
Xiu mencoba meracuni pikiran Aska suaminya, ia bersikap seolah mendukung Aska padahal nyatanya ia ingin menjauhkan Aska dari semua keluarga "Aku tidak menyangka sekali, mengapa mami tega membohongi aku?"
Lee membelai bahu suaminya "Tenanglah sayang ku! Jangan terlalu banyak pikiran, aku ada di sini untuk mu. Lebih baik kita keluar saja dari rumah mami, bukan untuk selamanya namun sementara sayang. Supaya pikiran kamu tenang, aku tidak mau saat ini kamu sedang emosi dan di saat melihat wajah mami, aku yakin kamu semakin emosi."
Aska memikirkan ucapan istrinya "Kamu benar Lee! Lebih baik aku keluar rumah untuk sementara waktu daripada aku merasa kesal terus menerus melihat wajah mami,"
"Sayang, bagaimana jika kita liburan saja? Biar kamu juga merasa tenang?"
"Liburan? Tidak Lee! Aku tidak bisa, bagaimana dengan Zeline? Aku tidak bisa membiarkan anakku sendirian, maafkan aku Lee,"
Lee terlihat kesal, mengapa Aska selalu saja memikirkan anaknya Lee. Ia tidak memikirkan dirinya sendiri namun Lee berusaha untuk tenang "Sayang, kita bawa saja Zeline? Lagipula aku yakin, Zeline pasti akan sangat senang iyakan?"
Aska pun tersenyum, ia mengecup kening Lee "Terimakasih banyak ya, karena kamu mengingat anak aku. Aku sangat senang sekali kamu tidak egois memikirkan diri mu sendiri. Kamu memikirkan Zeline juga,"
"Pastinya dong sayang! Aku ini sangat menyayangi Zeline, aku menyayanginya seperti aku menyayangi anak aku sendiri. Iya, terkadang aku akui jika diri ku sangat egois, aku tidak dapat memahami anak ku. Namun percayalah aku sangat mencintainya!"
Aska mempercayai semua tipu muslihat dari Lee, dia tidak menyadari betapa liciknya Lee selama ini "Sayang, aku sangat terharu. Karena kamu begitu menyayangi anak aku,"
Keduanya berpelukan dengan erat, terlihat jelas senyuman licik tersirat dari wajah Lee tanpa Aska ketahui "Dasar suami ku yang bodoh! Terus lah percaya kepada ku sayang! Haha, kau akan selalu berada di dekapan ku. Dan aku pastikan jika kau dan keluarga mu tidak akan bersatu lagi! Aku akan memisahkan mu dari anakmu Zeline!"
Lee membatin dengan senang, ia merasa menang.
********
Xiu merenung di dalam kamar, ia menghapus air matanya "Aku akan mendatangi Stella! Ini semua karena wanita itu! Dia pasti sudah meracuni pikiran anak ku! Aku akan memberi pelajaran kepada wanita sialan itu! Namun pasti banyak penjaga di luar sana, aku harus mencari cara!"
Xiu memikirkan cara untuk memberikan pelajaran kepada Stella yang ia anggap sebagai perusak kehidupannya!
"Aku benci kau Stella! Semenjak kau hadir dalam hidup anakku, kau sudah merusak segalanya! Dan sekarang, karena kau cucu ku pergi dari rumah ku! Aku tidak akan pernah bisa memaafkan wanita sialan seperti mu!"
Kebencian Xiu kepada Stella semakin meningkat, ia merasa sangat kesal dan marah besar dengan Stella wanita yang ia anggap sangat jahat itu.
Cekrek!
Pintu kamar terbuka, terlihat suaminya masuk ke dalam kamar "Papi, tolong dengarkan mami"
Xiu bangkit, mendekati suaminya. Namun papinya Aska tidak mau berdebat apapun lagi dengan ia.
"Mami, sudah lah! Papi sudah sangat lelah dan Tolong biarkan papi istirahat, boleh kan?"
Xiu pun hanya bisa membiarkan suaminya tidur, membaringkan tubuhnya di atas kasur. Lalu tidak membutuhkan waktu lama untuk memejamkan mata
Mengapa semuanya menjadi salah dia? Padahal Xiu hanya ingin yang terbaik untuk keluarganya? Namun sekarang justru dia yang di salahkan?
Xiu pun tidak mau suaminya semakin marah, ia memutuskan untuk keluar kamar "Lebih baik aku ke rumah sakit saja menjaga menantu kesayangan ku, kasihan Lee. Pasti dia sendirian,"
*******
Rani yang masih bingung melihat Zeline menangis di dalam mobil pun bertanya apa yang sebenarnya terjadi "Sayang? Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Zeline menangis seperti ini?"
Zeline pun tidak mau memberitahu awalnya, namun ia berpikir untuk memberitahu maminya, agar ia tidak merasa sedih lagi "Oma jahat, mami! Oma jahat! Oma tidak sebaik yang zeline bayangkan! Zeline enggak suka sama Oma, Zeline enggak mau lagi kembali ke lumah papa dan Oma! Di sana olang-olangnya jahat, egois! Dan tidak jujul!"
"Sudah Zeline, kamu jangan menangis lagi ya? Mami tidak mau kesayangan mami menjadi anak yang cengeng seperti ini okey?"
Zeline mengangguk, namun ia mengatakan jika dirinya masih kecewa dengan Oma yang ia pikir baik itu
__ADS_1
"Sudah ya? Jangan menangis lagi! Anak manis seperti kamu tidak boleh cengeng okey?"
Akhirnya Zeline mangangguk dan tidak nangis lagi "Zeline mau sama mama aja, hanya mama yang baik. Papa juga baik, namun ada Tante Lee yang jahat,"
"Jahat? Emangnya Zeline di jahati oleh Tante Lee?" Anak kecil itu menggeleng dengan cepat, Lee memang selalu bersikap manis kepadanya namun Zeline tahu jika itu tidak tulus. Hanya semata-mata untuk mengambil hati papa dan Omanya saja "Tidak mami! Tante Lee tidak pelnah belsikap buluk dengan Zeline namun Zeline tahu jika sikapnya itu palsu! Dia hanya belpula-pula!"
"Zeline sayang, kamu tidak boleh seperti itu ya? Semua orang itu baik. Kamu tidak boleh terlalu menganggap semua orang itu buruk,"
"Mami halus pelcaya sama Zeline! Tante Lee tidak sebaik yang di tunjukannya!"
Rani tidak mau lagi berdebat dengan Zeline yang akan membuat Zeline semakin sedih "Iya, mami percaya kok sama Zeline,"
Lagipula, Rani tahu jika Zeline anak yang sangat pintar dan bijaksana. Ia tahu membedakan mana yang bener dan tidak untuknya.
"Nyonya, kita sudah sampai,"
Percakapan berhenti, saat supir mengatakan mereka sudah sampai. Bahkan Rani sendiri juga tidak sadar, ia tersenyum kepada supir dan tidak lupa mengucapkan terimakasih banyak
"Terimakasih banyak ya pak karena sudah mengantarkan kami!"
"Sama-sama Nona,"
Zeline dan Rani pun turun dari mobil, Rani mengambil kunci cadangan yang diberikan oleh Stella kepadanya. Memang masing-masing dari mereka menyimpan satu kunci cadangan rumah.
Segera Rani membuka pintu, dan mempersilahkan Zeline untuk masuk, rumah itu begitu sepi seperti tidak ada orang "Mami, kenapa sangat sepi?"
"Iya sepi dong sayang ini kan sudah malam, pasti semuanya sudah tidur. Sudah kita masuk saja ayo!"
Rani dan Zeline masuk ke dalam rumah, Rani mengunci pintu terlebih dahulu. Setelah itu menatap kamar Amara dan Tanara yang terbuka sedikit. Walau ia melihat dari bawah namun sangat terlihat jelas.
"Kemana kakak? Zeline pasti mencari kakak, kakak tidak pernah-pernahnya seperti itu. Apakah sesuatu terjadi kepada kakak?"
"Mami, ayo!"
Rani kaget, ia langsung menghampiri Zeline menaiki anak tangga untuk ke kamar.
"Mami, apakah mama belum pulang?" Zeline kembali bertanya di mana keberadaan mamanya dan Rani sudah menduga itu sejak awal "Sepertinya belum sayang karena mama Stella kan mengira kita di rumah papa kamu, pasti mama Stella kerumah papa mu dahulu, untuk menjemput kita,"
Zeline pun mengangguk, keduanya masuk kamar. Rani dan Zeline melewati kamar Tanara dan Amara. Ia mengintip, dan ia tahu jika Amara dan Tanara juga tidak ada di rumah
"Kemana perginya Amara dan Tanara? Mengapa semuanya pergi dan tidak mengatakan apapun? Apakah benar sesuatu telah terjadi dengan kak Stella?"
Pikiran Rani berkecamuk aduk, ia semakin khawatir dengan kakaknya Stella "Tadi aku sudah berbicara dengan Amara dan Tanara. Berarti ada sesuatu hal yang tidak beres terjadi kepada kak Stella. Kak, di mana kakak?"
"Mami sedang memikilkan apa?"
Rani tersontak kaget mendengar pertanyaan dari Zeline, ia tidak mau jika Zeline pun mengetahui jika Tanara dan Amara juga tidak ada di rumah
"Tidak sayang, ayo kita masuk kamar! Mami sudah sangat ngantuk banget!"
Zeline pun mengikuti ucapan Rani, hanya Rani yang dapat ia percaya saat ini
*********
Seng....! Song....!!! Seng...!!!
__ADS_1
Sudah larut malam begini, namun Laras masih bertempur di dapur. Suaminya pulang sangat larut malam, ia juga harus mempersiapkan makanan untuk suaminya.
"Sayang, sudah malam begini kenapa masih memasak Hem?"
Laras kaget, saat Zidan memeluknya dari belakang "Mas, kamu kan pulangnya sangat malam pasti sangat lapar, jadi aku memasak untuk kamu,"
"Kenapa tidak memanaskan makanan yang tadi siang aja? Kan kamu jadi repot seperti ini?"
Laras mengatakan jika ia ingin memberikan yang terbaik untuk suaminya lagipula makanan tadi siang sudah ia bagi-bagi kan kepada anak-anak jalanan dekat rumah "Makanan tadi siang, aku bagi-bagikan kepada anak jalanan mas. Mubazir juga kalau tidak habis, jadi saat aku selesai masak. Sebagian sudah aku bagikan terlebih dahulu, hanya untuk makan aku dan mama saja yang aku sisakan sedikit,"
"Istri ku memang sangat baik, ia selalu memikirkan orang lain,"
"Iya dong sayang, aku harus memikirkan orang-orang sekitar kita. Karena sebagian milik kita itu juga hak mereka,"
Zidan salut dengan Laras, walau saat ini Laras sudah menikah dengan orang yang berada dan diberikan fasilitas yang mewah. Namun istrinya tetap berpenampilan sederhana.
Walau banyak pelayan di rumah, namun Laras memilih untuk masak sendiri untuk mereka makan "Sayang, kamu harus fokus dengan kehamilan yang sedang kamu jalani. Aku tidak mau karena terlalu lelah akibat mengerjakan pekerjaan rumah, hamil kamu jadi gagal lagi,"
"Mas, semuanya udah di atur oleh Allah, kita sebagai manusia hanya bisa berdoa. Dan tidak lupa untuk berusaha. Aku sudah berusaha mas, dan sekarang kita pasrahkan semuanya kepada Allah,"
"Memang semuanya kita pasrahkan sama Allah, tapi kamu juga harus usaha yang keras dong Laras! Ini tidak, kamu setiap mama beritahu saja selalu saja membantah!" Entah kapan mamanya Zidan berada di dapur. Membuat Zidan dan Laras kaget, Zidan melepaskan pelukannya dari Laras
"Mama ini sudah tua! Mama ingin menggendong cucu dan kamu Zidan. Kasih tau dong istri kamu ini! Kalau ada pelayan, untuk apa dia capek-capek masak seperti ini? Dia itu harus istirahat yang total, agar program hamilnya berjalan dengan lancar,"
"Ma, jangan begitu dong! Kasihan istri aku kalau mama selalu saja menyudutkannya seperti ini,"
"Mama tidak menyudutkan, namun mama hanya ingin istri kamu ini menurut! Jangan membawa kebiasaan kampungannya dong! Untuk apa dia memasak seperti ini, kita sudah menyiapkan pelayan untuknya. Agar dia tidak perlu repot-repot mengerjakan pekerjaan rumah, namun dia selalu saja membantah mama!"
Mamanya Zidan mengambil minum, ia duduk dan meneguk minuman itu dengan elegan. Laras hanya diam, namun Zidan membela istrinya "Ma, apa salah jika seorang istri melayani suaminya? Seharusnya mama bersyukur dong memiliki menantu yang begitu baik seperti Laras. Ia mau melayani dan mengurusi anak mama, bahkan di saat Zidan pulang begitu larut seperti ini. Laras memasak masakan yang fresh untuk Zidan,"
"Iya, mama senang jika dia mengurus kamu dengan baik. Namun setidaknya dia juga harus memikirkan kesehatannya! Mama ini khawatir loh dengan dia. Namun dia tidak menghargai kasih sayang yang mama berikan!"
Laras mengecilkan api kompor, lalu berjalan mendekati mama mertuanya "Mama, Laras sangat berterimakasih dan sangat menghargai kasih sayang yang mama berikan. Namun tolong izinkan Laras mengurus suami Laras ma, bukannya Laras mau membantah mama. Namun Laras ingin berbakti kepada mas Zidan, juga dengan mama. Laras ingin memastikan makanan yang sehat untuk mama dan mas Zidan. Pekerjaan yang lain, sudah di kerjakan oleh pelayan. Dan biarkan Laras memasak untuk mama dan mas Zidan,"
"Terserah kalian saja lah! Mama malas memberitahu menantu dan anak yang tidak bisa di bilangi! Ini rumah tangga kalian, mama malas lagi mencampurinya!"
Mama Zidan langsung pergi meninggalkan Laras dan Zidan membuat wanita itu merasa bersalah.
******
Laras pun menangis, ia tidak bermaksud membuat mama mertuanya tersinggung atau marah, Zidan mendekati istrinya "Sayang, sudah lah! Kamu jangan menangis seperti ini. Ingat apa yang dokter katakan bukan? Kamu tidak boleh terlalu stres, dan anggap saja yang mama katakan sebagai bentuk cinta dan sayangnya mama sama kamu. Mama hanya ingin program hamil kita berjalan dengan lancar, itu saja!"
"Iya mas, aku tidak enak dengan mama. Apakah salah jika aku memasak untuk suami dan mertua ku?"
Zidan menggeleng "Tidak sayang! Karena kamu menjadi istri yang sangat baik dan berusaha memberikan yang terbaik untuk aku juga untuk mama, tapi mama juga tidak salah. Mama sangat menyayangi menantunya, ia tidak ingin menantunya itu terlalu lelah mengerjakan rumah."
"Mas, apa yang harus aku lakukan?"
Zidan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum "Tidak ada sayang! Kamu bisa bebas melakukan apa yang kamu mau. Jika kamu suka memasak, kamu bisa memasak sepuas yang kamu mau. Kamu harus happy dan bahagia, tidak boleh ada penekanan. Atau stres yang berlebihan!"
Zidan mengecup kening istrinya, ia memeluk Laras dengan erat penuh dengan cinta dan sayang.
"Namun, bagaimana dengan mama mas?"
"Masalah mama, kamu jangan khawatir! Biar mas yang memberikan pengertian kepada mama, mas yakin jika mama akan mengerti dengan semuanya. Namun saat ini biarkan saja mama sendiri dan berfikir jernih. Jika sekarang mas berbicara kepada mama, mama bisa saja semakin marah dan kesal, mas tidak mau kesehatan mama terganggu karena ini,"
__ADS_1