JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Jangan Sentuh Aku, Ay!


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang ke rumah Pak Baskoro, Gagah dan Gadis bersama Pak Baskoro telah berdiskusi, apakah akan tetap pulang esok hari atau menunda kepulangan mereka beberapa hari. Dan setelah mempertimbangkan secara matang, Gagah mengambil keputusan tetap akan kembali ke Jakarta besok pagi, sebab bagaimanapun juga Ibu Farah harus tahu kabar soal Gadis. Gagah sendiri merasa perlu mengecek kembali luka terutama cidera di kepala Gadis di rumah sakit Jakarta, karena ia khawatir ada yang tidak terdeteksi dalam pemeriksaan tadi.


"Apa Bapak dan Ibu ikut saja ke Jakarta untuk bertemu Bu Farah, Nak Gagah?" Sebagai orang tua Haikal, tentunya Pak Baskoro tidak ingin lepas tangan begitu saja atas kelalaian Haikal menjaga Gadis, sehingga ia berkewajiban menghadap orang tua Gadis untuk menyampaikan permohonan maafnya.


"Tidak usah, Pak. Biar saya saja yang akan menjelaskan." Gagah melarang mertuanya ikut, sebab ia merasa sanggup menghadapi Ibu Farah sendiri.


"Tapi, Bapak tidak enak kalau tidak datang ke sana untuk minta maaf langsung, Nak Gagah." Pak Baskoro tetap tidak enak hati.


"Ibu Farah itu orangnya sangat bijaksana, Pak. Beliau pasti akan memaklumi." Gagah tetap tak mengijinkan Pak Baskoro ikut pergi ke Jakarta, sebab mertuanya itu mempunyai tugas yang harus dikerjakan di kantor tempat Pak Baskoro bekerja.


"Iya, Pak. Mama pasti akan mengerti, kok." Gadis ikut meyakinkan Pak Baskoro agar tidak perlu merasa khawatir, sebab ia pun pasti akan membantu membela Haikal di hadapan Mamanya jika sang Mama sampai memarahi dan menyalahkan Haikal atas musibah yang dialami olehnya.


Sementara di rumah orang tuanya, Airin gelisah menunggu kedatangan rombongan yang membawa Gadis tiba di rumah. Walau Gagah menyuruhnya beristirahat, tidak mungkin ia bisa tidur nyenyak sebelum melihat sendiri bagaimana kondisi Gadis.


Airin pun rasanya perlu mengeluarkan unek-uneknya pada Haikal karena keteledoran sang adik sampai membuat Gadis terjatuh apalagi Haikal membawa Gadis pergi naik motor, walaupun Ibunya sendiri sudah menjelaskan, jika Gadis yang bersikeras ingin pergi jalan-jalan menggunakan motor.


Saat suara deru mobil memasuki pekarangan rumah, Airin bergegas menuju ke arah pintu dan ke luar sampai ke teras, tak memperdulikan jika saat ini dirinya sedang hamil yang seharusnya membutuhkan istirahat yang cukup.


"Gadis, mana, Pak? Ketika melihat Pak Baskoro turun dari mobil, Airin langsung mencari keberadaan Gadis.


"Kenapa kamu belum tidur, Ay?" Dari arah pintu mobil yang berbeda dengan Pak Baskoro, Gagah keluar dan langsung menegur sang istri yang masih terjaga. Dia sampai tidak mengucapkan salam karena terkejut Airin belum tidur.


"Mana bisa aku tidur tenang, Mas? Aku khawatir sama Gadis." Airin mengatakan alasannya memilih menunggu suaminya datang bersama Gadis.


"Kak Airin ..." Pintu mobil penumpang dibuka oleh Pak Baskoro, dan Gadis keluar dari dalam mobil itu.

__ADS_1


"Ya Allah, Gadis. Kamu bagaimana? Mana saja yang cidera?" Airin langsung menyambut Gadis dan memperhatikan tubuh Gadis dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Kepalaku yang agak sakit, Kak. Tangan dan kaki hanya lecet saja," jawab Gadis menunjukkan cidera di siku tangannya.


"Aduh, Dis. Kakak minta maaf, karena Haikal kamu jadi seperti ini," Airin ikut merasa bersalah hingga menyampaikan permintaan maaf atas nama keluarga besar Haikal. Dia lalu menoleh ke arah mobil kembali mencari keberadaan sang adik. "Mana Haikal, Mas?" Sepertinya Airin sudah siap untuk memarahi adik semata wayangnya itu.


"Haikal naik motor, Ay." jawab Gagah, "Ayo, kita masuk ..." Gagah mengajak Airin, Gadis dan mertuanya masuk ke dalam rumah.


"Pasti Haikal ngebut bawa motornya sampai kamu terjatuh, ya?" Siapa pun yang tidak tahu kejadian yang sesungguhnya pasti akan mengira Gadis terjatuh karena Haikal mengendarai motor dengan sangat kencang.


"Tidak, Kak. Ini bukan salah Kak Haikal. Aku jatuh bukan karena Kak Haikal ngebut, tapi karena aku kena jambret orang. Tadi waktu dalam perjalanan pulang, ada dua orang naik motor merapat ke motor Kak Haikal, lalu berusaha mengambil sling bag aku, karena itulah aku jatuh dari motor." Gadis menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Airin dan Ibu Heny, sebab Gagah dan Pak Baskoro sudah mendengar cerita yang sebenarnya.


"Astaghfirullahal adzim! Kamu kena jambret?"


"Ya Allah, gimana cerita bisa sampai kena jambret, Nak?"


"Sudahlah, Bu. Nak Gadis ini masih syok, sebaiknya jangan ditanya-tanya dulu. Biarkan tenang dulu ..." Melihat istri dan anaknya kepo dengan peristiwa kriminal yang dialami Gadis, Pak Baskoro menyarankan agar Gadis jangan banyak diberi pertanyaan, karena Gadis pasti akan mengalami trauma.


Di saat yang bersamaan suara deru motor Haikal terdengar dari luar rumah hingga tak lama kemudian muncul Haikal dari arah pintu masuk.


"Assalamualaikum ...." Haikal berjalan masuk dengan menatap ke arah sang ibu dan kakaknya secara bergantian. Mungkin di mata keluarganya dia sudah seperti terdakwa yang sudah siap untuk disidang.


"Waalaikumsalam ..." Salam Haikal dibalas berbarengan oleh semua yang ada di ruangan tamu.


"Kamu ini gimana, sih, Kal!? Kenapa Gadis sampai bisa kena jambret? Kamu sama sekali tidak bisa menjaga Gadis! Kalau nanti Ibu Farah menyalahkan kamu bagaimana? Mbak malu sama Bu Farah. Mas Gagah juga pasti kebebanan dengan masalah ini. Bawa anak gadis orang tidak bertanggungjawab, sampai bikin celaka seperti ini!" Kekesalan Airin tak terbendung, hingga ia tumpahkan semua ketika melihat kemunculan Haikal.

__ADS_1


"Ay, sudahlah ... masalah Ibu Farah nanti biar aku yang tangani. Sebaiknya kamu istirahat, ini sudah malam ..." Gagah menenangkan istrinya yang tak berhenti mengomel.


"Nak Gagah benar, Rin. Sebaiknya kamu istirahat, biar Nak Gadis juga bisa istirahat." Pak Baskoro setuju dengan pemikiran Gagah. Dia merasa semua perlu beristirahat kerena penat akibat permasalahan yang terjadi di luar dugaan mereka.


"Mas, aku mau menemani Gadis, aku tidur di kamar Gadis saja, ya?" Saking merasa tidak enak hati pada Gadis, Airin sampai berniat menemani Gadis tidur di kamar tamu.


Permintaan Airin membuat kening Gagah berkerut, dia datang ke Yogyakarta karena ingin dekat dengan sang istri, namun Airin malah memilih menemani Gadis. Meskipun ia juga merasa iba dengan Gadis, tapi ia merasa saat ini Gadis sudah aman di rumah mertuanya. Dia juga yakin, jika Airin bersama Gadis tidur di kamar yang sama, kedua wanita itu bukan beristirahat namun akan terus berbincang.


"Gadis biar ibu saja yang menemani, Rin. Kasihan suami kamu, jauh-jauh datang ke sini masa tidak kamu layani." Untung Bu Heny cepat tanggap dan mengambil tindakan dengan mengatakan dirinya sendiri yang akan menemani Gadis, agar tidak menganggu Gagah dan Airin.


"Iya, Kak Airin. Kak Airin jangan meninggalkan Kak Gagah." Gadis setuju dengan ucapan Ibu Heny, karena dengan ditemani oleh Ibu Heny, dirinya akan lebih akrab dan dekat dengan ibu dari Haikal itu. "Hmmm, tapi aku tidak merepotkan Ibu, kan?" Walau berharap ditemani Ibu Heny namun Gadis juga khawatir dirinya akan merepotkan wanita paruh baya itu.


"Tidak, Nak Gadis. Ibu justru merasa bertanggung jawab terhadap kamu," jawab Ibu Heny.


"Ya sudah, sebaiknya sekarang semua beristirahat, sebab besok pagi kalian akan kembali ke Jakarta." Pak Baskoro kembali menyuruh semua beristirahat. Dan mereka pun kembali ke tempat masing-masing termasuk Airin dan juga Gagah.


Airin dan Gagah berjalan ke arah kamar. Ketika masuk ke dalam kamar, Airin melingkarkan tangan ke pinggang Gagah. Namun ia terkejut saat Gagah menepis tangannya lalu berkata,"Jangan sentuh aku, Ay!"


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2