
Tiga hari kemudian setelah Gadis dan Haikal disidang Gagah, Gadis lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerjanya ketika ia berada di kantor. Jika ada keperluan mengantarkan sesuatu pada Gagah, dia akan menyuruh Dewi. Jika ada hal menyangkut pekerjaan yang tidak ia mengerti, ia akan menanyakan via chat dengan Gagah. Gadis sengaja tidak ingin bertatap muka dengan Gagah karena malu dan takut diledek terlebih jika sampai berpapasan dengan Haikal.
Gagah sendiri menyadari jika Gadis sengaja menghindarinya. Tiga hari ini Gadis tak pernah muncul di ruang kerjanya. Padahal sebelumnya anak itu selalu rajin bolak-balik ke ruangan Gagah. Gagah membiarkan apa yang berlaku terhadap Gadis. Dia pun tak mengusiknya sebab dia yakin Gadis sedang merasa malu akibat perbuatannya yang menguntit info tentang Haikal.
"Selamat siang, Bu." Dewi bangkit dari kursinya saat melihat kemunculan Farah dari arah lift.
"Siang, Wi, Gagah ada di tempat?" Baru hari ketiga Farah datang ke kantor milik almarhum suaminya. Semua itu tentu saja itu atas rencana Gadis.
"Pak Gagah ada di tempat, Bu. Silahkan, Bu." Dewi bergegas mengantar Farah ke ruangan kerja Gagah.
Tok tok tok
Sebelum mempersilahkan Farah masuk, Dewi mengetuk pintu ruang kerja Gagah terlebih dahulu.
"Maaf, Pak. Ada Ibu Farah ..." Dewi memberitahu Gagah soal kedatangan Farah lalu mempersilahkan Farah masuk.
"Bu Farah?" Gagah langsung bangkit dari kursi saat melihat kehadiran Farah di ruangan kerjanya. Ia pun menghampiri dan menyalami Farah. "Apa kabar, Bu?" tanyanya kemudian.
"Alhamdulillah baik, Gagah. Kamu bagaimana?" tanya Farah kemudian.
"Alhamdulillah baik juga, Bu." sahut Gagah. "Apa Ibu ingin bertemu dengan Gadis?" Gagah menebak jika kehadiran Farah untuk mengunjungi Gadis, ingin tahu bagaimana Gadis bekerja.
"Ibu ingin mengantarkan makanan untuk Gadis, di mana dia?" tanya Farah menunjukkan barang yang ia bawa di tangannya.
"Dia ada di ruangannya, Bu. Nanti saya suruh Dewi panggilkan Gadis ke sini." Gagah ingin bergerak ke arah pintu untuk memberi perintah pada Dewi.
"Biarkan saja, Gagah. Tidak usah dipanggil dulu." Farah melarang Gagah memanggil Gadis, "Bagaimana kerja Gadis, Gagah? Apa dia bisa mengikuti pekerjaan di sini?" tanya Farah.
"Sejauh ini Gadis bisa mengikuti, Bu. Dia terlihat serius belajar tentang tugasnya sebagai CEO di sini." Gagah menjelaskan bagaimana Gadis belajar mengurus perusahaan.
"Syukurlah kalau dia bisa mengikuti. Gadis memang bersungguh-sungguh ingin mengurus perusahaan Papanya ini. Kadang Ibu juga merasa kasihan pada Gadis. Dia tidak bisa menikmati masa remajanya dengan normal." Walau Farah sedang memainkan sandiwara seperti yang direncanakan oleh Gadis, namun jujur ia pun merasa kasihan pada anak bungsunya itu.
"Memang Gadis bersungguh-sungguh ingin menguasai pekerjaan, Bu." Gagah mengakui kegigihan Gadis ingin menyelamatkan perusahaan milik orang tuanya dari tangan jahat kedua adik tiri Bintang Gumilang.
__ADS_1
"Di rumah juga Gadis masih lanjut belajar, kasihan dia, waktunya terbagi-bagi." Farah masih mencari celah untuk mengutarakan permintaan Gadis. "Apa Gadis bisa dibantu oleh asisten pribadi, Gagah?" tanyanya kemudian.
"Asisten pribadi?" Guratan di kening Gagah terlihat jelas mendengar permintaan pribadi.
"Benar, Gagah. Jadi biar ada yang mengatur Gadis membagi waktunya." Farah menjelaskan.
"Apa Gadis mau didampingi asisten, Bu?" Gagah meragukan Gadis setuju dengan permintaan Farah.
"Ibu tidak tahu, Ibu juga belum membicarakan hal ini pada Gadis. Coba saja nanti tanyakan pada Gadis, apa dia membutuhkan asisten pribadi untuk membantu dia!?" Untuk menyempurnakan sandiwaranya, Farah menyuruh Gagah menanyakan pada Gadis.
"Kalau begitu, Ibu tanyakan langsung saja pada Gadis. Saya panggilkan dulu Gadis nya, Bu." Gagah akhirnya melangkah keluar dan menyuruh Dewi memanggil Gadis untuk menghadapnya.
Kurang dari satu menit, Gadis sudah muncul di ruangan kerja Gagah setelah diberitahu Dewi untuk menghadap kepadanya.
"Mama? Kok, Mama ada di sini? Kenapa tidak kasih kabar kalau mau kemari?" Dengan ekspresi terkejut Gadis menyalami Mamanya, tentu itu hanya akting saja. Dia terpaksa masuk ke ruangan Gagah demi memperlancar rencananya.
"Mama hanya mampir saja, tadi habis dari bank dan belikan dinsum untuk kamu." Farah menyodorkan makanan yang ia beli untuk Gadis.
"Makasih, Ma." Gadis menerima dimsum dari Mamanya.
"Ibu Farah baru saja menjelaskan pada saya, Ibu Farah ingin kamu didampingi oleh asisten pribadi. Apa kamu butuh seorang asisten, Gadis?" Gagah menanyakan pada Gadis soal rencana yang disebutkan oleh Farah tadi.
"Asisten pribadi? Untuk apa?" Gadis berpura-pura menyanggah.
"Biar kamu bisa membagi kamu dengan baik, Nak. Kamu bisa belajar, bekerja, juga kamu bisa menikmati masa muda kamu bersama teman-teman kamu." Farah menjelaskan agar Gagah lebih percaya jika ide mencarikan asisten pribadi itu adalah idenya.
"Tidak usahlah, Ma." Tolak Gadis masih bersandiwara.
"Gadis, Mama tidak ingin kamu kehilangan masa remaja kamu, Nak. Kalau ada yang membantu kamu, Mama yakin kamu bisa menikmati hidup kamu lebih teratur." Farah berargumentasi.
"Aku bisa mengatur waktu aku sendiri, Ma." Gadis menjalani sandiwaranya dengan sempurna dengan terus menolak.
"Menurut kamu gimana, Gagah? Apa Gadis perlu asisten atau tidak?" tanya Farah meminta pendapat Gagah.
__ADS_1
"Kalau memang Ibu menginginkan Gadis ditemani asisten pribadi, saya rasa tidak ada salahnya kamu dibantu seorang Aspri, Gadis." Gagah sependapat dengan Farah.
"Memang siapa yang akan jadi Aspri aku, Ma?" Gadis mulai melunak, seolah menyerah dari keteguhannya menolak dicarikan asisten untuknya.
"Biar Gagah saja yang mencarikan asisten pribadi untuk kamu, Gadis. Mama yakin Gagah bisa memilihkan orang yang bisa membantu kamu." Farah menyerahkan semua pada Gagah.
"Baiklah, Bu. Nanti saya carikan Aspri untuk Gadis." Gagah menyetujui permintaan Farah.
"Terima kasih, Gagah. Tolong carikan asisten yang baik yang terpercaya dan bisa jaga Gadis juga agar Gadis bisa terkontrol." Farah menyebutkan kriteria yang ia harapkan bisa membantu Gadis.
"Baik, Bu. Saya usahakan carikan yang terbaik untuk Gadis," sahut Gagah, dia sudah mempunyai calon yang cocok untuk menjadi asisten pribadi untuk Gadis.
"Ya sudah, kalau begitu Mama pulang dulu." Merasa tugasnya telah selesai, Farah ingin meninggalkan kantor milik suaminya itu.
"Kalau Ibu tidak keberatan, saya akan perkenalkan orang yang saya rasa bisa dipilih sebagai asisten pribadi untuk Gadis." Gagah mencoba menahan Farah yang ingin pergi karena ia akan memperkenalkan orang yang dia anggap cocok untuk menjadi asisten Gadis.
"Kamu sudah punya kandidat, Gagah?" tanya Farah tak menyangka Gagah langsung menyodorkan kandidat untuk membantu Gadis.
"Benar, Bu. Sebentar saya panggilkan dia kemari." Gagah lalu keluar dari ruangan kerjanya untuk menyuruh Dewi memanggil orang yang akan dia ajukan sebagai calon asisten pribadi bagi Gadis.
Jantung Gadis langsung berdetak kencang saat Gagah sudah menyiapkan calon asisten untuknya. Dia yakin seratus persen jika orang yang akan dipilih oleh Gagah adalah Haikal, sebab Gagah tanpa pikir panjang langsung mengajukan kandidat untuknya. Seketika itu juga rona merah langsung membias di wajahnya, meskipun dirinya merasa malu bertemu dengan Haikal, namun rasa senang akan selalu dekat dengan Haikal mengalahkan segalanya.
Tok tok tok
Sekitar lima menit dari Gagah menyuruh Dewi memanggil orang yang Gagah maksud, pintu ruangan kerja Gagah diketuk dari luar hingga membuat hati Gadis berdebar-debar. Dia singkirkan rasa malu yang ia rasakan demi untuk mengetahui jika Haikal lah orang yang ditunjuk oleh Gagah akan menjadi asisten pribadinya.
Saat daun pintu ruangan Gagah dibuka, Gadis sampai menahan nafasnya. Seandainya dapat terlihat, jantung Gadis seperti melompat-lompat. Namun, kegirangan hati Gadis seketika meredup saat melihat sosok yang muncul di hadapannya kali ini bukanlah sosok yang ia harapkan.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️