
Amara mencoba menghubungi Darren, walau pun ia merasa sangat gengsian namun demi kakaknya, Amara harus melupakan gengsinya
Panggilan terhubung
"Hai, gadis kecil ku," terdengar godaan dari seberang telepon membuat dirinya merasa risih. Namun ia harus bisa menahan amarahnya
"Hey om, aku membutuhkan bantuan mu!" Mendengar suara Amara yang terlihat cemas, Darren pun memasang wajah serius.
"Ada apa? Baiklah, aku akan menjemput mu tiga puluh menit lagi"
Panggilan terputus
Terlihat Amara sangat kesal "Lihat lah dia! Mengapa dia mematikan panggilannya padahal aku belum selesai bicara. Dasar om tua!'
Amara menggerutu kesal, bagaimana ia tidak kesal jika Darren dengan seenaknya mematikan panggilannya
"Bagaimana Amara? Apakah Darren bisa membantu kita?"
Stella mendekati adiknya, ia berharap pria itu bisa membantu mereka
Amara menggelengkan kepalanya, ia sendiri tidak tahu "Enggak tahu kak, Amara belum selesai berbicara. Ia sudah mematikan panggilannya," mendengar itu membuat Stella lemas "anakku!"
__ADS_1
"Kakak jangan sedih, kita akan mencari jalan terbaik. Kakak harus tenang, mungkin Darren dalam perjalanan!"
Amara meminta kakaknya untuk sabar menunggu, "Iya. Kakak juga sudah bicara dengan Zidan dan Laras. Mereka sedang dalam perjalanan sekarang!"
Amara, Tanara, Rani, Stella dan juga Azriel duduk dengan wajah yang tegang. Mereka khawatir, dengan zeline! Stella tidak khawatir anaknya terluka namun ia khawatir jika dirinya dan Zeline tidak bisa bertemu lagi. Karena ia tahu, kalau Xiu dan Aska akan mencari cara untuk menjauhkannya dari sang anak
Tiga puluh menit berlalu, namun terasa seperti tiga puluh tahun bagi Stella jika tanpa anaknya.
Benar saja, Darren langsung hadir. Tidak lama di susul oleh Zidan dan Laras
"Masuk kak!" Tanara meminta ketiganya untuk masuk. "Stella," Laras memeluk sahabatnya itu.
Semuanya merasa sangat tegang, dan hanya Darren yang terlihat sangat bingung. Amara bangkit dari duduknya, ia menggandeng tangan Darren menjauh dari mereka semua
"Om, ini keadaan darurat dan aku sedang tidak ingin bercanda!"
Darren mengerutkan dahinya, lalu ia memasang mode tenang "Baik lah, katakan ada apa?"
"Kakak ku, anaknya di ambil!"
"Siapa?"
__ADS_1
"Oleh papanya,"
"Lantas kenapa? Kan itu papanya? Papanya juga berhak atas anak itu,"
"Isss, bukan begitu om! Ceritanya sangat panjang, intinya keponakan aku ingin di rebut dan di pisahkan oleh mamanya!"
"Di pisahkan? Emangnya kenapa? Bukannya itu papanya, kenapa kalian khawatir?" Darren yang tidak tahu apa-apa pun hanya terlihat bingung, dan Amara pun tidak menjelaskan lebih detail
Amara mengambil nafas panjang, ia sangat frustasi "Tenang, dan ceritakan semuanya dari awal kepada ku! Aku akan bisa menemukan solusi, namun jika kau hanya panik seperti ini aku tidak mengerti!"
Amara akhirnya menceritakan segalanya, bagaimana kakaknya bisa memiliki anak
Dan bagaimana Zeline akan di rebut oleh Aska dan keluarganya..
Mendengar itu, Darren tampak sangat tenang dan ia memahami semua masalah yang ada. "Aku mengerti sekarang, ayo!" Darren membawa Amara untuk pergi
"Kemana?"
"Kumpul bersama mereka! Aku tidak ingin berbicara berulang-ulang!"
Amara dan Darren pun menghampiri Stella, Rani, Tanara, Azriel, Zidan dan juga Laras di ruang tamu.
__ADS_1
Terlihat Stella Sangat panik berunding dengan yang lainnya
"Aku enggak tahu lagi harus apa!"