JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG

JANDA MUDA KESAYANGAN BUJANG
Bakpia Patok


__ADS_3

Farah merasakan sikap aneh Gadis tiap kali berhadapan dengan Haikal. Terlihat putrinya itu bahagia dan nyaman jika berada di dekat pria itu. Seperti yang terjadi sore tadi, Gadis beralasan jika penjelasan yang diterangkan oleh Haikal lebih masuk ke otaknya, padahal guru-guru yang dipilih pihak sekolah Gadis adalah guru-guru yang handal, hingga Farah menduga putrinya itu hanya beralasan saja.


Sikap Gadis tentu saja membuat ia khawatir. Ia memaklumi jika remaja seusia Gadis mengalami masa puber dan mulai tertarik dengan lawan jenis. Namun ia cemas jika Gadis akan merasakan kecewa dan itu akan membuat mental anaknya down.


Sebenarnya Farah tak mempermasalahkan jika Gadis menyukai pria seperti Haikal. Dia melihat Haikal seorang pria yang baik dan santun, apalagi Haikal adalah adik ipar Gagah, hingga ia yakin jika Haikal tidak mungkin mempermainkan ataupun memanfaatkan Gadis. Hanya saja yang meresahkannya adalah jika perasaan Gadis akan bertepuk sebelah tangan, itu akan tidak baik dengan hubungan antara Gadis dan Haikal sebagai bos dan asistennya.


Tok tok tok


Tangan Farah membuka knop pintu kamar Gadis, dia ingin bertanya pada putrinya soal dugaannya jika Gadis menyukai Haikal. Farah melihat Gadis sedang tertidur dengan posisi telungkup memeluk guling. Dengan headset menempel di telingga, ponsel di tangannya namun dengan mata terpejam. Gadis tidak menyadari kehadirannya di kamar itu, karena headset yang menutupi pendengaran Gadis.


Farah berjalan mendekat untuk melepas headset dan mengambil ponsel seandainya anaknya itu benar tertidur. Farah mengusap lengan Gadis perlahan untuk memastikan anaknya tertidur atau tidak.


"Mama?"


Terdengar suara Gadis saat Farah menyentuh lengan Gadis. Ternyata putrinya itu belum terlelap. Farah kemudian duduk di tepi tempat tidur dan membelai kepala Gadis.


"Kalau sudah mengantuk sebaiknya beristirahat, Gadis." kata Farah, "Lepas headset dan taruh HP nya," lanjut Farah.


"Aku tidak tidur, Ma." Gadis melepas headset yang menempel di telingganya lalu bangkit dari posisi tidur.


Farah melihat wajah putrinya dengan mata terlihat sembab, hingga lingkar matanya memerah. Dia menduga jika putrinya baru saja menangis, Hal itu tentu saja membuatnya makin cemas.


"Kamu kenapa, Nak? Kamu habis menangis?" tanya Farah khawatir.


"Tidak, Ma." tepis Gadis berdusta. Padahal sejak ia tahu Haikal pergi bertemu dengan wanita lain, hatinya merasa kecewa dan membuat ia akhirnya menangis.


"Kamu jangan bohong sama Mama, Gadis. Cerita sama Mama, sebenarnya ada apa? Apa ada orang yang menyakiti kamu?" Farah meminta Gadis terbuka padanya.


"Gadis hanya kangen Papa, Ma." Gadis beralasan menggunakan kata-kata yang membuat Farah tidak banyak bertanya-tanya lagi.


Farah mendesah, jangan ditanya perasaannya terhadap mendiang suami, sebab ia pun merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan oleh putrinya itu. Bahkan mungkin ia lebih kangen pada sosok Bintang daripada Gadis.


"Banyak-banyak kirim doa untuk Papa kalau kamu kangen sama Papamu, Nak. Biar dilapangkan alam kubur Papa." nasehat Farah.


"Iya, Ma." Gadus mengangguk.


"Kamu benar belum mau tidur?" tanya Farah, sebab ia ingin menanyakan soal dugaannya tadi.


"Belum, memangnya kenapa, Ma?" Gadis balik bertanya.


"Mama ingin bertanya sama kamu, Nak." ujar Farah.


"Tanya apa, Ma?" tanya Gadis.


Farah memperbaiki posisi duduknya dengan melipat satu kaki di tempat tidur dan kaki lainnya masih terjuntai ke lantai beralaskan permadani empuk.


"Gadis, Mama tahu, sekarang ini kamu sudah beranjak dewasa, usia kamu juga sudah hampir mendekati delapan belas tahun. Mama memaklumi jika saat ini kamu menyimpan ketertarikkan pada pria." Farah mulai menyampaikan hal yang ingin dibicarakan dengan putrinya. "Mama tidak melarang kamu jika kamu punya teman dekat, selama orang itu baik dan membawa pengaruh positif terhadap kamu, Nak." Di tengah kejenuhan waktu yang dilewati oleh anaknya, Farah memaklumi jika putrinya kini merasakan jatuh cinta pada pria yang disukai.


Gadis terkesiap mendengar ucapan sang Mama. Dia tidak menyangka jika Mamanya itu dapat menebak apa yang dia rasakan sekarang ini.


"K-kenapa Mama bicara seperti itu?" Gadis mulai salah tingkah dengan kata-kata yang diucapkan oleh sang Mama.


"Karena Mama merasa jika kamu saat ini sedang jatuh cinta," jawab Farah.


"M-mama jangan menebak-nebak, deh!" sanggah Gadis dengan memalingkan wajah, tak ingin Farah melihat rona merah yang sudah mulai membias di wajah cantiknya.


Farah tertawa kecil mendengar bantahan dari Gadis, namun dari raut wajah dan gestur tubuh putrinya itu ia tahu jika Gadis sedang berusaha menyangkal perasaannya.


"Gadis, Mama juga pernah muda seperti kamu. Mama pernah merasakan jatuh cinta dan menyukai pria. Kamu jangan malu berterus terang pada Mama, Nak." Farah ingin putrinya itu jujur dan terbuka terhadapnya. Sebab ketika ia muda dulu, saat ia menyimpan rasa suka terhadap lawan jenis, ia banyak curhat kepada ibunya, sehingga ia pun ingin menjadi Mama yang baik dengan menjadi pendengar atas semua keluh kesah Gadis terutama dalam urusan asmara.


"Mama ngomong apaan, sih?!" Gadis masih belum berani menatap Mamanya.


"Karena Mama yakin kalau apa yang Mama katakan tadi itu benar," pancing Farah agar Gadis mau menceritakan apa yang dirasakan Gadis saat ini,


Mata Gadis terbelalak hingga ia menolehkan pandangan ke arah sang Mama ketika Mama begitu tepat menebak apa yang sedang ia rasakan saat ini.


"Memang kelihatan banget, ya, Ma?" tanya Gadis lugu.


"Hmmm, tebakan Mama benar, kan?" Farah terkekeh saat Gadis mulai bereaksi seakan membenarkan dugaannya.


Gadis tak menjawab, hanya wajahnya langsung tertunduk. Dia sebenarnya takut jika Mamanya sampai tahu dia menyukai Haikal. Bagaimana kalau sang Mama melarangnya? Itu yang menjadi kekhawatirannya.


"Kalau kamu tidak menjawab, Mama mengartikan jika ucapan Mama ini benar, kan?" Diamnya Gadis diartikan Farah jika Gadis mengakui jika sedang terkena panas asmara.


"Siapa, sih? Laki-laki yang sudah bikin anak Mama yang cantik ini jatuh hati?" Dengan penuh rasa sayang Farah membelai kepala putrinya, ia ingin membuat Gadis merasa nyaman bercerita kepadanya.


Gadis makin merunduk, ia malu mengatakan jika asisten pribadinya lah yang sudah berhasil mengobrak-abrik hatinya saat ini.


"Apa ... laki-laki itu adalah ... Haikal?" Farah hati-hati sekali dalam menebak pria yang disukai oleh Gadis.


Gadis kembali menaikkan pandangannya menatap sang Mama, bias merah di wajahnya tak bisa tertahan makin menghiasi wajah putihnya. Namun tak lama ia kembali kenundukkan wajahnya dan berucap, "Mama pasti tidak setuju," lirih Gadis.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu, Nak? Mama tadi bilang, Mama tidak melarang jika orang yang kamu sukai itu orangnya baik dan membawa pengaruh positif terhadap kamu. Mama lihat Haikal anaknya baik juga sopan. Mama yakin, Gagah tidak mungkin mengutus Haikal untuk menjaga kamu kalau dia tidak baik." Farah menerangkan jika ia akan mendukung kalau memang anaknya itu menyukai Haikal.


"Mama ingin kamu mendapatkan pendamping pria yang sayang terhadap kamu dan keluarga, seperti Papa kamu terhadap Mama," harap Farah. Dia pasti menginginkan anaknya mendapatkan pria seperti mendiang suaminya.


"Aku tidak mau punya pendamping kayak Papa, Ma!" Di luar dugaan Gadis menolak mempunyai pendamping seperti Papanya.

__ADS_1


"Lho, memangnya kenapa?" tanya Farah heran.


"Aku tidak mau ditinggal kayak Mama." Gadis menjelaskan maksud ucapannya tadi.


Farah tersenyum, dia pun mengerti ucapan anaknya itu.


"Setiap yang bernyawa itu pasti akan mati, Nak. Hanya kita tidak tahu kapan hal itu akan terjadi. Jodoh, rezeki dan maut hanya Allah SWT yang mengetahui. Jika Mama boleh memiliki, Mama juga tidak ingin ditinggal secepat ini oleh Papa. Mama berharap kami bisa bersama sampai tua, sampai, dapat melihat kalian menikah dan kalian memberikan Papa dan Mama banyak cucu. Tapi, Tuhan berkehendak lain," lirih Farah.


Melihat air muka Farah berubah sendu, Gadis merasa bersalah telah membuat sang Mama bersedih. Ia lalu merengkuh tubuh Mamanya.


"Tapi, Kak Haikal acuh saja sikapnya, Ma. Nyebelin banget, deh!" Gadis mengalihkan pembicaraan agar Mamanya itu tak lagi bersedih mengingat sang Papa. Dia menyandarkan kepada di pundak Farah.


"Mungkin Haikal hanya menjaga sikap, Gadis. Mama maklum jika ia bersikap seperti itu, Nak. Mungkin Haikal tidak percaya diri harus membalas perasaan kamu." Farah sangat mengerti, sebab ia pun berasal dari keluarga yang mempunyai status sosial yang sama seperti Haikal. Ada rasa minder ketika pertama kali didekati oleh Bintang yang berasal dari keturunan keluarga kaya raya.


"Aku harus bagaimana, Ma?" tanya Gadis.


"Kamu harus sabar, Nak. Jangan bersikap kekanakkan. Kebanyakan pria senang pada wanita yang bersikap dewasa dan tidak manja." Farah menasehati dan memberi pendapat kepada anaknya, agar anaknya itu dapat mendapatkan pujaan hatinya. "Tapi kamu juga harus menahan diri, jangan terlalu memperlihatkan rasa suka kamu itu. Sedikit gengsi tidak masalah kalau kata Mama, biar dia juga merasa penasaran sama kamu, jangan kesannya kamu saja yang mengejar-ngejar dia," lanjut Farah memberi trik menghadapi pria acuh seperti Haikal.


"Jadi Mama tidak melarang aku jika aku dan Kak Haikal pacaran?" Dengan percaya diri Gadis mengatakan dirinya akan pacaran dengan Haikal.


"Sebenarnya Mama ingin mempunyai menantu seperti Gagah, sayang dia sudah berkeluarga ...."


"Aahhh, kalau yang jadi menantunya Kak Gagah, enakan Kak Flo, dong!" Gadis memutar bola matanya memo tong perkataan Farah.


"Lagipula Gagah juga sudah berkeluarga, jangan mengusik rumah tangga orang lain," sambung Farah kemudian bangkit dari duduk.


"Sekarang kamu istirahat, biar besok tidak telat bangun." Farah memberi kecupan di puncak kepala Gadis lalu meninggalkan putrinya dan kembali ke kamar.


Sepeninggal Farah, Gadis kembali merebahkan tubuhnya kembali dengan posisi telungkup. Restu dari sang Mama bagaikan penyemangat baginya. Namun saat ia teringat jika Haikal bertemu dengan seorang wanita yang tidak ia tahu siapa, hatinya kembali mendadak gundah.


Gadis menatap ponselnya, hingga ia menemukan sebuah gambar dengan kata-kata yang sangat mengekspresikan keadaan hatinya saat ini. Dia lalu mengunduh gambar itu lalu ia memakainya sebagai story di media sosial chatting miliknya. Setelahnya ia letakkan ponselnya di sebelah bantal kemudian memejamkan matanya.


Beep beep


Beberapa menit kemudian suara notif pesan di ponselnya berbunyi. Tak tahu siapa yang menghubunginya saat ini, hingga dengan malas Gadis mengambil ponselnya itu. Dia menyipitkan matanya untuk mengintip siapa yang mengirim pesan padanya.


Kelopak mata Gadis seketika terbuka lebar saat ia melihat siapa yang orang yang mengirimkan pesan padanya. Sungguh di luar dugaannya jika orang itu tiba-tiba saja mengirimkan pesan untukny.


"Apa perut kamu masih sakit?" Satu pesan itu bagaikan oase di padang pasir, mengalirkan kesejukan di hatinya yang galau. Ini benar-benar di luar perkiraannya. Story nya di akun media sosial chatting dilihat oleh Haikal, bahkan Haikal mengirimkan pesan untuknya.


Seketika Jantungnya berdetak kencang, hatinya pun terasa berdebar-debar. Untung saja saat ini Haikal tidak ada di hadapannya. Sehingga dia tidak harus salah tingkah di depan pria itu.  Gadis harus dapat mengontrol diri, hingga ia menggetikkan balasan singkat pada Haikal, karena ia binggung akibat rasa groginya.


"Sudah." Hanya itu jawaban yang ia berikan atas pertanyaan Haikal tadi.


"Tugas dari Bu Siska sudah selesai kamu kerjakan?" Gadis tak dapat menahan senyuman di bibirnya saat pesan berikutnya dari Haikal kembali muncul di ponselnya.


Gadis tidak bisa menutupi rasa bahagia yang bergolak di hatinya atas perhatian kecil yang diberikan Haikal saat ini, hingga ia mengetik beberapa kata untuk membalas pesan Haikal tadi. Namun, Gadis mengurungkan mengirim pesan itu. Dia justru hanya mengetik kalimat yang sama seperti tadi. Sebab ia teringat apa yang dikatakan sang Mama jika ia harus bisa menahan diri dan menjaga gengsinya.


"Iya." jawab Gadis, dia ingin tahu sampai di mana Haikal akan memperhatikannya.


"Ya sudah, jangan tidur terlalu malam. Selamat beristirahat."


Tapi balasan Haikal kali ini justru tidak ia harapan. Haikal malah berniat mengakhiri komunikasi via chatting mereka. Sehingga ia pun dengan cepat membalas dan menepis jika dirinya akan tidur.


"Aku tidak mau tidur, kok!" Gadis khawatir Haikal akan benar-benar mengakhiri komunikasi karena ia tadi salah strategi.


"Kamu bilang tadi sudah mengantuk ..."


Gadis bernafas lega karena Haikal tidak mengakhiri percakapan mereka.


"Aku tadi baru berbincang sama Mama," balas Gadis.


"Oh ..." Hanya kata itu balasan yang masuk dari nomer Haikal, membuat Gadis mengeryitkan keningnya.


Gadis menunggu beberapa saat, berharap Haikal akan kembali mengirimkan pesan. Namun, pesan yang ia tunggu tak juga muncul di ponselnya hingga ia pun akhirnya mengalah mengirim pesan pada pria itu.


"Kak Haikal tidak tanya aku mengobrol apa sama Mama tadi?" Pertanyaan konyol keluar dari mulut Gadis.


Tentu saja Haikal tidak akan bertanya seperti yang disebutkan Gadis tadi. Karena Haikal merasa itu adalah urusan pribadi keluarga Gadis dan itu bukanlah urusannya.


"Bukan membicarakan saya, kan?"


Bola mata Gadis membulat membaca pertanyaan Haikal. Semburat merah pun mulai terlihat di wajah Gadis kembali. Hanya kata-kata seperti itu saja sudah membuat dirinya salah tingkah.


"Kak Haikal jangan kegeeran, deh! Ngapain juga aku sama Mama membicarakan Kak Haikal?!" Gadis berkilah tak berani mengaku jujur padahal tadi ia sendiri yang memancing-mancing Haikal menebak perihal yang dibicarakan dengan Mamanya.aaa


"Jangan marah seperti itu. Aku tadi hanya menebak saja," sanggah Haikal, "Siapa tahu kamu mengadu sama Mama kamu karena tadi saya bikin kamu marah 🙂." Kini Haikal berani memberi emoji pada pesannya.


Gadis mencebikkan bibirnya ketika Haikal menyindirnya. Dia pun seketika teringat kembali dengan Haikal yang ingin buru-buru pulang karena berjanji bertemu dengan wanita.


"Sudah ketemuan sama ceweknya?" Gadis balas menyindir Haikal.


"Aku tadi bertemu orang yang namanya Pak Denny. menurut kamu kalau Pak Denny itu cowok atau cewek?"


Kembali helaan nafas lega Gadis terdengar. Jawaban Haikal seakan membuat lega dadanya yang sejak sore tadi bergemuruh karena api cemburu.


"Mau apa Kak Haikal ketemu dengan orang itu?" Gadis ingin tahu, meskipun ia tidak tahu jika Denny adalah kaki tangan Om nya.

__ADS_1


"Dia menawarkan bisnis," jawab Haikal asal.


"Kak Haikal ingin keluar dari BDS?" Gadis justru salah paham, mengira Haikal akan berhenti bekerja karena tawaran bisnis yang disebut oleh Haikal tadi.


"Gaji dari perusahaan Pak Bintang sudah besar bagi saya, kenapa saya harus berhenti bekerja?" tampik Haikal.


Jawaban Haikal membuat Gadis senang. Tapi ia lebih senang karena mengetahui jika Haikal tidak bertemu dengan wanita lain.


"Ini sudah malam, sebaiknya kamu cepat tidur. Jangan bergadang, nanti kamu sakit. Jaga kesehatan." Haikal sepertinya benar-benar ingin mengakhiri percakapan chatting dengan Gadis, "Sudah dulu, ya. Selamat istirahat, semoga mimpi indah. Assalamualaikum ...."


Kata-kata pamitan Haikal kali ini lebih bisa diterima oleh Gadis daripada ketika Haikal ingin mengakhiri chat mereka sebelumnya hingga akhirnya ia pun menjawab pesan Haikal.


"Waalaikumsalam ...."


Gadis mendekap ponsel di dadanya. Ratusan bunga seperti bermekaran di dadanya. Selama bersama Haikal rasanya ini adalah moment menyenangkan dan paling membahagiakan yang ia alami. Kegundahannya seketika sirna atas perhatian yang ditunjukkan oleh Haikal walaupun itu hanya sebuah rangkaian kata-kata.


***


"Mas ..." Airin berjalan dan mendekap suaminya yang sedang merapihkan rambutnya di depan cermin. Suaminya itu bersiap ingin beranjak ke kantor.


"Kenapa, Ay?" Gagah menoleh ke belakang sebab saat ini Airin memeluknya dari belakang.


"Aku mau ke Jogya nanti siang, boleh, ya?" ujar Airin merayu sang suami.


"Ke Jogya? Ada apa memangnya? Apa ada sesuatu dengan Bapak dan Ibu?" tanya Gagah serius.


"Bukan, Mas. Bapak sama Ibu baik-baik saja, kok." tepis Airin.


"Lalu, ada apa kamu dadakan ingin pulang ke Jogya? Baru beberapa hari lalu ketemu Bapak dan Ibu, kan?" Gagah memutar tubuhnya. Dia merasa heran dengan permintaan sang istri.


"Aku kepingin makan bakpia patok, Mas." Airin menyebut alasannya ingin pergi ke kampung halamannya.


Kening Gagah berkerut mendengar permintaan sang istri, lalu membelai lembut kepala Airin.


"Apa di sini tidak ada yang menjual makanan itu, Ay?" tanya Gagah.


"Aku mau yang asli dari Jogya langsung, Mas." Airin menolak ditawari bakpia patok yang dijual di toko kue di Jakarta.


"Ya sudah, pesan online saja kalau begitu. Minta yang cepat sampai, kalau bisa hari sampai di sini, ongkosnya mahal juga tidak masalah. Kalau tidak, nanti aku suruh orang ke Jogya untuk beli bakpianya biar bisa cepat kamu makan." Demi memenuhi keinginan sang istri, Gagah tidak mempermasalahkan biaya yang akan ia keluarkan sangat mahal.


"Tapi aku ingin makan dari pembuatnya langsung, Mas. Yang masih hangat baru diangkat dari ovennya." Ada-ada saja keinginan ibu hamil yang satu ini. Mungkin karena faktor kehamilannya membuat ia menginginkan hal yang aneh-aneh, sampai harus menuju tempat pembuatannya langsung.


Gagah mendesah, tak mungkin ia menolak permintaan istrinya, jika ia tidak ingin kehilangan jatahnya. Dia juga memahami keinginan sang istri mungkin karena hormon kehamilannya.


"Ya sudah, nanti aku antar kamu ke Jogya." Gagah berjalan mengambil ponselnya. Dia ingin menyuruh Dewi memesankan tiket pesawat untuknya dan Airin pergi ke Yogyakarta.


"Tidak usah diantar, Mas. Nanti aku pergi sama Luna saja." Airin tak ingin mengganggu pekerjaan suaminya. Dia tidak ingin suaminya mendahulukan kepentingan pribadi di waktu kerjanya.


"Kamu pikir aku tega membiarkan kalian ke Jogya berdua saja dengan Luna, Ay?" Gagah menatap sang istri karena Airin tidak ingin dia antar.


"Tapi aku tidak ingin Mas meninggalkan pekerjaan Mas ..." tepis Airin menolak dianggap membantah ucapan Gagah.


Gagah berpikir, dia memang tidak ingin dianggap bersikap seenaknya di BDS, meninggalkan kantor hanya karena ingin mengantar sang istri, tapi dia juga tidak ingin membiarkan Airin pergi dengan Luna saja.


"Nanti aku bilang Mama, biar Mama saja yang antar kamu." Gagah akhirnya memutuskan minta tolong sang Mama untuk menemani Airin.


"Jangan, Mas. Aku tidak enak sama Mama." Airin tak sampai hati merepotkan Mama mertuanya.


"Mama pasti mau antar kamu, Ay. Mama juga pasti senang bisa keluar rumah." Gagah merasa Mamanya pasti senang bisa jalan-jalan ke Yogyakarta. Dia lalu melangkah ingin menyampaikan keinginan Airin.


"Aku malu, Mas." Airin menahan langkah Gagah dengan menarik lengan sang suami.


"Malu kenapa?"


"Aku takut Mama menganggap aku keterlaluan, Mas." ucap Airin. Dia khawatir keinginannya itu akan dianggap terlalu berlebihan, meskipun mungkin akan dianggap sebagian orang adalah hal yang wajar, sebab dirinya sedang hamil.


"Hmmm, bagaimana kalau aku minta antar Haikal saja, Mas? Kira-kira Gadis bisa kasih ijin tidak ya, Mas?" Airin justru memilih adiknya sendiri yang mengantar, daripada sang suami yang mengantar, karena kehadiran Gagah lebih penting daripada adiknya di kantor BDS.


"Haikal?" Gagah mengeryitkan keningnya, seketika ia mendapatkan ide untuk mendekatkan Haikal dengan Gadis. "Baiklah, nanti aku bilang ke Gadis, kalau Haikal akan mengantarmu ke Jogya." Gagah berharap Gadis juga akan ikut ke Jogya agar Gadis bisa lebih dekat dengan keluarga Airin.


Gagah kemudian menghubungi Gadis dengan ponselnya.


"Halo, Kak. Ada apa?" Suara Gadis terdengar saat panggilan teleponnya terhubung dengan Gadis.


"Gadis, hari ini saya ingin meminjam Haikal. Dia ingin mengantar Airin ke Jogya." Gagah to the point mengatakan alasan menghubungi Gadis.


"Kak Haikal ingin mengantar Kak Airin ke Jogya?" Gadis mengulang ucapan Gagah, "Kapan, Kak?" tanyanya kemudian.


"Hari ini, dia tidak menginap, sore ini juga kembali ke Jakarta," sahut Gagah.


"Hmmm, aku juga ingin ikut mengantar Kak Airin ke Jogya, dong, Kak." ujar Gadis kemudian.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2