
Sementara di waktu yang bersamaan, namun di tempat yang berbeda. Gadis juga mendapat kejutan dari sang Mama ketika waktu tepat menujukkan jam 00.00 WIB. Bukan hanya Mamanya saja yang membangunkan Gadis, semua ART juga ikut berkumpul memberikan ucapan ulang tahun kepada Gadis yang saat ini sudah menginjak usia delapan belas tahun. Bahkan, Florencia yang saat ini menetap di Amerika juga langsung melakukan panggilan video call terhadap adiknya yang berganti usia hari ini.
"Happy birthday, Dis. Semoga apa yang kamu inginkan akan terwujud secepatnya," dari layar kamera, Florencia memberikan ucapan selamat.
"Aamiin, makasih, Kak." jawab Gadis dengan wajah bahagia.
"Kadonya tunggu saja, sudah Kakak kirim, kok." lanjut Florencia.
"Kak Flo kasih aku kado apa?" tanya Gadis penasaran.
"Rahasia, dong!" jawab Florencia sambil terkekeh, "Nanti kamu juga akan tahu sendiri," lanjutnya.
Farah memperhatikan interaksi kedua putrinya melalui ponsel. Tak terasa kerinduan terhadap sosok sang suami kembali menguat di hatinya. Kesedihan pun mulai merayapi hatinya. Sebab, sang suami tidak dapat melihat kedua anak mereka akan tumbuh menjadi wanita-wanita yang tangguh dan hebat ke depannya.
Farah menyeka air mata yang mengembun di bola mata. Ini hari bahagia untuk Gadis, dia tidak ingin merusak kebahagiaan Gadis dengan kesedihannya. Dan tawa canda Gadis juga Florencia sedikit mengobati luka hatinya karena kepergian suami tercinta.
Setelah beberapa menit berbincang, akhirnya semua penghuni rumah Bintang Gumilang kembali ke kamar masing-masing. Sambungan video call dengan Florencia juga telah berakhir. Gadis kini mengambil ponselnya untuk mengecek siapa-siapa saja yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.
Beberapa pesan masuk ke akun media sosial chatting milik Gadis. Dan di antara pesan masuk itu, ia memilih membuka ucapan selamat ulang tahun dari Feby. Pesan itu masuk ke ponselnya sekitar jam 00.15 menit. Dia pun segera membuka isi pesan masuk dari Feby untuknya.
"Happy B'day, Dis. 🥳🎂🎉🎊 Panjang umur, sehat selalu, semoga lancar rejekinya, dan ... selalu dekat dengan jodohnya🤭 eheemm ... 🤲 Aamiin. Jangan lupa nanti malam traktirannya. Sekalian sama Kak Haikal, kalian berdua harus traktir aku.😂"
Gadis tersenyum membaca isi pesan dari Feby, hingga ia pun mengetikkan balasan pada Feby.
"Aamiin, makasih untuk doanya, By. Oke, sip. Nanti aku traktir apa pun yang kamu mau," balas Gadis.
Tak ada balasan dari Feby, dia pikir Feby sudah tertidur kembali, atau mungkin sedang merayakan ulang tahun Haikal di sana. Gadis pun segera mencari nomer kontak Haikal untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada pujaan hatinya itu. Namun, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya. Sudah dua bulan ini ia merubah sikap, menahan diri agar tidak terlalu menunjukkan rasa sukanya pada Haikal, meskipun teramat menyiksa baginya, tapi ia tak punya jalan lain selain menuruti apa yang diinginkan Mamanya itu.
Gadis menghela nafas panjang seraya menaruh ponsel di atas nakas. Sebenarnya ia berharap ada ucapan selamat ulang tahun dari Haikal. Tapi, ternyata pria itu tak memberikan ucapan selamat kepadanya. Apakah Haikal tidak tahu jika tanggal dan bulan kelahiran mereka sama? Apa Feby tidak memberitahu Haikal soal itu? Rasanya tidak mungkin sekali Feby tidak menyinggung soal tanggal kelahiran mereka yang sama, Atau, mungkin Haikal memang tidak memperdulikan tentang hal itu.
Gadis mencoba merebahkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur. Dia ingin melupakan rasa kecewa karena ketidakpedulian Haikal terhadap ulang tahunnya dengan mengistirahatkan diri. Beberapa menit kemudian, ia pun sudah terlelap kembali dalam mimpinya.
***
"Nanti malam kita makan malam bersama, gimana?"
__ADS_1
Gagah menghentikan langkahnya ketika ia mendengar suara sang istri yang sepertinya sedang berbicara di telepon. Gagah memperta jam pendengarannya, sebab ia mendengar Airin sedang membuat janji pergi dinner dengan seseorang yang ia tidak tahu siapa orang itu.
"Ya sudah, kalau begitu nanti malam kita makan bersama, ya!?"
Gagah menatap istrinya yang saat ini berdiri membelakanginya di teras balkon. Dengan langkah lebar ia menghampiri Airin dan bertanya dengan nada ketus.
"Kamu telepon siapa, Ay?"
Suara Gagah membuat Airin terperanjat, sebab ia tidak tahu jika sang suami sedang memperhatikannya dari dalam kamar.
"Mas?" Airin memutar tubuhnya hingga kini berhadapan dengan Gagah.
"Siapa yang telepon?" tanyanya kemudian.
"Ini Haikal, Mas. Haikal ulang tahun hari ini." Airin menyodorkan ponselnya pada sang suami. "Mas mau ngucapin?"
Gagah terpaksa menerima HP milik istrinya, karena terlanjur malu terlalu cemburu.
"Halo, Kal. Selamat ulang tahun," ucapnya.
"Terima kasih, Kak." jawab Haikal.
"Dua puluh lima, Kak." sahut Haikal.
"Jadi, nanti rencananya akan makan malam di mana?" Gagah menoleh istrinya. Terlihat Airin menahan senyuman, sepertinya Airin tahu jika dirinya tadi sudah salah paham.
"Aku tidak tahu, Kak. Tadi Mbak Airin yang punya rencana," ungkap Haikal, sebab yang mengajak dinner adalah kakaknya.
"Ya sudah, nanti aku yang pilihkan tempatnya. Nanti kita bicarakan di kantor saja," kata Gagah.
"Iya, Kak." sahut Haikal kembali.
"Kamu lanjutkan bicara dengan kakakmu." Gagah mengembalikan ponsel milik Airin, kemudian ia masuk kembali ke dalam kamar.
"Kal, Mbak tutup dulu teleponnya, ya. Assalamualaikum ..." Airin ingin mengakhiri sambungan telepon dengan adiknya sebab ia ingin meladeni suaminya yang akan berangkat ke kantor.
__ADS_1
"Iya, Mbak. Waalaikumsalam ...."
Setelah Haikal mengakhiri sambungan telepon tersebut, Airin mengikuti langkah sang suami. Gagah terlihat membuka kaos yang ia kenakan, dan ingin memakai kemeja untuk ke kantor.
"Mas kenapa tadi bicaranya seperti itu?" Airin menanyakan alasan Gagah berbicara agak ketus saat ia menelepon Haikal.
"Seperti apa memangnya aku bicara, Ay?" Gagah berpura-pura tidak tahu maksud dari ucapan istrinya.
"Mas tadi jutek banget bicaranya. Pasti Mas cemburu, ya? Tidak tahu kalau aku bicara dengan Haikal." Airin terkekeh lalu mengancingkan kemeja yang dipakai oleh Gagah.
"Ah, itu perasaanmu saja, Ay." Gagah berkilah,
"Feby bilang hari ini Gadis juga ulang tahun, lho, Mas." Airin mendapat kabar dari Feby jika tanggal ulang tahun Gadis dan Haikal sama. "Mas tahu kalau hari ini Gadis juga ulang tahun?" tanyanya kemudian.
"Oh ya?" Gagah terkejut, ia juga tidak terlalu memperhatikan sedetail itu soal tanggal lahir Gadis juga Haikal. "Kalau begitu kita bikin kejutan untuk mereka berdua nanti malam, bagaimana?" Terlintas ide untuk merayakan ulang tahun Haikal dan Gagah.
"Aku terserah Mas saja." Airin menyetujui apa yang direncanakan oleh suaminya.
Sementara di rumah Bintang Gumilang ...
Gadis keluar dari rumah setelah berpamitan kepada Farah untuk pergi ke kantor. Dia menjinjing tas laptop di tangannya, dan menepis tawaran Haikal yang meminta tas yang ia bawa. Padahal, biasanya ia selalu menyerahkan tas itu ketika Haikal memintanya.
Haikal sendiri agak heran dengan penolakan Gadis. Meskipun ia merasa jika belakangan ini sikap Gadis terlihat tidak terlalu agresif padanya, bahkan terkesan menjaga jarak dengannya. Namun, Gadis tidak pernah menolak, jika ia membawakan tas laptopnya.
Haikal memperhatikan Gadis yang melangkah mendahuluinya dan masuk ke dalam mobil. Haikal menarik senyum tipis di bibirnya. Sepertinya ia tahu apa yang menyebabkan Gadis bersikap tidak seperti biasanya hari ini.
Dia kemudian berjalan ke arah mobil dan duduk di kursi lalu menyalakan mesin mobil. Matanya melirik ke arah spion, melihat Gadis yang sedang memegang ponsel. Pandangan Haikal kini mengarah pada buket yang ia taruh di kursi di sebelahnya. Dia lalu mengambil buket itu, lalu menyodorkan buket yang ia beli sebelum berangkat ke rumah Gadis tadi.
"Selamat ulang tahun ..." ucapnya kemudian.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ....
Happy Reading❤️