
Gagah menghampiri seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri mengedar pandangan mencari orang yang akan menjemputnya. Airin tidak mengatakan pada Wulan jika Gagah lah yang akan menjemput Nenek Luna di bandara. Wulan hanya dikabari oleh seorang pria yang mengatakan akan menjemput dirinya.
"Selamat sore, dengan Bu Wulan? Perkenalkan, saya Gagah yang akan mengantar Ibu," sapa Gagah ketika sampai di hadapan Wulan.
Wulan memperhatikan pria muda berwajah tampan berpenampilan charming. Dengan setelan blazer senada dengan celana panjang ditambah dengan dasi yang terpasang, dari penampilannya, pria itu terlihat bukan pria sembarangan.
"Oh, iya. Mas ini?" Saking tertegun melihat penampilan Gagah yang begitu menawan, Wulan sampai tidak konsen saat Gagah menyebutkan namanya tadi.
"Saya Gagah, Bu." sahut Gagah, "Mari silahkan ikut saya, Bu." Gagah kemudian mengajak Wulan menuju arah mobilnya.
Wulan terkejut saat Gagah membukakan pintu mobil mewah untuknya. Dugaan jika pria yang menjemput dirinya bukan pria sembarangan semakin terlihat jelas. Ia teringat kata-kata Rey yang menyebut suami baru Airin itu seorang CEO, apa jangan-jangan pria yang ada di hadapannya saat ini adalah suami Airin? Itu yang muncul di benak Wulan.
"Maaf, Mas. Kalau saya boleh bertanya, apa Mas ini suaminya Airin?' Penasaran dengan sosok Gagah, Wulan bertanya dengan sopan.
"Benar, Bu. Saya suaminya Airin," sahut Gagah menoleh ke arah spion dan mulai menjalanlan mobilnya keluar dari bandara.
Wulan seperti kehilangan kata-kata. Suami baru Airin ternyata benar-benar jauh di atas anaknya. Bukan hanya dari penampilan fisik tapi juga dari segi finasial dan status sosial. Wulan merasa jika Rey lah yang pantas merana melihat mantan istri yang diselingkuhi mendapatkan pria lain yang lebih sempurna. Tapi, apa Gagah tahu jika dirinya adalah orang tua dari mantan suami Airin sebelumnya? Kenapa Gagah mengijinkan bahkan mau menjemput dirinya? Pertanyaan itu hinggap di pikiran Wulan.
"Selamat atas pernikahan Mas dan Airin. Saya turut senang akhirnya Airin mendapatkan jodoh yang lebih baik." Walau sejujurnya hatinya merasa sedih, namun Wulan mesti berbesar hati. Tidak mungkin dirinya mendoakan yang buruk pada pernikahan Airin dengan Gagah, karena bagaimanapun juga Airin adalah ibu dari cucunya.
"Terima kasih, Bu." Gagah menyahuti dengan mengembangkan senyuman, "Panggil Gagah saja, Bu." Gagah meminta Wulan tidak memanggilnya dengan sebutan Mas.
"Oh ya, apa Ibu akan menginap di Jakarta ini?' tanya Gagah kemudian. Jika Wulan ingin menginap dan ingin memesan hotel, tentu ia akan memesankan hotel untuk Wulan menginap, karena saat ini waktu sudah memasuki petang.
"Iya, Nak Gagah. Nanti jika sudah bertemu dengan Airin, rencananya Ibu akan memesan hotel, karena mungkin baru besok Ibu kembali ke Bali," sahut Wulan. Dia memilih menginap di hotel daripada menginap di rumah Rey, karena kedatangan dirinya di Jakarta pun tanpa sepengetahuan Rey.
"Kalau begitu biar saya saja yang pesankan hotel untuk Ibu menginap," ujar Gagah. Sebenarnya rumah keluarga Prasetyo juga menyediakan kamar tamu, namun ia tak enak untuk memakai kamar tamu tersebut jika tanpa persetujuan orang tuanya, sebab orang yang ia bawa adalah mantan mertua Airin.
"Aduh, tidak usah repot-repot, Nak Gagah. Biar Ibu pesan sendiri saja menggunakan aplikasi." Tak enak mendapatkan penawaran Gagah, Wulan pun menolak dengan halus.
"Tidak apa-apa, Bu. Ibu adalah Neneknya Luna, jadi Ibu tidak perlu merasa canggung terhadap saya," jawab Gagah.
Wulan sungguh merasa tersenyum mendapatkan perlakuan yang sangat baik dari Gagah. Sepertinya apa yang diceritakan Ibu Heny tentang suami Airin memang benar adanya, jika suami Airin yang baru memang orang yang sangat baik.
"Saya mendengar cerita dari Ibunya Airin, Ibu Heny bilang jika Nak Gagah ini sangat dekat dengan Luna. Saya berterimakasih kepada Nak Gagah karena sudah menerima cucu saya dengan sangat baik." Tak lupa Wulan menghaturkan ucapan terima kasih kepada Gagah karena perlakuan gagah terhadap cucunya.
"Itu sudah kewajiban saya sebagai suami Airin dan Papa sambung bagi Luna, Bu. Ketika saya memutuskan untuk menerima Airin sebagai istri saya, saya juga harus menerima dan menyanyangi Luna sebagai anak sambung saya." Gagah menjelaskan sikapnya itu suatu bentuk tanggung jawab karena memperistri Airin yang berstatus janda dengan seorang anak.
Wulan mendesah, melihat jawban Gagah dirinya sangat merasa malu sebagai orang tua Rey. Tapi dia merasa bersyukur, Airin mendapatkan orang yang tepat sehingga dia tidak mengkhawatirkan cucunya.
"Airin beruntung mendapatkan suami seperti Nak Gagah." Bahkan mulut Wulan secara refleks mengatakan soal keberuntungan Airin mendapatkan suami seperti Gagah.
__ADS_1
"Saya juga beruntung mempunyai istri seperti Airin, Bu. Meskipun dengan status Airin saat itu, tapi bagi saya dia adalah wanita yang sangat istimewa." Gagah tak ragu memuji Airin di hadapan mantan mertua Airin.
Tarikan nafas Wulan terdengar. Tanpa mesti dijelaskan oleh Gagah, dia pun sudah sangat tahu jika Airin memang wanita baik. Hanya anaknya saja yang tidak merasa bersyukur mempunyai istri seperti Airin sehingga berselingkuh dengan wanita murahan seperti Joice.
"Airin memang wanita yang baik. Dulu Ibu merasa beruntung anak Ibu mempunyai istri seperti Airin, tapi ..." Wulan menjeda ucapannya, dia tidak dapat menyembunyikan kekecewaan dan kesedihannya, "Ibu tidak mengerti se tan apa yang mempengaruhi Rey sampai dia terlibat selingkuh dengan wanita seperti itu." Suara Wulan bergetar seakan menahan untuk tidak menangis dan mengeluarkan air matanya.
Dari kaca spion, Gagah dapat melihat Wulan nampak bersedih. Dia sangat mengerti perasaan Wulan saat ini pasti sangat merasa kehilangan dengan perceraian Airin dengan Rey.
"Saya dapat mengerti perasaan Ibu. Jika Ibu menyanyangi Airin seperti anak Ibu sendiri, Ibu tidak perlu merasa khawatir, saya akan menjaga Airin. Ibu adalah nenek dari Luna, selamanya itu tidak akan berubah." Gagah harus bersikap bijaksana, karena di antara dirinya dengan Luna ada orang tua dari pihak papa kandung Luna. Dan dia ingin menjadi sosok yang adil untuk Luna.
"Saya akan tetap memberi waktu jika Ibu ingin bertemu dengan Airin maupun Luna. Saya tidak akan memutuskan hubungan antara Luna dengan Neneknya. Tapi, mungkin akan berbeda sikap dengan anak Ibu. Saya harus membatasi pertemuan Luna dengan papa kandungnya, karena faktor wanita yang saat ini sedang menjalin hubungan dengan anak Ibu itu." Gagah menunjukkan sikap tegasnya. dia tidak ingin membiarkan Luna berlama-lama dengan Rey karena pengaruh buruk Joice akan perdampak tidak baik bagi Luna.
Teringat sosok wanita selingkuhan Rey yang disebut oleh Gagah, hati Wulan merasakan kesal sendiri. Dia ingat bagaimana sikap tidak sopan Joice saat menemuinya. Belum lagi fitnahan yang dilakukan wanita itu kepada Airin dengan memutarbalikan fakta dengan menuduh Airin selingkuh, tak beda jauh dengan Rey.
"Jujur saja, Ibu juga tidak mengerti mengapa Rey bisa sebo doh itu berhubungan dengan wanita seperti dia. Tidak sopan terhadap orang tua. Bisa-bisabya ingin menjadi menantu Ibu. Beda jauh dengan Airin. Sampai kiamat pun Ibu tidak sudi mempunyai menantu seperti dia." Kalimat yang terucap dari mulut Wulan terdengar geram. Kemarahan atas perselingkuhan Rey juga karena sikap tidak sopan Joyce terhadapnya rasanya sulit untuk dimaafkan.
Gagah hanya diam mendengar keluhan Wulan. Meskipun ingin rasanya berkomentar, namun Gagah memilih untuk diam demi menghargai perasaan Wulan yang sedang merasa kecewa berat akan sikap anaknya sendiri.
***
Saat turun dari dalam mobil, Wulan tercengang melihat rumah yang ada di hadapannya saat ini. Rumah itu terlihat sangat besar dan berdiri megah. Tidak dia tampikan dengan jabatan yang dimiliki oleh Gagah, sudah sangat wajar Gagah tinggal di rumah sebesar itu.
Wulan tersenyum tipis. Dia seolah mencibir kebo dohan anaknya sendiri. Jika Rey melihat dengan matanya sendiri kondisi Airin saat ini, mungkin Rey hanya bisa menyesal.
Terdengar suara Luna berteriak memanggil nama Wulan membuat Wulan menolehkan pandangan ke arah teras rumah besar itu di mana suara Luna berasal.
"Luna, Sayang ..." Wulan bergegas dengan sedikit berlari menghampiri cucunya. Dia langsung memeluk dan mengangkat tubuh Luna, menciumi pipi chubby cucunya itu. Dia sampai lupa tidak mengucapkan salam selayaknya tamu ketika berkunjung.
Airin yang melihat Wulan begitu merindukan Luna merasa terenyuh. Nenek Luna itu terlihat seperti sedang melepas kerinduan seolah sudah lama tak bertemu dengan cucunya.
Sementara dari arah belakang Wulan, Gagah berjalan memperhatikan Wulan yang sedang menciumi pipi Luna sebagai bentuk rasa rindunya dan takut akan kehilangan cucunya itu. Setelahnya Gagah menoleh ke arah Airin.
"Assalamualaikum ..." Gagah mengucap salam.
"Waalaikumsalam ..." Airin menghampiri Gagah, mencium tangannya dan mengambil tas kerja milik suaminya itu.
"Astaghfirullahal adzim, Mama sampai lupa mengucap salam." Menyadari kesalahannya, Wulan langsung meminta maaf.
"Tidak apa-apa, Bu." Airin mencium tangan Wulan juga memeluknya.
"Maafkan Mama, Rin. Karena perbuatan Rey terhadap kamu." Meskipun sudah mengatakan via telepon, namun Wulan merasa perlu meminta maaf kembali atas penghianatan Rey terhadap Airin.
__ADS_1
"Ibu tidak perlu minta maaf sama aku, Ibu tidak bersalah ke aku," Menolak mantan mertuanya minta maaf, karena Airin merasa apa yang terjadi bukan karena kesalahan Wulan.
"Aura kamu semakin bersinar, Rin. Pasti karena kamu bahagia dengan pernikahanmu sekarang ini, ya?" Wulan mengusap wajah Airin.
Airin langsung melirik ke arah Gagah, sementara wajahnya tak dapat dibendung langsung merona karena ucapan mantan Mama mertuanya itu.
"Sebaiknya kita masuk dulu, Bu." Gagah mempersilahkan Wulan untuk masuk ke dalam rumah orang tuanya.
"Iya, terima kasih, Nak Gagah." Sambil menggendong Luna, Wulan pun masuk ke dalam rumah Prasetyo.
"Luna tambah berat ini. Nanti lama-lama Nenek sudah tidak kuat gendong Luna." Wulan terkekeh menggoda cucunya.
Di ruang tamu, Widya sudah menunggu kedatangan Wulan karena Airin sudah bercerita jika Gagah akan membawa Wulan ke rumah Prasetyo.
"Ini Neneknya Luna?" Widya bangkit dari tempat duduk lalu melangkah menghampiri Wulan.
"Perkenalkan, Bu, ini Mama saya ..." Gagah memperkenalkan Mamanya pada Wulan.
"Oh, Assalamualaikum, Bu. Saya Wulan ..." Wulan memperkenalkan diri.
"Waalaikumsalam, saya Widya, Bu Wulan." Widya membalas perkenalan Wulan. "Mari, silakan duduk, Bu." Widya mempersilahkan Wulan duduk.
"Terima kasih, Bu Widya." Wulan duduk di sofa dengan Luna berada di pangkuannya.
"Luna senang bisa ketemu Nenek, ya?" tanya Widya pada Luna.
"Cenang, Nek." sahut Luna menjawab pertanyaan Widya.
"Sekarang Luna punya banyak Nenek, ya?" Widya mengusap kepala cucunya. "Luna senang tinggal di sini?"
"Cenang, Nek. Kamal Luna ada pelosotan cama mandi bolanya, Nek. Papa Gagah yang buat." Tanpa diarahkan, Luna menceritakan bagaimana isi kamarnya yang mirip seperti di area permainan anak.
Hati Wulan seakan mencelos mendengar Luna bercerita dan membanggakan peran Gagah. Sementara papa kandung Luna terlalu sibuk dengan wanita selingkuhannya, tak memperdulikan kebahagiaan anaknya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️