
Laras meminta bantuan kepada karyawannya yang lain karena hari ini cafe begitu rame dan tidak sedikit customer yang komplain dengan pelayanan yang diberikan oleh para karyawan.
Laras tahu jika karyawan-karyawan yang bekerja di sini itu sudah sangat kompeten dalam bekerja namun memang setiap customer memiliki sifat dan watak yang berbeda, ada beberapa customer yang begitu sabar dan pengertian namun ada juga customer yang begitu tempramen dan tidak sabaran.
layanan memang nomor satu bagi mereka namun perlindungan untuk para karyawan juga sangat diutamakan.
Laras tidak akan membiarkan jika para karyawan diperlakukan semena-mena oleh para customer, dia juga tidak akan segan-segan mengusir customer yang sudah bersikap semena-mena atau kurang ajar kepada karyawan.
Zidan juga selalu menerapkan prinsip itu kepada karyawan-karyawannya, pelanggan memang raja namun jika pelanggan tidak bisa menghormati atau menjaga harta dan martabat mereka maka para karyawan bisa berontak atau bersikap tegas kepada pelanggan yang tidak mempunyai hati atau dengan sengaja menghina dan mempermalukan para karyawan.
"seharusnya kalian sebagai karyawan bisa bersikap lebih baik kepada kami, saya membeli di sini bukan meminta seperti pengemis pengemis lainnya."
"Maaf kan kami ibu, namun juga pelanggan yang lain membayar bukan meminta seperti apa yang ibu bilang tetapi mereka bisa sabar dan menghargai kami di sini. Lagi pula ibu juga baru datang, tidak mungkin kami mendahulukan pesanan ibu sementara pelanggan yang lain sudah menunggu dan datang lebih awal dari ibu mohon untuk pengertiannya ya bu." Laras masih bersikap baik dan sopan kepada satu pelanggan yang sangat menyebalkan ini.
para karyawan merasa takut karena pelanggan ini mempunyai status yang sangat berpengaruh untuk seluruh usaha yang ada di Indonesia.
Namun Laras tidak takut Karena ia merasa Jika dia dan juga para karyawan yang lain itu tidak salah, seharusnya seseorang yang memiliki martabat yang lebih tinggi bisa lebih menghargai orang yang di bawahnya bukan malah bersikap seenaknya.
"Sudah la Bu, sebaik nya kita meminta maaf saja." bisik salah satu karyawan kepada Laras, Laras pun memilih mengalah dan meminta maaf.
Namun, customer itu harus menunggu sesuai dengan antrian yang sudah ada, tidak mungkin Laras mendahulukannya hanya karena dia seseorang yang lebih berkuasa sementara pelanggan lain juga sudah menunggu sesuai dengan aturan dan antrian yang ada.
"Kamu ini masih saja keras kepala ya, kamu tidak tau siapa saya?"
"Maaf ibu, tapi menurut saya semua pelanggan yang ada di sini itu sama rata dan tidak ada yang berbeda. Semua customer juga mengikuti sesuai nomor antrian tidak ada yang kami beda-bedakan hanya karena status atau jabatan."
kini lara sudah tidak bisa menahan lagi kesabaran nya customer itu terus saja memaksa untuk didahulukan pesanan nya hanya karena ia mempunyai jabatan yang lebih tinggi.
Laras meminta customer itu untuk segera pergi dari tempat ia bekerja, menurutnya cafe itu tidak membutuhkan customer yang tidak mempunyai rasa sabar atau cara menghargai orang lain.
hal itu tentu membuat customer itu tersinggung, Ia juga mengancam Laras akan menutup cafe ini. Sama sekali Laras tidak merasa takut dengan ancaman ibu itu, Ia pun tersenyum dan mengatakan jika ia menerima tantangan dari ibu tersebut
Zidan juga baru datang, iya tahu jika ada kekacauan yang terjadi di cafe itu walau tidak ada yang memberitahunya.
Zidan memang sengaja berkunjung ke cafe tanpa memberitahu Laras terlebih dahulu, ia mendekati bawahannya itu dan pertanyaan apa yang sebenarnya terjadi.
dengan marah customer itu mengadukan perilaku Laras kepada Zidan dan meminta Zidan untuk memecat karyawan yang tidak sopan kepada customer.
"karyawan anda telah memberikan pelayanan yang sangat buruk Dan saya harap cafe sebaik ini tidak memiliki karyawan yang buruk seperti wanita ini."
ibu itu menunjukkan jaringan ke arah wajah Laras, Laras menatap ibu itu dengan santai tanpa ada rasa takut sekalipun jika pun Zidan memecatnya Ia juga tidak keberatan, lebih baik ia kehilangan pekerjaannya daripada ia harus kehilangan moral yang sudah ia tanamkan di dalam dirinya sejak ia masih kecil.
Laras tidak pernah takut hanya karena jabatan seseorang jika dirinya merasa benar ia akan tetap mempertahankan sebuah kebenaran itu.
bukannya memecat Laras, Zidane justru membela Laras ia merangkul Laras dan mengatakan jika apa yang dilakukan oleh bawahan itu sudah benar.
terlihat Laras begitu gugup karena Zidan merangkulnya. Laras berharap Zidan segera melepaskan tangan nya dari bahu nya.
Costumer itu pergi, karena semua orang yang ada di cafe menyoraki wanita tersebut, dan bertepuk tangan karena ketegasan yang di miliki oleh para karyawan di cafe ini.
"Tdak salah saya mempercayakan cafe ini kepada kamu, saya tidak perlu khawatir lagi dengan karyawan-karyawan yang lain karena saya tahu kamu bisa melindungi mereka dan menjaga martabat karyawan-karyawan yang ada di sini."
__ADS_1
tiada hentinya Zidan memberikan pujian kepada Laras, karyawan-karyawan yang lain pun memberi tepuk tangan kepada Laras mereka juga berterima kasih karena Laras sudah melindungi mereka.
kebanyakan memang customer selalu memandang rendah pekerja seperti mereka ini. Namun, hanya di cafe Zidan lah harga diri seorang karyawan di pertahankan..
Jika di cafe lain, mungkin bos nya tidak perduli dengan perasaan dan harga diri karyawan nya. Mereka hanya memikirkan tentang pelayanan costumer agar mendapatkan uang yang banyak.
Zidan mengatakan, jika di seluruh cafe memiliki orang-orang pemberani seperti Laras. Maka semua manusia akan memanusiakan manusia.
Seluruh karyawan tersentuh, bahkan mereka berharap jika Zidan dan Laras segera menikah.
Jika ke dua nya bersatu, mereka pasti bisa menjalankan banyak cafe. Mungkin, tidak ada lagi pekerja kecil yang mempertaruhkan harga diri nya hanya karena sebuah pekerjaan.
Zidan juga mulai menyukai Laras, namun ia bingung harus mengatakan apa.
Zidan ingin sekali melamar Laras, namun perasaan nya yang kemarin saja belum di jawab oleh Laras.
Zidan takut, jika Laras sudah memiliki kekasih atau seseorang yang ada di hati nya..
Laras pun melanjutkan pekerjaan nya, masih banyak pesanan customer yang harus ia kerjakan.
Ia juga meminta kepada semua karyawan untuk kembali bekerja, Laras tidak mau mengecewakan customer baik yang sudah sabar menunggu.
Pelayan tetap nomer satu bagi Laras, namun itu hanya berlaku untuk manusia yang bisa memanusiakan manusia.
Laras Kembali ke ruang kerja nya, ia harus tetap memantau keadaan cafe dan juga memeriksa keuangan.
Pekerjaan nya sudah menumpuk, apalagi ia harus mengerjakan pekerjaan Stella..
Namun, Laras tidak keberatan untuk itu semua, dia senang jika bisa membantu Stella.
Zidan mengatakan Jika ia menyukai Laras dan ingin melamar Laras.
"Laras, saya jatuh cinta kepada mu..Menikah lah dengan ku," pinta Zidan yang memegang ke dua tangan Laras yang begitu lembut.
Apa tuan Zidan melamar ku?
Laras membatin, namun ia masih diam membisu.
Ia mengira ini hanya mimpi, Zidan mencubit Laras.
"Aw, sakit!" pekik Laras, Zidan mengekeh melihat tingkah Laras.
"Ini semua tidak mimpi, saya tahu apa yang kamu pikirkan. Kamu mengira ini mimpi, makanya saya cubit kamu agar kamu tau ini nyata." ujar Zidan.
Laras pun tersenyum malu, wajah nya memerah.
"Laras saya tidak mau menunggu lama lagi, saya tidak mau kamu di ambil oleh orang lain dan saya menyesal..Saya tidak mau itu Laras, menikah lah dengan saya dan jadi lah milik saya seutuh nya."
Mata Laras berkaca-kaca, ia tidak menyangka jika orang yang selama ini ia suka melamar nya, Laras mengangguk setuju.
Ke dua nya terlihat sangat bahagia, sesimple itu perjalanan mereka.
__ADS_1
Ternyata, Zidan juga memiliki perasaan yang sama seperti Laras.
"Saya mengagumi kamu Laras, saya melihat ketulusan dan kebaikan kamu."
Laras tidak tau harus menjawab apa, ia hanya bisa menangis terharu
Ke dua nya juga akan memberitahu rencana pernikahan mereka kepada Stella.
Zidan yakin, Stella pasti akan merasa bahagia, Laras pun tersenyum bahagia.
Terlihat, dari mata nya yang begitu terharu namun Laras tidak meneteskan air mata nya.
******
Amara bersiap-siap, Tanara bertanya ke mana kakak nya akan pergi.
Amara terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Tanara bertanya dengan penuh selidik, akhir-akhir ini Amara sering sekali keluar dan berdandan seperti orang yang akan berkencan.
"Apa kakak sudah punya pacar?" tanya Tanara.
Amara menggeleng, mana mungkin ia pacaran dengan om-om
Namun, Amara juga tidak tau apa hubungan mereka, memang benar. Mereka seperti orang yang pacaran saja harus dinner dan makan malam berdua.
"Kamu ini bicara apa sih. Enggak ada pacar-pacaran tau!"
Namun, terlihat wajah Amara memerah.
"Kak, Tanara boleh enggak pacaran?" tanya Tanara dengan polos tentu saja Amara menolak dengan keras.
"No! Apa-apaan, kamu masih kecil tau! Enggak boleh pacaran! Fokus sekolah."
"Xixixi." Tanara tertawa geli, ia juga hanya bercanda untuk mengganggu kakak nya..
Lagipula, tidak ada di benak Tanara untuk berpacaran, ia hanya ingin belajar yang baik agar menjadi orang yang sukses.
Tanara tidak mau perjuangan mendiang ke dua orang tua dan juga ke dua kakak nya itu sia-sia.
Tanara tidak mau tabungan mendiang ke dua orang tua nya menjadi sia-sia.
Dan juga perjuangan Amara dan Stella juga agar Tanara bisa tetap sekolah.
Tanara tidak mau mengecewakan mereka hanya karena cinta. Mungkin, karena Tanara belum mengenal cinta makanya ia berfikiran seperti itu.
Amara sebenarnya juga seperti itu, namun ia juga terjebak. Terjebak oleh permainan yang sudah Kimmy buat, namun ini juga kesalahan nya. Jika dia tidak tergiur dengan rayuan teman nya itu, mungkin Amara tidak akan mengalami hal seperti ini.
Amara juga tidak bisa membebani Stella lagi, begitu banyak masalah yang sudah di hadapi Stella. Dan tanggungan-tanggungan Stella untuk mereka, belum lagi menanggung keperluan Zeline dan juga Rani.
Amara juga tidak mungkin memakai tabungan yabg sudah diberikan oleh ke dua orang tua nya, perjalanan Tanara masih panjang. Ia tidak mau mempertaruhkan masa depan adik nya hanya agar ia bisa terbebas dari Darren.
Amara yakin, ia bisa menyelesaikan masalah nya sendiri.
__ADS_1
Setelah tamat sekolah, ia akan mencari pekerjaan. Sebenarnya amara ingin bekerja paruh waktu lagi seperti dulu, namun Stella melarang.
Stella ingin ke dua adik nya itu fokus sekolah,tidak perlu memikirkan apapun.