
Airin merasa penasaran dengan perkataan Bi Junah soal penolakan Gagah. Karena yang ia rasakan selama ini Gagah selalu mengejarnya tanpa kenal lelah. Ada saja upaya yang dilakukan Gagah untuk mendapatkan perhatian darinya. Lalu, bagaimana mungkin Gagah pernah menolaknya? Itu yang membuat Airin bingung.
"Maksud Bibi?" tanya Airin untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Eh, hmmm ..." Bi Junah menoleh ke arah Bi Darsih, menyadari dirinya telah kelepasan bicara.
"Kamu ini tidak bisa jaga rahasia sama sekali, Nah." Bi Darsih menegur Bi Junah karena menyebut Gagah pernah menolak Airin.
"Mas Gagah pernah menolak saya, ya, Bi?" tanya Airin makin penasaran.
"Bukan menolak seperti itu, Mbak. Cuma ... Ibu 'kan dulu sering menjodohkan Mas Gagah dengan anak kenalan Ibu. Makanya Mas Gagah selalu menolak. Dan waktu Mbak Airin datang kemari diundang makan malam di rumah ini, Mas Gagah sengaja pulang telat untuk menghindari Mbak Airin. Padahal Mas Gagah belum melihat Mbak Airin secara langsung, jadi saja, Mas Gagah menolak. Itu maksud ucapan Junah tadi, Mbak." Bi Darsih menjelaskan secara detail maksud dari ucapan Bi Junah, agar Airin tidak menjadi salah paham.
"Oh ..." Airin tersenyum, ia pun mengingat bagaimana Gagah sempat tertegun melihatnya ketika dia berpamitan pulang sampai Gagah tidak mau melepas jabat tangan mereka malam itu.
"Tapi, sekarang Mas Gagah kelihatan sayang sama Mbak Airin sama Neng Luna juga." Bi Junah mengklarifikasi perkataan yang tadi sempat membuat Airin penasaran.
Airin tersipu mendengar mendengar pujian Bi Junah terhadapnya. Namun, Airin tidak ingin terlena dengan pujian yang akan bisa membuat dirinya tinggi hati.
"Oh ya, Bi. Kalau Mas Gagah itu makanan favoritnya apa, ya?" tanya Airin, ingin tahu menu favorit sang suami, agar dia bisa memasak menu makanan itu jika mereka tinggal terpisah dengan keluarga orang tua Gagah.
"Mas Gagah suka sayur dan ikan, Mbak. Terutama ikan tuna," jawab Bi Darsih.
"Mas Gagah suka diolah apa tuna nya, Bi?" Airin bertanya lebih detail.
"Mas Gagah suka tuna bumbu kuning, Mbak." sahut Bi Darsih kemudian.
"Oh, gitu ya, Bi? Ya, sudah. Nanti saya minta resepnya biar saya bisa memasaknya untuk Mas Gagah," ujar Airin mulai mengumpas dan memo tong kentang sebelum digoreng.
Bi Darsih dan Bi Junah memperhatikan Airin yang terlihat tak canggung dalam memegang pisau dan mengupas kentang, menandakan jika Airin memang terbiasa memegang benda tersebut. Atau, bisa dikatakan Airin bukan hanya sekedar ingin cari muka agar terlihat rajin di rumah mertuanya itu.
"Mbak sudah biasa masak, ya?" tanya Bi Junah.
"Saya 'kan perempuan, Bi. Bagi perempuan, bisa mengerjakan pekerjaan rumah itu wajib, termasuk memasak. Walaupun tidak terlalu ahli, tapi setidaknya tidak malu-maluin kalau sudah menikah." Dengan terkekeh Airin berkata merendah. Dia memang tidak suka jika terlalu dipuji.
"Mbak Airin termasuk beruntung mendapat mertua seperti Bu Widya. Bu Widya itu baik, dekat dan sayang sama menantu-menantunya, seperti Mbak Ayuning, Mbak Putri sama Mbak Airin." Lama tinggal bersama keluarga Prasetyo, membuat Bi Darsih hapal karakter majikannya.
"Sepertinya kehidupan Bapak sama Ibu sudah hampir lengkap, tinggal tunggu cucu dari Mbak Airin dan Mas Gagah," lanjut Bi Darsih kemudian.
Ucapan Bi Darsih membuat hati Airin kembali gelisah. Apa yang tadi sempat merayapi hati dan pikirannya kembali muncul. Apakah Luna akan tetap disayangi jika dirinya nanti mempunyai anak dari Gagah? Pertanyaan itu membuat hatinya tak tenang.
***
Seorang pria mengawasi rumah Om Fajar dari dalam mobilnya. Rumah itu terlihat sepi dalam pandangan pria yang tak lain adalah Rey. Rey sepertinya sudah tidak punya cara lain selain mengambil Luna dari tangan Airin. Setidaknya, kedua orang tuanya tidak akan terus menerus menyudutkannya jika dia berhasil membawa Luna.
Rey turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu gerbang rumah paman dari mantan istrinya itu. Rey menekan bel di dekat pagar rumah Om Fajar. Dia sudah hapal seluk beluk rumah Om Fajar, sebab Airin sering mengajaknya ke rumah Om Fajar ketika weekend, karena hanya Om Fajar keluarga Airin terdekat di Jakarta. Sementara keluarga Airin lainnya banyak menetap di Yogyakarta.
Setelah bel kedua, barulah terlihat seseorang keluar dari rumah Om Fajar. ART keluarga Om Fajar lah yang berlari untuk membukakan pintu Rey.
"Pak Rey?" Bibi terkejut saat melihat yang datang saat ini adalah Rey.
"Apa Luna ada?" tanya Rey mencari keberadaan putrinya.
"Hmmm, Luna sama Mbak Airin tidak ada di sini, Pak." Tentu Bibi juga sudah tahu masalah apa yang terjadi hingga Airin bisa bercerai dengan Rey. Dia pun merasakan hilang respect terhadap Rey setelah mengetahui perselingkuhan Rey terhadap Airin. Padahal selama mengenal pria itu, Rey adalah pria yang baik, dan sangat sayang terhadap keluarga.
__ADS_1
"Ke mana mereka pindah?" Rey mencoba mencari informasi di mana keberadaan putrinya, meskipun ia yakin jika saat ini Luna dan Airin bersama dengan Gagah.
"Mbak Airin dan Luna sekarang tinggal bersama dengan ..." Bibi ragu untuk mengatakan keberadaan Airin saat ini.
"Rey?" Suara Tante Mira dari arah pintu rumah seolah menjadi penyelamat bagi bibi yang terlihat kebingungan menjawab pertanyaan Rey tadi.
"Tante ..." Rey berharap Tante Mira dapat membantunya bertemu dengan Luna.
"Bi, tolong buka pintuya!" Melihat ART nya msih belum membukakan pintu untuk Rey, Tante Mira segera menyuruh bibi untuk memberi pintu.
"Baik, Bu." sahut Bibi lalu membuka kunci gembok pagar rumah majikannya itu.
"Silahkan duduk, Rey.." Tante Mira mempersilahkan Rey untuk duduk di kursi teras rumah setelah Rey diberi pintu oleh bibi.
"Terima kasih, Tante." sahut Rey lalu duduk di kursi teras.
"Bi, tolong buatkan minum untuk Rey." Tante Mira meminta ART nya untuk menyediakan minum untuk tamu yang sesungguhnya tidak diharapkan datang ke rumahnya.
"Baik, Bu." ujar bibi kemudian masuk untuk melakukan apa yang diminta oleh majikannya.
"Ada pa, Rey?" Tanpa banyak basa-basi Tante Mira menanyakan tujuan kedatangan Rey ke rumahnya. Meskipun berusaha bersikap ramah, namun, tak bisa dipungkiri jika Tante Mira pun merasakan kesal dan sakit hati atas perlakuan Rey terhadap Airin.
"Tante, apa benar jika Airin telah menikah lagi?" Rey mencoba mencari pembenaran status Airin saat ini melalui Tante Mira, karena dia merasa Tante Mira adalah orang yang dapat dipercaya.
Tante Mira mengangkat kedua alisnya hingga menampakkan guratan di kening wanita berusia empat puluh lima tahun itu. Saat mengantar Luna pulang beberapa lalu, Gagah menceritakan kepadanya soal pertemuannya dengan Rey di pameran otomotif yang diselenggarakan di mall Bintang.
"Apa itu jadi masalah untukmu, Rey?" tanya Tante Mira sedikit mencibir Rey.
"Bukan begitu, Tante. Saya hanya tidak ingin pernikahan Airin akan membuat saya semakin kesulitan mempunyai waktu bersama Luna." Rey membuat alasan yang menurutnya masuk akal. Sebab, sebelum menikah dengan Gagah saja, Airin sudah membatasi waktunya bersama Luna.
"Apa Airin sudah lama mengenal pria yang menjadi suaminya sekarang ini, Tante?"selidik Rey, tak ingin secara blak-blakan menuduh Airin dan Gagah sudah mengenal sebelum perceraian dirinya dengan Airin.
Tante Mira menatap Rey dengan tatapan curiga. Sepertinya istri dari paman Airin itu sudah merasa jika Rey sedang menyelidiki hubungan antara Gagah dengan Airin.
"Airin baru bertemu dengan suaminya kurang dari dua bulan ini." Tante Mira menyebut hal yang sejujurnya agar Rey tidak menduga-duga tentang hubungan Airin dengan Gagah.
"Mereka baru bertemu, kenapa Airin begitu cepat memutuskan menikah dengan pria itu, Tante?" Rey seakan menyalahkan Airin yang terlalu cepat memutuskan untuk menikah.
Tante Mira mengerutkan keningnya hingga membuat kedua alisnya hampir bertautan. Pria di hadapannya saat ini membuat dirinya tak habis pikir. Untuk apa lagi Rey mengurusi tentang kehidupan Airin? Bukankah mereka sudah berpisah, artinya Airin bebas mengambil keputusan untuk masa depan Airin, termasuk keputusan untuk kembali menikah. Dan pertanyaan Rey yang seolah menyalahkan keputusan Airin, membuat dirinya mendengus kasar karena merasa kesal.
"Mengenal orang dengan jangka waktu lama pun tidak menjamin orang itu akan bersikap baik, kan?" Jika Rey tahu arti kata malu, sebenarnya sindiran Tante Mira ini pasti akan mengena di hatinya.
"Berapa lama Airin mengenal kamu, Rey? Sejak berkenalan, pacaran hingga menikah? Nyatanya mengenal kamu dalam jangka waktu yang panjang tidak membuat kamu setia pada Airin, kan?" Sudah kadung kesal terhadap Rey, Tante Mira akhirnya mengeluarkan semua unek-uneknya terhadap Rey, yang dia anggap tidak tahu diri itu.
Rey menelan salivanya mendengar perkataan Tante Mira yang terdengar lebih ketus dari sebelumnya. Dia menyadari jika semua itu adalah kesalahannya hingga membuat Airin akhirnya pergi darinya.
"Saat ini Airin sedang merajut kembali kebahagiaan dengan suami barunya. Pria yang menyanyangi Airin juga Luna. Yang mau memperjuangkan keinginannya menikahi Airin, bahkan tidak mempermasalahkan status Airin. Tabte harap, kamu jangan mengusik kehidupan Airin lagi. Jika kamu tidak dapat memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya kepada Airin, biarkan Airin mendapatkan kebahagiaan itu bersama suami barunya." Tante Mira berharap Gagah tidak bersikap egois dan membiarkan Airin bahagia.
Rey terdiam, dia seolah kesulitan untuk menemukan sanggahan yang tepat untuk membalas kata-kata Tante Mira tadi.
"Jika sudah tidak ada lagi yang ingin kamu sampaikan, silahkan jika kamu ingin pulang ..." Tante Mira bangkit dari duduknya, dan mengucapkan kalimat mengusir secara halus Rey dari rumahnya.
Mendapat pengusiran secara halus dari Tante Mira tentu saja tidak diharapkan oleh Rey. Namun, apa yang dikatakan Tante Mira seperti suatu pertanda jika Tante Mira tidak akan dapat membantunya atau lebih tepatnya tidak akan sudi menolongnya. Akhirnya dengan sangat terpaksa, Rey pun meninggalkan rumah Om Fajar dengan tangan hampa.
__ADS_1
***
Seorang wanita muda berusia sembilan belas tahun turun dari mobil mewah yang dibawa oleh supir pribadi keluarganya. Wanita bernama Florencia Amanda Gumilang, putri pertama dari pemilik Biintang Departement Store yang saat ini dikelola oleh Gagah itu baru saja mendarat di bandara setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang dari Los Angeles.
Florencia saat ini sedang libur kuliah. Dia meneruskan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi ternama di negeri Paman Sam itu, karena dia dipersiapkan untuk memimpin perusahaan milik sang papa ke depannya. Saat dijemput oleh supirnya tadi, Florencia meminta supir pribadi Papanya untuk membawanya ke kantor Bintang Departement Store terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah orang tuanya.
"Selamat siang, Nona." sapa security saat melihat kedatangan Florencia di lobby kantor Bintang Departement Store.
Wanita cantik itu hanya menganggukkan kepalanya merespon sapaan dari security tadi. Tak hanya security yang menyapa, para karyawan lain yang melihat kehadiran Florencia pun ikut menyapa wanita yang mereka ketahui adalah putri dari pemilik perusahaan mereka bekerja.
"Selamat siang, Flo." Dewi bangkit dari tempat duduknya saat melihat Flo keluar dari lift.
"Kak Gagah ada, Mbak?" Florencia menanyakan keberadaan Gagah pada Dewi.
"Pak Gagah kebetulan sedang cuti, Flo." jawab Dewi.
"Cuti?" Raut wajah Florencia nampak kecewa saat mendengar jawaban Dewi, "Sudah berapa lama cutinya?" lanjutnya.
"Lima hari ini, Flo. Mungkin lusa juga sudah kerja lagi," sahut Dewi menjelaskan, "Flo kapan datang dari LA?" tanya Dewi berbasa-basi, kepada anak pemilik perusahaan tempatnya bekerja, tentu saja ia harus bersikap ramah.
"Baru sampai, aku langsung kemari karena ingin bertemu Kak Gagah," jelas Florencia.
"Oh, sayang sekali Pak Gagahnya sedang cuti," balas Dewi. Matanya menatap Florencia. Dia tahu sejak remaja dulu, Florencia sering datang ke kantor Papanya hanya untuk bertemu dengan Gagah. Dari pandangannya, Florencia sepertinya menaruh hati pada Gagah. Kala itu Gagah masih menjabat sebagai wakil dari Pak Bintang Gumilang dan Florencia banyak mengambil kesempatan untuk berdekatan dengan Gagah.
Dewi bahkan beranggapan jika kelak Florencia akan berjodoh dengan Gagah. Tentulah, Gagah yang sudah sangat pandai mengurus perusahaan dan dikenal loyal terhadap perusahaan, sampai jabatan CEO diserahkan kepada Gagah, Bukan hal yang mustahil jika Gagah akan diangkat menantu oleh Bintang Gumilang. Mungkin itu yang ada dalam perkiraan banyak karyawan yang mengetahui kedekatan antara Gagah dan Florencia.
Saat ini Gagah telah menikah, akan tetapi, Dewi tidak berani mengatakan hal tersebut kepada Florencia. Dia tidak ingin lancang mengabarkan suatu hal yang pasti akan membuat anak dari pemilik perusahaan itu kecewa. Jika Florencia tahu tentang pernikahan Gagah, biarlah Florencia tahu dari orang lain tidak dari mulutnya.
"Flo? Kamu ada di sini? Kapan datang?" Erlan keluar dari ruangannya yang berhadapan dengan ruangan Gagah terkejut melihat Florencia di kantor itu.
"Hai, Om. Aku baru saja dari bandara, Om. Sengaja ingin mampir ke sini, ingin bertemu Kak Gagah, tapi kata Mbak Dewi Kak Gagah sedang cuti," balas Florencia.
Erlan sontak menoleh ke arah Dewi, sekretaris bosnya itu langsung mengendikkan bahunya saat ditatap oleh Erlan.
"Oh, iya, Pak Gagah memang cuti beberapa hari ini. Masuk dulu, Flo. Bicara di ruangan Om saja ..." Erlan mempersilahkan Florencia untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Tidak usah, Om. Aku mau langsung pulang saja, capek banget perjalanan jauh. Aku pulang ya, Om." Florencia berpamitan, karena tujuannya datang ke kantor Papanya adalah ingin bertemu dengan Gagah. Jika tidak ingin bertemu dengan pria itu, tidak mungkin dia rela dengan kondisi lelah mampir ke kantor Bintang Departement Store.
"Ya sudah, hati-hati, Flo. Salam untuk Papamu." Erlan menitipkan salam untuk orang tua Flo.
"Iya, Om." Florencia lalu meninggalkan Erlan dan Dewi.
"Apa kamu sudah memberitahu Florencia jika Pak Gagah sudah menikah, Wi?" tanya Erlan pada Dewi setelah Florencia masuk ke dalam lift.
"Saya tidak berani memberitahu, Pak. Takut salah bicara," jawab Dewi.
"Ya, kamu benar, Wi. Biar Florencia tahu dari Pak Gagah atau dari Papanya sendiri." Erlan setuju dengan tindakan Dewi yang tutup mulut soal pernikahan Gagah, karena ia yakin jika Florencia akan kecewa mendengar kabar tersebut.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️