik kencan kayaknya."


"😂😂 daripada balas pesan kita, mending memandang yang ganteng di sebelah dong, Bar."


"Lain kali jadwalkan kumpul bareng kita juga, Rin. Biar kenal sama Mas Eko sama Mas Sonny juga."


"Benar, Nih! Rey ke laut, sang CEO datang. Apa tidak panas kalau nanti dia melihat kita berkumpul lagi dengan pasangan Airin yang baru."


"Segerakanlah @Airin, kami semua mendukungmu! Kubur dalam-dalam di Rey dekat ******, sambut CEO ganteng yang siap menjadi masa depan."


Dan masih banyak lagi percakapan antara Liliana dan Ambar yang tidak dia baca, karena dia yakin sahabatnya itu pasti saja terus menggosipkan dirinya dengan Gagah. Dia pun lalu membalaskan pesan teman-temannya.


"Kalian ini, senang sekali bergosip🙄. Nanti kita bahas ini kalau kita bertemu." Itu pesan yang diketik oleh Airin untuk menjawab semua obrolan teman-temannya tadi.


Airin ingin menaruh teleponnya di atas nakas. Tapi, satu pesan masuk dari Gagah membuat dia mengurungkan niatnya, lalu membuka pesan masuk pria itu.


"*Assalamualaikum, Airin. Terima kasih untuk malam ini. Besok kita lanjut menyenangkan hati Luna*."


Kening Airin berkerut membaca pesan masuk dari Gagah. Pria itu ternyata tidak lupa janjinya pada Luna.


"Waalaikumsalam, terima kasih, Pak." Airin mengetik balasan pesan Gagah, tapi dia mengacuhkan pesan balasan yang masuk di grup temannya.


"Kamu belum tidur?" Cepat sekali Gagah merespon pesan Airin.


"Baru akan tidur, Pak," balas Airin.


"Oke, kalau begitu, selamat tidur, selamat malam, Assalamualaikum," balas pesan Gagah.


"Waalaikumsalam ..." Airin lalu menaruh kembali ponsel di atas nakas. Dia ingin beristirahat, dan tidak ingin diganggu dengan pesan masuk dari siapa pun.


***


Keesokan harinya setelah waktu Ashar, Gagah benar-benar datang ke rumah Om Fajar, menjemput Airin dan Luna untuk pergi jalan-jalan ke mall dan tempat permainan anak.


Gagah tidak membawa Airin ke mall tempatnya bekerja, karena jika dia ke sana, dia takut akan menjadi perhatian beberapa orang yang mengenali dirinya, dan itu akan membuat Airin merasa tidak nyaman.


Sepanjang perjalanan ke area permainan anak, Luna terus saja menggandeng tangan Gagah, seolah dia tidak ingin jauh dari Gagah. Tak jarang juga Gagah mengangkat tubuh Luna dan menaikkan tubuh Luna di atas pundaknya, layaknya seperti seorang Papa kepada anaknya.


Melihat pemandangan dan interaksi antara Luna dan Gagah membuat hatinya tersentuh melihat sikap Gagah yang begitu hangat terhadap Luna, sehingga Luna seperti menemukan sosok yang bisa memberikan rasa nyaman di saat Luna jauh dari Papanya.


"Om, Luna mau main itu!" Luna menunjuk ke arena permainan anak di hadapannya.


"Luna mau main di sana?" tanya Gagah.


"Iya, Om." sahut Luna.


"Ya sudah, let's go kita ke sana," Gagah menyetujui permintaan Luna.


"Mau ambil paket yang mana, Pak?" tanya penjaga arena permainan anak, ketika Gagah sampai di arena permainan anak itu.


"Yang satu jam saja," Gagah memilih paket satu jam untuk Luna bermain, karena dia rasa waktu itu sudah cukup untuk Luna bermain.


"Sudah ada kaos kakinya?" tanya pengaja arena.


"Kaos kakinya sekalian saja," jawab Gagah meskipun dia melihat Luna sudah memakai kaos kaki.


"Ayah Bundanya ingin mendampingi juga? Sudah ada kaos kakinya?" tanya penjaga itu.


Gagah dan Airin saling berpandangan saat mendengar ucapan penjaga arena permainan anak yang mengira mereka adalah pasangan suami istri. Bukan hanya pengaja permainan anak itu saja, mungkin orang yang melihat mereka saat ini, pasti akan menduga hal yang sama.


Airin langsung mengalihkan pandangan karena dia merasa nervous saat disangka istri Gagah oleh penjaga permainan anak. Sementara Gagah mengulum senyuman menanggapi perkataan penjaga arena permainan anak tadi.


"Kaos kakinya sekalian saja, Mbak. Untuk anak satu, dewasa dua," Meskipun dirinya dan Luna memakai kaos kaki, namun Gagah memilih mengganti kaos kaki yang dia pakai dengan kaos kaki yang disediakan di arena permainan anak itu, agar kaos kaki yang dia dan Luna pakai tetap bersih.


"Baik, Pak. Satu anak, tambahan pendamping satu, kaos kaki tiga, totalnya seratus delapan puluh ribu rupiah." Penjaga arena permainan anak itu menghitung total yang harus dibayar.


Gagah lalu mengeluarkan uang dari dompetnya, menyelesaikan pembayaran tiket masuk untuk Luna, dia dan juga Airin.


Sesudah melakukan pembayaran, Gagah melepas sepatu dan kaos kakinya, lalu mengganti dengan kaos kaki baru, Sementara Airin mengganti kaos kaki Luna, lalu dia sendiri memakai kaos kaki untuknya, karena dia ikut masuk mendampingi Luna.


"Om, Luna mau main mandi bola." Luna menunjuk ke arah permainan mandi bola, lalu berlari ke sana.

__ADS_1


"Luna, jangan lari-lari!" Airin berteriak menegur Luna.


"Biarkan saja, Airin. Biarkan Luna bersenang-senang," sahut Gagah lalu menyusul Luna ke arah permainan mandi bola. Sedangkan Airin sendiri mencari tempat duduk. Dia memilih memperhatikan anaknya dari kursi tunggu khusus untuk pendamping.


"Luna, ayo main perosotan sama Om." Terdengar Gagah mengajak Luna menaiki perosotan yang akan meluncur ke arah mandi bola.


"Ndak mau! Luna takut, Om." Luna menolak karena melihat perosotan sangat tinggi.


"Nanti Om yang pengang Luna. Luna jangan takut!" Gagah meminta Luna untuk tidak takut bermain perosotan.


"Iya, Om." jawab Luna mengikuti apa yang ditawarkan Gagah. Hingga akhirnya beberapa kali Gagah dan Luna bermainan perosotan yang meluncur ke kolam berisi bola.


Airin terus memperhatikan Luna yang tertawa bahagia bersama Gagah. Putrinya itu nampak sangat nyaman bersama Gagah. Luna bahkan melupakan kesedihannya tidak bertemu dengan Papanya.


Airin mendesah. Apakah ini pertanda jika dia benar-benar harus mengalah pada prinsipnya. Karena tentu saja, Airin ingin melihat putrinya itu bahagia. Dan Luna bahagia bersama dengan Gagah.


"Mama ...!" teriak Luna seraya melambaikan tangannya ke arah Airin.


Airin menarik senyum di bibirnya seraya membalas lambaian tangan Luna. Dia lalu melihat Luna berlari ke arahnya, kemudian menarik tangannya.


"Mau apa, Luna?" tanya Airin terkejut saat Luna menariknya.


"Ayo, Mama main pelosotan juga." Luna mengajak Airin untuk melakukan hal yang sama seperti yang Gagah lakukan kepadanya tadi.


"Mama tidak bisa, Luna. Mama tidak mau!" Airin menolak.


"Cama Om Gagah, Ma. Kayak Luna tadi." Luna mengusulkan Airin ditemani Gagah bermainan perosotan seperti dirinya tadi.


Ucapan Luna sontak membuat bola mata Airin membulat, sementara Gagah langsung mengulum senyuman di bibirnya mendengar ide brilian Luna.


"Tidak, tidak! Mama tidak mau!" Airin dengan cepat menolak permintaan Luna itu.


"Ayo, kita ajak Mama ke atas, Luna!" Gagah mengerlingkan mata ke arah Luna, dia berencana mengajak Airin bersenang-senang dengannya juga dengan Luna.


Gagah mengangkat tubuh Luna, dia pun menggenggam tangan Airin untuk ikut menaiki anak tangga untuk turun melalui perosotan dan menceburkan diri di kolam bola.


"Saya tidak mau, Pak!" Airin menepis tangan Gagah, namun karena pria itu begitu kencang memegangi tangannya sehingga dia kesulitan melepas cengkraman tangan Gagah yang membelit pergelangan tangannya.


"Sekali saja, biar Luna senang," ujar Gagah meminta Airin tidak menolaknya.


"Tapi, Pak ..." Airin benar-benar dibuat tidak berkutik menghadapi Gagah, sehingga dia pasrah dengan apa yang diinginkan oleh pria itu.


"Kamu pangku Luna di depan, nanti saya di belakang kamu." Gagah memberi arahan apa yang harus dilakukan Airin.


"Hmmm ..." Airin ragu dengan apa yang diarahkan Gagah, karena itu akan membuat dirinya saling bersentuhan fisik dengan Gagah.


"Ayo, Ma!" Luna merentangkan tangannya ke arah Airin, mengharapkan Mamanya itu segera mengangkat tubuhnya.


Airin melirik ke arah Gagah yang terlihat mengulum senyum kemenangan, hingga membuatnya mendengus kesal.


Gagah lalu menempatkan posisi di belakang Airin, lalu berucap, "Sudah siap? Satu, dua, tiga ..." Selepas hitungan ke tiga, Gagah mendorong tubuhnya hingga membuat tubuh Airin yang mendekap Luna meluncur ke bawah. Sementara tangan Gagah melingkar memeluk Airin dan Luna, hingga saat ini tubuh Airin bersandar pada dada bidang Gagah, bahkan Airin dapat merasakan aroma maskulin Gagah begitu kuat menyeruak ke penciumannya, sampai akhirnya tubuh mereka meluncur ke bawah.


Airin langsung menjauhkan tubuhnya dari Gagah setelah mereka sampai di bawah. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang saat merasakan Gagah memeluknya dan Luna tadi.


"Mama lagi ...!" Luna minta melakukannya sekali lagi.


"Tidak! Mama tidak mau!" Airin buru-buru keluar dari arena mandi bola dan kembali ke tempat dia duduk semula. Dia merasakan detak jantungnya masih tak beraturan, karena sentuhan Gagah tadi. Mungkin juga wajahnya saat ini sudah diwarnai semu merah.


Sementara Luna dan Gagah kini mencoba permainan lainnya. Gagah juga terlihat tidak canggung bermain di area publik bersama Luna, padahal bersama keponkannya saja, dia tidak pernah setotal ini menemani keponakan-keponakannya bermain.


Satu jam bermain, kini Gagah mengajak Airin dan Luna untuk mencari makan.


"Luna lapar tidak?" tanya Gagah.


"Lapal, Om." sahut Luna.


"Luna mau makan apa?" tanya Gagah kembali.


"Makan chicken yang ada es klim nya, Om." jawab Luna.


"Oke, kita makan di sana." Gagah mengajak Luna dan Airin ke restoran yang dimaksud oleh Luna.


"Kalian mau duduk di mana?" tanya Gagah saat melihat restoran itu cukup ramai yang makan di sana.


"Kita cari tempat agak ke belakang saja." Gagah mencari tempat di bagian belakang restoran, mencari tempat yang lebih sepi.


Gagah membawa Airin dan Luna ke bagian belakang restoran cepat saji itu.


"Di sini saja gimana, Airin?" tanya Gagah saat mendapatkan meja yang kosong.


"Ya udah," sahut Airin menarik kursi untuk dia duduk.


"Luna duduk di sini dulu sama Mama, Om pesankan makanannya." Gagah lalu mendudukkan Luna di kursi di sebelah Airin.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Gagah pada Airin.


"Saya nasi, ayam dan air mineral saja. Maaf merepotkan," ucap Airin merasa tidak enak hati dilayani oleh Gagah.


"Tidak apa-apa," sahut Gagah.


"Luna mau es klim, Om." ujar Luna.


"Siap, anak cantik!" Gagah mengusap wajah Luna dengan terkekeh.


"Saya pesankan dulu makanannya." Gagah lalu meninggalkan Airin dan Luna untuk memesan makanan.

__ADS_1


Gagah ikut mengantre di antara orang-orang lainnya. Bersama Airin, dia banyak melakukan hal-hal yang jarang sekali dia lakukan sebelumnya. Seperti saat ini. Jika bukan karena ingin merebut hati Airin dan Luna, belum tentu dia mau berpeluh dan berbaur dengan banyak orang dengan menggunakan fasilitas yang dipakai publik. Jika bukan karena keinginan Luna, tentu saja dia akan memilih pindah ke tempat lain yang tidak membuatnya mengantre berdiri seperti di saat ini. Semua ini dia lakukan demi Airin dan demi Luna.


"Pak Gagah, Bapak ada di sini juga?" Suara seorang pria menyapa Gagah.


Gagah menolehkan pandangan ketika seseorang tiba-tiba saja menyapanya. Dia mendapati seseorang yang pernah dia jumpai beberapa hari lalu, namun dia lupa siapa orang itu, kini berdiri di sampingnya bersama seorang wanita. Seperti Gagah, pria itu pun mengantre tapi di jalur yang berbeda dengan Gagah


"Oh, iya. Maaf, Bapak ini ..." Gagah berusaha mengingat.


"Saya Rey, Pak. Marketing Manager dari Sumber Rejeki Otomotif." Pria yang ternyata adalah Rey, membuka ingatan Gagah.


"Oh, iya, iya, saya ingat. Maafkan saya karena saya agak sedikit lupa." Gagah lalu melirik ke arah wanita di sebelah Rey. Wanita itu berpakaian seksi dengan bagian pusar terbuka dan tindikan di dekat pusar itu.


Gagah menarik tipis sudut bibirnya, melihat wanita yang melingkarkan tangan di lengan Rey.


"Pak Gagah dengan siapa?" tanya Rey kemudian.


"Saya dengan ... keluarga." Tak masalah dia menyebut Airin dan Luna sebagai keluarganya, karena dia yakin, Rey pasti akan menduga jika dirinya dengan Airin adalah pasangan suami istri jika Rey melihat Airin bersamanya.


"Anda sendiri? Istri Anda?" Gagah kembali melirik ke arah Joice di samping Rey.


"Oh, ini teman saya, Pak." Rey seperti enggan mengakui Joice sebagai kekasihnya, apalagi saat melihat lirikan mata Gagah ke arah Joice dengan senyum tipis di bibir Gagah. Rey menangkap jika Gagah mencibir penampilan Joice yang saat ini terlihat kurang pantas untuk dirinya yang berprofesi sebagai seorang Manager.


"Joice, kamu cari kursi dulu." Rey menyuruh Joice mencari meja untuk mereka, karena dia merasa tak nyaman bertemu dengan Gagah ketika dia bersama dengan Joice.


"Aku mau di sini saja, Honey!" Joice menolak diperintah Rey untuk pergi.


"Joice, orang yang di hadapanku ini orang penting, aku tidak mau malu di hadapan Pak Gagah!" bisik Rey beralasan.


"Memangnya kenapa kalau dia orang penting?" Joice seakan menantang.


"Joice, aku ini manager, dan lihat penampilanmu saat ini." Rey tentu tidak ingin Gagah berpikiran buruk terhadapnya karena membawa wanita seperti Joice.


"Ck ...!" Dengan berdecak, Joice akhirnya menuruti permintaan Rey.


"Saya kaget Bapak ada di mall yang beda dengan mall yang dikelola Pak Gagah," ujar Rey meneruskan obrolan karena mereka sama-sama mengantre.


Gagah tertawa kecil mendengar perjalanan Rey. Dia pun langsung menjawab, "Jika kita bekerja sebagai pedagang bakso, kadang kita juga ingin merasakan bakso buatan orang lain, Pak Rey. Tidak ada salahnya mengunjungi mall yang berbeda. Sekalin bisa mengcompare, apa yang tidak ada di mall kami, tapi ada di sini, begitu juga sebaliknya," jawab Gagah.


"Pak Gagah ini benar-benar seorang pemimpin yang handal." Rey mengagumi sosok Gagah yang sudah menguasai jabatan tertinggi di perusahaan retail raksasa sebagai CEO di usia Gagah yang baru memasuki usia tiga puluh tahun.


"Anda terlalu berlebihan menilai saya, Pak Rey." Gagah merendah. Walau memang banyak yang mengangguminya sebagai sosok eksekutif muda yang cukup berhasil, Gagah memang tidak ingin menyombongkan dirinya. Karena perusahaan itu bukanlah miliknya dan dia terhitung masih bekerja di orang lain, meskipun posisi yang dia jabat adalah posisi yang sangat elit.


Sementara itu, Joice yang mencari meja kosong untuknya dan Rey berjalan sampai ke bagian belakang dari arah sebelah kanan restoran cepat saji itu. Hingga kini matanya menjumpai sosok wanita yang dia kenal.


Sudah pasti Joice tidak akan melupakan sosok Airin yang dia tahu adalah mantan istri Rey. Senyuman sinis menggembang di bibir wanita itu melihat keberadaan Airin bersama anak kecil yang dia duga anak dari Airin dan Rey.


"Ini saatnya aku balas dendam setelah dia dan teman-temannya melabrakku tempo hari. Kita lihat saja, bagaimana saat anaknya tahu jika Papanya bermesraan denganku." Otak culas Joice dengan cepat bekerja menyusun rencana ingin melakukan pembalasan atas apa yang dilakukan Airin terhadapnya dulu.


"Wah, wah, wah, siapa menyangka kita akan bertemu di sini?" Joice mendekati Airin lalu berdiri di samping meja Airin dengan tangan melipat di dada.


Airin terperanjat saat melihat kemunculan wanita yang menghancurkan pernikahannya dengan Rey di hadapannya saat ini.


"Ck, Ck, Ck, kasihan sekali, hanya berduaan tanpa suami. Hahaha ..."


cibir Joice diakhiri dengan tawa meledek.


Airin merasa merasa geram, bahkan giginya kini mengerat melihat kehadiran Joice saat ini.


"Kamu yang namanya Luna, kan?" Joice menyentuh pipi chubby Luna.


"Jangan sentuh anak saya!" Airin dengan cepat menepis tangan Joice yang mengusap wajah Luna. Dia bahkan langsung mendekap tubuh Luna, tak sudi Joice menyentuh putrinya.


"Astaga, kamu galak sekali. Aku hanya mencoba mengakrabkan diri dengan calon anak tiriku, apa itu salah?" Joice sengaja memancing emosi Airin.


"Mama Ateu ini ciapa?" tanya Luna, karena dia merasakan Mamanya tidak bersikap baik pada Joice.


"Luna mau tahu siapa Tante?" Justru Joice yang mendahului merespon pertanyaan Luna.


"Dia itu orang gila, Luna!" Kebencian Airin pada Joice membuat dirinya berkata buruk tentang Joice. Airin lalu menutupi telinga Luna agar Luna tidak mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh Joice nanti. Karena dia yakin jika Joice akan mengacau dan mengatakan hal yang tidak baik pada Luna.


"Hei, kenapa kamu menutupi telinga anakmu? Harusnya biarkan dia tahu kalau aku ini calon Mama barunya." Merasa menang karena sudah mendapatkan Rey, Joice justru meledek Airin, bahkan dengan bangga penuh rasa kemenangan dia mengumumkan jika dia adalah calon istri Rey.


Darah Airin seketika itu mendidih, jika dia tidak ingat saat ini dirinya ada di tempat umum dan tidak ada Luna di sana, ingin rasanya dia menca bik wajah Joice dengan kuku-kukunya yang panjang sebagai bentuk rasa kesal, kecewa dan marah dirinya kepada sosok wanita yang sudah menghancurkan mahligai rumah tangganya bersama dengan Rey.


Airin merasakan seperti disiram air garam di atas luka yang dia rasakan saat ini. Bertemu dengan Joice adalah hal yang tidak dia inginkan, apalagi saat ini dirinya sedang bersama Luna.


"Aku pikir Mas Rey itu telah keliru menilai kamu. Dia pikir kamu adalah wanita yang santun dan baik. Tapi, kamu itu ternyata berhati dengki dengan menyebut aku gila. Hahaha ..." Joice senang karena Airin terlihat terpancing dengannya.


"Meja kita di mana, Joice?"


Suara Rey tiba-tiba terdengar membuat Airin sontak mengarahkan pandangan kepada arah Rey.


"Papa ...!" Luna yang melihat kehadiran Papanya di sana sontak turun dari kursi yang dia duduki. Lalu bocah cilik itu berlari menghampiri Rey.


"Luna?" Rey terkesiap saat mengetahui keberadaan Luna di tempat yang sama dengannya. Dia pun menoleh ke arah asal Luna berlari hingga dia mendapati sosok Airin yang menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2