JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Kamu Mengusir Saya?


__ADS_3

Dengan malu-malu Airin duduk di samping Gagah. Warna merah muda seketika membias di wajah cantik wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu. Berdekatan dengan Gagah saja sering membuat detak jantungnya tidak nyaman, apalagi saat ini ada Andika di hadapannya.


"Pak Gagah tadi sudah bicara pada saya. Beliau ini minta ijin untuk cuti kamu karena rencana pernikahan kalian," jelas Andika.


Airin melirik Gagah di sampingnya. Walaupun Andika sudah tahu jika mereka akan menikah. Airin tetap merasa canggung untuk bersikap rileks.


"Terima kasih atas bantuan Pak Andika. Doakan semoga pernikahan kami berjalan lancar," ucap Gagah.


"Sudah pasti saya doakan semoga pernikahan Pak Gagah dan Airin lancar sampai sah. Semoga selalu diberikan kebahagiaan dan menjadi keluarga Samawa nantinya," harap Andika.


"Aamiin, Pak. Terima kasih." jawab Gagah dan Airin bersamaan.


Andika dan Gagah kembali berbincang, sementara Airin hanya menjadi pendengar di antara kedua pria itu.


Setelah perbincangan berakhir, Gagah membawa Airin pergi makan siang. Saat keluar dari lift, beberapa pasang mata memperhatikan Airin yang berjalan berdampingan dengan Gagah. Berbagai macam anggapan berkecamuk di pikiran sesama karyawan bank itu ketika melihat kebersamaan mereka. Hal itu tentu membuat Airin merasa jengah. Apalagi saat Airin berjalan ke arah mejanya untuk mengambil ponsel dan berpamitan pada Fany juga rekan yang lainnya untuk makan siang, Gagah memilih menunggu Airin dan tidak keluar ruangan terlebih dahulu. Bahkan Gagah sempat melingkarkan tangannya di pundak Airin walau singkat ketika hendak keluar pintu bank.


Desas desus pun langsung terdengar di setiap sudut ruangan tersebut, setelah sepasang insan itu menghilang dari ruangan bank. Tak terkecuali Leo yang saat itu sedang menjalankan transaksi nasabah dengan nominal tinggi.


"Gila si Airin. Buang Manager dapat CEO, mana lebih ganteng lagi," ujar Hanna, salah seorang teller berbicara pada Deasy, rekan di sebelahnya, karena saat ini tidak sedang ada nasabah yang mereka layani.


"Ssstt, ada Pak Leo," bisik Deasy menunjuk Leo yang berdiri di sebelahnya dengan gerakan matanya.


"Pak Leo kalah gesit, nih! Jadi keduluan sama bos mall itu si Airin." Bukannya menurunkan nada bicaranya, Hanna justru menyindir dengan nada bercanda pada Leo.


Leo merespon dengan memaksakan senyuman. Walau dia merasa kecewa karena gagal mendekati Airin untuk yang kedua kalinya. Tapi, tak mungkin ia menunjukkan hal tersebut di depan anak buahnya.


"Belum jodoh, ya, Pak!?" Imelda, teller yang sedang bersama Leo ikut mengomentari.


"Tenang, Pak. Nanti Pak Leo dapat jodohnya yang lebih cantik dan masih perawan, Pak." celetuk Hanna diakhiri dengan terkekeh.


"Sudah kembali bekerja! Jangan bergosip terus!" Leo menegur staff nya itu lalu kembali ke mejanya, sedangkan pada teller tadi hanya saling senyum melihat sikap Leo yang terlihat kurang nyaman disinggung soal masalah pribadinya.

__ADS_1


***


Airin memperhatikan Gagah yang berbincang dengan Luna di ruang tamu rumah Om Fajar. Hatinya mulai merasa menghangat setiap kali melihat interaksi gadis ciliknya bersama pria yang sebentar lagi akan menjadi bagian hidupnya. Yang perlahan mulai memaksa masuk ke dalam hatinya. Pria yang nanti akan ia temui tiap hari, saat ia akan memejamkan mata kala malam tiba, dan kala dia membuka kembali kelopak matanya saat pagi menjelang. Dan sosok pria berwajah tampan, bertubuh tinggi, kekar dan berotot itu yang setiap hari akan menemani tidurnya.


Airin mengerjapkan mata, hingga bulu romanya ikut meremang, saat ia membayangkan tidur bersama Gagah. Rasanya dia belum bisa membayangkan berbagi ranjang dengan pria itu. Pria yang sejujurnya belum ia cintai.


"Ngapain berdiri di sini, Mbak?" Suara Feby terdengar persis di telinga Airin, membuat Airin terperanjat.


"Astaghfirullahal adzim!" pekik Airin dengan memegang dadanya, saking terkejut dengan Feby yang mengagetkannya.


Suara Airin yang terdengar memekik membuat Gagah dan Luna menoleh ke arah asal suara.


"Kenapa pakai ngintip segala, sih, Mbak? Bentar lagi mau nikah saja pakai malu-malu segala." Kadang celetukkan Feby membuat Airin benar-benar mati kutu di hadapan Gagah.


"Luna, ikut Ateu ke mini market, yuk! Nanti Ateu beliin ice cream." Sepertinya Feby ingin memberi kesempatan kepada Airin dan Gagah untuk berduaan.


"Sudah malam, By! Jangan beli ice cream!" Tak mengerti maksud Feby, Airin justru melarang Feby membelikan Luna ice cream.


"Jangan makanin permen saja, nanti giginya rusak!" Airin kembali melarang.


"Coklat saja kalau gitu." Feby buru-buru kabur sebelum Airin sempat melarangnya membawa Luna.


Airin mendengus kasar, karena


Feby berhasil kabur darinya. Dia benar-benar tidak menyadari jika itu hanya akal-akalan Feby saja untuk memberi ruang kepada Gagah dan Airin berduaan. Karena Om Fajar dan Tante Mira pun sengaja tidak ikut bergabung dengan Gagah dan Luna tadi di ruang tamu.


Airin melirik jam dinding, sudah menunjukkan pu kul 19.15 menit. Kemudian manik matanya kembali menatap Gagah yang masih duduk dengan memandangnya lekat.


"Mas Gagah tidak pulang?" Tak ingin dirinya terlihat grogi ditatap lembut oleh Gagah, Airin bertanya, lalu duduk di kursi berseberangan dengan Gagah.


"Kamu mengusir saya?" tanya Gagah.

__ADS_1


"Hmmm, bukan begitu. Cuma ...."


"Sebentar lagi, tunggu sampai jam delapan." Kalimat Airim dipo tong Gagah.


"Saya sudah tidak sabar menunggu pernikahan kita," lanjut Gagah dengan kedua sudut bibir melengkung ke atas.


Serbuan rona merah seketika menyelimuti pipi wanita cantik itu. Ditambah degup jantung tak beraturan. Kalimat yang diucapkan Gagah tadi sukses membuat Airin salah tingkah. Untuk menutipi hal tersebut, Airin kembali bertanya.


"Apa saya masih boleh bekerja lagi setelah menikah nanti?" Sebenarnya Airin merasa berat harus berhenti bekerja.


"Tentu saja, makanya tadi saya menemui Pak Andika untuk mengurus cuti kamu," sahut Gagah.


Senyum bahagia mengembang di bibir Airin, saat Gagah memberikan jawaban sesuai keinginannya. Sejujurnya ia tak menyangka jika Gagah meluluskan permintaannya ini. Ia berpikir, dengan jabatan yang dipegang sebagai CEO akan membuat pria itu melarangnya bekerja.


"Tapi itu hanya sementara. Setelah resepsi nanti, saya ingin kamu fokus menjadi ibu rumah tangga dan mengurusi keluarga."


Senyum di bibir Airin seketika memudar ketika Gagah menyebut batas waktu yang diberikan kepadanya menikmati suasana bekerja. Airin tahu itu tidak akan lama lagi, karena resepsi pernikahannya itu pasti secepatnya akan terlaksana.


"Nanti terserah kamu ingin tinggal di mana? Berkumpul di rumah Papa atau menetap di apartemen saya." Gagah memberikan pilihan tempat tinggal untuk mereka kelak. Sebenarnya ia sendiri ingin mereka menetap di apartemen pribadinya yang jarang ia kunjungi. Tapi, sang Mama pasti akan menahan Airin untuk tinggal di rumahnya, seperti yang pernah Widya lakukan kepada Ayuning dan Putri.


"Setelah akad nanti, apa saya harus pindah dari sini, Mas?" Sebuah pertanyaan konyol di lemparkan Airin pada Gagah. Ia sendiri sebenarnya tahu, jika ia tidak mungkin terus menetap di rumah Om Fajar.


"Tentu saja, Airin. Setelah kita resmi menikah, kamu wajib ikut dengan saya. Terserah kamu ingin di tempat Mama atau di apartemen saya," ucap Gagah, "Pulang kerja besok, kita akan mampir ke apartemen saya, biar kamu bisa memilih ingin tinggal di mana!?" sambungnya kemudian.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2