JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Mencari Simpati


__ADS_3

Rey terbangun saat terdengar suara ponselnya berbunyi. Dia mengerjapkan mata dengan tangan mencari ponsel yang sebelum tidur ia taruh di sisi tempat tidurnya, hingga benda pipih itu akhirnya tersentuh juga oleh tangannya.


Rey membuka penuh kelopak matanya hingga kini ia melihat jika sang adik yang saat ini menghubunginya. Rey melihat jam di ponselnya itu, saat ini waktu sudah mendekati jam lima lebih lima belas menit.


"Halo, ada apa pagi-pagi buta begini sudah menghubungi, Rob?" Dengan nada parau Robby bertanya pada adiknya.


"Bang Rey masih tidur? Jam berapa ini, Bang? Tidak sholat Shubuh? Apa gundikmu itu sudah menjauhkan Bang Rey dari ibadahmu, Bang?" tanya Robby bernada menyindir.


"Ck, tidak usah ikut campur dengan urusan ibadahku!" Tak suka dikritik adiknya, Rey berucap ketus.


"Aku hanya mengingatkan, Bang. Jangan sampai Bang Rey tersesat lebih jauh." Sebagai adik, tentulah Robby berusaha menasehati kakaknya, karena sejak kasus perselingkuhan Rey, kakaknya itu seperti sudah terlalu jauh melangkah ke luar jalur aman.


"Sudah tidak usah menasehatiku! Ada apa kau hubungi aku?" tanya Rey tak suka terlalu diatur dan dinasehati adiknya meskipun maksud Robby adalah baik.


"Apa Mas tahu kalau Mama sedang ada di Jakarta sekarang ini?" Wulan sebenarnya sudah mewanti-wanti Robby untuk tidak memberitahu keberadaannya di Jakarta pada Rey. Namun, sepertinya Robby tidak enak seandainya tidak memberitahu kakaknya itu. Sebab ia yakin, kakaknya itu akan syok jika ia beritahu jika Mama mereka ternyata bisa bertemu dengan mertua baru Airin.


"Mama di Jakarta? Ada urusan apa Mama di sini? Sekarang Mama ada di mana?" Rey terkejut mendengar Mamanya sedang berada di kota yang sama dengannya. Karena kebiasaan Mamanya itu akan menginap ke rumah miliknya seandainya Wulan ke Jakarta.


"Sejak kemarin sore," jawab Robby tanpa langsung memberitahu di mana Mamanya saat ini berada.


"Kemarin sore?" Rey langsung bangkit dari tempat tidur dan berlari ke luar kamar. Semalam dia pulang cukup larut, mungkin karena itu dirinya tidak tahu jika Wulan datang.


"Bi ...!" Rey berteriak memanggil ART nya untuk menanyakan keberadaan Mamanya. Dia bahkan mengabaikan panggilan telepon yang masih tersambung dengan Robby.


"Saya, Pak?" Bibi keluar dari dapur saat mendengar teriakan Rey.


"Apa ada Mama saya?" tanya Rey dari lantai atas.


"Bu Wulan?" tanya Bibi tahu nama orang tua majikannya karena Wulan beberapa kali datang ke ruang Rey.


"Iya, apa kemarin Mama saya datang kemari?" Rey berlari kecil turun ke lantai bawah ingin menuju kamar yang biasa dipakai Wulan jika menginap di sana..


"Tidak ada Bu Wulan kemari, Pak." jawab Bibi.


Kening Rey berkerut saat mendengar jawaban ART nya. Dia lalu mendekatkan kembali ponsel ke telinganya, ternyata sambungan telepon dengan Robby nasih terhubung.


"Mama ada di mana sekarang, Rob?" tanya Rey penasaran.


"Apa Bang Rey ingin tahu di mana keberadaan Mama saat ini? Aku harap Bang Rey tidak langsung sakit jantung kalau aku sebut di mana Mama menginap semalam." Robby justru senang melihat kakaknya penasaran. Bahkan dia menyampaikan perkataan tadi diakhiri dengan tawa kecil seakan menyindir.


"Tidak usah berputar-putar, katakan saja di mana Mama saat ini berada?" Kesal adiknya tidak juga memberitahu di mana Mamanya saat ini, Rey mulai tersulut emosi.


"Aku sarankan Bang Rey ditemani dokter saat mendengar kabar yang ingin aku sampaikan," Kali ini tawa Robby terdengar lebih kencang. "Sejak kemarin Mama iti ada di rumah suami Mbak Airin yang baru," ungkap Robby menceritakan rahasia yang semestinya tidak boleh dibuka pada Rey.


Rey terbelalak mendengar jawaban Robby. Sama sekali tidak menyangka jika sang Mama berada bersama keluarga suami dari mantan istrinya. Rasa kesal dan kecewa pun menghinggapi Rey, karena Mamanya justru mendatangi Airin daripada menemui dirinya yang notabene anak kandung Wulan.


"Dari mana kamu tahu Mama ada di sana?" tanya Rey berharap adiknya sedang bercanda.


"Semalam aku hubungi Mama, sebelumnya Mama habis dari Jogya bertemu dengan orang tua Mbak Airin lalu pergi ke Jakarta menemui Luna." Robby menceritakan kenapa Mama mereka bisa berada di rumah keluarga Gagah.


Dengusan nafas kasar Rey terdengar, menyiratkan rasa kecewa dengan sikap sang Mama yang seolah tidak menganggap dirinya.


"Kenapa Mama tidak menghubungiku?" tanya Rey kecewa.


"Mama sedang marah pada Bang Rey, tentu saja Mama tidak menghubungi Bang Rey." Robby menyebutkan alasan sang Mama tidak memberitahu Rey.


"Tapi aku ini anak Mama, kenapa Mama seperti menganaktirikan aku," keluh Rey bernada kecewa juga kesal.

__ADS_1


"Aku rasa Bang Rey tahu sendiri alasannya karena apa?!" sahut Robby meminta sang kakek berpikir jernih.


"Apa kamu tahu kapan Mama akan pulang ke Bali?" selidik Rey


"Hari ini, tapi aku tidak tahu kapan tepatnya Mama akan pulang," jawab Robby kembali.


"Si al, kenapa Mama lebih mempercayai dia daripada aku?" keluh Rey dalam hati. Padahal dirinya berusaha mempengaruhi Mamanya tapi ternyata hal tersebut tidak berhasil.


***


Rey berjalan memasuki gedung perkantoran Bintang Departement Store. Dia ingin menemui Gagah. Dia tidak suka Gagah berusaha mendekati Mamanya. Dia yakin jika Gagah sedang berusaha menarik simpati Wulan di saat Mamanya itu sedang berkonflik dengannya.


Rey tidak perduli jika Gagah mempunyai jabatan sebagai CEO. Dia bahkan sudah mengumpulkan keberanian untuk menemui Gagah untuk membicarakan masalah pribadi bukan hal yang bersangkutan dengan pekerjaan.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu, Pak?" Security di depan pintu kantor Gagah menyapw.


"Saya dari perwakilan perusahaan Sumber Rejeki Otomotif, ingin bertemu dengan Pak Gagah," ujar Rey memperkenalkan diri sebagai perwakilan dari perusahaannya agar lebih mudah bertemu dengan Gagah.


"Bapak sudah punya janji sebelumnya dengan Pak Gagah?" tanya Security kembali.


"Saya belum punya janji, tapi tolong Bapak sampaikan saja jika Rey ingin bertemu dengan beliau," kata Rey.


"Sebentar saya sampaikan kepada sekretaris Pak Gagah terlebih dahulu." Security lalu meninggalkan Rey untuk memberitahu soal kedatangan Rey kepada bagian staf di depan.


Sementara di ruang kerja Gagah, Gagah sedang melakukan panggilan dengan Airin dan Luna yang baru saja mengatar Wulan ke bandara bersama Sobirin.


"Luna sudah selesai antar Nenek Wulan pulang?" tanya Gagah berinteraksi hangat.


"Iya, Pa.* jawab Luna.


"Papa Luna mau ke keljaan Papa, ya?" Luna meminta ijin kepada Gagah untuk berkunjung ke kantor Papa sambungnya itu.


"Tidak apa-apa kalau Luna ingin kemari." Gagah justru mengijinkan Luna yang ingin menemuinya.


"Apa tidak mengganggu pekerjaan Mas?" Airin tidak enak jika kedatangannya akan mengganggu aktivitas suaminya.


"Justru kalian adalah penyemangat bagiku," sahut Gagah sambil mengembangkan senyumnya.


Tok tok tok


"Maaf, Pak. Ada tamu dari perwakilan Sumber Rejeki Otomotif ingin bertemu dengan Bapak." Dewi tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerja bosnya, membuat kening Gageh berkerut.


"Namanya Pak Rey, Pak." Sebelum Gagah bertanya, Dewi sudah menyebutkan siapa perwakilan dari PT. Sumber Rejeki Otomotif yang ingin menemui bosnya itu.


Gagah spontan menoleh ke arah layar ponselnya yang tadi sempat terjeda karena kemunculan Dewi. Lalu berganti menatap Dewi.


"Suruh dia masuk, Wi." Pria berprofesi sebagai CEO itu memberi perintah pada Dewi.


"Baik, Pak." Dewi bergegas keluar dari ruangan Gagah.


"Airin ..." Gagah sengaja memanggil nama Airin karena saat ini Luna yang memenuhi layar ponselnya. "Luna, Mama mana?" tanyanya kemudian, karena ia harus mengakhiri panggilan video itu.


"Ada apa, Mas?" Airin mendekatkan kepalanya di samping Luna hingga kini terlihat jelas wajah Airin di layar ponsel Gagah.


"Mantan suamimu datang ke kantorku," ucap Gagah memberitahu.


"Hah?? Mau apa dia ke kantor Mas? Apa jangan-jangan dia tahu kalau Mama menginap di tempat Papa semalam?" Airin menduga, kedatangan Rey ada sangkut pautnya dengan Wulan. Mungkin saja mantan suaminya itu tahu jika Wulan bersama mereka kemarin.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, dia baru saja tiba dan bilang ingin bertemu denganku," jawab Gagah.


"Apa ini ada hubungannya dengan Neneknya Luna?" Airin menyampaikan dugaannya


"Mungkin ... mungkin saja ini ada hubungannya dengan Bu Wulan. Tapi ... bukannya kamu bilang dia tidak mengetahui jika Mamanya datang ke Jakarta?" Gagah sempat diberitahu oleh Airin jika Rey tidak tahu tentang kedatangan Wulan.


"I-iya, Neneknya Luna sendiri yang cerita," sahut Airin, Apa kami tidak usah datang ke sana, Mas?" Airin enggan bertemu dengan mantan suaminya sehingga mengusulkan untuk tidak usah datang ke kantor Gagah.


"Tidak, kamu dan Luna harus tetap ke sini." Jika perlu, Gagah ingin agar Rey masih ada saat Airin dan Luna datang nanti.


"Ya sudah, aku tutup teleponnya dulu. Assalamualaikum ..." Tanpa menunggu persetujuan dari Airin, Gagah mengakhiri sambungan video call dengan Airin.


"Waalaikumsalam ..." jawab Airin kemudian sambungan video itu berakhir.


Tok tok tok


Dewi masuk bersama Rey ke dalam ruangan Gagah. Gagah langsung menolehkan pandangan dan menatap Rey dengan sorot mata tegas., Karena ia cukup kesal dengan segala upaya yang dilakukan Rey untuk menjatuhkan Airin hingga memfitnah wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.


"Selamat siang, Pak Gagah." sapa Rey saat masuk ke dalam ruangan Gagah.


"Selamat siang, Pak Rey." Gagah menjawab, "Silahkan ..." Gagah bangkit dari kursinya dan mempersilahkan Rey untuk duduk di sofa.


"Ada apa Pak Rey datang ingin bertemu dengan saya?" tanya Gagah setelah mereka sama-sama duduk di sofa. Karena memang tidak ada jadwal bertemu sebelumnya.


"Saya ingin menanyakan soal Mama saya. Apa benar jika Mama saya kemarin datang dan menginap di tempat Anda, Pak Gagah?" Rey menanyakan maksud kedatangannya siang itu ke kantor Bintang Departement Store.


Gagah mengeryitkan keningnya. Benar seperti dugaannya dan juga dugaan Airin, ternyata tujuan kedatangan Rey ada hubungannya dengan Wulan.


"Benar, Pak Rey. Kemarin Bu Wulan datang ingin bertemu dengan Luna," jawab Gagah dengan tenang.


"Begini, Pak Gagah. Terus terang saja, saya tidak tahu soal kedatangan Mama saya, karena Mama saya sama sekali tidak memberitahu soal kedatangannya kemari. Jika saja saya tahu, pasti kehadiran Mama saya tidak akan merepotkan Pak Gagah dan keluarga Anda, Pak." Rey seakan ingin menjelaskan jika dirinya tidak tahu menahu soal Wulan di Jakarta. Dan menjelaskan jika dirinya tahu, pasti Wulan tidak akan dia biarkan menginap di rumah keluarga Gagah.


Gagah tersenyum mendengar penjelasan Rey yang dia anggap tidak cukup penting untuk dia ketahui. Sejak ia tahu Rey berusaha memfitnah Airin, baginya Rey tidak lebih dari seorang pe cundang.


"Tidak masalah, Pak Rey. Bu Wulan adalah neneknya Luna, dan Luna sekarang ini adalah anak sambung saya. Jadi, saya menganggap Bu Wulan seperti anggota keluarga saya sendiri, Pak Rey." jawaban Gagah tentu saja membuat hati Rey semakin kesal. Sebab dia berpikir jika Gagah sedang berusaha mencari perhatian Wulan.


"Dan soal Bu Wulan menginap di rumah kami, itu karena Bu Wulan bilang akan menginap di hotel. Kebetulan di rumah kami ada beberapa kamar khusus tamu, tidak ada salahnya saya menawarkan Bu Wulan untuk menginap di rumah kami. Lagipula jika di rumah kami, Bu Wulan bisa lebih lama bersama dengan cucunya." Gagah menerangkan kenapa meminta Wulan menginap di rumah keluarga Prasetyo.


Rey kembali terdiam mendengar jawaban Gagah. Dia merasa kesulitan mencari celah untuk menekan Gagah agar tidak berusaha mencari kesempatan untuk dekat dengan Mamanya. Karena hal tersebut akan membuat dirinya kesulitan mendapatkan kata maaf dari Wulan.


"Saya ucapkan terima kasih atas kebaikan Pak Gagah terhadap orang tua saya. Tapi, jujur saja, Pak Gagah. Hubungan saya dengan Mama saya sedang tidak baik sejak perceraian saya dengan Airin. Saya sedang berusaha memperbaiki diri saya agar hubungan kami kembali membaik. Saya rasa apa yang Pak Gagah lakukan kepada Mama saya akan mempersulit posisi saya, Pak." Rey tidak dapat menemukan kalimat yang tepat untuk meminta pengertian Gagah jika dirinya seakan tersisihkan dengan kehadiran Gagah.


"Apa maksudnya saya mempersulitkan posisi Anda? Mempersulit dalam hal apa?" tanya Gagah.


"Maaf, apa Pak Gagah sedang mencari simpati dari Mama saya?" Itulah yang ada di pikiran Rey soal tindakan Gagah terhadap Wulan.


"Hahaha ... Anda bercanda, Pak Rey." Gagah mengibaskan tangan ke udara dibarengi dengan tawa menganggap ucapan Rey hanya lelucon semata. "Anda pikir apa untungnya saya mencari simpati dari orang tua Anda?" tanyanya kemudian.


"Jika saya ingin mencari simpati, saya akan melakukan hal itu kepada Airin, orang tua dan keluarga Airin, itu yang lebih penting bagi saya, bukan? Saya bersikap kepada Ibu Wulan, semata karena beliau adalah nenek dari Luna, dan juga selama ini Bu Wulan bersikap baik pada istri saya." Gagah menegaskan jika sikapnya terhadap Wulan tidak ada kaitannya dengan usaha menarik simpati dari Wulan. Meskipun tak ia pungkiri jika dia melakukannya untuk membuktikan pada Wulan jika Airin berada di tangan orang yang tepat seperti dirinya.


"Maaf, Pak Gagah. Jika saya sudah salah paham terhadap Anda." Keberanian yang sudah dikumpulkan untuk menghadapi Gagah seolah luntur setelah berhadapan langsung dengan pria berprofesi sebagai CEO tersebut. Rey seperti mati kutu saat berhadapan dengan Gagah, sehingga dia benar-benar terlihat konyol di mata Gagah.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2