
Airin seolah berada dalam kepungan orang-orang yang siap membuatnya tak berkutik di hadapan Gagah. Berdua saja bersama Gagah, pria itu punya seribu cara untuk membuatnya salah tingkah. Begitu juga ketika dia berkumpul bersama keluarganya, ia seakan menjadi bulan-bulanan keluarganya, terutama oleh Luna dan Feby.
Airin menundukkan kepalanya. Dia tidak mungkin menegur Feby, dan hanya bisa pasrah. Ia yakin, saat ini Gagah sedang menikmati, karena semua orang mendukung pria itu.
"Kamu kerja di bagian apa?"
Untung saja Gagah segera melemparkan pertanyaan berikutnya kepada Haikal, hingga tidak terus membahas apa yang diucapkan oleh Feby tadi.
"Saya hanya pramuniaga saja, Kak." Tampaknya, Haikal menuruti apa yang dikatakan oleh Feby, dengan merubah panggilannya kepada Gagah.
"Sudah berapa lama bekerja sebagai pramuniaga di BDS?"
"Lima tahun ini, Kak."
"Siapa Branch Manager di sana?"
"Pak Rahman Nugroho, Kak."
"Oke, oke, nanti saya akan atur, supaya kamu bisa mendapatkan posisi yang lebih baik di sana." Sudah pasti, Gagah akan mempromosikan Haikal untuk mendapatkan posisi yang lebih penting. Karena, jika tidak ada aral melintang, Haikal adalah calon adik iparnya. Tidak mungkin Gagah membiarkan begitu saja Haikal bekerja sebagai pramuniaga.
"Wah, jadi merepotkan Nak Gagah. Apa itu tidak akan jadi masalah, Nak Gagah?" Pak Baskoro khawatir jika kenaikkan jabatan Haikal nanti akan menjadi pergunjingan karyawan lain di sana.
"Tidak apa-apa, Pak. Nanti saya atur orang saya supaya bisa mempromosikan Haikal mendapat posisi yang lebih baik di BDS," sahut Gagah. Sebagai direktur utama, sudah pasti ia punya kuasa untuk menaikkan atau juga memberhentikan orang sesuai dengan keinginannya.
"Terima kasih, Kak." jawab Haikal senang.
"Enak banget Kak Haikal naik jabatan. Aku juga mau dong, Kak Gagah. Kalau aku sudah lulus nanti, aku kerja di perusahaan tempat Kak Gagah saja,
ya! Biar aku tidak pusing cari-cari pekerjaan." Feby ikutan berkomentar. Berharap jika Airin berjodoh dengan Gagah, akan lebih memudahkan dia mendapatkan pekerjaan dengan campur tangan Gagah.
"Kamu ini. Sekolah saja dulu yang pintar, biar dapat pekerjaan yang enak!" tegur Ibu Heny.
"Kalau Kak Airin jadi sama Kak Gagah, aku 'kan tinggal minta dicarikan pekerjaan sama Kak Gagah saja, Bude." Feby menanggapi dengan santai ucapan Ibu Heny.
"Itu bisa diatur. Kamu selesaikan saja dulu sekolah kamu, lanjut dengan kuliah, agar kamu bisa mendapatkan pekerjaan sesuai dengan yang kamu inginkan. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang kamu miliki, peluang mendapatkan pekerjaan dan gaji yang sesuai dengan yang kamu inginkan akan lebih besar. Selain faktor keberuntungan juga." Gagah menuturkan bagaimana caranya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak seperti yang diidamkan orang.
"Tuh, dengar, Feby. Jangan cari mudahnya saja! Pendidikan juga penting!" ucap Ibu Heny menasehati keponakannya
Selepas menyantap sarapan bersama, Gagah menunaikan janjinya kepada Luna, untuk jalan-jalan. Kali ini Gagah membawa Luna berkeliling menaiki delman. Dan itu atas permintaan Luna, hingga kini mereka bertiga menaiki kendaraan yang juga dikenal dengan sebutan andong.
Luna terlihat senang. Bocah itu tertawa riang sambil memperhatikan kusir andong yang sedang mengendalikan kudanya agar tetap berjalan di treknya dan tidak ngadat berhenti, tak mau berjalan.
"Luna sudah pernah naik ini sebelumnya?" tanya Gagah pada Airin.
__ADS_1
"Dia takut dan selalu menolak kalau dulu diajak Papanya naik ini." Airin menceritakan bagaimana ketakutan Luna terhadap delman. Karena itu ia juga merasa heran, kenapa sekarang ini Luna justru minta naik delman.
"Lho, tadi kenapa dia justru minta naik ini?" tanya Gagah terheran.
"Saya juga tidak tahu, biasanya Luna selalu ketakutan sama kudanya," jelas Airin.
"Luna senang tidak naik delman ini?" Kini Luna yang ditanyakan oleh Gagah.
"Cenang, Om." jawab Luna
"Tidak takut sama kudanya?" Gagah menanyakan hal yang disebutkan oleh Airin tadi.
"Ndak, Om." sahut Luna menggelengkan kepalanya, "Kan, cama Om Gagah," lanjutnya.
Gagah menoleh ke arah Airin. Apa yang dijelaskan oleh Airin sangat bertentangan dengan fakta yang terlihat di depan mata saat ini. Senyuman pun langsung terkulum di sudut bibir pria itu, karena bersama dengan dirinya, Luna sepertinya sudah merasakan kenyamanan.
Hingga satu jam berlalu, mereka masih menikmati suasana pagi hari di kota Yogyakarta. Gagah benar-benar merasa sudah seperti seorang suami dan papa bagi Airin juga Luna. Orang-orang yang melihat mereka pun akan beranggapan jika mereka adalah sebuah keluarga kecil.
Mereka kini duduk di kursi taman, membiarkan Luna yang bermain di taman. Sebenarnya Airin ingin mengatakan soal keputusannya untuk menerima pinangan Gagah. Namun, dia masih merasa malu untuk mengatakan hal tersebut. Sedangkan dia sendiri sudah mengatakan kepada orang tuanya, jika dirinya akan bicara sendiri pada Gagah.
"Ada yang ingin kamu bicarakan?" Gagah seperti menyadari kegelisahan yang dirasakan Airin, karena wanita itu tampak tidak tenang di mata Gagah.
"Hmmm, itu ... hmmm ..." Airin bingung ingin memulai pembicaraan.
Gagah justru terkekeh mendengar Airin yang gelagapan tak menjawab jelas pertanyaannya.
"Hmmm ..."Airin menelan salivanya. Sepertinya lidahnya terasa kelu hingga sulit untuk berkata-kata. Apalagi netra Gagah masih terus memandangnya.
"Hmmm apa? Sejak tadi itu terus yang terdengar dari mulut kamu. Apa. ada yang mengganjal di hati kamu?" tanya Gagah penasaran. Gagah belum tahu, jika hal yang ingin dibicarakan Airin adalah keputusan untuk menerima Gagah untuk menjadi pendamping hidup Airin
"Soal ... soal niat Mas Gagah itu ..." ucap Airin malu-malu.
"Niat saya? Niat saya yang mana, ya?" tanya Gagah santai, berpura-pura tidak mengerti apa yang ingin dibicarakan oleh Airin.
Airin menoleh ke arah Gagah dengan memicingkan matanya. Terlihat olehnya, pria itu kurang serius dengan niatan untuk menikahinya, membuat Airin kembali ragu kembali untuk mengatakan apa yang sudah dia putuskan.
"Hmmm, tidak. Lupakan saja!" Kesal dengan sikap Gagah yang terkesan hanya main-main, Airin mengurungkan niatnya menerima Gagah.
"Niat saya itu banyak, Airin. Niat saya melamar kamu, niat saya menyekolahkan Luna di fullday school, niat saya memberi posisi yang layak untuk adik kamu. Jadi, niat yang mana yang ingin kamu bicarakan?" Mendapati Airin merajuk karena sikapnya, Gagah akhirnya menghentikan niatan menggoda Airin.
"Soal rencana Mas ingin menikahi saya. Apa Mas benar-benar serius?" tanya Airin mencoba memastikan perasaan Gagah terhadapnya.
Kedua alis Gagah terangkat ke atas. Ia merasakan akan ada berita baik untuknya dengan pertanyaan Airin tadi.
__ADS_1
"Kamu pikir, kalau saya tidak serius dengan niat saya, untuk apa saya datang jauh-jauh menemui orang tua kamu?" Gagah melemparkan pertanyaan yang sesungguhnya tidak membutuhkan jawaban dari Airin. Sebenarnya itu hanya sebuah penegasan dari Gagah, jika apa yang dilakukannya adalah bukti ia serius menginginkan Airin.
Airin kembali menatap Gagah lebih lama. Sorot mata pria itu mengarah tepat ke bola matanya. Dari sorot mata Gagah, ia pun merasakan jika Gagah memang tidak main-main dengan niat menjadikan ia istri pria itu.
Airin buru-buru memutus pandangan. Bersitatap terlalu lama dengan pria itu membuat jantungnya terus berdetak kencang.
"Hmmm, semalam saya sudah berpikir tentang niat Mas itu ...."
"Lalu?"
"Saya ... hmmm, kalau memang Mas benar serius, saya akan terima itu." Seperti terlepas dari beban berat yang menghimpitnya, Airin merasa lega setelah mengatakan hal itu pada Gagah, meskipun tak menunggu lama, rona merah langsung membias di wajah Airin.
Penyataan kesediaan Airin menerima dirinya tentu saja membuat Gagah terkesiap. Tak menduga jika wanita cantik yang duduk di sebelahnya itu menerima lamarannya. Seperti disiram air hujan setelah dilanda kekeringan yang cukup panjang. Seperti itulah yang dirasakan Gagah saat ini. Setelah mencoba mencari wanita yang cocok dan sesuai dengan keinginannya, akhirnya dia mendapatkan semuanya dari sosok Airin.
"Apa kamu serius, Airin? Aku tidak salah dengar, kan?" Gagah butuh memastikan jika yang didengarnya tadi adalah nyata, dan bukan halusinasinya saja.
"Iya, tapi ...."
"Tapi apa, Airin?" Tak sabar Gagah mengetahui syarat yang akan diberikan oleh Airin. Namun, ia bertekad akan melakukan syarat yang diberikan oleh Airin.
"Tapi, jika Mas ingin menikahi saya secepatnya, saya tidak ingin mengadakan pesta dulu, karena saya baru saja bercerai." Airin menyebutkan syarat yang harus dipenuhi Gagah jika ingin tetap menikahinya.
"Saya bersedia, Airin!" Tanpa berpikir panjang, Gagah menyetujui permintaan Airin. Baginya, menikah dan memiliki Airin jauh lebih penting daripada sekedar menyelenggarakan pesta meriah.
"Terima kasih, Airin." Secara refleks Gagah menggenggam tangan Airin.
Airin terkesiap saat tangan Gagah tiba-tiba menggenggam tangannya. Dia ingin menarik dan melepaskan tangannya dari tangan Gagah. Namun, pria itu tidak mengijinkannya.
"Hanya menggenggam saja, Airin. Sebentar lagi juga kita akan menikah, kita bisa melakukan lebih dari sekedar menggenggam tangan jika sudah sah nanti, kan?" ucap Gagah tersenyum bahagia.
Airin sontak menundukkan kepalanya, karena merasa malu. Astaga, dia merasa jika dirinya seperti anak perawan yang baru dilamar, sampai merasa malu dan berdebar-debar.
"Duh, Ayah, Bunda. Keasyikan mesra-mesraan, sampai tidak sadar anaknya dibawa pergi sama orang."
Suara seorang wanita tiba-tiba memecah suasana romantis Gagah dan Airin. Mereka pun tersentak mendengar ucapan wanita tadi. Sontak pandangan mata mereka mengarah ke tempat Luna tadi bermain. Bola mata mereka berdua sama-sama terbelalak ketika mereka tak mendapati sosok Luna di sana.
"Luna!" pekik Gagah dan Airin bersamaan dengan kepanikan yang tiba-tiba menyeruak di hati mereka berdua.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️